Air mata menetes di pipi Listi, deras bercampur dengan air hujan. Tubuhnya terkulai di antara tanah merah yang kini sudah menutupi jasadnya. Dilihat sekelilingnya, sepi. Tak ada sanak saudara, apalagi sahabat yang menghantar kepergiannya.
Yah, Listi bersemayam di lubang itu, sendirian saja, tanpa prosesi pemakaman pada umumnya. Wajah dan tubuh lebamnya kini sudah tertutupi tanah merah, diiringi seringai kejam dari bibir hitam Fais, suaminya.
Setelah memendam tubuh istrinya itu, Fais beranjak pergi dengan bahagia. Dia kembali memasuki rumah, disambut semringah Ria, kekasih barunya.
"Sudah, Sayang?" tanya Ria antusias.
"Sudah! Sekarang kita bebas menikmati bulan madu kita, tanpa celotehan perempuan j3l3k itu!" sahut Fais tersenyum manis.
"Mandi dulu, sana!" pekik Ria saat Fais menggodanya.
"Mandiin, ya?" goda Fais sambil mengedipkan mata.
"Ayuk!" sahut Ria menantang.
Dua sejoli itupun memasuki kamar mandi. Terdengar suara cekikikan dari kamar mandi itu. Tampak Listi mematung dengan wajah pucat menatap pintu kamar mandi yang setengah terbuka.
Rumah itu terletak sangat terpencil. Rumah peninggalan orangtua Listi yang meninggal karena kecelakaan beberapa tahun lalu. Tinggallah Listi sebatangkara di rumah itu, hingga dia dinikahi Fais.
Fais yang hanya memanfaatkan ketulusan hati Listi itu, tinggal di sana tanpa mau bersusah payah sedikitpun. Selama menjadi suami Listi, Fais tak pernah bekerja. Dia hidup mengandalkan gaji Listi yang memang seorang perempuan pekerja keras.
"Besok gajian, aku beliin hape ini, ya?" ujar Fais seraya menyodorkan brosur yang tadi siang diambilnya, saat jalan-jalan bersama Mimin kekasihnya.
"Looh, bulan lalu kan baru aku beliin hape, Mas?" tanya Listi pelan.
"Hilang!" sahut Fais santai.
"Hilang di mana?" tanya Listi heran.
"Hilang ya hilang, nggak tau di mana? Kalo tau di mana, berarti nggak hilang, bodoh!" bentak Fais kesal.
"Yaudah, nanti aku belikan!" sahut Listi pelan.
"Sekarang aja, deh! Kamu kan punya simpan!" seru Fais tanpa perasaan.
"I-iitu!" sahut Listi keberatan.
Duitnya tinggal untuk bayar listrik bulan itu, tapi Fais tak mau mengerti. Diseretnya Listi ke motor maticnya, lalu melaju ke toko hape yang tak jauh dari rumah itu.
Listi menarik napas berat, dibayar hape yang sudah digenggam Fais dengan bangga.
"Kamu pulang sendiri, ya? Tolong bawain kardus hapenya pulang!" perintah Fais dengan sombong.
Dia lupa seluruh yang dia pakai itu, hasil pemberian Listi. Dia hanya akan bicara sedikit manis, saat ada butuhnya saja. Setelah semua yang diinginkannya terpenuhi, dia akan mengusir Listi pergi.
Listi melangkah lemas menuju rumahnya. Hatinya perih sekali diperlakukan seperti itu. Dia diperbudak oleh Fais. Namun dia tak ingin meninggalkan Fais. Baginya, Fais itu keluarganya satu-satunya, kini dan untuk selamanya.
Cukup baginya, Fais tak menyakitinya secara fisik. Walau sering Fais menyakitinya dengan berbagai umpatan-umpatan kasar. Bagi Listi tak apa, asalkan Fais tak mengkhianatinya.
Listi tak mengetahui, jika Fais sebenar sudah bermain gila dengan banyak perempuan di belakangnya. Tapi Listi tetap menyayangi suaminya. Banyak sahabatnya berusaha menyadarkan tentang kelakuan Fais, tapi Listi tak menanggapi.
Malam itu, Fais pulang bersama kekasihnya bernama Ria. Entah kerasukan setan dari mana, dengan sadar, Fais menarik kaki Listi yang sedang terlelap di pembaringannya, hingga jatuh ke lantai.
"Keluar kamu perempuan sund4l!" bentak Fais seraya menend4ng perut Listi yang masih menger4ng kesakitan.
Mata Listi berkunang-kunang, dia berusaha bangun, tapi kepalanya sakit sekali. Dirabanya kepalanya yang basah karena darah. Namun kesadarannya tiba-tiba pulih seperti tak terjadi apa-apa, saat matanya menangkap sosok perempuan berdiri di samping suaminya.
Listi merasa marah sekali, saat melihat Fais memeluk mesra wanita itu. Wanita itupun balas merangkul dan mencium bibir Fais. Listi berteriak keras, ingin mem*k*l keduanya.
Namun Fais dengan santainya balik menend4ng lagi dada Listi.
"Eh, perempuan si4l4n, aku sudah bosan denganmu, lebih baik kamu m4ti malam ini!" seru Fais dengan ger4m.
Dia meraih tubuh Listi yang terhemp4s di tembok, dip*k*Li wajah Listi tanpa ampun, terakhir di b3nturkannya kepala yang sudah babak belur itu ke tembok.
Krak!
Terdengar suara berder4k yang mengerikan. Listi terkulai tak bersuara lagi. Kini Listi menyaksikan semua kelakuan dua manusia j4h4t itu, berbuat dos4 di hadapan tubuh dinginnya.
Listi yang sudah tidak bisa mem4ki, hanya bisa terduduk menyaksikan kelakuan suaminya dan wanita bernama Ria itu.
"Hahahaha, akhirnya aku bisa jadi nyonya di rumah ini!" gelak Ria sambil menatap tubuh beku Listi yang terkulai bersimb4h d4r4h, "mau dibuang ke mana b4ngk4inya, Aa?" tanya sambil memeluk mesra Fais.
"Besok kutanem di belakang rumah aja, rumah ini kan, luas, jarang ada yang datang!" sahut Fais dingin.
Mereka kembali berg*m*l mereguk madu dosa, tanpa menyadari tatapan dingin Listi yang masih memandangi keduanya.
Bibir Listi komat-kamit berdoa minta keadilan pada Tuhan. Dia terus mengawasi kelakuan Fais dan Ria di rumah itu, hingga keduanya menjual rumah itu, karena merasa dihantui oleh Listi.
Bertahun-tahun rumah itu akhirnya kosong tidak terurus, karena pembelinya merasa dihantui oleh sesuatu. Antara ada dan tiada, arwah Listi masih merapikan rumah itu.
Listrik yang sudah tidak dibayar, akhirnya diputus, hingga rumah itupun gelap gulita. Namun, karena posisinya sangat terpencil, tak ada yang tahu atau memperhatikan, jika setiap malam rumah itu masih tetap menyala, entah darimana mendapatkan tenaga listriknya itu.
Bahkan tampak Listi masih tampak berjalan ke sana ke mari. Hingga pada suatu ketika, Fais yang sudah memiliki mobil, dari hasil menjual rumah, perhiasan, dan tanah warisan orangtua Listi itu, tiba-tiba melintasi rumah itu kembali.
Fais melihat Listi seperti wanita lain yang tak dikenalnya. Mobilnya mogok mendadak di depan rumah yang dikenalinya lagi.
"Kampret, pakai acara mogok di tempat begini, lagi!" sentak Fais seraya turun dari mobil.
Dilihat ke sekelilingnya, dia tak mengenali lokasi itu.
"Mobilnya mogok, Mas?" tanya perempuan cantik menyapanya.
"Eh, iya, nih!" sahut Fais terkesima melihat gadis cantik berdiri anggun di samping mobilnya.
"Ini jauh dari mana-mana, Mas, kalo berkenan, Ayuk singgah ke rumah saya, di sana!" ujar gadis malu-malu.
"Boleh, kalo tidak keberatan?" sahut Fais semringah.
"Tentu, boleh, kok!" sahut gadis itu tersenyum.
"Namaku Fais!" ujar Fais memperkenalkan diri.
"Panggil aku Lia!" sahut gadis itu sambil melangkah terlebih dulu.
Pikiran kotor Fais mulai bereaksi. Dia segera menutup pintu mobil, menguncinya, lalu mengikuti langkah gadis cantik itu.
Ria menghubungi Fais yang menghilang beberapa hari ini. Akhirnya ponsel Fais aktif dan dia meminta Ria menemuinya di sebuah lokasi yang menurut Fais sangat indah untuk bulan madu ke sekian.
Ria segera menuju ke lokasi yang diberikan Fais. Diparkirkan mobilnya di sebelah mobil suaminya.
"Indah apaan, tempat terpencil begini?" gerutu Ria sambil berjalan menyusuri jalan berbatu.
Matanya terbelalak melihat ada sebuah rumah putih mewah berdiri di ujung jalan berbatu itu. Dia juga melihat Fais sedang duduk di sebuah bangku taman yang indah.
"Aa, ini rumah siapa?" tanya Ria takjub.
"Ini rumahku" sahut suara dingin.
"Eh?" pekik Ria kaget.
"Sini, Sayang!" panggil Fais semringah, "kamu bawa semua perhiasan dan uang kita, kan?" tanyanya tak sabaran.
"I-iiiya, semua sudah kubawa!" sahut Ria yang masih terkagum-kagum dengan sekitarnya.
"Seperti yang sudah kubilang, aku ingin menikahi dia, dan dia meminta, eh, bukan! Ingin melihat seluruh asset kekayaan ku dulu!" sahut Fais semringah.
"A-aaku, bagaimana?" tanya Ria geragapan.
"Kamu tetap menjadi istriku!" sahut Fais sambil memeluknya mesra.
"Ehem!" tegur Lia berdehem.
"Eh, maaf, Sayang!" seru Fais seraya menghampiri Lia.
Setelah seluruh asset Fais dilihat Lia, diapun memanggil seseorang untuk menikahkan mereka berdua. Saat pernikahan mereka dihadiri banyak orang berwajah datar dan berwajah pucat.
Fais dan Ria tak menyadarinya, mereka sudah silap dengan semua kemewahan yang ditawarkan Lia alias Listi.
Waktu terus berganti, Fais mulai menyadari keanehan istri mudanya. Setiap siang, Fais tak pernah mendapati keberadaan Lia. Hanya ada dia dan Ria di rumah besar itu. Bahkan para pelayan yang biasanya ada banyak di malam hari, tiba-tiba lenyap ditelan bumi juga.
"Aa, aku pengen es cendol, tuh!" tunjuk Ria ke arah pedagang cendol yang sedang menepi di bawah pohon besar rumah itu.
"Abang, bikinin es cendol, dong!" kata Fais dengan keras.
Tukang es cendol itu tetap asyik menonton di hapenya. Dia seakan-akan tak mendengar panggilan Fais.
"Aa, dia tak mendengar!" rajuk Ria manja.
"Iya, iya, Aa samperin!" sahut Fais seraya bangkit menuju ke arah pedagang cendol itu.
"Abang, dipanggil nggak nyahut!" bentak Fais di hadapan pedagang itu.
"Astaghfirullah al aziiim!" pekik pedagang itu terkaget-kaget, "Mas ini muncul dari mana, sih? Tau-tau udah di depan saya aja?" tanyanya bingung masih sambil mengurut dada.
"Dari tadi saya panggilan nggak nyahut-nyahut sih, Bang?" ujar Fais lagi.
"Eh, maaf, lagi asyik nonton film, nih!" sahut si Abang sambil nyengir kuda.
"Bikinin dua cendol ya, Bang!" ujar Fais lagi sambil duduk di bangku yang disodorkan.
"Siap, boss!" sahut si Abang.
Dengan cekatan dia meracik cendol dua gelas, lalu diserahkan kepada Fais.
"Saya bawa dulu ya, Bang, nanti ambil di rumah itu!" ujar Fais seraya meletakan uang lima puluh ribu.
"Waduh, saya nggak ada kembaliannya, Mas!" ujar Si Abang lesu, "nggak ada uang kecilan, apa?" tanyanya sambil nyengir.
"Yaudah, kembaliannya ambil, saya beli ma gelas, deh!" ujar Fais cuek.
"Makasih, Mas!" sahut pedagang itu semringah.
Tiba-tiba Fais berbalik dan bertanya, "Abang ke sini, ngeliat dua mobil yang di sana itu, aman, kan?"
"M-mmmobil? Dua mobil yang ditemukan ada may4tnya, Mas?" tanyanya bingung.
Beberapa Minggu lalu, desanya gempar, karena ada dua mayat di dua mobil yang terparkir di ujung jalan setapak itu.
"M4y4t?" tukas Fais melotot.
"Ish, lama amat cendolnya, Aa?" tegur Ria kesal.
"I-iiya mayat, Mas!" ujar si Abang antusias, "nih ada di google beritanya!" ujarnya sambil mengetik di hape.
"Coba lihat?" seru Fais seraya menghampiri pedagang cendol itu lagi.
"May4t apaan, sih?" tanya Ria menjadi penasaran.
"H-hhhhantuuuu!" pekik si Abang, saat melihat foto yang ada di berita google itu, mirip dengan kedua orang yang membeli cendolnya.
Dia tunggang langgang meninggalkan gerobak cendolnya, dan hape yang terjatuh ke tanah.
Mata Fais terbeliak melihat fotonya dan foto Ria terpampang di bawah judul berita, "Ditemukan mayat pasutri di dua mobil yang terparkir"
Tamat