Buku ini menjadi saksi pahitnya perjuangan hidupku. Dahulu, aku orang yang ceria dan mudah berbaur dengan semua orang. Namun lika-liku perjalanan ini, mengantarkanku pada keheningan. Tak ada yang kuharapkan lagi di dunia ini, tak ada yang kupercayai lagi di jagat raya ini. Hanya Tuhan yang selalu menemanik, yang tak akan pernah membenci dan meninggalkanku. Aku menatap buku harian yang menemani perjalananku dalam berbagai keadaan.
"Ar-rohmaan, 'Allamal-qur'aan, Kholaqol-insaan, Al-lamahulbayaan, Asy-syamsu wal-qomaru bihusbaan, Wan-najmu wasy-syajaru yasjudaan, Wassamaa-arofa'ahaa wawadho'al-miizaan, 'Alla tathghoufil-mizaan" Tangis mengucur dipipiku, seiring ayat-ayat suci yang kulantunkan.
Mungkin Tuhan marah, mungkin Tuhan kesal. Namun, Dia tak akan pernah meninggalkanku. Ya, Dia tak akan pernah meninggalkan pendosa yang merengek memohon ampunan-Nya. Aku sendiri disini, bertemankan hening dan gelap. Bukan tak ada yang perduli, tapi Ibu dan Bapakku sangatlah tidak pantas mendengarkan kisah sedihku. Aku terbayang wajah lelaki itu, dia benar-benar menyayat kalbu. Sentuhan menjijikan tangannya di daguku, sungguh menyisahkan luka yang teramat pilu.
"Aku mengagumimu, wanita terbaik yang pernah aku jumpai dalam hidupku. Wanita sholehah yang berhasil menggetarkan hatiku. Aku mencintaimu Lisa" Ucap lelaki tua itu dengan senyuman menjijikan.
Aku menangis, menatap wajahnya penuh ketakutan. Aku diam, dalam sentuhan tangannya yang menyakitkan. Hatiku terus membatin, "Jika memang wanita ini sholeha, lantas kenapa Ia membiarkan laki-laki gila ini menyentuh dirinya. Wanita ini terlalu receh, untuk sekelas lelaki sholeh yang telah lama diidamkannya. Hingga sekarang, Ia terjerembab di tempat kelam yang penuh kubangan dosa.
"Lisa, aku akan memberikan apapun untukmu. Aku akan menguliahkanmu, dan memberimu tempat tinggal di kampus idamanmu. Aku akan menunggumu" Ujar lelaki itu dengan senyuman menjijikan kepadaku. Mungkin kegilaaanya membuat urat malunya putus. Hingga Ia tak sadar, bahwa sekarang kami menjadi sorotan.
Aku berlari kebagian belakang toko, dimana aku biasa menumpahkan air mataku dalam ketakutan. Namun apa yang Ia lakukan, dengan beraninya Ia memeluk dan mencium keningku. Aku ingin mendorongnya, memukul ataupun membunuhnya, namun tubuhnya yang kekar, berhasil membuatku terpenjara dalam kuasanya.
"Jangan takut, tak ada yang melihat kita disini" Bisiknya lembut ke telingaku.
"Apakah Tuhan tak melihat perbuatanku ini? Apakah Roqib dan Atid tak mencatat kelakuan bejatku ini? Bahkan aku terdiam dalam cengkraman laki-laki tidak tau umur ini" Aku membatin tanpa pernah mengungkapkannya di bibir.
SREEK!
Bunyi kardus ditarik dari balik kardus tepung yang ditumpuk tinggi. Laki-laki ini membelalakkan matanya kaget dan melepas pelukan menjijikannya. Bisa-bisanya Ia malu kepada manusia yang menyaksikan perbuatan hina ini, tapi tak malu kepada Allah yang jelas memperhatikan kami. Ia mengalihkan wajahnya ke arah wanita yang membawa tumpukan kardus tepung ke luar gudang menuju toko, dan aku memandang tajam ke wajahnya yang munafik dengan peci yang selalu menutupi ubannya.
Dia kembali menatapku dengan tatapan yang sangat-sangat menjijikan dan memegang daguku seenaknya, "Aku tak akan membiarkanmu bersedih seorang diri, aku akan selalu menemanimu dan membahagiakanmu sayang"
Ya Tuhan, aku menjaga diriku dari sentuhan apapun sembilan belas tahun lamanya. Hingga diusiaku yang ke sembilan belas ini, dengan beraninya lelaki itu menyentuh pipiku, menggenggam tanganku, memeluk tubuhku, dan mencium keningku. Seumur hidup, ini adalah dosa terbesar sekaligus terhina dalam hidupku. Apalah artinya jilbab panjang dan pakaian longgar yang membalut tubuh ini, jika noda sudah membekas di kulit yang siap menjadi santapan neraka Jahannam. Aku terus menangis, membayangkan api neraka yang siap membakar hingga usus dan seisi perutku buyar.
Aku bersujud kepada Allah, di atas sejadah yang penuh dengan bulir beningku. Sejadah yang apabila dapat berbicara, maka Ia akan menyuruhku enyah dari tubuhnya.Tangisanku semakin pecah, tatkala kupandang taburan melati di atas sejadah.
"Semalang inikah nasibku? " Ribuan tanda tanya menyelimuti siang yang kelam. Aku duduk di tepi sejadah, menyandarkan tubuh yang rapuh pada dinding batu yang di cat putih. "Ya Allah, akankah aku menikah dengan lelaki tua yang tak pernah aku cintai? " Pertanyaan ini terus muncul dan menyiksa batinku.
Aku tersadar dalam tangisan, mengingat semua itu hanyalah kenangan pahit yang teramat menyakitkan. Aku memeluk mushaf yang bacaannya telah aku usaikan. Aku berharap, inilah kitab yang akan menyelamatkanku dari berbagai kehinaan. Aku bertekad, mulai detik ini tak ada lagi hubungan haram antara lelaki dan perempuan. Itu semua jalan setan, jalan yang menjanjikan kenikmatan, namun menjerumuskan pada kemaksiatan demi kemaksiatan.
"Lis! " Ucap wanita paruh baya dengan penuh kelembutan.
Aku menoleh padanya, dialah Ibu yang melahirkan, membesarkan, dan mendidikku penuh kasih sayang. Ditemankan seorang lelaki keras hati yang selalu memaksakan kehendaknya pada kami.
"Pulanglah Nak, ada yang menunggumu di rumah" Ucapnya lembut sambil tersenyum padaku.
Aku tersenyum padanya, berdiri dan bergegas keluar dari musholla mengikuti langkahnya menuju gubuk kami di samping musholla. Aku melihat pintu rumah yang dibuka lebar, dengan 1 motor matic hitam terparkir di halaman yang sepertinya sangat aku kenal. Aku masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam, lalu mengalihkan pandangan pada tamu laki-laki yang usianya sama denganku. Aku menatap wajahnya di bawah keremangan cahaya lampu, sambil memeluk erat mushafku penuh kebimbangan.
"Andra! " Ucapku kaget penuh dengan tanda tanya, yang Ia balas dengan senyum mengembang dibibir merahnya. Aku duduk di antara Ibu dan Bapak. Mereka menatapku tajam, lalu berdiri meninggalkan kami dua orang insan.
"Aku menanti pertemuan denganmu sepuluh tahun lamanya. Dan hari ini, apa yang kuharapkan terpenuhi" Ucapnya lembut sambil menatap wajahku penuh kesedihan.
Aku melihat seorang insan yang telah lama aku rindukan. Yang dahulunya selalu kusebut dalam doa, namun kuhentikan semenjak aku dalam kehancuran namun Ia tak kunjung datang. Apakah Ia bersalah? Tidak sama sekali! Bahkan, Ia tak pernah mengetahui bahwa aku sangat-sangat mencintainya.
"Kemana kau Ndra? Sepuluh tahun lamanya engkau diperantauan" Ucapku lembut penuh dengan kesedihan.
"Aku bekerja, mencari uang untuk Bapak dan Ibu di Palembang. Menyekolahkan adik, membantu perekonomian keluarga yang diambang kehancuran" Ucapnya lembut sambil menundukkan pandangan seraya tenggelam dalam kesedihan.
"Apa kau akan kembali lagi ke Riau, meninggalkan tempatmu bertumbuh di Palembang? " Tanyaku dengan penuh keraguan.
"Aku tak akan pergi lagi. Tak akan pernah meninggalkan wanita yang telah sepuluh tahun aku mimpikan setiap malam" Ucapnya lembut menatap manik mataku penuh kesedihan. Tanpa sadar, bulir bening di mataku dan matanya jatuh membasahi lantai.
"Kau tau, aku hampir dinikahi lelaki tua yang terus menyuguhiku kekayaan? Aku hampir hilang akal, karena berfikir bahwa orang yang amat kucintai telah melupakanku" Tangisku pecah dalam keheningan.
"Aku tau saat kau hancur dalam kekecewaan, saat kau patah bersama harapan. Namun ketahuilah, tanpa ujian tak akan ada hati yang kuat seperti sekarang" Ucapan lembutnya semakin menusuk kalbuku. Aku menangis sejadi-jadinya, hingga mushaf dalam pelukan kebasahan. "Lisa, lihatlah sekarang apa yang kau cita-citakan telah tercapai. Bukankah inginmu, menjadi seorang sarjana dengan gelar pujian? Bahkan, kau mendapatkan juara umum di kampus impian. Dan kudengar, satu tahun belakangan kau diangkat menjadi guru dengan status ASN. Kau telah memenangkan pertempuran Lisa" Ucapnya sambil tersenyum meyakinkanku.
Ya, aku mendapatkan semuanya. Impianku untuk kuliah di kampus idaman, dengan lulus sebagai pujian bahkan juara umum. Aku berhasil meraih cita-citaku, sebagai seorang guru bahkan ASN. Tapi semua ini belum lengkap, karena aku masih sendirian dalam harapan. Aku tenggelam bersama cinta yang pergi meninggalkanku sepuluh tahun lamanya. Dan hari ini, Ia datang kembali tak tau dengan tujuan apa.
Dia adalah lelaki terbaik yang pernah aku kenal. Yang senantiasa menjaga diri dari hubungan haram, yang senantiasa berbuat baik pada orang di sekitar, yang senantiasa menunaikan ibadah dan kewajiban. Bahkan, Ia rela menghabiskan uangnya untuk menyekolahkan adik dan menafkahi kedua orang tuanya. Dan aku tak mengerti, apa alasan kedua orang tuanya enggan bekerja dan membebankan semuanya pada anak bujangnya yang malang.
"Lisa, aku dan engkau tak sepadan. Kau lulusan sarjana, dengan gelar dan pekerjaan yang membanggakan. Sementara aku, hanyalah buruh kasar yang mengharapkan upahan untuk makan" Ucapnya sambil tersenyum penuh kepedihan. Aku menyaksikan air mata itu berkali-kali menetes ke celana yang dikenakannya. "Menikahlah Lisa, ada seorang yang mencintaimu teramat dalam. Dan esok, kalian akan mengikrarkan cinta kalian" Ucapnya lagi sambil tersenyum.
Seiring dengan naikknya rembulan ke permukaan, kulihat wajahnya hilang dalam kegelapan. Suara motornya tak lagi terdengar, dan hari ini Ia benar-benar hilang dalam harapan. Ku lihat kotak cincin di tangan, kubuka perlahan dan kutatap dalam-dalam. Betapa hancurnya hatiku, bahkan diperantauan, Ia memikirkanku dan mengumpulkan uang untuk melamar. Tapi aku, malah menerima lamaran seseorang yang kaya raya demi membebaskan hidupku dari kesengsaraan dan kemiskinan.