Kashia berjalan pelan menyusuri koridor kampus dengan sangat malas. Umurnya masih muda, namun entahlah apa yang terjadi dengan jiwanya yang akhir-akhir ini selalu cepat merasa lelah akan hidup.
"Another day..why..? Kenapa selalu saja seperti ini?" Keluhnya sembari menaruh tas di atas meja dan menjatuhkan diri menelungkup di meja.
"Bisnis kecil-kecilan ku tidak berjalan. Novel yang aku buat selama ini hanya menjadi tumpukan buku tak berarti" keluhnya dalam hati. Tanpa ia sadari, ia menangis dan tertidur.
Tiba-tiba suara-suara tak karuan memenuhi telinga Kashia. Caci-maki, sumpah-serapah, ejekan, hinaan, tak ada pembelaan apalagi pujian sedikitpun yang ia dengar. Hanya kalimat-kalimat yang memojokkannya dan membuatnya jatuh.
"Apa gunanya membiarkan keledai b*d*h ini hidup? Dia hanya beban tak berotak!"
"Tak ada yang bisa kita manfaatkan darinya. Dia jelek dan bodoh"
"Lihat tubuhnya yang penuh dengan ruam itu! Membuatku jijik!"
Kashia sudah tak tahan lagi, suara-suara itu begitu bising dan menyesakkan baginya. Ia bukanlah tipikal gadis yang sabar ketika digertak. Dan kali ini juga begitu.
"Tunggu apalagi bunuh dia sekarang!"
Seketika Kashia terbangun,
"Siapa yang berani mengata-ngataiku? Aku akan memenggal kepalanya sekarang!"
Ketiga orang yang ada dihadapan Kashia yang tak lain orang-orang yang melontarkan kata-kata tak sedap itu diam, dan tak lama kemudian menertawakan Kashia. Mengejeknya.
Melihat itu Kashia terdiam. Ia baru menyadari bahwa ia tidak di kampus ataupun dimanapun di tahun 2023. Ia memakai pakaian kuno dengan kondisi diikat kuat pada batang pohon dan sekelilingnya juga masih sangat asri seperti zaman dulu. Dan suasana ini, sepertinya ia mengenalinya. Seperti..
"Novelku, Peoni Yang Tak Dihargai!"
"Bagaimana bisa aku masuk kesini dan menjadi pemeran figuran yang mati di chapter pertama?!" Tanyanya terus menerus dengan histeris. Namun bukan itu yang membuatnya sangat kaget, yang lebih mengagetkan adalah mengapa tiga orang yang akan membunuhnya ini adalah ketiga kakaknya di dunia nyata?
Apakah tidak salah? Oh, ya ampun.
Sementara itu salah seorang diantara ketiga orang itu kembali menyulut api.
"Hei kakak, kau dengar apa yang tadi gadis b*d*h ini katakan? Dia akan memenggal kepala kita. Aku takut sekali kakak. Selamatkan aku...hahhaha" ujar gadis yang memakai hanfu berwarna merah dengan nada mengejek.
"Tenang saja adik Roushan, Kakak disini untuk menjagamu dan Yanli. Dan aku akan segera membunuh orang tidak berguna itu!" Ujar Fengxi satu-satunya laki-laki disana.
Kashia hanya diam sekarang. Ia tahu bahwa tak ada yang bisa ia lakukan. Ia hanya bersedih dalam hati dan berharap bahwa semua ini hanya mimpi.
"Kashia..bangunlah..bangunlah! Jika tidak kau akan menyesal" Ia mencoba terus-menerus untuk bangun. Namun, semuanya sia-sia.
"Apakah ini nyata? Oh, ya ampun kenapa aku baru menyadari bahwa nasibku benar-benar sama dengan tokoh Qing-qing ini!" Keluhnya dalam hati.
Sedang pada saat itu, Fengxi telah siap dengan anak panahnya. Ia tersenyum menyeringai tak sabar memanah buruannya yang sudah tak berdaya dan pasrah.
"Selamat tinggal adikku tersayang, Qing-qing!"
"Selamat tinggal beban keluarga!"
"Selamat tinggal aib keluarga!"
Fengxi melepas anak panahnya dengan antusias, dan anak panah itu pun melesat mulus menembus udara.
"Ssstttttttttssttstttt!!!"
"Dia benar-benar melepaskan anak panah itu?! Oh tidak!"
"AAKKHHH!!" Panah itu tepat menembus dada Kashia yang seketika banjir darah.
Namun, keadaan mengenaskan Kashia itu belum cukup bagus tiran-tiran itu, Fengxi melepaskan panahnyaa beberapa kali lagi.
"Ssstttttttttssttstttt"
"AAAKHHH!!"
"Ssstttttttttssttstttt"
"AAAKKKHH!!!"
Panah yang terus-menerus menembus dada Kashia membuatnya terlihat sangat mengenaskan. Tak bisa dibayangkan seberapa sakit hal itu. Dengan keadaan ditindas seperti itu Kashia berharap benar-benar mati. Namun, ia tak mengerti. Sudah tak terhitung panah yang menusuk tubuhnya, namun ia masih bisa bertahan.
Ia hampir gila dengan keadaannya. Rasa sakit itu membuat Kashia benar-benar gila. Ia ingin mati. Ya ingin mati. Sampai pada akhirnya mungkin tuhan mendengar kata hatinya.
"Apakah kau menikmatinya adikku yang manis? Oh ya, aku lupa memberitahumu, aku memberimu pil roh tadi saat kau tertidur pulas. Kau tahu untuk apa?"
"Jadi bajingan ini yang membuatku seperti ini?! Sialan!" Gerutu Kashia dalam hati kesal sembari menahan rasa sakit.
"Kakak, mengapa kakak begitu jahat? Takdir ini berlaku tak adil padaku. Aku benci!" Ujar Kashia dengan nada melemah dan tubuhnya yang sudah tak berupa sebelum ia akhirnya menutup matanya dan terkulai.
Roushan dan Yanli tertawa terbahak-bahak puas melihat itu. Namun, tidak dengan Fengxi yang tiba-tiba diam seribu kata setelah mendengar kata-kata terakhir Qing-qing.
"Ada apa denganku? Seharusnya aku bahagia!" Tanyanya dalam hati bingung.
"Kakak kamu kenapa?" Tanya Raousan sembari merangkul pundak Fengxi.
"Tidak, tidak ada" jawabnya dengan masih terlihat linglung.
"Benarkah?" Tanya Roushan lagi tak percaya.
Tiba-tiba Yanli ikut merangkul dan berkata,
"Sudahlah kak Roushan, kak Fengxi sudah mengatakan tidak ada. Daripada terus menerus di tempat yang jelek ini, bagaimana kalau kita pulang dan mengadakan perayaan?"
"Ide bagus" ujar Roushan.
Dan disaat seperti itulah. Saat mereka lengah, seseorang berjubah hitam terbang dan membawa jasad Kashia.
"Kemana jasadnya?" Tanya Fengxi ketika menyadari ada sesuatu yang melintas.
"Aku melihat bayangan hitam tadi kakak. Apa kau tahu itu?" Tanya Roushan yang rupanya juga melihatnya.
Tapi, ditengah kebingungan mereka itu Yanli kembali menimpali,
"Aih ..apa kalian belum mendengar berita baru-baru ini? Bayangan hitam itu pasti hantu pemakan jasad manusia"
"Hantu pemakan jasad manusia?"tanya Roushan dan Fengxi bersamaan.
"Yayaya. Jadi, daripada kita dimakan olehnya lebih baik kita segera pergi!"
Dan akhirnya ajakan Yanli pun sukses membuat saudara dan saudarinya pergi dari tempat tersebut dan pulang.
Sedang di tempat lain, Kashia yang dalam wujud Qing-qing dengan luka-lukanya yang tak memungkinkannya terbangun akhirnya terbangun. Ia membuka matanya dan melihat wajah simetris yang tidak bisa dipercaya. Begitu tampan! Ya, tampan!. Dan ia sekarang ada dipangkuannya. Oh Tuhan, rasa sakit yang Kashia alami rasanya tidak terasa sakit lagi.
"Siapa kau?" Tanya Kashia dengan suara yang masih lemah.
Pria itu tidak melirik sedikitpun, pandangannya masih melihat lurus ke depan. Namun, walaupun dengan nada dingin ia menjawab.
"Jangan banyak bicara! Lukamu parah. Dan tak ada takdir yang tidak adil"
Kashia terkejut. Ia mengingat apa yang ia katakan terakhir kali di hadapan ketiga saudara piciknya itu.
"Apa dia menegurku?" Tanyanya dalam hati.
Namun ia sudah tak peduli. Yang terpenting saat ini difikirannya adalah melihat wajah penyelamatnya yang diberi keindahan surga.
"Sudahlah, suatu kebahagiaan yang luar biasa bagiku untuk melihat pria tampan dari dekat sembari ada di pangkuannya"
Namun, disaat-saat indah seperti itu..
"Kashia..Kashia..Kashia..!"
"Ada yang memanggilku? Siapa?" Tanya Kashia, bingung sendiri.
"Kashia..Kashia..BANGUN!!"
"Hosh..hosh..hosh.." Kashia akhirnya terbangun dengan nafas tak karuan karena apa yang dialaminya tadi.
"Untung saja kamu bangun, lima menit lagi dosen akan datang" ujar Tiffany, sahabatnya yang duduk di sebelahnya.
"Ah,ya. Terima kasih lagi Tiffany. Maaf selalu merepotkanmu"
"Tak apa, kita ini teman Kashia. Oh, ya. Apa kamu bermimpi buruk? Kamu sangat sulit dibangunkan tadi. Atau, kamu punya masalah"
"Ah tidak. Itu hanya mimpi buruk biasa. Hehehe" jawab Kashia berusaha menutupi apa yang terjadi. Tapi, semua keringat dan matanya yang merah tak dapat berbohong bahwa ia mengalami sesuatu yang tidak biasa.
"Benarkah? Tapi lihat keringat di tubuhmu. Dan matamu..."
"Sssttttttttt"
Apa yang akan dikatakan Tiffany terpotong karena dosen rupanya datang kala itu dan membuat dirinya dan Kashia kembali ke posisi masing-masing dengan rapi.
"Syukurlah dosen datang. Fiuh.." ujarnya dalam hati bersyukur lega.
Bersambung.....