"TIDAAAKKK!!!" Rere menjerit sejadi-jadinya.
Ibunda Rere menatap sedih. Melihat anaknya mendapat perlakuan begitu tentu saja membuat hati ibundanya trenyuh.
"Tidak, bu! Mengapa Dio mengkhianatiku? Huhuhu..." Rere lalu menangis tersedu-sedu.
Rere akhirnya mengetahui perselingkuhan Dio dengan seorang wanita yang bernama Sonia. Dia merasa semakin hancur kala mengetahui bahwa Sonia telah berbadan dua, hasil hubungan gelapnya dengan Dio.
"Rere... Ibu sudah katakan sejak dulu, Dio itu bukan sosok laki-laki yang baik. Tapi... Kamu selalu saja membantah kata-kata ibu..." Ujar ibunda Rere parau.
"Huhuhu... Maafkan Rere, bu... Huhuhu... Rere selama ini tulus mencintai Dio. Kami sudah menjalin hubungan cukup lama, bu. Huhuhu..." Rere terisak-isak.
"Rere ga nyangka Dio tega melakukan hal ini... Kenapa dia menikahi Rere, bu? Kalau ternyata ada wanita lain di hatinya... Huhuhu..." Rere terus saja meracau.
Ibunda Rere menghela nafas panjang. Semua telah terjadi, apa lagi hendak dikata. Wanita paruh baya itu tidak tega melanjutkan kata-katanya, ia tidak mau puterinya menjadi bertambah terluka.
Ibunda Rere masih ingat sekali bagaimana Rere memaksa keluarganya untuk mendesak Dio agar segera menikahi dirinya.
Padahal sesungguhnya bapak dan ibu Rere tidak menyukai Dio sebagai menantu mereka. Mereka seolah sudah punya feeling di awal bahwa Dio bukanlah suami yang baik untuk Rere.
"Sudahlah, Rere... Coba bicarakan lagi dengan Dio. Mungkin kalian bisa menemukan solusi terbaik..." Nasehat ibunda Rere.
Rere tertunduk lesu. Dia merasa lelah dengan tangisnya. Dia tidak ingin pulang dan bertemu lagi dengan suaminya. Dio telah mati di hatinya.
"Lebih baik bercerai, bu! Itu lebih baik. Hikssss..." Isak Rere.
Ibunda Rere menatap tak percaya ke arah putrinya. Itu bukanlah keputusannya yang tepat, Rere sedang mengandung.
"Rere, hati-hati dengan kata-kata kamu!" Bentak ibunda Rere.
"Hiksss... Hiksss... Hiksss... Lebih baik bercerai, bu! Itu lebih baik! Rere tidak mau punya suami pengkhianat!" Seru Rere di antara isak tangisnya yang masih belum mereda.
"Kamu tidak bisa bercerai, Rere! Kamu sedang mengandung!" Ibunda Rere berkata dengan tegas.
"Terserah, bu... Rere tidak mau kembali ke rumah itu! Kalau perlu, Rere akan menggugurkan kandungan ini!" Seru Rere dengan wajah muram.
Rere juga sedang hamil tiga bulan. Awalnya dia begitu bahagia dengan kehamilannya. Namun kini, ia bahkan begitu benci dengan janin yang sedang dikandungnya.
Bagaimana tidak? Dio kini sedang bersama wanita simpanannya. Wanita lain yang telah lebih dahulu berbadan dua.
Rere tidak ingin bayi yang dikandungnya nanti memiliki saudara kandung dari perempuan jalang lain. Tidak! Rere tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Rere, husssss... Kamu tidak boleh berkata begitu, nak! Ayo, kita cari solusinya dulu. Kita bisa musyawarah dengan bapak. Mungkin ada solusi yang lebih baik!" Ibunda Rere kembali menasehati puterinya.
Rere terdiam. Kepalanya terasa pusing sekali. Perutnya juga terasa sangat sakit. Rere menjadi pucat seketika.
Ibunda Rere melihat wajah Rere yang tiba-tiba menjadi pucat.
"Rere... Kamu kenapa? Rere!" Ibunda Rere menjerit panik tepat saat Rere pingsan dan rubuh dari sofa.
---Rumah Sakit---
Apa yang dikatakan oleh dokter membuat kedua orang tua Rere begitu kaget.
"Pasien terkena kanker serviks. Ini sudah stadium lanjut dan sangat berbahaya." Terang dokter.
Ibunda Rere menangis tersedu-sedu. Wanita itu tidak percaya pada apa yang telah menimpa puterinya. Bertubi-tubi cobaan yang harus diterima oleh Rere.
"Rere... Anakku... Hiksss..." Isak ibunda Rere.
"Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan, dok?!" Bapak Rere akhirnya angkat bicara.
"Kita akan upayakan semaksimal mungkin, pak. Tetapi... Janin hanya memiliki kemungkinan kecil untuk selamat..." Ujar dokter.
Rere terbaring kaku di atas tempat tidur rumah sakit. Dia belum sadarkan diri. Dio sudah berkali-kali dihubungi tetapi tidak mau mengangkat telpon dari kedua orang tua Rere.
Ternyata di rumah sakit yang berbeda, Dio sedang menemani persalinan Sonia. Bayi mereka terlahir prematur dan dalam kondisi kritis.
"Kami akan berjuang melakukan yang terbaik, pak!" Ujar dokter spesialis kandungan yang menangani persalinan Sonia.
"Terima kasih, dok!" Ucap Dio.
"Kanker serviks ini menjadi penyebab utama... Ibu Sonia juga harus mendapatkan perawatan intensif." Tutur dokter tersebut.
Dio mengangguk pelan. Dia mempercayakan semuanya kepada tim dokter yang menangani Sonia dan bayinya.
Dio keluar dari ruangan, melepaskan masker medis yang sejak tadi digunakannya. Dia duduk di ruang tunggu sambil melihat-lihat ponselnya.
Ada banyak panggilan dari orang tua Rere. Dio merutuk kesal di dalam hati. Dia sudah berencana menyelesaikan hubungannya dengan Rere secepatnya.
Dio juga melihat sebuah panggilan tertinggal dari seorang gadis muda yang baru saja dikenalnya minggu lalu. Gadis itu sangat menarik di mata Dio.
Dio beranjak dari ruang tunggu menuju ke kantin rumah sakit yang terletak tidak begitu jauh dari tempatnya duduk saat ini.
Setelah memesan minuman, Dio menghubungi gadis itu. Mereka ngobrol dengan santai di telepon. Dio bisa merasakan gadis itu tertarik dengan dirinya.
Jiwa playboy Dio kembali meronta-ronta. Dia telah menyusun rencana untuk bertemu kembali dengan gadis itu dan bercinta.
Dio tidak menyadari kebiasaan buruknya dalam melakukan hubungan bebas dan berganti-ganti pasangan sejak remaja telah menimbulkan bibit penyakit di dalam tubuhnya.
Dan dia telah menularkan penyakit berbahaya pada berbagai wanita yang pernah digaulinya.
Rere adalah salah satu dari sekian banyak wanita malang itu. Berbagai nasehat yang dulu selalu diberikan oleh kedua orang tuanya tidak mampu menyentuh hati nurani Rere agar tidak menjalin hubungan serius dengan Dio.
Kini Rere harus menanggung semua akibatnya. Impian Rere untuk menjadi istri yang berbakti tinggal impian. Rere malah terbujur kaku di rumah sakit dan sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa bayi dan dirinya sendiri.
***TAMAT***