“Selamat hari kelulusan sayang, ini buket buat kamu.” Kata manis seorang pria yang bernama Adibrata Gabvin atau kerap di sapa Gavin.
Seseorang yang di berikan buket itu menerimanya dengan senyum manis yang tercetak di bibirnya.
“Makasih, Vin.”
Tangan Gavin beralih mengusap rambut kekasihnya itu.
“Sama-sama sayang,” jawabnya.
Keduanya kini sedang ada di rumah Freya Keysha Zhafiira;kekasih Gavin.
Mengingat mereka berbeda sekolah, jadi Gavin memutuskan untuk merayakan hari kelulusan mereka berdua di rumah sang kekasih.
“Frey,” panggil Gavin.
Mata Freya yang tadinya sedang menatap bunga, kini beralih menatap lelaki yang selama 3 tahun itu selalu bersama dirinya.
“Kenapa?” tanya Freya.
Gavin mengambil alih satu tangan Freya, menggenggam tangan itu dengan erat.
“Kita beda sekolah, dan kita juga bakal beda kampus buat kuliah, aku di Bandung dan kamu di Jakarta. Itu tandanya kita bakal LDR,” ucap Gavin.
Freya mengangguk sebagai jawaban iya.
Gavin menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan.
“Aku boleh minta sesuatu sama kamu?” tanya Gavin.
“Apa?” tanya balik Freya.
“Aku minta, selama kita LDR kita bener-bener harus jaga hati dan jaga mata. Kita harus selalu berkabar, kalo ada apa-apa harus sama-sama bilang, bisa?”
Freya tersenyum, tangan kiri yang memegang buket, kini sudah beralih untuk memegang pipi kekasihnya itu.
“Bisa sayang,” lembut Freya.
Gavin tersenyum senang.
“Setiap malem aku mikir, aku takut kamu bosen sama aku, aku takut ada cowo lain yang bikin kamu nyaman, atau aku takut kalo kamu selingkuh.” Khawatir Gavin.
“Gak ada Gavin, sekalipun ada aku juga gak pernah respon mereka, dan satu lagi, aku gak ada niatan buat selingkuh.” Jawab Freya.
“Makasih udah jaga hati kamu, udah menghargai aku selama aku jadi cowo kamu, udah baik dan sayang sama aku.” Senyum Gavin mengembang saat mengatakan kalimat itu.
“Makasih juga,” balas Freya.
Tapi satu detik kemudian senyum Freya memudar, mimik wajahnya berubah 85%.
Gavin peka akan perubahan wajah kekasihnya itu.
“Kamu kenapa?” tanya Gavin.
“Tapi kalo semua kekhawatiran kamu itu balik ke diri kamu sendiri, gimana?” tanya Freya.
Gavin terkekeh. “Ya gak mungkin dong Frey.”
“Ya... Siapa tau kan?”
“Sayang, kalo aku mau selingkuhin kamu, kenapa gak dari dulu aja? Kita udah 3 tahun loh, jangan khawatir ya.” Gavin berusaha meyakinkan sang gadisnya.
Freya mengangguk, ia berusaha yakin akan semuanya.
“Kamu yakin ngambil jurusan kedokteran?” tanya Freya.
“Yakin, kamu?” tanya balik Gavin.
“Aku masih bingung, mau ambil hukum atau psikologi.” Bimbang Freya.
“Jangan lupa shalat tahajud nya, biar nemu jawaban yang pas. Ikuti kata hati kamu Frey, liat kemampuan, apa kamu bisa di hukum atau di psikologi.” Tutur Gavin.
Freya tersenyum. “Iya sayang.”
“Peluk boleh?” tanya Gavin.
Freya tertawa, lalu ia merentangkan tangannya. Saat itu pula Gavin langsung memeluk sang pacar dengan erat.
“Jadi gak tega buat LDR, mau nya nempel kamu terus.” Kata Gavin.
Freya terkekeh. “Demi masa depan, Vin.”
“Masa depan aku kan kamu, Frey.”
Freya menabok lengan Gavin dengan pelan, sedangkan Gavin malah terkekeh geli.
Setelah itu pelukan mereka berakhir.
“Mau keluar gak? Makan atau apa gitu.” Tawar Gavin.
“Boleh,” setuju Freya. “Aku siap-siap dulu ya,” sambungnya.
“Okeee!”
Freya pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil beberapa barang yang akan ia bawa.
2 menit kemudian, ia sudah ada di hadapan Gavin.
“Kamu pake lipstik?” tanya Gavin.
“Iya,” jawab Freya.
Jari lentik Gavin langsung di tempelkan di bibir mungil Freya, ia menghapus lipstik Freya dengan pelan.
“Kok di hapus?” protes Freya.
“Kamu kalo pake lipstik cantik banget, nanti pada suka. Pake liptint aja,” suruh Gavin.
Wajah Freya memerah, ah padahal ia sudah lama dengan Gavin tapi kenapa rasanya sangat gugup jika Gavin sudah mengeluarkan kata-kata manisnya.
Freya menuruti apa kata Gavin, ia menghapus sepenuhnya lipstik yang ia pakai, lalu memakai liptin yang biasa ia bawa ke mana-mana.
“Udah.”
“Nah kan bagus,” ucap Gavin.
“Kata kamu kalo aku pake lipstik itu cantik banget, kalo pake liptint jelek dong.” Kata Freya.
“Cantik, cuman gak cantik banget. Cantiknya natural cantik buat aku aja,” jawab Gavin.
“Apasih Vin,” sambung Freya sambil terkekeh.
“Udah ah, ayo!” ajak Gavin sambil menyatukan tangannya dengan tangan Freya.
Satu detik kemudian, merekapun melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Freya.
Di dalam mobil mereka tak henti-hentinya bercerita, menceritakan semua hal yang mereka alami.
Bercerita dari awal mereka bertemu, menjalani kisah yang panjang, hingga sudah berangan untuk masa depan.
“Aku mau punya anak 12 pokoknya, sayang.” Ucap Gavin.
“Gila kamu ya, Vin!” tak habis dikit Freya.
“Biar rame gitu loh, buat tim sepak bola.” Kata Gavin.
“Sepak bola mbahmu! Malah kaya pensil warna ada 12!” kekeh Freya.
“Bagus dong Frey, jadinya gak repot-repot ngasih nama. Kasih aja nama hitam, ping, hijau, oren, dan yang lainnya.”
Kalimat Gavin mampu membuat Freya tertawa terbahak-bahak.
“Terserah kamu deh, Vin.”
Gavin ikut terkekeh.
“Freya,” panggil Gavin.
Freya menoleh. “Hm?”
“I love you.”
Seketika wajah Freya berubah menjadi merah, ia menahan rasa salting nya mati-matian.
“Kok gak di jawab?” tanya Gavin.
“I love you too by,” jawab Freya.
“Jangan tinggalin aku ya, Frey.” Pinta Gavin.
“Gak bakal sayang,” sahut Freya.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah warung pecel lele pinggir jalan.
Gavin memutuskan untuk berhenti di tempat itu, juga tak masalah bagi Freya.
“Di sini aja gapapa kan?” tanya Gavin.
“Gapapa dong.”
“Yaudah ayo,” ajak Gavin.
Freya pun mengangguk, lalu mereka langsung turun dari mobil.
Kakinya melangkah masuk kedalam warung dan memesan 2 porsi makan pecel lele.
“Mau duduk di mana?” tanya Gavin.
“Deket jendela aja, sambil liat jalan.” Jawab Freya.
Gavin mengangguk, lalu ia menggandeng Freya untuk duduk.
Ketika sedang menunggu makan, Gavin tak henti-hentinya mengelus tangan mungil Freya, sesekali menciumnya.
Freya yang di perlakukan seperti itu, ia sangat merasa senang, merasa bangga menjadi kekasih Gavin.
“Aku bakal kangen sama kamu,” manja Gavin.
Freya sangat tak keberatan jika Gavin sudah men-cosplay menjadi anak kecil yang manja, ia sangat senang.
“Aku juga sayang,” lembut Freya.
“Kamu jangan berpaling dari aku loh, Frey!”
Lagi-lagi Freya terkekeh. “Ya gak bakal lah.”
“Kalo ngga gini aja Frey, kalo kita udh LDR kamu gak usah pake skincare biar buluk aja, kan pada ga mau tuh karena kamu jelek, biar aku aja yang mau soalnya aku udah tau cantiknya kamu.” Ngawur Gavin.
Pernyataan itu sontak membuat Freya mencubit lengan Gavin.
“Gak gitu juga ya ucup!”
“Ssshhh! Sakit tau ayanggg.” Manja Gavin.
“Ya lagian kamu aneh-aneh aja,” kesal Freya.
Saat mereka sedang asik mengobrol tiba-tiba ada seseorang yang datang dan menyapa mereka.
“Gavin? Freya?”
Suara itu mampu membuat Gavin dan Freya menoleh.
“Loh, Alisa? Kesini sama siapa?” tanya Freya.
Alisa;teman SMA Freya dan Gavin selama 3 tahun. Alisa juga termasuk sahaba Freya, ia selalu bersikap baik kepada Freya, yaaa bagaimana kayaknya seorang sahabat saja.
“Gue sendirian aja sih,” jawab Alisa.
“Sengaja kesini?” tanya Gavin.
Alisa mengangguk. “Tadi abis dari gramed terus laper jadi mampir deh, eh taunya ada kalian.”
“Bagus dong, kita makan ber 3.” Ucap Freya.
“Gak ah, gue makan sendiri aja, masa iya gue jadi nyamuk.”
Gavin dan Freya terkekeh mendengar ucapan Alisa.
“Kalo lo sendirian keliatan banget jomblonya, Sa.” Ledek Gavin.
“Yee! Diem lo curut!” kesal Alisa.
“Udah gapapa Sa di sini aja, sekalian ngobrol-ngobrol sebelum pisah.” Ucap Freya.
Alisa nampak berfikir sejenak, lalu akhirnya ia menyetujui ucapan sahabatnya.
Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan sudah sampai di meja.
Selama makan mereka tidak membicarakan apapun, fokus dengan makan yang di santap.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka ber3 sudah selesai dengan acara makannya, saat itu lah mereka mulai mengobrol.
“Ooh jadi lo sekampus sama Gavin?” tanya Freya.
“Iya, gue keterima nya di situ.” Jawab Alisa.
“Bagus deh, sekalian awasin Gavin.” Kekeh Freya.
“Kalo dia sampe genit, gue gak bakal bilang lo, Frey.” Kata Alisa.
Mata Freya membulat. “Kok gitu?”
“Gue bakal langsung bunuh Gavin, berani-berani nya dia genit ke cewe lain!” ucap Alisa sambil melirik Gavin.
Freya terkekeh mendengar ucapan Alisa, sedangkan Gavin malah acuh.
“Lagian gak ada cewe yang lebih menarik dari Freya,” ucap Gavin.
Pipi Freya memerah saat mendengar kalimat yang Gavin lontarkan.
“Bucin!” umpat Alisa.
Tiba saatnya Gavin pergi meninggalkan Freya, di sinilah Freya merasa antara ikhlas dan tak ikhlas.
“Mau nangis?” tanya Gavin.
Freya menggeleng. “Tadi malem udah puas nangisnya.”
Memang tadi malam Freya menangis habis-habisan, ya namanya juga anak muda sedang bercinta, hanya beda rumah saja mereka sangat merindu apa lagi ini yang akan beda kota.
“Tunggu aku ya sayang, kalo aku pulang aku langsung lamar kamu.” Yakin Gavin.
Freya mengangguk sebagai jawaban iya.
Setelah itu Gavin memeluk Freya dengan erat, sesekali mencium puncak kepala gadisnya itu.
“Apa Freya mau ikut ke Bandung?” tanya Restu;Ayah Gavin.
“Engga om,” jawab Freya.
Keberangkatan Gavin, ia di antarkan oleh Ayah nya naik mobil pribadi.
“Jangan nangis ya sayang,” ucap Tiara;Ibu Gavin;Istri Restu.
Freya hanya menjawab dengan senyuman.
“Udah semua belum, Vin?” tanya Restu.
“Udah, Ayah.”
“Berangkat sekarang?” tanya Restu.
Gavin melirik ke arah Freya, Freya yang peka ia langsung mengangguk.
“Iya, Ayah.” Jawab Gavin.
“Yaudah pamit dulu sama Mama,” perintah Restu.
Gavin langsung melangkah mendekat pada Tiara, ia mencium Tiara berkali-kali, matanya tak bisa di bohongi, ia menangis di pelukan Tiara, pun sebaliknya.
“Kamu harus baik-baik di sana, Mama gak mau denger hal-hal buruk, kamu harus banggain Mama, Ayah, dan orang-orang yang sayang sama kamu.” Nasihat Tiara.
“Iya Mama,” jawab Gavin.
Tiara tersenyum sambil mengelus rambut anak sematawayangnya itu.
Lalu Gavin beralih pada Freya, ia melihat jelas di mata Freya bahwa ia sangat sedih, matanya juga berkaca-kaca.
“Freyy?” panggil Gavin.
Suara Gavin membuat Freya lemah, ia menangis tapi bibirnya menunjukan senyum keterpaksaan.
“Jangan nangis sayang,” lembut Gavin.
“Kamu belajar yang bener di sana ya,” ucap Freya.
“Pasti sayang.”
“Hati-hati, kalo ada apa-apa kabarin.” Kata Freya.
“Iya sayangg, kamu juga di sini baik-baik. Inget yang aku pesenin ke kamu,” ucap Gavin.
Freya mengangguk.
“Sering main ke sini, temenin Mama kaya biasa ya.” Pinta Gavin.
“Iya Gavin.”
“Mama jagain Freya, kalo genit langsung jewer aja.” Ucap Gavin pada Tiara.
Tiara terkekeh. “Iya raja.”
“Gavin berangkat ya, Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Lalu Gavin dan Restu pun langsung masuk kedalam mobil, satu detik kemudian mobil Gavin sudah pergi meninggalkan halaman rumah Gavin.
“Freya di sini dulu kan?” tanya Tiara.
“Iya dong tante, nemenin tante.”
Tiara terseyum, lalu ia mengajak Freya untuk masuk kedalam rumah.
********
Tidak terasa sudah 2 tahun lamanya Freya menjalani hubungan LDR nya, selama 1 tahun hubungannya baik-baik saja, tetapi memasuki tahun ke dua, hubungannya tak jelas.
Kadang Gavin lebih banyak menghilang entah kemana, kalau mengabari ia hanya berkabar bahwa ia sangat baik di sana, atau ia sibuk tidak bisa bermain hp lama-lama.
It’s okey, Freya mengerti, ia juga sibuk. Tapi bedanya, ia masih bisa mengabari Gavin sesibuk apapun.
“Frey?” panggil Daffa;teman kuliah Freya.
“Eh, lo Dav.”
“Ngalamin mulu, mikirin Gavin ya?” tebak Daffa.
Daffa adalah teman Freya semasa kuliah, mereka berdua sudah sangat dekat.
Freya menganggap Daffa adalah teman yang baik di kuliahnya.
Freya mengangguki ucapan Daffa. “Dia gak ngabarin gue dari kemarin.”
“Lo masih percaya sama dia?” tanya Daffa.
Freya mengangguk dengan ragu.
“Kalo ragu samperin aja, gue siap nemenin.” Ucap Daffa.
Mata Freya membulat. “Gila kali! Lagian gue percaya dia sibuk kok, kita kan sama-sama kuliah. Apa yang harus gue curiga-in?”
Daffa mengangguk-anggukan kepalanya. “Up to you, sih.”
Tapi Freya benar-benar khawatir, entah kenapa ia merasa takut.
“Pulang yok,” ajak Daffa.
“Berdua?” tanya Freya.
“Ya iya.”
“Metta mana? Kalo berdua gue gak bisa,” ucap Freya.
Daffa menghela nafasnya kasar, temannya ini kenapa sih? Toh kekasihnya itu tidak akan tau Freya pulang bersama siapa.
Jaga hati sih boleh, tapi gak kaya gini juga kali.
“Yaudah terserah lo, kalo ada apa-apa telfon gue.”
“Iya Daffa.”
“Gue duluan,” pamit Daffa.
“Ati-ati.”
Jam menunjukan pukul 23.30 WIB, seorang gadis masih setia menghadap layar hp-nya. Berharap, ada notif masuk.
“Kamu kemana aja sih, Vin...” lirih Freya.
Tiba-tiba mata Freya tertutup dengan sendirinya, ia tertidur, hari ini ia merasa sangat lelah.
Tak terasa mentari sudah kembali muncul, cahanyanya menelusup ke celah-celah jendela kamar milik Freya, cahaya yang berhasil menerpa wajah mulus milik Freya, membuat sang empu itu terbangun dari tidurnya.
Freya bangkit dari tidurnya dan duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawanya.
Setelah ada beberapa menit, ia langsung membuka HP nya.
Mulut Freya melongo sempurna, matanya pun ikut membulat.
Matanya panas, berkaca-kaca, hatinya pun terasa sakit dan nyeri.
“Ap... Apa ini? Selama dua taun gue nunggu, ini yang dia kasih?” lirih Freya.
Dengan segera Freya menghapus air matanya dan beranjak dari kasur kenangannya untuk mandi dan bersiap-siap.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Freya sudah siap dengan baju sederhana yang melekat pada dirinya.
Hari ini adalah jadwalnya ia kuliah, tetapi ia memutuskan untuk izin dan meminta Daffa untuk menemani nya ke Bandung, menyusul kekasihnya.
Saat Freya sampai di ruang tamu, ia melihat ada keluarga Gavin.
“Sayang? Sini.” Perintah Laras;Ibu Freya.
Freya kaget, ia masih tak bisa berfikir.
Freya melangkah mendekat pada arah kursi ruang tamu, ia melihat mata sembab di wajah cantik Tiara.
“Freya udah tau?” tanya Tiara.
Freya mengangguk dengan tersenyum getir.
“Kita ke Bandung bareng-bareng?” tawar Tiara.
“Freya sama temen, tante.”
Tiara menganggukan kepalanya. “Maafin Gavin ya sayang.”
Freya hanya menjawab dengan senyuman.
Seperti yang sudah di rencanakan, akhirnya Freya, Daffa, dan keluarga Gavin sudah ada di bandung.
Mereka langsung menuju tempat tinggal Gavin.
Tiba-tiba Freya menggandeng tangan Daffa, sang pemilik tangan pun kaget dengan perlakuan Freya.
“Ada apa Frey?” tanya Daffa.
“Gue takut.”
“Gapapa, kita selesein masalah ini.” Ucap Daffa.
Freya hanya diam, tak menyahuti apa-apa lagi.
Saat sudah sampai di tempat tinggal Gavin, Freya dan semuanya di buat bingung.
“Kenapa rame banget?” gumam Freya.
Tak mau berfikir panjang, akhirnya mereka memutuskan untuk masuk kedalam rumah.
“GAVIN?!!!” teriak Tiara.
Freya menutup mulut, tak basa basi air matanya turun sangat deras.
Bagaimana tidak? Ia melihat kekasihnya sedang berjabat tangan dengan penghulu dan ada sahabatnya sendiri yang menjadi pengantin wanitanya.
Daffa langsung merangkul Freya, mencoba memberi kekuatan untuk temannya itu.
Gavin yang melihat Freya di ranggul oleh cowo lain, ia langsung bangkit dan memukul Daffa.
Suasana makin panas tak karuan, Restu turun tangan. Ia menahan Gavin dan...
Plakk!
Ia ikut menampar anak satu-satunya itu.
“AYAH KECEWA SAMA KAMU!!! DASAR ANAK TIDAK TAU DIRI!!! KAMU DI SURUH SEKOLAH BUKAN HAMILIN ANAK ORANG!!!” bentak Restu.
Semuanya diam.
“SEKARANG TERSERAH APA MAU KAMU!!! JANGAN PERNAH PULANG KE RUMAH!!!”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Restu langsung pergi dari hadapan Gavin.
Kata Gavin beralih pada Tiara.
“Mah...” lirih Gavin.
Tiara mendekat pada Gavin, ia masih menangis.
Plakk!
Kedua kalinya Gavin menerima tamparan.
“Mama kecewa sama kamu, Vin!!!”
Tak ada kata lagi yang bisa di ucapkan, Tiara juga langsung pergi dari hadapan Gavin.
Sisahlah Freya dan Daffa.
Mereka berdua saling menatap.
“Fr-“
“GAK USAH NGOMONG!!!” bentak Freya.
“Frey sabar,” bisik Daffa.
“SIAPA LO DEKETIN CEWE GUE?!!” keras Gavin pada Daffa.
“YANG PASTI DIA LEBIH BAIK DARI LO!!!” sahut Freya.
Gavin terdiam.
“Penantian gue selama 2 tahun lo sia-sia in, Vin? Segitunya ya... Gak ada otak dan gak punya hati lo ya!!!”
“Frey aku bisa jelasin,” elak Gavin.
“Jelasin jelasin, ini udah jelas!!!”
“Frey dengerin aku dulu,” pinta Gavin.
“Ini yang lo sebut LDR? Luka Derita Rasa!!!” bentak Freya.
“Lo gak usah ngomong apa-apa lagi ke gue, Vin. Gue udah bener-bener di buat sempoyongan sama lo! Urusin istri sama anak lo, gue juga bisa bahagia tanpa lo. Makasih buat LDR selama ini, makasih banget!!!”
Setelah itu Freya pergi dari hadapan Gavin.
“Laki tapi pengecut!!!” umpat Daffa.
***