Suara petir menggelegar. Menandakan akan turunnya hujan. Angin berhembus semilir menemani malam yang sunyi nan dingin. Rintik gerimis mulai terasa, membasahi tanah yang kering. Awan seperti menangis, menumpahkan semua air matanya. Dedaunan seraya menari, karena mendapat air setelah sekian lama. Musim kemarau yang panas itu, kini berganti ke musin penghujan yang dingin.
Terdengar alunan musik yang terasa tidak asing. Itu adalah suara alarmku yang sudah berbunyi sejak 5 menit lalu. Kubuka mataku samar-samar. Melihat suasana sekitar dan melakukan peregangan sejenak. Kubuka tirai jendela. Merasakan segarnya udara di pagi hari, dan segera bersiap untuk sekolah. Sinar mentari yang hangat, tanah yang basah karena hujan semalam, bunga yang bermekaran, merupakan pemandangan indah untuk hari yang ku benci. Kugayuh sepedaku dengan malas. Menuju sekolah yang tampak seperti biasa.
Setelah 7 jam yang membosankan, bel tanda pulang sekolah itu akhirnya dibunyikan. Akupun bergegas keluar kelas untuk pulang. Di tengah perjalanan, ku hentikan sepedaku di depan toko bunga. Aku akan membelikan bunga kesukaannya, yaitu mawar putih. Sehabis itu aku pergi ke tempat yang akan kutuju. Meletakkan buket bunga, dan berdoa untuknya. Aku duduk sejenak, bercerita mengenai semua hal dan terus memandangi nisannya. Hari ini tanggal 5 Mei. Berarti sudah 2 tahun sejak dia meninggal. Aku mengingatnya. Aku bahkan bisa menceritakan dengan detail tentang apa yang terjadi apa hari itu. Walaupun ini cerita 2 tahun lalu, tetapi rasanya baru terjadi kemarin.
Adrian. Siswa yang sempurna. Peringkat satu seangkatan. Berkulit putih seputih salju. Terlahir dari keluarga berada, yang memiliki status tidak biasa. Kakek dan Neneknya adalah mantan dokter spesialis di luar negeri. Ayah dan Ibunya adalah dokter bedah yang terkenal. Kedua kakaknya sedang mengeyam pendidikan di kampus ternama dengan jurusan kedokteran. Dengan status keluarga yang seperti itu, tentu Adrian tidak bisa bertingkah seenaknya. Adrian berkewajiban untuk mengikuti jejak keluarganya. Keluarganya sangat berharap agar bisa memiliki 3 generasi dokter.
Aku ingat sekali. Saat dia menyapaku dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan denganku. Hanya dialah satu-satunya anak laki-laki yang mau berteman dengan gadis miskin sepertiku. Kami menjadi semakin dekat. Membicarakan apa saja dan bercanda. Hingga suatu hari, Adrian terlihat lebih pendiam. Nilainya juga sedikit turun. Dia jarang menghabiskan waktunya denganku dan lebih sering belajar. Tangannya kini penuh dengan plaster luka. Aku khawatir, terjadi sesuatu kepadanya. Meski begitu, Adrian tetap memaksakan diri untuk selalu tersenyum kepadaku.
Semakin lama tampilan Adrian semakin kacau. Wajahnya terlihat pucat, lelah dan kurang tidur. Tepat pada tanggal 7 April, Adrian masuk rumah sakit. Dia diagnosis mengalami depresi. Aku datang untuk sekedar menjenguknya, dan melihat Adrian sedang belajar bahkan dengan kondisi seperti itu. Aku tidak dapat berkata apapun kepadanya. Setelah kurang dari sebulan, Adrian dipulangkan dari rumah sakit. Dan Adrian masuk pada tanggal 3 Mei.
Adrian terlihat sangat ceria, meski aku tahu bahwa dia hanya memakai topeng belaka. Adrian bersikap sangat baik, bahkan mentraktir teman-temannya. Besoknya kami berdua duduk di taman, sambil menikmati susu pisang. Di sela-sela itu Adrian berkata, bahwa dia merasa sangat lelah walau tidak melakukan apa-apa. Merasa sakit padahal tidak memiliki luka. Merasa hampa, padahal memiliki banyak teman. Dan, dia merasa lelah menjadi yang terbaik. Jika bisa dilahirkan kembali, ia ingin menjadi manusia biasa. Yang tidak terikat oleh apapun. Aku hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja.
Sudah dua hari semenjak Adrian keluar dari rumah sakit. Saat itu aku melihat Adrian sedang melamun sambil memandangi jendela yang terbuka. Entah mengapa, firasatku tidak enak. Aku memikirkan hal yang tidak-tidak. Setelah bel istirahat berbunyi, aku melihat Adrian terburu-buru keluar kelas. Aku mengikutinya, dan sampailah aku di atap sekolah. Melihat Adrian seperti ingin melakukan hal nekat. Aku teriak histeris. Aku berusaha menghalangi niat buruknya. Sementara siswa dari bawah pun berkata padanya untuk tidak melanjutkan aksinya.
Adrian berbalik ke arahku, dan tersenyum seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Dia melangkahkan kakinya. Suara keras terdengar dari bawah. Aku melihat dari atas, tubuh Adrian yang sudah dipenuhi darah. Aku terduduk lemas. Ingin rasanya aku menyusul Adrian, tetapi hal itu di cegah oleh anak-anak yang lainnya. Adrian mati di tempat.
Aku baru sadar, betapa tersiksanya Adrian selama ini. Aku mendengar dari teman kecilnya bahwa didikan orang tua Adrian sangat keras. Adrian dilarang keras untuk tidur sebelum jam 2 malam. Tidak diijinkan makan jika tidak mendapatkan nilai terbaik. Bahkan untuk sekedar bermain saja tidak dibolehkan. Mungkin terdengar gila, tetapi ini benar adanya. Orang lain memandang keluarganya adalah keluarga impian. Tetapi bagi Adrian hal itu seperti penjara tidak terlihat untuknya.
Kuhapus air mata yang mengalir. Melihat jam yang menunjukan pukul 15.00, dan bergegas pulang ke rumah.
Sebuah pesan singkat untuk Adrian
From: Your Friends To: Adrian
Hai. Mengapa kamu pergi begitu cepat? Aku jadi sendirian. Ini adalah tahun terakhirku di SMA. Dua tahun terasa sangat membosankan tanpamu. Kamu kenapa tidak mengatakan semuanya padaku?. Mengapa memutuskan semuanya sendiri?. Apakah kamu sangat tersiksa?. Jika kamu bercerita, aku pasti akan mendengarkannya dengan baik.
Kamu yang dulu selalu mengejekku karena berangkat siang, kini ejekan itu seharusnya sudah tidak terdengar lagi. Kamu yang mengatakan aku malas belajar, sekarang aku menggantikan posisimu dulu. Aku sudah bekerja loh. Walaupun hanya part time, setidaknya kini perekonomianku membaik. Aku sudah banyak berubah. Aku juga mulai merasa bahwa selalu menjadi yang terbaik itu terasa membosankan. Sunny yang lemah, bodoh, dan miskin itu sudah tidak ada. Kini, hanya ada Sunny yang kuat, pintar, dan kaya. Oh tidak, bukankah kata kaya berlebihan?. Hahaha