Pagi yang begitu indah. Jam baru menunjukkan pukul 07.30 dan sebentar lagi aku akan tiba di tempatku bekerja. Sudah setahun ini aku bekerja di perusahaan garmen sebagai tenaga administrasi. Pekerjaan yang sangat aku sukai. Maklumlah dengan ijasah SMK begini aku harus cukup puas dengan apa yang kudapat saat ini. Walaupun sebenarnya saat ini aku hanya tinggal menyelesaikan 4 semester lagi maka aku akan menjadi sarjana. Kegiatan kuliah sambil bekerja ini memang harus kulakukan mengingat kondisi perekonomian keluargaku yang sudah tak sanggup lagi membiayai kuliahku. Ayahku hanya seorang guru SD sedang ibuku hanya tukang jahit. Jadi sudah pastilah sangat susah bagi mereka untuk tetap membiayai kuliahku dan juga sekolah adikku yang sekarang duduk di bangku SMU kelas 2.
“Assalamualaikum Nik! Apa kabarmu hari ini?”. “Waalaikumssalam. Alhamdulillah, aku baik-baik saja! Kamu sendiri Yu? Kapan kamu sampai dari Garut?”. “Aku sampai kemarin hampir siang! Oh iya, apa ada berita baru di sini selama aku tinggal cuti ke Garut?”. “Kayaknya sih nggak ada. Semua baik-baik saja!. Aku ke ruanganku dulu yah, Yu!”, “Ok. Selamat bekerja yah!”. Aku hanya tersenyum. Kulangkahkan kakiku menuju ke ruanganku. Ruangan itu masih sepi hanya Wiwit dan Dewi yang terlihat di ruangan itu. Maklum mereka berdua anti lembur sehingga mau tidak mau pagi-pagi sekali mereka harus sudah ada di kantor. Berbeda dengan Sandra, Heri, dan aku sendiri yang hampir setiap hari pulang larut malam. Aku melangkah menuju mejaku setelah terlebih dahulu menyapa mereka. Aku terkejut demi melihat rangkaian bunga di atas mejaku. Kuperhatikan bunga itu tak ada nama pengirimnya hanya ada secarik kertas bertuliskan “TERSENYUMLAH KARENA SENYUMMU ADALAH SENYUM TERINDAH YANG PERNAH KULIHAT”. Aku ingin bertanya pada mereka namun kuurungkan niatku itu. Biarlah nanti jam makan siang baru aku tanyakan pada mereka.
cintai hanya mempersembahkan jiwa dan raganya untuk Mas. Coba Mas bayangkan, bila saja istri Mas mempertontonkan keindahan tubuhnya dan semua teman-teman Mas terkagum-kagum, apa Mas yakin mereka hanya “Kagum” tetapi tidak “Nafsu”. Kekaguman akan ciptaan Allah yang indah dengan nafsu mempunyai perbedaan yang sangatlah tipis. Belum tentu mereka berdecak-decak itu berasal dari kekaguman, bagaimana kalau decakan itu berasal dari nafsu siapa yang rugi. Ketahuilah Mas, isrtri yang baik adalah istri yang bisa menjaga harta dan kehormatannya untuk suaminya dan dengan menutup aurat dia berarti telah menjaga kehormatannya”. “Bukan main, pantas mamaku bisa berubah mendengar penuturan kamu. Sekarang aku ingin menanyakan satu hal kepadamu. Apa arti hubunganmu dengan Bayu?”. “Kenapa tiba-tiba Mas menanyakan itu?”. “Aku hanya ingin tahu saja karena aku lihat kalian begitu dekat. Pulang dan pergi selalu sama-sama. Laki-laki dan perempuan bila terlalu dekat itu bisa berbahaya. Aku yakin kamu pasti lebih tahu dari aku”.
“Mas, Bayu dan saya memang memiliki hubungan. Saya menyayanginya dan dia pun begitu. Mas puas dengan keterangan itu?”. Mas Erman terdiam. Wajahnya yang tadinya kulihat begitu ramah dan bersahabat tiba-tiba saja berubah menjadi begitu kelam dan amat sangat tidak sedap dipandang mata. “Sebaiknya kita pulang Nik, dan mengenai surprise party, biarlah aku nggak ingin membuang-buang waktumu”. Mas Erman beranjak pergi. Aku bingung dengan perubahan sikapnya itu. Aku berusaha mengejarnya hingga sampai ke pelataran parkir. “Maaf Mas, ada apa? Kenapa Mas tiba-tiba berubah seperti ini?”. “Aku nggak mau mengganggu hubunganmu dengan Bayu!”. “Hubungan bagaimana maksud Mas, apa Mas tidak lihat saya kan tadi pamitan sama Bayu dan apa Mas bisa melihat kalau hubungan kami terganggu”. “Kamu jangan twerlalu naif Nik, kamu itu kekasihnya Bayu. Apa kata Bayu kalau kita terlalu dekat”. Tanpa kusadari aku tertawa. Aku merasa lucu dengan kata-kata Mas Erman. “Sebaiknya kita pulang daripada kamu ketawa ketiwi nggak jelas begitu!”. “Mas tunggu, saya dan Bayu memang saling menyayangi seperti kakak dan adiknya dan juga saling mencintai karena kami sesama muslim. Kami bukannya sepasang kekasih atau sedang berpacaran. Tidak!”. Pak Erman kulihat sempat terkejut dengan pernyataanku. Wajah terkejut itu begitu tampan entah kenapa hatiku berdesir halus.
“Maaf Nik, aku pikir kalian adalah sepasang kekasih. Ayo kita pulang”. Begitu kami berada di dalam mobil, dia tidak langsung menyalakan mobilnya namun malah mengatakan sesuatu yang hampir membuatku pingsan. “Nik, apa kamu terima dengan senang hati bunga dariku tadi pagi”. “Apa! Jadi itu bunga dari kamu Mas?”. “Iya, jujur saja Nik. Sejak pertama aku melihat kamu, aku seperti merasa bahwa kamu adalah tipe wanita yang aku cari. Kamu berperinsip dan kamu selalu yakin bahwa apapun yang kamu lakukan pasti benar dan kamu tidak pernah menyesali keputusan yang kamu buat. Satu lagi yang membuat hatiku terpesona yaitu senyumanmu. Entah mengapa aku ingin sekali menjadi orang yang pertama dan Insyaallah menjadi yang terakhir bagi kamu”. Aku hanya menunduk. Aku yakin pipiku saat itu pasti sedang bersemu merah. Dia berusaha meraih jemariku, namun dengan halus kusingkirkan tanganku. “Maaf Mas, saya bukan mahram kamu. Kalau memang kamu mau menyentuh saya, kita harus menikah dulu”. “Apa? Jadi kamu mau menikah denganku? Katakan kapan kamu siap jadi istriku?”. “Terserah kamu Mas, kapanpun saya siap hanya 1 permintaan saya. Tolong izinkan saya melanjutka S1 saya, walaupun kita sudah menikah kelak. Agar saya pantas mendampingimu Mas!”. Mas Erman hanya mengangguk. Syukur Alhamdulillah kupanjatkan kepadamu ya Allah. Engkau telah memberikan pria yang baik untukku. Dan yang terpenting dari semua itu aku mencintainya.