Pagi ini adalah pagi yang panas bagi kediaman Kim, karena tidak ada yang mengalah di antara ayah dan anak itu. Mereka berdua sama-sama bersikukuh dengan pendapat yang mereka masing-masing anut.
"Gak, gak, gak, aku gak mau!"
"Ayah gak peduli, Inilah keputusan terakhir ayah. Kamu dan Weona bakal nikah seminggu lagi"
"Ini hidup aku, aku yang nentuin apa yang aku mau.. apa yang aku inginkan.."
"Kim donghyuck!"
Bentak Donghae membuat pria manis di depannya tersentak karena takut, bagaimana tidak ini baru pertama kalinya Donghae memarahinya sampai seperti ini.
/Glek
Donghyuck meneguk saliva nya
"Hufth.., maaf hyuck Ayah gak bermaksud. ayah gak sengaja lepas kendali."
"Tapi buat kali ini ayah mohon banget ikutin aja yang ayah mau"
"Menikah lah dengan Weona" lanjut Donghae
...
Pria manis itu hanya terdiam, ia tak bisa berkutik jika ayahnya sudah seperti ini.
"Kamu bersedia kan?" Tanya Donghae memastikan
"Hmm"
Mata Donghae berbinar-binar, ia tak dapat menahan rasa senangnya karena Hyuck setuju. Sedangkan Hyuck wajahnya sangat masam seperti mangga muda yanh rasanya asam-asam kecut.
"Bagus, ini baru anak ayah"
"Oh iya, jangan lupa malam ini jam 8 di Hotel sinar bulan, oke"
"Hotel? Ngapain?" Donghyuck menaikan satu alisnya.
"Orientasi.. perkenalan gitu, biar nanti gak kaget kalo udah nikah+satu rumah nanti" Donghae menimpali
"Yayaya, terserah lah"
Donghyuck pergi begitu saja meninggalkan ayahnya karena sudah malas menanggapi nya lagi.
**********»🌻»**********
Singkat cerita donghyuck sudah berada di restoran Hotel. Ia duduk di tempat duduk atas nama dirinya dengan berhiaskan beberapa makanan dan minuman yang menggugah selera, hanya saja ia hanya sendirian di sana dan orang yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang sedangkan waktu sudah menunjuk di angka 22 : 32.
"Sialan!
"udah 1 jam lebih aku nunggu, kalo dia gak menghargai waktu seenggaknya dia masih punya sopan santun lah."
Pria cantik itu sangat kesal, ia beranjak dari tempat duduknya dan akan segera pergi dari sana.
"..., Maaf saya terlambat"
Donghyuck menoleh ke belakang, ia sedikit terkejut sekaligus terkesima dengan wanita yang berdiri di depannya ini. "Jadi ini weona? Wow... Sangat Tinggi, memiliki aura mendominasi yang kuat, harum, dan yang paling penting dia memiliki urat tangan yang sangat indah. Sksksksk Ah.. astaga, dia wanita impian ku tuhan!!!" Batin Donghyuck
"Maaf.., tadi ada hal yang cukup rumit terjadi di kantor jadi saya datang terlambat."
"Ah, iya. Tidak apa-apa"
"Terimakasih"
...
"Em.., apa kau sudah makan?" Donghyuck membuka pembicaraan
"Sejujurnya belum, banyak hal yang terjadi di kantor aku jadi melewatkan sarapan, makan siang, dan makan malam ku."
Pria manis itu membulat matanya "kau tidak makan seharian?"
"Iya.."
Weona hanya mengangguk kecil, matanya lekat tak bisa lepas dari pria manis di depannya ini, Ia benar-benar sangat senang karena bisa melihat nya lagi. Matanya sungguh indah, apalagi bulu matanya yang lentik, terlebih lagi pipinya yang chubby itu rasanya ia ingin mencubit dan menggigit nya sampai puas.
"Aku akan memesan makanan yang baru, semua ini sudah dingin."
Donghyuck hendak berdiri tapi ia di cegah dengan sebuah tangan "tidak, tidak perlu, aku tidak terlalu lapar juga"
"Sungguh?"
"Iya.."
"Kau yakin?
"Astaga, iya tuan Donghyuck. Saya sungguh tidak apa-apa."
Donghyuck diam sesaat lalu kembali berbicara lagi, "Kau bisa panggil aku Hyuck jika kau mau"
"Tentu saja saya mau, dan anda juga boleh memanggil saya weona saja."
"Tidak, aku ingin memanggil mu lee"
Weona terkekeh.
"Kenapa? Gak boleh? Sedihnya gak boleh, beneran ya gak boleh? Asli gak boleh?" Pria manis itu mencecar nya
"Boleh, boleh. Kata siapa gak boleh"
"Asikkk, boleh.."
Weona menggeleng, sungguh ia tak sedang berhadapan dengan pria dewasa tapi dengan anak kecil yang sungguh menggemaskan.
"Oh ya. Katanya kau menolak perjodohan ini kan, apa aku boleh tau karena apa?"
"..."
"Apa karena pacar mu?"
"Bagaimana bisa kau tau aku punya pacar?, Oh ya ayah.."
"Jika kau tidak ingin mengatakan nya tidak apa-apa"
Hyuck menggeleng, "aku dulu punya pacar tapi sekarang tidak, kami sudah putus dari 1 bulan yang lalu dan aku juga tidak tau keberadaan nya di mana sekarang. Dan soal aku menolak perjodohan bukan karena pacar ku tapi karena aku ingin memilih sendiri, bukan di pilihkan."
"Dan kenapa kau bisa mau sekarang?"
"Entahlah, aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa mau. Lalu bagaimana dengan mu? Kenapa kau bisa mau di jodohkan?" Donghyuck membalikkan pertanyaannya
"Mungkin karena itu dirimu"
Hyuck tertegun, "aku?"
"Iya, orang tua kita menjodohkan kita itu hanya untuk memperbesar kedua perusahaan. Dan aku bisa saja menolak perjodohan ini karena dengan usaha ku sendiri pun Lee's group pasti akan bisa menjadi lebih besar lagi. Tapi.., saat aku tau itu dirimu aku langsung menerima perjodohan nya."
Donghyuck mematung ia tak tau harus berkata seperti apa dan mengatakan apa.
"...."
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Jakpot, Ini lah yang weona tunggu-tunggu dari tadi
"Tentu saja pernah, malam yang indah dan kau seperti nya terlalu banyak minum"
"Ah.., waktu itu orang yang itu kau itu.."
"Iya, waktu itu kau pergi begitu saja tapi maaf untuk sekarang dan di kemudian hari kau tidak akan bisa pergi lagi"
/"Sial sial sial, pantesan gak asing nih orang ternyata sksjsksgakosbskaksgakosbsyao. Malu banget woy😭🙂" batin Donghyuck/
Jujur saja sekarang Donghyuck sangat ingin sekali menghilangkan dari bumi karena rasa malu nya sudah gila melampaui batas, wajahnya pun sudah semerah kepiting rebus dan weona dia hanya terkekeh geli melihat tingkah pria manis nya ini.
.
.
.
.
.
.
.
TBC🌻