Sore yang cerah seperti biasanya. Vera, seorang mahasiswa yang ditugaskan untuk mengamati sebuah desa. Tetapi ia tidak sendirian dalam tugas ini. Ada satu teman baik yang selalu setia menemaninya yaitu Silvi. Mereka sudah 2 hari di desa ini. Kebetulan sekali desa itu tak jauh dengan kampus mereka.
"Vera!!" Panggil Silvi dari teras. "Apaan sih?teriak-teriak begitu, aku lagi ngerjain tugas" Jawab Vera setengah kesal. "Hehe..maaf lah, Ver" Kata Silvi. Ketenangan Vera di ganggu sesaat olehnya. Padahal tadi dilihatnya Silvi yang masih asyik main game di teras, ia pikir Silvi tidak akan mengganggunya.
"Em..Ver, Vera!" panggil Silvi lagi. "Apaan sih? Ngomong dong" Tanya Vera tanpa tolehan ke Silvi. "Temenin cari makan, laper nih" Kata Silvi seraya membujuk Vera. "Di saat hujan begini?" Vera balik bertanya. "Abis gimana, lagian itu ada payung". "Hhh..yasudah ayo" dengan nada pasrah Verapun merapikan mejanya dan bersiap untuk pergi.
"Vera, dingin banget ya..enaknya makan mie nih". "Emang ada yang jual mie?". Makanya kita cari, eh itu!" Dengan wajah senang, Silvi langsung berlari menuju angkringan Mie Ayam. "Bukannya itu jalan ke kuburan ya, entahlah" Batin Vera. "Permisi pak, pesen mie ayamnya dua porsi ya pak". Bapak penjualnya hanya diam tak menjawab, tetapi langsung membuatkan mie ayamnya. "Ayo Ver, sini duduk" Ajak Silvi menarik tangan Vera.
Setelah beberapa saat, dua mangkok mie ayam panas telah ada di hadapan mereka. Tanpa ragu-ragu, Silvi langsung mengambil sumpit dan hendak memakannya. Sontak Vera menghentikannya, yang membuat mie Silvi sedikit tumpah. "Apa-apaan sih Ver!!" Bentak Silvi. "Tunggu dulu, ini ada yang salah Silvi"
Apaan sih maksudmu?!"
"Sadar Silvi, Sadar!! Buka mata kamu lebih jelas!!". Silvipun hampir pingsan setelah membuka matanya lebih jelas. "Vera, kita ngapain ke kuburan?" Tanya Silvi dengan lemas. "Kita juga ngapain duduk di depan nisan?, Dua mangkok mie ayam itu kenapa berganti menjadi bunga dan kemenyan?" Sambung Silvi. Entahlah, Vera tidak mampu menjelaskan apapun ke Silvi karena ia juga tidak mengerti apapun.
Beruntungnya, di sore itu ada bapak-bapak yang sedang berjaga. "Eh..eh..anak muda, kalian pasti tersesat ya. Haduhh terjadi lagi, terjadi lagi" Kata salah satu bapak-bapak seolah sudah mengerti apa yang mereka alami. "Biar kami jelaskan, sekarang kita keluar dulu dari area makam". Silvi dan Vera hanya mengikuti bapak-bapak tersebut.
Sampailah mereka di depan angkringan tua. Bapak-bapak yang memakai pecipun mulai menjelaskan. "Jadi, angkringan ini dulunya adalah milik Pak Roso. Namun beliau sudah meninggal seminggu yang lalu. Dulu, dagangan beliau amat laris hingga pada akhirnya Pak Roso di vonis terkena penyakit kanker paru-paru. Tetapi, Pak Roso tidak ingin mengecewakan pelanggannya dan memutuskan untuk tetap berjualan. Bahkan saat hujan deras begini. Sampai suatu ketika, kesehatan Pak Roso menurun drastis dan beliau wafat. Banyak orang telah di sesatkan. Kami pun sekarang bertugas menjaga nisan Pak Roso. Siapa tahu akan ada korban lain seperti kalian. Sebenarnya Pak Roso adalah orang yang sangat baik, beliau hanya tidak ingin, ada orang yang kelaparan saat sore-sore begini.
Mendengar hal itu, Silvi dan Vera pun jadi lebih berhati-hati. Tetapi karena Silvi trauma akan hal itu, ia memutuskan untuk mengajak Vera pindah desa. Sebelum itu, mereka mendatangi makam Pak Roso dan mendoakannya. Dan akhirnya mereka meninggalkan desa tersebut.
_TAMAT_