"BAKAR ANAK PENYIHIR ITU, AGAR KAMPUNG KITA BEBAS DARI WABAH! DIALAH PENYEBAB WABAH INI MENYERANG KAMPUNG KITA!!"
Seorang pemuda dengan bersemangat berdiri di depan rumah Thalita. Pemuda itu berusaha mempengaruhi warga kampung untuk bertindak anarkis pada gadis belia itu.
"SETUJU! AYO KITA BAKAR SAJA DIA, SEBELUM JADI JAHAT SEPERTI IBUNYA!" teriak warga yang lain.
"AYO KITA BAKAR!"
Pemilik rumah---seorang gadis belia yang mempunyai wajah sangat cantik---berdiri dengan gemetar di balik pintu. Air mata tambah membasahi pipinya yang mulus tanpa jerawat.
"AYO BAKAR, TUNGGU APALAGI? KEBURU KABUR!" sang Pemuda masih semangat berteriak.
Thalita semakin gemetar karena takut, kakinya juga menjadi lemas seperti terbuat dari karet. Membuat gadis itu jatuh terduduk dan menangis memeluk lutut.
"BAKAR! BAKAR! BAKAR! BAKAR!"
"Ibu, kenapa Ibu meninggalkan Thalita seorang diri? Thalita takut, Bu, bawa saja Thalita mati bersamamu," isak Thalita terdengar pilu.
"BAKAR! CEPAT, SEBELUM DIA KABUR. JANGAN SAMPAI DIA MEMBALAS D*NDAM IBUNYA!" Pemuda itu masih berteriak.
Ibu Thalita adalah seorang penyihir yang menggunakan ilmu sihirnya untuk menyembuhkan penyakit, hingga disebut sebagai Penyihir Tabib. Sangat ahli dalam membuat ramuan yang berhasil menyelamatkan banyak nyawa manusia.
Beberapa waktu yang lalu, datang seorang pria dengan sakit yang sudah teramat parah. Ibu Thalita melihat, penyakit Pria itu hampir tak bisa diselamatkan, tetapi dia masih berusaha menyelamatkannya. Pria itu datang diantar oleh seorang pemuda yang merupakan anak satu-satunya dari pria itu.
"Mi ... minum, saya haus," pinta pria itu dengan suara teramat lirih.
Ibu Thalita meraih segelas air, dan memberi pria itu minum. Tiba-tiba, pria itu mengalami sesak napas dan tak lama kemudian meninggal dunia.
Sang pemuda, anak dari pria itu, merasa ibu Thalita sudah memberikan racun pada ayahnya. Dan tuduhan tanpa bukti itu, berhasil membuat warga marah, kemudian merancang petaka bagi ibu Thalita.
"I ... ibu? Apa yang terjadi denganmu?"
Thalita menemukan tubuh ibunya yang penuh dengan luka bakar yang melepuh. Sang ibu pamit untuk pergi ke hutan mencari bahan ramuan, tetapi kembali ke rumah dengan keadaan yang sangat memilukan. Ibu Thalita roboh di depan pintu setelah dengan susah payah berjalan menuju rumahnya. Tanpa sempat bercerita apapun, ibu Thalita menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan sang anak.
"BAKAR! BAKAR! BAKAR! BAKAR!"
Kembali teriakan warga kampung yang membahana, membuat Thalita tersadar dari lamunan tentang ibunya. Gadis itu tampak ketakutan dan putus harapan. Satu-satunya yang bisa Thalita lakukan, hanya berserah diri di hadapan Sang Khalik.
"Ya Tuhanku, terjadilah kepadaku menurut apa yang Kau pandang baik," bisik Thalita dalam doa.
BRAKKK
Pintu rumah Thalita terbuka dengan keras, karena warga mendobraknya dari luar. Tubuh Thalita yang sebelumnya duduk di belakang pintu, tersungkur mencium lantai karena terbukanya pintu itu.
"BAWA PENYIHIR ITU, DAN IKAT TUBUHNYA DI TIANG. KITA HARUS SEGERA MEMBAKARNYA HIDUP-HIDUP, JANGAN SAMPAI DIA BERHASIL LOLOS!!"
Sang pemuda, dengan tampang arogan memerintahkan orang-orangnya membawa tubuh lemah Thalita, dan mengikatnya pada tiang yang entah kapan sudah berdiri di halaman.
Dengan kaki dan tangan yang terikat erat, Thalita tak dapat berbuat banyak, hanya meneteskan air mata menanti ajalnya mendekat.
"Kamu yakin, gadis ini yang menyebabkan wabah di kampung ini?"
Seorang kakek dengan wajah keriput termakan usia, bertanya pada sang Pemuda. Kakek itu terlihat sangat bersahaja, tetapi mempunyai wibawa. Rambut putihnya yang panjang, berkibar tertiup angin. Sang Kakek membetulkan letak kacamatanya berbentuk bulan sabit.
"Wabah penyakit yang diderita warga, pastilah ulah seorang penyihir, dan dialah penyihir terakhir di kampung ini. Jadi siapa lagi kalau bukan dia?" jawab sang Pemuda lantang.
"Tapi, mana buktinya? Tuduhan tanpa bukti itu hanya sebuah fitnah semata."
"Mau bukti apalagi, wahai Kakek? Sudah jelas kan? Cuma seorang penyihir yang dapat menciptakan wabah flu aneh yang membuat banyak warga terbunuh."
"Hem, begitu menurutmu?"
"Tentu saja. Dan semua warga kampung juga yakin akan hal itu."
Warga hanya diam dan menyaksikan dialog si Pemuda dan sang Kakek. Aura yang terpancar dari wajah sang Kakek, membuat banyak orang seperti terhipnotis, sungguh, seorang kakek yang penuh wibawa.
"Apa ayahmu juga mengalami penyakit seperti itu sebelum meninggal?"
"Ayah cuma terkena flu, maklum saat ini sedang musim hujan. Karena itu aku membawanya berobat pada Penyihir Tabib, tapi wanita j*h*n*m itu malah memberi ayahku minum racun."
"Penyihir Tabib tewas di pangkuan putrinya dengan tubuh penuh luka bakar, itu ulahmu?"
"Warga kampung membakarnya di tengah hutan, saat dia mencari bahan ramuan."
Thalita yang baru saja mendengar kebenaran tentang tewasnya sang Ibu, kembali terisak. Ternyata ibunya mengalami hal yang sangat menyakitkan sebelum meninggal. Thalita yakin, sebenarnya ibunya dapat menggunakan ilmu sihirnya untuk dapat lolos dari siksaan, tapi entah kenapa tidak digunakan.
"Ayahmu meninggal karena penyakit yang sama seperti yang menyerang warga saat ini, apa kau yakin, itu ulah Penyihir Tabib?" kembali sang Kakek bertanya.
"Yakin sekali, Kakek tua. Penyihir Tabib sengaja menyebarkan wabah, agar mendatangkan banyak cuan baginya. Warga akan berbondong-bondong berobat padanya, dan dia akan menjadi kaya raya karena hal itu."
"Pendapatmu masuk akal memang, tapi tetap perlu bukti dalam menuduh seseorang."
"Bukti apa lagi? Sudah jelas bukan, ayahku mati setelah wanita itu memberinya minum racun."
"Mari kita gunakan logika, jika Penyihir Tabib memberikan racun pada ayahmu, bukankah itu malah membuat praktek pengobatannya tak laku? Siapa yang akan berobat pada tabib yang gagal?"
Omongan sang Kakek menyebabkan bisik-bisik terdengar di antara para warga, hampir semua membenarkan pendapat sang Kakek.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya si Pemuda.
"Aku hanya seorang pengembara yang numpang lewat."
"JANGAN DENGARKAN KAKEK TUA ITU! CEPAT BAKAR PENYIHIR JAHAT, AGAR WARGA TERHINDAR DARI WABAH!"
"BAKAR! BAKAR! BAKAR! BAKAR!"
Sorak sorai warga kampung kembali terdengar, amarah mereka kembali tersulut karena hasutan sang Pemuda. Kakek tua itu memandang Thalita yang ketakutan.
"Relashio," gumam dari bibir sang Kakek yang terbaca oleh Thalita.
"Relashio," kata Thalita dengan mantap. Seketika ikatan yang mengikat kaki dan tangan Thalita lepas, tetapi warga belum ada yang menyadarinya.
Thalita menatap sang Kakek dengan pandangan penuh terima kasih. Sang Kakek memberi kode dengan matanya, menunjuk ke arah sapu yang menyender di dinding rumah Thalita. Gadis itu paham arahan sang Kakek.
"Accio sapu!!" seru Thalita nyaring.
Tiba-tiba sapu lidi itu melesat ke arah Thalita, kemudian gadis itu melompat ke atasnya. Segera keduanya mengudara, membuat bengong warga kampung yang melihatnya.
"IBUKU BUKAN PENYIHIR JAHAT SEPERTI YANG KALIAN TUDUHKAN, WAHAI WARGA KAMPUNG. IBU TAK PERNAH MENYEBARKAN WABAH PENYAKIT ATAU MEMBERI RACUN PADA AYAH PEMUDA ITU. JUSTRU, WABAH PENYAKIT ITU DIBAWA OLEH AYAH PEMUDA ITU DARI LUAR NEGERI. PENYAKIT MENULAR, YANG MENYEBABKAN PANDEMI MENGUASAI NEGRI. IBUKU HANYA BERUSAHA MEMBANTU DENGAN MEMBUAT RAMUAN UNTUK WABAH ITU, TAPI KALIAN MALAH MEMB*N*HNYA. KARENA ITU, TERIMALAH PETAKA YANG AKAN MENIMPA KALIAN, SEMUA AKAN BINASA KARENA PANDEMI."
Setelah berkata demikian, Thalita dan sapunya melesat pergi, dan menghilang di balik awan. Sang Kakek juga menghilang secara ajaib, kembali ke sekolah tempat ia memimpin. Kelak Thalita dan si Kakek tua akan bertemu di sekolah itu, dan Thalita akan belajar di sana, tinggal di asrama.
Warga yang masih takjub dengan peristiwa yang baru saja terjadi, dimanfaatkan Pemuda dan anak buahnya pergi secara diam-diam.
Dan benar kata Thalita, wabah COVID 19 yang menyerang warga, banyak meminta korban jiwa, menjadi pandemi yang mengguncang negeri.
End.