Jangan buat seorang siluman rubah jatuh cinta, maka kau akan diikat layaknya burung dalam sangkar.
Dunia kita berbeda, namun ia tidak peduli akan hal itu. Tetap menerobos masuk kemari. Terakhir lagi tertangkap pemburu, sebenarnya untuk siluman sepertinya membunuh manusia sama seperti menginjak kecoak, teramat mudah. Tapi dia tidak melakukannya.
"Aku tidak mau kau jadi takut padaku." itu yang ia katakan di dekat sungai saat diam diam bertemu denganku. Sengaja memotong kuku kuku panjangnya menggunakan pisau agar tidak sengaja melukaiku.
Aku memeluknya untuk kedua kalinya, menangis di dadanya yang bidang, masih tersisa luka tombak yang dibalut dengan kain kumal.
"Jangan menangis, wajahmu jadi seperti tomat matang. Apa boleh kugigit?" tanyanya jahil. Menarik hidungku yang ingusan.
Aku tertawa.
"Aku baru tahu kalau rubah makan tomat."
"Kalau tomatnya secantik dirimu bahkan rubah sepertiku ini bisa tergoda."
Aku tertawa lagi. Mendekatkan wajahku pada wajahnya yang menawan.
Lelakiku menyeringai, taring taringnya terlihat mengancam tapi juga teramat indah di saat bersamaan.
"Selamat makan." ujarnya.
"Apa aku boleh melepasnya?" Ia sedikit menarik tali bajuku.
Aku mengalihkan pandangan. Wajahku pasti jauh lebih memerah lagi. Tanpa pikir panjang mengangguk. Aku tidak tahu lagi sekarang, dia yang terpedaya olehku atau aku yang terayu olehnya.
Hanya saja, aku tidak percaya, siluman kuat yang ditakuti oleh klan lain ini jadi terlihat seperti kucing menggemaskan di depanku.
"Aku mencintaimu, Lexca." Ia mulai menggigit. Bersamaan denganku yang menggigit bibir bawah.
****
#Flashback
Pertemuan pertama kami adalah di hutan perbatasan kampung. Aku yang seorang yatim piatu merasa takut oleh warga sekitar. Mereka mulai kurang ajar padaku yang baru berusia matang. Memang benar, usiaku adalah usia untuk menikah. Tapi aku terlalu takut untuk melakukannya dengan sembarang orang.
Lelaki itu tidak bisa dipercaya, mulutnya manis tapi hatinya busuk. Mereka menganggap wanita seperti piala bergilir. Karena hukum di sini sangat menyedihkan bagi kaum kami, laki laki bebas memiliki berapapun piala. Dan boleh membuang piala yang sudah tidak berharga.
Malam sudah tiba, aku duduk memeluk lutut di dekat sungai yang memancarkan cahaya bulan. Setidaknya di sini tidak gelap.
Bagaimana kalau ada hewan buas? Aku tidak peduli. Kalau begitu aku bisa berkumpul dengan ayah dan ibuku, itu cukup membahagiakan.
Melihat sungai yang mengalir aku jadi ingin terjun saja. Tapi tidak mau mati tenggelam, pasti sakit. Apa aku mandi saja sampai kedinginan, tapi aku tidak mau mati telanjang.
"Haah..."
Helaan nafas dan kegelisahanku ingin bunuh diri terhenti ketika sungainya berubah menjadi merah. Diikuti dengan benda putih yang mengambang. Tapi itu bukan benda, melainkan seseorang dengan rambut panjang dan ekor.
Itu hewan buas yang kucari! Meski bentuknya lain.
Dia adalah solusi dari masalahku, siluman bisa diajak bicara. Jadi aku akan menolongnya lalu memintanya membunuhku dengan sekali tusuk ke jantung. Setidaknya sakitnya tidak akan lama dan aku akan mati dengan mudah.
Tanpa pikir panjang aku masuk ke sungai yang setinggi pinggangku, meraih tubuh mengambang itu. Aku yakin dia belum mati, siluman itu punya daya tahan tubuh yang mengerikan.
Aku menariknya sampai ke pinggir. Susah payah mengeluarkannya dari air, dia berat sekali. Kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke atas.
Luar biasa! Meski memiliki luka cakaran di pipi, wajahnya sangat indah. Lelaki dengan 10 istri di desaku yang katanya paling tampan itu tidak bisa dibandingkan dengannya.
Tapi lukanya teramat parah, apa dia habis berkelahi?. Aku melepas jubah putih kulit hewan yang ia gunakan, tubuhnya kekar sekali, namun dipenuhi oleh luka tusukan yang menganga lebar.
"Ukh... uhuk uhuk..."
Benarkan dia masih hidup! Bahkan aku tidak perlu menekan nekan dadanya ataupun memberikan nafas buatan.
Singkat cerita aku menolongnya malam itu, merawat luka lukanya, bahkan aku merelakan baju gantiku untuk dijadikan penutup lukanya setelah kuberi dedaunan obat.
"Hey rubah cantik! Kau punya hutang nyawa denganku!"
Paginya ketika aku dan siluman rubah itu bangun bersamaan, dia menggeram padaku, waspada. Meski dengan mata yang setengah terbuka. Mungkin itu insting alaminya.
Aku memberanikan diri mendekat, tak lupa memberikan senyuman semanis mungkin agar dia tidak merasa terancam.
Tapi memang dasarnya hewan buas, rubah itu mencakar bahuku hingga berdarah.
"Ggrrrr...."
"Heyy! Aku itu orang yang menolongmu! Kenapa kau jahat padaku." Aku terduduk di tanah, menangis, bahuku sakit, sangat perih. Dan rubah itu benar benar seperti hewan, masih menggeram.
"Sudahlah aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" Aku berteriak tepat di depannya. Kemudian berlari meneruskan perjalananku untuk pergi ke perkampungan lain. Rubah itu tidak mengikutiku karena setelah itu ia pingsan lagi.
Besok dan seterusnya, siluman rubah itu terus mengikutiku saat aku masuk ke dalam hutan untuk mencari tumbuhan yang bisa dimakan. Ia melindungi ku dari binatang buas seperti beruang, harimau, dan serigala. Bahkan ia juga pernah meletakkan hasil buruan ke dalam keranjang ku saat aku tertidur di dekat sungai.
Itulah pertemuan kedua kami.
Dan sungai ini adalah tempat kita melakukan kencan harian.
Kencannya seperti apa hanya kami yang tahu.
*****
"Uh, bekasnya masih ada ya. Aku benar benar minta maaf." Lelakiku menyentuh lembut bekas luka di bahuku.
"Itu sakit sekali loh, huhuhuuu...."
Ia menunduk, telinganya tiba tiba menurun. Itu artinya dia sedang sedih, merasa bersalah. Aku tertawa, merebut ikan bakar dari tangannya.
"Ini buatku ya, baru aku maafkan." aku nyengir.
"Ah, kau suka ikan ya?"
"Tentu saja, gadis tak bersuami sepertiku ini tidak pernah makan daging lo."
Wajah siluman rubah di depanku ini mengerjap tidak terima dengan pernyataanku.
"Omong kosong. Setiap hari aku kan berburu untukmu."
"Kau kan bukan suamiku!" Aku memanyunkan bibirku, manja, sengaja menggodanya.
Dan dia memang lemah terhadap rayuan. Langsung saja menyambarnya.
"Ugh... Sudah ahh... Aku mau makan!" Aku mendorong wajahnya agar menjauh.
"Setelah yang kita lakukan selama ini kau tidak menganggap ku sebagai suami? Gadis kecil ini tega sekali."
Aku tertawa. Merengkuh siluman rubah itu, dia milikku. Cukup dengannya saja aku sudah puas.
*****
"Hey, bukankah siluman rubah itu memiliki usia ratusan tahun?" tanyaku suatu hari di musim gugur. Kami tiduran di bawah pohon yang menjatuhkan daun kering. Menatap matahari yang hangat.
"Ribuan, ah tidak. Aku tidak tahu. Hidup ya hidup, jalani saja, tidak pernah kuhitung."
"Kalau aku mati nanti apa yang akan kau lakukan?"
"Hmm, ikut mati denganmu? Apa menurut kalian orang mati itu bisa bertemu dengan orang mati yang lain?"
Aku tertawa, dia bodoh sekali!
"Kalau aku mati kau harus terus bertahan hidup."
Siluman rubahku tidak terima, tiba tiba naik ke atas tubuhku.
"Tidak mau, aku bisa gila jika tidak ada dirimu."
Aku menjitak keningnya.
"Aku tidak mau kalau nanti bereinkarnasi tidak menemukanmu."
"Reinkarnasi?" ulangnya, tidak mengerti.
"Iya, manusia yang mati akan terlahir kembali. Kalau aku mati nanti kau harus menemukanku dan jatuh cinta lagi padaku."
Ekornya bergerak gerak kalau ia tidak paham dengan sesuatu. Akhh menggemaskan sekali.
"Bagaimana caraku bisa tahu jika itu kau?",
Aku menciumnya.
"Tentu saja kau harus tahu."
Aku teramat menyesal hari itu, kenapa kami tidak bertemu di dekat sungai dan malah asik menikmati daun yang berguguran di tengah tengah hutan.
Seseorang dari desaku melihatku dan kekasihku. Ia langsung melaporkannya ke kepala desa lantas malam itu juga kepalaku dipenggal.
"Tidak apa apa sayang, aku akan segera bereinkarnasi dan menemuimu. Sabarlah sebentar"
Siluman rubah itu membakar habis desa beserta seluruh manusia di dalamnya. Ia tidak membiarkan satupun kabur. Mau itu orang tua maupun anak anak.
Ia kembali menjadi siluman yang dingin. Tidak, itu takdirnya. Siluman dengan usia panjang tidak boleh jatuh cinta dengan manusia yang bisa mati kapan saja.
Itu menyakitinya, kematianku menancapkan duri abadi di dalam hatinya.
Kalau aku benar benar bereinkarnasi, apa kita bisa bertemu? Apa kau bisa jatuh cinta denganku lagi dengan posisi sudah kembali menjadi rubah pembunuh.
Aku minta maaf, sungguh!
Tapi aku tidak mau berakhir!
Kisah kita harus diteruskan.
End
Carita ini dilanjutkan dalam novel 'Gadis Antagonis di Dunia Siluman'