Brum brum brum
mobil sport keluar terbaru bewarna hijau terang memasuki halaman parkir di sekolah paling elit di kota A. mobil mewah itu di parkir di dekat deretan mobil lain tapi hanya mobil itu yang paling mencolok dan jadi pusat perhatian orang-orang yang ada di situ.
Pintu mobil mewah itu terbuka keluar seorang pemuda yang sangat tampan. Dia adalah Erlangga Pramuja Sutowo anak konglomerat di kota A.
Brrakk
Ia membanting pintu mobilnya kemudian ia merapikan lagi seragam sekolahnya agar tampilannya lebih wah di banding yang lain. Siswi-siswi yang ada di parkiran tampak melongok memperhatikan Erlangga tanpa berkedip sedikitpun. Erlangga yang jadi pusat perhatikan lewat begitu saja dari hadapan mereka, dengan gaya cool dan pergi begitu saja.
Kini ai berada di dalam kelas mengikuti mata pelajaran pertama dengan fokus tapi tidak dengan siswi-siswi yang lain mereka lebih fokus menatap Erlangga. Pak guru yang menjelaskan beberapa kali berdehem.
Sala satunya Megan. tetapi tatapan megan lain di bandingkan dengan siswi yang lain, megan yang memperhatikan Erlangga seperti berpikir bahwa ia mengenal sosok pemuda ganteng yang di pandanginya. Bel istirahat berbunyi beberapa kali.
"baiklah anak-anak, kalian boleh istirahat, sampai berjumpa hari rabu", pak guru mengakhiri pelajaran. ia merapikan semua buku di atas mejanya dan membawanya pergi keluar kelas.
Siswi siswa merapikan buku pelajaran dan memasukan dalam laci. Megan yang lebih cepat membereskan buku pelajarannya mendekati meja Erlangga dan berdiri di dekat erlangga, Erlangga yang lagi sibuk tidak menyadari megan yang kini berdiri di sampingnya dan terus menatapnya.Hal itu di tatap sinis oleh siswi yang lain.
Karena semua sudah beres Erlangga berdiri, Erlangga tampak tinggi menjulang di samping Megan.
"Erlangga, kamu Erlangga kan?", tanya megan, mendongak menatap erlangga di sampingnya.
Erlangga berpikir, kok ada yang kenal dirinya padahal ini hari pertama dia masuk sekolah ini.
"iya kamu siapa", tanya Erlangga sambil mengernyitkan dahinya.
"Aku megan teman SMP kamu masak kamu lupa", megan mencoba mengingatkan erlangga.
"Megan", gumam erlangga pemuda ganteng itu mencoba mengingat.
"Udah, udah. nanti kita ceritanya di kantin aja", megan menghentikan erlangga yang tengah berpikir sambil memijat kepalanya.
"ok", ucap erlangga. mereka meninggalkan kelas menuju kantin. berjalan berbarengan. selama perjalan ke kantin megan lebih banyak bercerita tentan sekolah. sedang kan erlangga lebih banyak diam dan sesekali tersenyum melirik megan di sampingnya.
Tiba-tiba Erlangga menabrak tong sampa karena pandangan erlangga seketika rabun.
Brak
Tong sampa itu terjatuh kelantai isinya semua berhamburan keluar. Erlangga oleng hampir jatuh megan buru-buru menahan tubuh tegap erlangga sigap supaya tak terjatuh.
Erlangga memegang kepalanya yang terasa sakit. ada kepanikan di wajah megan saat melihat wajah erlangga terlihat pucat.
"kamu tidak apa-apakan?", megan bertanya. erlangga menggeleng.
"ayo kita duduk dulu", ajak megan sedikit panik wajah gadis itu terlihat iba. megan memapah erlangga untuk duduk di kursi lorong ke kantin.
"bastian", panggil megan ke temannya yang kebetulan lewat. bastian menoleh ke megan dengan erlangga.
"tolong kamu belikan air mineral di kantin ya", megan meminta tolong ke bastian. erlangga kini bersandar di kursi dengan mata terpejam menahan rasa sakit di kepalanya.
"ok", jawab bastian, lalu bastian sedikit berlari ke kantin.
"Erlangga kamu kenapa", tanya megan, dari suara gadis cantik itu terdengar rasa kuatir yang mendalam kepada pemuda yang sudah di cintai nya sejak SMP. sambil mengusap bahu erlangga.
"ini", bastian memberikan air mineral kepada megan.
"makasih ya", megan melihat ke bastian, bastian mengangguk.
"kamu minum dulu", megan mengarah botol air mineral untuk di minum erlangga. erlangga yang masih pusing minum cuma sedikit lalu kembali bersandar.
*bagai mana ini, apa yang sebenarnya terjadi pada erlangga*, bisik hati megan yang tanpa berkedip menatap erlangga.
"lang", panggil megan tapi tak ada jawaban dari erlangga. karena tak ada jawaban megan menggoyang tubuh erlangga. ternyata erlangga pingsan.
mengetahui erlangga pingsan megan tanpa sadar berteriak.
"tolonggggg",
Di rumah sakit megan tampak kalut, air matanya terus mengalir dari sudut matanya.ai berdiri di depan pintu ugd. megan terus memandang kedalam melalui kaca. di atas ranjang erlangga terbaring lemah tak ada pegerakan sama sekali. begitu banyak alat-alat bantu kehidupan terpasang di tubuh erlangga.
Dokter dan suster tampak sangat sibuk mengecek detak jantung dan lainnya. tak berapa lama layar monitor menunjukan garis lurus. dokter dan suster terlihat panik begitu juga megan yang di balik kaca kecil yang berada di pintu kamar ugd.
megan tak henti-henti berdoa kepada yang maha kuasa, agar erlangga di beri kesehatan. gadis itu terus meringis mengusap muka kasar karena frustasi, cemas semua bercampur aduk.
satu jam kemudian
masa kritis telah di lalui erlangga dan kini megan sudah berada di ruangan dokter. dokter memanggil megan karena keluarga erlangga sulit di hubungi.
"mbak yang sabar ya, jadi gini mas erlangga sudah lama mengidap kanker otak", dokter bicara selembut mungkin agar megan tenang.
megang yang mendengar penjelasan dari dokter terkejut bukan main. matanya melotot rasa tak percaya.
"aku tahu mbak kaget tapi tolong mbak bujuk mas erlangga supaya mau di kemoterapi",
megan tak mendengar omongan dokter itu karena dunianya bagai runtuh seketika. dia sudah lama menantikan pertemuan dengan erlangga tapi ia tak menyangka erlangga sakit keras.
"mbak, mbak mega", panggil dokter, dokter itu tau megan lagi melamun. terlihat dari matanya terlihat menatap kosong.
"i.iya dok", ucap megan terbata-bata karena ia merasa bleng. dokter itu memakluminya lalu tersenyum. dokter menjelaskan kembali.
Megan dengan perasaan sedih duduk di kursi sebelah ranjang erlangga.megan terus memandang wajah tampan erlangga yang kini bagai kapas putih pucat. air mata megan tak perna habis terus dan terus mengalir. penampilannya sekarang sudah kacau.
tit tit tit
suara detak jantung erlangga yang di tampilkan secara visual di monitor.
"lang kami harus semangat, aku belum cerita tentang kita", ucap megan mencoba tersenyum memberi semangat pada erlangga, tapi dia tahu hatinya sangat hancur melihat erlangga terbaring lemah. megan terus menggenggam jari tangan erlangga.
karena merasa lelah megan tertidur. tangannya masih menggenggam tangan erlangga.
Dari koridor rumah sakit Meli, Malik mama papa erlangga buru-buru sekali menuju kamar erlangga. Saat pintu kamar rawat erlangga di buka meli menghambur ke ranjang erlangga.
Wanita itu tak dapat berkata apa-apa ia terus mencium tiap jengkal wajah anaknya yang terbaring koma air matanya tak dapat di kendalikan terus berurai bagai tali yang tak putus.
Demikian juga malik tapi malik lebih stabil di banding meli. hanya matanya yang terlihat merah. mereka belum menyadari mega yang tertidur lelap di sisi ranjang erlangga.
Megan yang merasa terganggu dengan tangisan meli perlahan membuka mata.
"tante om",
megan menatap kedua orang tua erlangga lalu meli bangkit menghampiri meli dan malik.
"meg, terima kasih ya kamu sudah jaga elang",
wanita 42 tahun itu langsung memeluk megi.
"tante yang sabar ya",
megan terus mengusap punggung meli.
tak ada jawaban. meli terus menangis seakan menumpahkan semua kesedihannya.
malik yang melihat hal itu hanya terpaku diam seribu bahasa.
"meg, ayo kita ke kantin pasti kamu laperkan",, ajak malik.
meli dan megan melepaskan pelukannya, sebenarnya ia tak mau meninggalkan erlangga tapi ada sesuatu yang ingin ia tanyakan, sebenarnya apa yang terjadi sebab sejak lulus smp erlangga seolah menghilang dan masih banyak lagi pertanyaan di benak megan.
Malik dan megan kini berada di kantin, megan hanya mengaduk-aduk makanan yang ia pesan. malik yang melihat hal itu tersenyum pahit.
"ayo di makan, jangan di aduk doang",
"enggak laper om",
pria paru baya itu menatap megan, dia merasa bersalah telah memisahkan erlangga dengan megan. tapi semua ini di lakukan demi kebaikan megan. malik tidak bisa berbuat apa-apa erlangga di pertemukan takdir di sekolah.
"om mau cerita sama kamu, om mau mintak maaf juga sama kamu, karena sudah memisahkan kamu degan elang", bibir pria paru baya itu bergetar saat mulai cerita. megan yang penasaran menatap malik intens.
"sejak lulus smp elang mengidap kanker otak, jadi kami membawah elang pindah ke luar negeri untuk mengobatkan elang, om mau yang terbaik untuk elang", mata malik menerawang mengingat masa lalu.
meli tidak mempermasalahkan hal itu.
"om kenapa elang seolah lupa dengan aku", megan bertanya.
"dia sebenarnya tidak melupakan kamu meg, om dan tante sering melihat dia melamun di kamar memikirkan kamu, tapi akhir-akhir ini elang sering lupa, bahkan dengan om dan tante", mata malik berkaca-kaca di akhir kata-katanya.
Wajar saja saat bertemu di kelas erlangga tidak mengenal megan.
"megan sekali lagi maaf, om dan tante. bukan maksud om menyembunyikan ini semua dari kamu....", malik tak kuasa melanjutkan pembicaraannya lelaki paru baya itu menangis menahan sesak di dadanya.
Megan bangkit menghampiri malik lalu memeluk malik dari samping.
"om, aku ngerti", megan juga menangis. mungkin dengan menangis mereka dapat mengurangi beban yang mereka rasakan saat ini.
###
Megan dan malik kembali ke ruang rawat erlangga di sana sudah ada mama papanya menemani meli terlihat hancur terus menangis di pelukan mamanya.
"mel, kamu yang sabar ya", rita mama megan mencoba memberi kekuatan tapi dia tahu itu tidak membuat meli lebih baik tapi setidaknya ia sudah mencoba.
megan yang sedari tiba sudah duduk di kursi samping ranjang erlangga terus membelai wajah erlangga. megan melihat ada gerakan jari telunjuk erlangga.
"ma, pa, om, tante elang sadar", megan sedikit berteriak.
Meli, Malik, Rita dan Anto mendekat ranjang ada rona bahagia di wajah mereka. mereka terus memperhatikan erlangga terus tak sekejap pun mereka berkedip.
perlahan mata erlangga terbuka, pemuda itu tersenyum melihat orang-orang yang ada di hadapannya.
"ma, pa...ak", erlangga mencoba bicara tapi seakan tidak bisa,
"kamu istirahat aja nak, jangan bicara dulu", ujar melih sembari meli membelai pipi putranya yang amat ia cintai.
"ma, mama jangan sedih", ucap erlangga mencoba tersenyum melihat meli.
"mama gak sedih kok nak",
"papa juga jangan sedih", malik mengangguk.
Kini mata erlangga beralih menatap megan. tangan erlangga meraih tangan megan.
"megan maafin aku ya, aku bukan tidak mengenalmu tapi aku gak mau kamu kepikiran penyakit aku", erlangga mencoba menelan ludah membasahi tenggorokanku yang kering.
mendengar itu megan mengangguk dengan cepat berkali kali. sebenarnya megan ingin merawat erlangga tapi takdir bicara lain.
tut tut.
Detak jantung erlangga di monitor tersendat-sendat dan tampak garis lurus mulai keluar dari tepian monitor.
mata erlangga perlahan terpejam. dan menarik nafas nafas dalam. tangannya yang memegang tangan megan terlepas.
mereka panik melihat hal itu, malik berlari keluar memanggil dokter.
"nak bangun, nak", meli tak kuasa menahan rasa sedihnya terus menggoyang tubuh erlangga di atas ranjang. meli dan rita menangis sejadi-jadinya. anto yang menyaksikan itu memeluk putri dan istrinya.
"laaannnggggg jangan tinggalkan mama", teriak putus asa meli. yang kini memeluk jazan erlangga terbujur.
" maaf pak, buk, mbak kalian boleh tunggu di luar",
mereka bertiga keluar dari kamar rawat vip erlangga. dokter menggesekkan alat pemacu jantung. lalu menekankan di dada erlangga. tapi semua sia-sia. erlangga telah pergi untuk selama-lamanya.
" maaf pak, bu. mas erlangga sudah meninggal. kami sudah berusaha yang terbaik untuk mas erlangga",
Meli yang mendengar itu langsung pingsan. megan yang di peluk rita lulu ke lantai.
Sekian