Akhir-akhir ini, hubungannya dengan sang suami seperti masakan yang tak di beri garam. Hambar. Jiana, perempuan 27 tahun itu sudah menikah dengan Juno selama 7 tahun. Jiana yang kerap di panggil Jian itu merasa ada yang aneh dengan suami nya.
Seminggu ini, Juno laki-laki 30 tahun itu, tak lagi memberi perhatian padanya. Akhir-akhir ini, suaminya sering pulang telat, juga sering bermain ponsel dengan waktu yang lama.
Awalnya, Jian tak merasa curiga. Namun lama-kelamaan, dirinya penasaran. Kenapa kah suaminya?! Sampai kini tak lagi memberi perhatian padanya.
Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya pada Juna-Suaminya. Saat setelah makan malam dan Juna kembali sibuk dengan ponselnya di ruang tamu.
"Mas?!" Panggil Jian.
Juna yang tengah duduk, sibuk dengan ponselnya lalu mendongak, "apa?" Tanya nya singkat. Padahal biasnya, jika Jian memanggil, jawaban Juna selalu manis. Seperti, 'iya, Sayang'. Atau 'kenapa, Sayang?' Tapi kini ... jawaban dari Suaminya begitu singkat.
Jian lantas duduk di sebelah kursi yang di duduki Juna.
"Apa, kamu, sibuk Mas?!" Tanya Jian pelan.
"Hm," jawab Juna lagi. Tetap sibuk menatap layar ponselnya.
"Apa, Jian ada salah dengan mu Mas?!" Jian masih bertanya dengan pelan.
Juna menoleh ke arah istrinya, "menurut kamu?!" Tanya balik Juna pada Jian. Jian yang tidak tahu kesalahan nya lantas menggeleng.
Juna menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan kasar. Menaruh ponsel di atas meja dan menatap Jian dengan kesal. "Aku, capek Yan. Sama kamu!" Ujar Juna.
Jian terdiam di tempatnya. Ia menahan butiran kristal agar tak keluar dari sumbernya. Karena, kali inilah, pertama Juna berteriak padanya.
"Kamu tahu?! Aku capek, setiap hari harus di tanya terus-menerus sama Ibu, kapan bisa kasih cucu, kapan bisa hamil istrimu! Aku capek Yan. Tujuh tahun menikah. Tapi kamu nggak hamil-hamil juga!"
Tak dapat lagi Jian membendung butiran kristal bening dari netra nya. Jatuh lah setetes demi setetes. Membasahi pipi mulus nya. Jadi, inilah masalah nya.
"Maaf." Satu kata yang keluar dari mulut Jian.
"Jika memang, kamu tak bisa lagi bersamaku, karena aku yang tak kunjung hamil. Kamu bisa mengembalikan ku pada orang tua ku Mas. Tidak perlu seperti ini." Kata Jian dengan hati yang begitu pilu.
"Jika, memang rasa yang kita punya tak lagi sama, kamu boleh memberiku satu kata yang bisa membuatku dengan mudah meninggalkan mu, Mas. Tanpa perlu basa-basi merubah sikap. Bilang saja sejujurnya." Sambung Jian.
Kini, giliran Juna yang terdiam. Dua pasang mata saling menatap. Jika dulu ada kilatan cinta, kini ... hanya ada kilatan kebencian.
"Kenapa?!" Jian kembali bersuara. "Kenapa harus diam dan di tanya terlebih dahulu? Seharusnya, jika sudah tak lagi memiliki rasa yang sama, bicara saja baik-baik. Jangan bertanya balik kesalahan. Karena perkara hamil dan tidak itu bukan kesalahan. Tapi takdir."
Hancur sudah dua hati yang dulu pernah menyatu. Hilang sudah rasa yang dulu pernah ada.
Kini ... semua rasa cinta yang ada di dalam dada terkubur bersama luka. Terendam air mata. Hilang di telan masa.
-End-