Mencintai itu mudah, yang sulit adalah merealisasikan dalam satu ikatan resmi. Ikatan menyatu dalam biduk rumah tangga yang sah di depan negara.
Cinta beda agama, itulah yang dirasakan oleh Jelita Maria dan Adriansyah Halim. Tujuh tahun lamanya menjalin kasih terasa sia-sia, ketika terhalang restu kedua orang tua.
Setelah berpisah selama satu tahun, kedua pasangan yang pernah menjalin kasih itu dipertemukan kembali dalam satu acara pernikahan teman satu kelas mereka.
"Jelita, kamu Jelita, kan?"
Seorang pria menunjuk wajah Jelita saat mereka tidak sengaja menyenggolnya, kala ia mengantri untuk bersalaman dengan pengantin.
Jelita langsung menoleh pada sumber suara. Sontak ia sangat terkejut melihat sosok pria yang ada dihadapannya. Pria yang masih mengisi ruang di hati, bahkan hingga saat ini.
Meski Jelita telah menyandang status sebagai seorang istri, memiliki suami yang sesuai dengan kriteria, seagama bahkan sangat mengayomi keluarga. Lantas, hal itu tak membuat ia bisa melupakan Adriansyah Halim dengan mudah, setelah menjalin hubungan tujuh tahun lamanya.
"A–Adrian?" ucap Jelita terbata-bata. Ia tak menyangka momen pernikahan teman satu kelas bisa mempertemukan mereka kembali setelah berpisah satu tahun.
"Sama siapa?" tanya Adrian, mengedarkan pandangan mencari sosok pendamping perempuan berkalung salib itu.
"Sama suamiku ...," lirihnya seraya tertunduk malu. Meski telah menjalin hubungan asmara tujuh tahun, Jelita bahkan tak mengundang Adrian di saat pernikahannya.
Jelita enggan menjalin komunikasi dengan Adrian setelah mereka menyepakati keputusan untuk mengakhiri hubungan. Berpacaran beda agama yang sulit diterima oleh pihak keluarga mereka.
"Oh ... kamu sudah menikah? Mana suami kamu?" cecar Adrian, mencari sosok pria yang diakui sebagai suami mantan kekasihnya itu.
Jelita langsung mengedarkan pandangan, mencari di mana keberadaan suaminya. Ternyata, pria itu baru saja tiba diantrian barisan terakhir karena tadi ia sedang memarkirkan mobil. Lalu, ia meminta Jelita untuk masuk lebih dulu.
"Itu suamiku." Jelita menunjuk sosok pria yang mengantri paling belakang.
Pria gagah, tinggi, serta berparas tampan itu membuat Adrian membelalakkan matanya. Tak heran, Jelita bisa mendapatkan pria gagah dan tampan seperti itu karena ia juga memiliki paras yang cantik dengan tinggi semampai. Sangat cocok bersanding dengan lelaki yang sedang Adrian amati.
"Selamat, ya! Kenapa nggak ngundang aku?" ujar Adrian mengulas senyum kecut di sudut bibirnya.
"Maaf, aku tidak tega untuk mengundangmu. Setelah berpisah darimu. Orang tuaku menjodohkanku dengan Jason." Jelita lagi-lagi tertunduk malu saat menjawab pertanyaan mantan kekasih yang masih ia cintai.
"Aku mengerti, Jelita. Tapi setidaknya kau mengabariku! Walaupun kita sudah tidak ada hubungan, kau masih bisa menganggapku sebagai teman," jelas Adrian.
Sampai detik ini, Adrian masih memilih hidup seorang diri. Ia belum menikah karena belum berhasil move on dari mantan kekasih yang sekarang ia temui.
"Maaf, aku hanya menjaga perasaan calon suamiku dulu. Seluruh keluarga mengetahui kalau aku baru saja putus denganmu karena cinta kita terhalang beda agama," sesal Jelita.
Tiba-tiba, Jason–suami Jelita mendekati mereka berdua yang sedang asik ngobrol berdua. "Siapa, sayang?" sambar Jason seraya memicingkan mata, menatap penuh selidik pada pria yang ada di depannya.
"Kenalin sayang, ini Adrian mantan kekasihku yang dulu pernah aku ceritain ke kamu."
Adrian mengulurkan tangan sembari menggulum senyum tipis di wajahnya. "Adrian."
"Saya suami Jelita–Jason." Jason meraih uluran tangan tersebut, mereka berdua berjabat tangan.
"Jelita, apa aku boleh meminta—"
"Ayo, sayang!" potong Jason, seraya melingkarkan satu tangan di pinggul istrinya dengan lembut.
"Kami duluan, ya, Adrian," pamit Jelita mengulas senyum lebar di wajah.
Adrian hanya diam terpaku melihat kepergian mantan kekasihnya. Mantan kekasih yang masih saja melekat indah di hatinya hingga saat ini. Cintanya tak pernah luntur karena mereka berpacaran sejak duduk di bangku SMA.
"Aku menyesal melepasmu, Jelita!" gumam Adrian tertunduk penuh penyesalan.