Umurku sudah 17 tahun yahh bagi jaman dahulu ini sudah memasuki usia matang untuk menikah. Aku Isaac Van Lers, anak dari seorang pengusaha kaya dan juga aku keturunan Belanda.
Aku bertemu dengan dia Sri Widjadja dia manis, tubuhnya mungil, kulitnya sawo matang dan sorot matanya yang tajam. Kita bertemu saat Papa menagih utang bapak Sri yang tergolong besar, keluarga Sri tergolong menengah ke bawah. Bapaknya dan ibunya bekerja sebagai petani, sedangkan Sri mengurusi ke 3 adiknya yang ditelantarkan oleh orang tuanya.
Keluarga Sri mulai tak mampu membayar utang utang yang besar itu. Kejamnya mereka merelakan Sri untuk dinikahkan dengan aku, yah Papa hanya setuju saja saat melihat keahlian Sri yang sangat bagus mengurus rumah tangga.
Singkatnya kita dinikahkan pada 24 Januari 1904, pada saat itu Sri berumur 15 tahun dan harus rela melepas adik adiknya yang masih kecil. Upacara pernikahan itu tidak terlalu mewah, sepanjang pernikahan aku dan Sri hanya terdiam tak mengucapkan sepatah katapun. Acara pun selesai, kita tinggal di sebuah rumah sederhana dengan 3 kamar didalamnya, kebun dan pemandanganya tidak terlalu buruk.
Sri bangun terlalu pagi mungkin sekitar jam 4 pagi, ia sudah bersiap untuk mandi dan membereskan rumah. Dan saat aku bangun ia menghidangkan teh melati yang sangat enak. Anehnya aku tak pernah mendengarnya bicara, saat ia dijodohkan denganku pun ia tak protes dan pasrah dengan apa yang terjadi.
Setelah meletakkan teh ku ia segera berangkat pergi menuju pasar untuk berbelanja.
"Ah tunggu!! " Teriakku.
Ia menoleh kearahku dan terheran heran.
"Biarkan aku ikut denganmu"
Ia mengangguk pelan lalu membuka pintu.
Aku segera menyusulnya dan mengikutinya setiap saat. Kita tiba di pasar tradisional, banyak rempah dan daging yang terhidang di sana. Semua orang di pasar tradisional itu mengenalnya.
" Ah Sri... Seperti biasa kan?? " Ucap semua ibu ibu yang kita temui di pasar itu.
Sri terus mengangguk dan memberikan uang tanpa sepatah katapun. Akhirnya kita pun pulang dari pasar. Ia membawa keranjang anyaman yang penuh dengan bahan makanan, aku mencoba membantunya namun ia tetap bersikeras tak mau dibantu.
Dalam perjalanan pulang kita bertemu pasangan yang sedang bertengkar, wanita itu terlihat kecewa sedangkan prianya kelihatan marah besar.
"Ancene!!! Koe iku g####k!! Lapo ngatur aku?? Bah jarno aku ndue bojo 2 kek 3 kek!! Kon iku yo mbok bersyukur wes dijogo apik ambek wes dikek I panganan!! Delok en bojo ne Suparno!! Ga dirumat!!" Teriak pria itu.
"Masss tolonglah!! Aku iku ga pernah mbok perhateni!! Seng mbok perhateni mek bojomu seng ke 2 iku!! " Teriak Wanita itu.
Pria itu kesal melayangkan tamparan pada wanita itu, aku menghiraukannya yah karena... Kejadian itu sudah lumrah di desa ini. Namun Sri tampak kesal, raut wajahnya mengerut ingin sekali menampar pria itu. Ia menegaskan dirinya, lalu berlari menuju pria itu. Dengan tangan yang kaku ia menampar keras pria itu. Pria itu kesal sekali saat melihat Sri yang menampar wajahnya.
"Ancene Wedokan g#####k!!! "
Sebelum tamparan wajah itu mendarat di pipi Sri, aku segera memukul pria itu dengan tangan kosong. Pria itu mulai sempoyongan dan terjatuh. Sebelum para warga berkumpul melihat apa yang terjadi, aku pun menarik tangan Sri dan mengacuhkan belanjaan yang jatuh itu.
Sesampainya di rumah aku tertawa lepas mengingat ingat wajah pria itu yang lemas karena pukulanku, Sri mulai terheran heran dan membuka mulutnya.
"Kamu.... Juga akan seperti itu kan? "
Suara lembut Sri memenuhi telingaku, aku terdiam sejenak terkejut mencoba mencerna apa yang terjadi. Namun aku juga segera membalas ucapannya.
"Ah... Apa yang kau pikirkan? Menjadi seperti pria itu?? Seperti ayahku?? Jangan bercanda itu mengesalkan. Dan.... Kau berani juga ya gadis kecil " Ejek ku sambil menepuk nepuk kepalanya.
Ia kesal lalu menepis tanganku, namun karena kejadian itu aku dan Sri menjadi semakin dekat dan dekat. Akhirnya kita menjadi selayaknya suami istri pada umumnya, kita bermesra, berteman, bersama sama dan juga bergosip.
Sri mulai menjadi aneh ia sering muntah dan juga lemas akhirnya aku membawanya ke rumah sakit. Dan..... Yapp benar Sri sedang hamil!!!!, Sri hamil pada saat umur 21 tahun . Aku sangat senang mendengar berita itu dari dokter dan mulai mengangan angankan bayi itu.
"Apakah dia cwo? Apakah dia cwe?? Apakah dia akan menjadi seperti ayahnya atau ibunya?? " Sri mulai tertawa kecil saat mendengar pertanyaanku.
"Mungkin dia akan menjadi seperti ayahnya yang tegas, ahahah" Ucap Sri.
Aku mulai tertawa dan memeluk Sri sambil menggendongnya kesana kemari. Sri geli dan menyuruhku untuk menurunkannya namun aku terlalu senang untuk menurunkannya.
Keesokan harinya aku bergegas memakan dan mencium kening istriku tersayang dan mulai bekerja tentunya untuk istri dan anakku. Aku sangat bersemangat sehingga tak dapat fokus dan ingin cepat cepat pulang.
Namun tak terasa pekerjaan selesai, aku pun berlari pulang untuk menemui istri ku. Tetapi... Rumah itu sepi sekali, tak terasa tanda tanda kehidupan di sana. Aku mulai menjelajah sekitar kamar itu.
Wajahku mulai pucat saat melihat tubuh istriku tergeletak tak berdaya dengan leher yang tergorok dan pisau yang tertancap di perutnya, darahnya mengalir deras dari seluruh tubuhnya.
𝘿𝙖𝙣 𝙥𝙤𝙡𝙞𝙨𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙩𝙖𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙨𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙪𝙣𝙪𝙝𝙖𝙣
(cerita ini buka gw yang buat tapi temen gw)