“Adi, dari mana saja kamu?” tanya Ibu.
“Dari rumah teman bu,” jawab Adi.
“Sudah kelas tiga bukannya rajin belajar, malah main terus,” omel Ibu.
“Biar saja, Bu, kalau tidak lulus SMA kapok,” goda Dwi.
“Jaga ucapanmu, Dwi, ingat ucapan adalah doa,” kata Ibu.
Adi hanya diam, dia langsung membersihkan dirinya, mandi dan segera berganti pakaian, laparnya sudah tak tertahankan, diambilnya dua sendok nasi dan sesendok sayur kangkung, dan dua potong tempe, dimakannya dengan lahap.
“Makan pelan-pelan saja Di,” tegur ibunya.
“Kak, tadi ayah telpon dan bertanya kakak rencana melanjutkan kuliah dimana?” cerita Dwi.
“Di, kamu harus menentukan pilihanmu, kamu mau kuliah dimana?” tanya ibu.
Adi masih saja terdiam.
“Jadi orang kok gak bisa tentukan pilihan,” kata Dwi.
“Diam kamu Dwi, bantu ibu bersihkan bumbu untuk besok jualan sana,” kata Adi.
Ibu, Adi dan Dwi telah lima tahun hidup bertiga, ayahnya yang awalnya berencana mengadu nasib di kota Sorong di sebuah perusahaan tambang minyak, untuk mencari uang yang lebih banyak, ternyata lebih tergoda juga oleh rayuan wanita lain. Akhirnya ayah dan ibunya mengakhiri kisah cinta mereka di meja hijau. Tuhan Maha Mendengar, tak diberinya anak laki-laki dari istri kedua ayah, akhirnya Adi tetaplah putra kesayangan ayah. Setelah berpisah dari ayah, ibu berusaha membuka usaha catering, ternyata berbuah manis juga usaha ibu.
Setelah pengumuman kelulusan SMA, Adi langsung dijemput ayahnya, berangkat ke kota Sorong, kuliah sambil mempersiapkan diri langsung bekerja di perusahaan yang ayahnya sedang bekerja, ibunya yang sangat bersedih hati hanya dapat mengatupkan bibirnya. Selepas kepergian Adi dan ayahnya, pintu rumah mereka pagi-pagi ada yang mengetuk, “Selamat pagi,” suara seorang gadis.
“Selamat pagi,” ibu tergopoh-gopoh pergi ke ruang tamu, melihat siapa gerangan yang datang.
“Cari siapa ya nak?” tanya ibu.
“Saya Rini, Adinya ada bu?” tanya Rini.
“Adi sudah berangkat, kemarin nduk,” jawab ibu.
Rini termenung di muka pintu, tangannya meremas selembar brosur, “Ada apa ya nak?” tanya Ibu.
“Adi mengatakan dia ingin masuk TNI, makanya pagi ini ku antarkan brosurnya, namun ternyata dia telah memilih yang lain,” kata Rini.
“Apakah Adi tidak pernah bercerita padamu bahwa dia harus mengikuti ayahnya?” tanya Ibu.
“Tidak Bu, pamit pun tidak,” jawab Rini dengan pelan.
“Maafkan Adi ya nduk,” kata Ibu.
Rini hanya mengangguk dan tersenyum.
Sesampainya di Sorong, Adi malah tidak mau kuliah, dia berani melawan ayahnya, dia ingin bergabung di TNI Angkatan Darat.
“Baiklah, ayah ijinkan kau mendaftar angkatan, jika tidak lulus maka mau tidak mau kau harus kuliah,” kata ayah.
“Baik,” kata Adi.
Adi berusaha sekali untuk bisa diterima di Angkatan Darat, selain kekagumannya kepada Tentara Nasional Indonesia, juga karena sumpahnya kepada Rini, bahwa dia akan menjadi anggota TNI seperti ayahnya Rini.
Berbekal ketekunan dan rekam jejak Adi yang adalah adisiswa selama dia bersekolah di SMA Harapan Bangsa, Adi berhasil diterima di kesatuan Angkatan Darat di Kota Sorong. Dengan bangga ditunjukkan kepada ayahnya bahwa dia berhasil.
“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ayah ibu-mu kan seorang TNI juga,” kata istri kedua ayah saat menyalami Adi di saat pelantikan.
“Pesan ayah, jangan keras kepala terutama kepada pimpinan.” Kata Ayah.
Lain hal dengan ibunya, sukacita ibunya sungguh luar biasa, baginya Adi harus mengikuti apa yang di inginkan dirinya sendiri, jangan karena ikut kemauan orang.
Akhirnya Adi mendapatkan hari liburnya juga, dia pulang ke rumah ibunya, Adi sudah tak tahan lagi, ingin pamer berdiri di depan Rini dengan menggunakan seragam Angkatan Darat miliknya. Adi segera menghampiri rumah orangtua Rini, namun ternyata yang tinggal disitu adalah pamannya Rini. Adi diberikan sebuah alamat, untuk dikunjungi. Adi terdiam, walau tak paham, dia menerima kertas bertuliskan alamat itu.
Malamnya ketika Adi sedang duduk dengan ibu dan Dwi, Dwi bertanya, “Kak, siapa kak Rini?”
“Pacar kakak,” jawab Adi.
“Masih, sampai sekarang?” tanya Dwi.
“Tidak, tapi kakak mau menemuinya,” kata Adi.
“Adi, jadi orang jangan bermuka dua, jika kau cinta dia katakan cinta,” kata ibu.
“Tapi jangan sampai jadi budak cinta juga ya kan bu,” kata Dwi.
Malam itu Adi abajang, dan keesokan harinya sebelum matahari menampakan dirinya, Adi telah berseragam lengkap, berbekal alamat yang diberikan pamannya Rini, dia pergi ternyata sebuah rumah sakit, dia bertanya kepada seorang perawat, “permisi adakah yang bernama Arini Diah Putri?”
“Siapa namamu nak?” tanya seorang biarawati tua yang sedang menjaga bangsal unit gawat darurat.
“Adi, Suster,” jawab Adi.
“Tunggu disini,” kata suster itu.
Suster itu keluar, dengan seorang wanita muda, kepalanya telah berkap kecil, masih sebagai calon biarawati. Adi melihat wajah Rini, dia seperti hilang akal, “Kenapa Rin, kamu bilang akan tunggu aku?,” tanya Adi.
“Kamu yang ingkar janji, pergi tanpa pamit, dan tanpa kabar,” jawab Rini.
Adi hanya diam, nasi sudah menjadi bubur, Rini telah memilih jalannya dalam kesetiaan dalam membiara, walau Adi telah hadir seperti yang pernah diimpikan Rini.
“Maafkan aku,” kata Adi.
“Maafkan aku juga,” kata Rini.
Tamat.