Malam minggu kembali hadir, membawa kebahagiaan untuk para orang yang tengah kasmaran. Beda dengan yang lain, aku lebih memilih untuk berdiam diri di balkon ditemani secangkir kopi. Oh ya, namaku Cindy Tiara Putri biasa disapa Cindy. Aku hidup sendirian karena Ayah dan Ibuku sudah pergi ke sebuah tempat yang indah.
"Ayah... Kok aku kangen ya?" gumam ku menatap langit yang dipenuhi bintang.
"Biasanya Ayah selalu ganggu aku huh!"
"Ngoceh mulu, bikin aku kesel! Ibu juga! Bisanya cuma bikin moodku down" Nada suaraku berubah kesal.
"Karena itu, aku sobek mulut Ayah sama Ibu hehe. Maafin Cindy ya? Maaf.... Cindy ngelakuin itu juga karena Ayah sama Ibu rewel sih!"
Aku terdiam setelah ngoceh kemudian menyesap kopi sedikit demi sedikit lalu meletakkan kembali ke meja. Aku membuka bungkus rokok lalu mengambil satu batang dan menghimpit kan rokoknya di bibir. Ya, aku adalah cewek perokok. Aku menjadi seperti ini karena Ayah dan Ibuku sendiri, karena mereka aku menjadi liar.
Asap rokok mengebul membuatku senang dan tersenyum. Aku membiarkan rokok itu di bibir lalu tanganku meraih bungkus rokok dan mengeluarkan semua isinya. Setelah dikeluarkan, aku membuang bungkus rokok ke kolong meja. Aku gila bukan?
Setelah beberapa menit aku mengambil bungkus rokok itu lagi, tapi tanpa aku sadari di kolong meja sana ada sebuah ular berbisa yang besarnya melebihi pahaku. Tanganku langsung dilahap sedetik saja, lalu ular tersebut keluar dan memakan tubuhku hingga habis tak tersisa.
Aku menggeleng. Sungguh, pikiranku tidak dapat dikontrol. Aku tidak dapat membedakan mana halusinasi dan mana yang nyata karena aku mengidap skizofrenia. Aku memegang tanganku satu sama lain agar tidak mengambil bungkus rokok yang sudah ku buang karena aku takut halusinasi ku menjadi kenyataan.
*
"Goblok!"
"Tolol banget sih kamu!
"Dasar anak anjing! Gak tahu diri!"
"Belajar dong! Biar pinter!"
"Nurut sama orang tua dong Cindy! Kamu mau jadi anak durhaka!?"
"Cindy apa yang kamu lakuin sampai Ibu dikasih surat dari kelapa sekolah!"
"Punya anak gak becus! Bisanya keluyuran doang!"
"DASAR ANAK BAJINGAN!"
"ARGH! PERGI LO! PERGI! GUE BUKAN ANAK ANJING SETAN! PERGI IBU KEPARAT! PERGI!" teriakku menutup telinga.
Aku kini tengah berada di kamar, sendirian ditemani kesunyian. Aku terus teriak kesetanan sembari menjambak rambutku kuat-kuat. Setelah suara-suara itu hilang, aku menyandarkan tubuhku ke dinding lalu menatap kosong ke depan. Jam menunjukkan pukul 03:03 pagi, aku memang terbiasa tidak tidur untuk menemani malam agar tak kesepian.
"Tawa, luka, kombinasi yang sangat sempurna haha," ucapku dibarengi tawa.
"Kenapa ya, orang-orang sibuk banget cari uang? Suka ngomel, ngatur-ngatur, bikin mental anak down. Apa mereka gak mikirin perasaan anaknya sendiri?" suaraku berubah menjadi serak seperti akan menangis.
"Aku benci sama semesta. Kenapa sih, semesta gak berpihak sama aku? Aku maunya ini dia ngasihnya itu, kan ngeselin!" ocehku kesal.
"Aku jahat ya? Padahal aku cuman menyingkirkan orang-orang yang buat aku gak bahagia, tapi kenapa orang-orang takut sama aku? Aku kan cuman bunuh Ibu sama Ayah doang,"
"Mereka gak tahu sih gimana jadi aku, pasti kalo mereka ngerasain jadi aku mereka bakal ngelakuin apa yang aku lakuin,"
Aku terus mengoceh. Menikmati dinginnya pagi tanpa pencahayaan di dalam kamar. Menangis dan terkadang tertawa karena apa yang ku ucapkan sendiri. Hah, apa aku terlihat seperti orang gila? Setelah capek mengoceh aku menidurkan tubuhku ke kasur lalu memejamkan mata. Semenjak kejadian itu aku tidak lagi sekolah bahkan keluar dari rumah. Misal kalian tanya gimana dapat bahan masakan atau makanan? Kan ada handphone, bukannya sekarang jaman sudah maju dan lebih mudah?
Suara alarm memenuhi kamarku, aku membuka mata lalu merubah posisi menjadi duduk. Oh ya! Aku baru ingat bahwa aku akan merias seseorang. Ya walaupun aku tidak keluar rumah, aku memiliki sebuah usaha yakni merias pengantin atau yang lainnya. Hari ini aku akan merias pengantin dari komplek sebelah. Dia akan mendatangi rumahku bersama calon suaminya. Aku sangat senang karena dia merupakan pelanggan pertamaku.
Setelah selesai mandi dan berpakaian aku menyiapkan barang-barang untuk merias dan membawanya ke lantai dasar. Setelah menyiapkan semuanya aku menunggu di ruang tamu sembari bermain handphone. Tak lama kemudian orang yang ditunggu akhirnya datang. Aku langsung mengajak mereka masuk ke dalam dan membawanya ke ruang yang telah ku siapkan.
Pertama kali Rina dan Rey masuk, mereka langsung kaget. Entah karena apa, aku tidak tahu. Mereka pun tidak bilang apa-apa tentang keanehan yang ada. Aku langsung menyuruh Rina duduk dan aku bersiap merias wajahnya agar terlihat cantik. Beberapa jam kemudian aku selesai merias Rina, wajahnya sekarang lebih cantik dan terlihat segar hanya saja bibirnya masih pucat karena lipstik punyaku sudah habis.
Aku diam beberapa menit kemudian langsung tersenyum kembali. Dengan gerakan cepat aku mengambil pisau kecil dan menggores lengan Rina membuat Rina dan Rey kaget. Rina pun terlihat meringis kesakitan.
"Ini buat bibir kamu kok, gapapa kan?" ucapku menenangkan.
Rina dan Rey tetap diam dalam keterkejutannya. Setelah selesai aku memperhatikan Rina lalu mataku menyipit karena gaun Rina kurang hiasan. Aku bingung karena tidak ada perlengkapan hiasan untuk gaun ataupun rambut. Kembali lagi, aku diam memikirkan apa yang harus aku lakukan.
ARGH!
Teriak Rina dan Rey bersamaan karena aku mencongkel kedua mata Rey. Mengapa mereka begitu lebay? Padahal itu hanya sebuah mata kan? Ku lihat Rina menangis sesegukan dan badannya bergetar hebat. Aku menatapnya acuh lalu memasang kedua bola mata Rey ke dada Rina sebagai hiasan.
"ARGH! GAK! GAK MUNGKIN!" teriakku terbangun dari tidur. Nafasku tak beraturan dan tersenggal-senggal seakan-akan habis dikejar polisi. Aku menggelengkan kepalaku, lalu memegang kepalaku dengan kedua tangan sembari sesekali mencengkram kuat kepalaku sendiri.
"GAK! AKU GAK SEBERANI ITU BUAT CONGKEL MATA!" teriakku lebih histeris. Kemudian aku berdiri dengan wajah yang pucat dan penampilan seperti gembel, aku berjalan mendekati tembok dan dengan keras mendorong kepalaku menghantam tembok agar halusinasi dan mimpi ku hilang. Namun, harapan hanya harapan. Dengan lemas dan darah yang mengalir dari kepala aku berjalan menuju balkon dan berdiam diri di sana.
Jam menunjukkan pukul 09:32 yang berarti pagi menjelang siang. Aku yang saat ini tengah bersantai di kursi sebelah kolam renang ditemani segelas jus jeruk pun langsung bangkit dan segera terjun ke kolam renang. Setelah menceburkan diri, aku segera berenang dari ujung ke ujung.
Saat di pertengahan kolam aku melihat bayangan hitam, besar dan panjang di bawah sana. Bayangan itu dengan cepat langsung menarik tubuhku hingga ke dasar kolam. Aku yang saat itu hanya mengenakan kacamata berenang pun kehabisan nafas hingga pingsan. Entah pingsan atau mati?
Aku kembali menggeleng. Ah, halusinasiku semakin hari semakin ngawur. Aku yang saat itu sedang di pinggir kolam langsung naik dengan wajah panik, takut dan cemas. Aku melirik ke sekeliling. Banyak pasang mata yang tengah menatapku tajam, sedih, sendu dan dendam. Aku menggelengkan kepalaku keras, lalu berteriak seperti kesurupan.
"GAK! PERGI KALIAN! JANGAN GANGGU AKU!" teriakku sembari menarik-narik rambutku yang basah. Aku kembali berteriak histeris ketika mendengar suara tawa Rian dan Rey. Bukankah itu hanya mimpi? Mengapa terasa seperti nyata?
"ARGH! KALIAN MEMBUATKU SEMAKIN GILA! TOLONG... PLEASE PERGI! AKU INGIN HIDUP TENANG!" teriakku yang tanpa sadar meneteskan air mata.
Setelah bener menit aku tenang dan memberanikan diri untuk berdiri dan memperhatikan sekitar lagi. Dan nyatanya itu kosong. Itu semua hanya halusinasi ku saja. Aku berjalan sempoyongan kedalam rumah lalu menaiki satu persatu tangga menuju kamarku berada.
Chiat!
Gelap, sunyi dan... bau. Itu yang ku rasakan saat kakiku menginjak kamarku sendiri. Tanganku merambat mencari saklar lampu. Tapi tiba-tiba ada bayangan hitam berbentuk tangan yang dua kali lebih besar akan menarik tanganku. Gelap kamarku dan gelap tangan itu sama, tapi entah kenapa bayangan hitam itu terlihat lebih mencolok. Aku langsung menarik tanganku kembali dan menggelengkan kepalaku lagi dan lagi.
"SUMPAH... AKU CAPEK KAYAK GINI TERUS! PLEASE JANGAN GANGGU AKU!" teriakku histeris sembari memukul-mukul kepalaku dengan tanganku sendiri. "Aku punya salah apa sama kalian?" tanyaku lirih dengan tubuh bergetar hebat.
Aku kembali bangkit dan berjalan pelan menuju balkon. Setelah terjadi apa-apa, tempat pelarian ku adalah balkon. Balkon seakan-akan menjadi tempat sandaran bagiku, karena dia tempat yang selalu aku kunjungi setelah terjadi kejadian apapun itu. Siang berganti sore, sore berganti malam. Aku tetap setia di balkon.
Tadi saat jam 12:05 aku turun untuk mengambil beberapa snack, makanan berat dan beberapa kaleng minuman dingin. Saat ini aku tengah memejamkan mataku sembari menikmati hembusan angin malam yang terasa segar, damai dan tenang. Saat aku akan terlelap tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah suara.
"Cindy Tiara Putri,"
"Cindy Tiara Putri,"
"Cindy Tiara Putri,"
Aku yang mendengar namaku disebut tiga kali pun memperhatikan sekeliling, barangkali itu go-jek atau go-food. Namun aku tidak menemukan apa-apa, tiba-tiba buku kuduk ku meremang. Aku merasakan merinding yang luar biasa, hatiku terasa berdenyut nyeri. Dan pikiranku tiba-tiba kosong seakan-akan tak mempunyai otak.
"Sayang, kamu gak mau nyusul kami?"
"GAK AKAN!!!" sahutku seperti orang kesetanan.
Aku berjalan mundur sembari menutup rapat-rapat telingaku menggunakan kedua tanganku. Mulutku terus membalas ucapan demi ucapan suara itu. Hingga badanku menyentuh pagar balkon dan langkahku berhenti. Aku berbalik badan lalu menatap ke arah bawah dengan pandangan sendu, dan penuh harap.
Berharap ada seseorang yang menolongku jika aku terjun ke bawah dan menatap sendu jikalau aku mati sia-sia hanya karena jatuh dari balkon saja. Pada akhirnya aku memilih untuk melakukan self injury. Aku menggoreskan pisau kecil yang selalu aku bawa ke lenganku dan berakhir memotong nadiku sendiri. Seketika tubuhku luruh ke lantai dan meninggal di tempat.
Pada akhirnya aku lebih memilih menyerah daripada terus tersiksa oleh halusinasi ku sendiri. Aku pergi meninggalkan seikat janji yang pernah ku ucapkan pada malam dan semesta. Mereka pasti akan kecewa denganku karena aku telah mengingkari janji yang pernah aku buat dulu. Awalnya aku ingin bertahan dan berusaha untuk tetap tenang, namun aku tidak bisa.
Orang seperti ku akan berbahaya untuk lingkungan sekitar, karena itulah aku mengurung diri di rumah. Aku tidak mau orang lain terkena imbasnya karena ulahku. Tapi, aku telah gagal untuk menahan gejolak hati aku. Aku terlalu digelapkan oleh api dendam hingga aku tega membunuh Ayah dan Ibuku dengan tragis. Bahkan jasad mereka berdua masih ku simpan di gudang belakang rumah.
Dulu aku pernah berjanji...
"Setelah sembuh nanti aku akan menghidupkan Ibu dan Ayahku kembali!"
"Lima tahun lagi aku pasti sembuh dan aku bisa sekolah lagi!"
"Setelah sembuh nanti aku akan berpacaran sama Parel! Ah Farel Ranaka, aku akan kembali untukmu!"
Itulah janji ku. Aku tidak bisa menepatinya. Aku merasa menjadi pengecut yang mundur di tengah jalan. Lupakan tentang janji, setelah kejadian aku bunuh diri kini rumahku terkenal angker. Bahkan banyak warga yang takut hanya untuk melintas saja karena terkadang mendengar suara teriakan ku. Aku pun terkadang berdiri di balkon seperti yang aku lakukan semasa hidupku.