"Namaku Slamet ramayono. beberapa tahun yang lalu aku selalu membuat kesal orangtuaku, saudaraku, tetanggaku bahkan dokter desaku. apalagi kalau bukan karena khitan (Sunat). saat itu usiaku 12 tahun tepatnya lulusan Sekolah dasar. aku gagal karena menangis dan memarahi dokternya bahkan menggigitnya. aku takut sekali jarum suntik. lalu kedua kalinya pada usia 14 tahun ibuku mengikut sertakan aku sunat bersama kedua sepupuku tetapi gagal lagi karena aku kabur dari rumah pak dokter. lalu di usiaku yang sudah 16 tahun ibu dan ayahku sangat kesal, mereka memaksa untuk segera sunat. mereka menjanjikan aku sesuatu yang aku inginkan bila mau di sunat. jujur saja, bagiku jarum suntik adalah alat penyiksa😭.
"Pak..ibu udah habis kesabaran ya? Slamet itu udah tua begitu disuruh sunat susahnya minta ampun. kita kudu piye pak?😭 malu sama saudara, tetangga, anak udah SMA kelas satu begitu belum sunat" ibuku terus mengomel kepada ayahku yang tengah memasak di dapur.
"Ya..gimana lagi Bune, orang Slamet belum siap. dipaksa nanti kayak yang sudah sudah jadinya gagal terus. udah bikin tenda, masak masak kalo gagal lagi gimana? udah biarin aja sekarepnya nanti juga bakal sunat walaupun sunatnya udah kayak buah rambutan gondrong xi..xi..xi.. nanti biar bapak bentuk model gergaji biar unik dan bikin istrinya bahagia" jawab ayahku seraya dengan tertawa geli nya karena membayangkan jika aku harus sunat ketika dewasa😃🤣🤣.
***
"Temen temen kalian sedang apa to, kok pada nongkrong di pinggiran jalan. ayo.. pulang" ajak aku yang tengah beramai ramai mengajak pulang sekolah.
" Lagi nunggu cewek baru met, katanya pak Sahrul guru olahraga katanya kelas kita kedatangan murid baru tapi di jam pulang sekolah. kita lagi penasaran pengen lihat gadis itu met" ucap salah satu temanku yogi.
"Aaaah..aku lek ngono ikut juga lah Yog" ucapku.
"Aah.. nggak usah, sana kamu pulang aja met anak kecil jangan ikut ikutan kamu kan belum sunat ha ..ha ..ha.." sahut salah satu temanku si Edo yang kerap meledekku, semua temen nongkrong ku menertawakanku.
"Asem..sialan kalian pada" aku pergi meninggalkan mereka dengan rasa kesal.
__________
SESAMPAINYA DIRUMAH
"mengapa hari ini begitu mengesalkanku. ibu dan bapak juga kalau ada kondangan ada yang sunat pasti pada ribut semuanya huuuft.." aku terus menggerutu.
Setelah Selamet pulang dia selalu bermain bersama teman dan tetangganya. di dalam kerumunan Slamet juga kerap diejek oleh teman bermainnya. hari itu Slamet sangatlah kesal dan langsung meminjam sepeda ontel milik Roni.
"Roni..aku pinjem sepedamu sebentar ya?" ucapku sambil terburu buru memakai sandal jepit.
"Mau kamu bawa kemana met sepedaku? buru buru gitu" jawab Roni
"Sebentar mau kewarung" sahutku
"Yowes.. pulangnya jangan bawa cewek met kalo belum sunat ha..ha..ha.." lagi lagi Roni meledekku.
"Sompret..Roni sialan" aku melirik tajam wajah Roni yang menyebalkan.
aku terus menggoes sepeda ontel milik Roni menuju rumah pak dokter. hari ini aku tekatkan dan yakinkan bahwa aku harus berani di sunat. aku lelah dengan teman teman yang kerap meledekku. ucapan mereka lebih sangat membuatku malu ketika mereka meledekku belum sunat di depan Tiara gadis cantik yang aku sukai. karena Tiara juga terkadang ikut nongkrong di depan rumah lingkungan kami, kebetulan rumah Tiara masih satu RT denganku.
***
DIRUMAH PAK DOKTER
" Asalamualaikum pak dokter Mifta.." teriakku dari depan pagar rumahnya pak dokter Miftakhul.
" Wa Alaikum salam.. eh, ada Slamet. akhirnya kamu kesini lagi setelah dua tahun yang lalu met. ada apa met kamu tumben kemari, jangan kesini kalo mau nendang dan gigit saya lagi" sahut pak dokter seraya tertawa kecil yang tengah menggoda Slamet .
" Pak dokter tolong aku, aku bosen di ledek temen di omelin emak terus. aku mau sunat sekarang!." pintaku dengan lantang.
"Serius kamu met? tunggu bapak ibumu Dateng dulu yaa, pak dokter telfonin. kayaknya nomer mereka masih bapak simpen. entar kabur lagi nggak lihat jarum suntiknya?" goda pak dokter dengan sedikit menertawakanku.
"Serius pak saya janji nggak kabur lagi" aku menjabat tangan pak dokter
setelah 30 menit penuh dengan drama dan ketegangan berakhir akhirnya aku benar benar telah menjadi pria sesungguhnya
"Yesss aku udah sunat ya pak?" mataku terbata bata tak menyangka aku mampu seberani itu untuk sunat tanpa di dampingi orangtuaku. akupun tak mau diantar pulang oleh pak dokter. aku ingin menunjukkan kepada keluargaku dan tetanggaku kalau aku itu sudah berani sunat👏👏🤣🤣..
"Ya..sudah nanti pak dokter ikutin dari belakang. bahaya nanti kalo ada apa apa".
***
SESAMPAINYA Di RUMAH
"Maaaaaak..bapak....minta duitnya buat bayar pak Dokter!..Slamet udah sunat!.." teriakku dari halaman rumah dengan penuh rasa bangga.
"Gaeess.. temenku, tetanggaku aku udah suu..naaaat!!...yess aku sunat!.."
Seketika membuat keluargaku terdiam dan tetanggaku terheran heran melihatku memakai sarung dengan menunggangi sepeda ontel milik Roni, tidak sedikitpun aku mengeluh kesakitan karena mungkin pengaruh oleh obat bius yang masih belum hilang. tetanggaku pun ikut bengong lalu beramai ramai mereka semua memberi ucapan kepadaku dan memelukku.
"Waaah hebat kamu Met, akhirnya sunat juga Yo koe met? ha..ha..ha.. nggak sia sia kami nyinyir jahat tapi berguna go kabaikanmu met. namanya Slamet ya harus Slamet sunatnya ya?"
----------***-----------
Terkadang nyinyiran juga berguna untuk kebaikan kita. tidak semua orang nyinyir itu berdampak negatif terhadap kita ya guyss meskipun nyinyirin orang itu tidak di benarkan🤦😂😂😆
tinggalkan Like dan komen anda.
Terimakasih👐❤️❤️😘🙏
SEKIAN