Karena Senyumanmu
Bagian 03
" Raka ...." Reni terkejut karena Raka tidak berada di UKS sedangkan ia tengah sakit. Reni mencari disekeliling UKS tapi tetap saja tidak menemukannya saat ia cukup lelah mencari Reni pun duduk di bangku seraya memandang ke arah jendela yang setengah terbuka.
"Sudah kuduga pasti kau akan kembali kesini, kau tidak pulang Ren?" Tanya Raka yang baru kembali dari kamar mandi.
Reni menoleh ke arah pria dingin yang usianya lebih tua satu tahun darinya. Reni menghampiri Raka yang duduk di kursi bersebelahan dengannya.
"Kemana kau aku cari dari tadi"
Raka terkekeh Reni tersenyum kecut.
"Mana soal yang tadi" tanya Reni. Raka dengan percaya diri memberikan soal yang sedari tadi ia kerjakan pada Reni.
"Nih, itu saja bukan?"
"Iya. Dan ini bawa payungku di luar hujan soalnya. Aku pulang dulu. Kau nggak mau kan jika aku mengekor Mulu jadi aku pulang duluan."
"Nggak mau nemenin aku disini?" Tanya Raka yang bingung mengapa Reni berbeda padahal dia sangat kawatir tapi kenapa dia berbeda sekarang.
"Enggak" jawab Reni singkat. Reni sengaja memancing Raka apakah pria dingin ini akan mencegahnya untuk tidak pergi meninggalkannya sendirian di UKS.
"Ya sudah" ucap Raka seraya berdiri meninggalakan Reni yang duduk seolah tak percaya dengan ucapan Raka ternyata Raka memang pria yang tidak memperdulikan kebaikan siapapun.
"Kau tidak mencegahku Ka?" Tanya Reni
"Buat apa aku mencegahku toh kau juga sama seperti mereka, aku kira kau berbeda nyatanya kau tak seperti apa yang aku pikirkan. Pergilah dan bawalah payung ini bersamamu. Aku tak membutuhkannya."
Mendengar ucapan Raka Renni menjadi bingung padahal Reni hanya ingin membuat Raka bergantung padanya tapi nyatanya Raka sama sekali tidak membutuhkan siapapun termasuk dirinya.
Perasaan Reni campur aduk sebenarnya ia tidak tega meninggalakan Raka seorang diri tapi lagi dan lagi Reni diusir untuk kesekian kalinya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan teman masa kecilnya ini pun masih menjadi misteri untuknya.
Reni melangkah meninggalkan UKS . Sesekali Reni melirik Raka namun Raka tak menghiraukannya.
Hati Reni pun menjadi gelisah apa tidak ada sedikitpun sisa senyuman diwajahnya.
Reni berlalu pergi dengan segudang tanya. Raka seorang diri di UKS matanya menatap jendela yang terbuka setengah bagian.
Tubuhnya masih gemetar sedangkan hujan masih turun dengan derasnya. Raka memandang jutaan air hujan yang turun membasahi tanah. Raka melihat apakah ia masih punya harapan agar dia bisa melihat kedua orang tuanya dan wanita yang menjadi sahabat kecilnya dulu. Dengan wajah pucat Raka berjalan meninggalkan UKS.
Raka tidak ingin berlama lama berada di UKS ia harus segera sampai di rumah untuk mengistirahatkan badannya.
"Hah, apa cuma aku yang sendirian disini? Tidak ada orang sama sekali. " Raka menyandarkan tubuhnya ke kursi tubuhnya seakan tidak kuat lagi menahan beban. Tetesan air mata jatuh tanpa Raka sadari.
"Mengapa hidupku seperti ini?" Raka mengacak acak rambut hitamnya. Ia seolah telah terpuruk dengan keadaannya saat ini.
Raka berjalan hati hati sesekali tangannya memegang kursi untuk menyeimbangkan tubuhnya yang sedikit oleng.
Wanita yang sedari tadi mengikutinya pun hanya bisa memandang dari jauh.
Hujan seakan tidak mau diajak berdiskusi, hujan semakin turun dengan lebatnya membasahi baju biru putih milik Raka. Raka tak memperdulikannya yang ia pedulikan hanyalah dia akan bisa sampai di rumah.
Mungkin hari ini dan beberapa hari kedepan Raka akan bolos sekolah. Dan tidak dapat bekerja paruh waktu.
Raka berjalan sempoyongan melewati beberapa gang hingga akhirnya ia hampir sampai ke depan rumahnya. Main belum sampai ia melangkahkan kakinya Raka merasa tubuhnya semakin berat , kepalanya sakit dan akhirnya Raka pun tumbang.
Wanita yang sedari tadi mengikuti Raka pun segera menolongnya berdiri. Membawanya ke rumahnya tak jauh dari rumah Raka tentunya.
Hesti membukakan pintu rumahnya. Ia sangat terkejut melihat putrinya membawa pria yang tak lain adalah Raka masuk ke dalam rumah. Tanya bertanya terlebih dulu Hesti yang tidak lain adalah ibu dari Reni pun segera memanggil Hendra yang tidak lain adalah kakak dari Reni.
Hendra dengan sigap membawa Raka ke kamarnya dan mengganti pakaian Raka karena kehujanan. Hendra melirik adiknya seakan mengintrogasi.
"Apa yang kau lakukan sama anak orang?"
"Ye si kakak aku nggak ngapa ngapain dia. Aku tadi menemukan dia pingsan di jalan. Aku mau bawa ke rumahnya eh aku panggil panggil nggak ada yang nyaut. Ya udah aku bawa ke rumah hehe" dengan polosnya Reni tersenyum pada Hendra.
"Kenapa dia bisa sampai sakit kalau nggak kau apa apain hayo ngaku anak orang loh itu badannya panas banget."
"Nih dasar bocah, kalau badannya panas yang di beri obat lah.. kau ini. Cepat sana " celetuk Hesti pada putranya.
"Lah kenapa harus aku yang kasih obat Bu? Kan nih bocah ada. Nih nggak ngucapin makasih nih?"
"Makasih buat apa?"
"Ya karena udah mau minjemin baju untuk teman kamu lah."
"Ya kali masa harus baju Reni."
"Dari pada kalian berdua ribut mulu tuh anak orang lagi demam. Ya sudah ibu aja yang merawatnya. Dan kau Reni pergi ganti baju nanti kamu juga bisa sakit kalau baju kamu basah kuyup" Reni segera mandi dan mengganti pakaiannya.
Reni mengganti baju dengan dres warna ping dan tak lupa Reni mengkitat rambutnya kebelakang penampilan yang ala kadarnya dirumah membuatnya lebih seperti orang dewasa.
"Kak ibu kemana?" Tanya Reni pada kakaknya yang tengah asik dengan ponselnya.
"Ngurusin temen kamu, sepertinya aku pernah melihatnya deh tapi dimana?"
"Kakak ini memang sudah pikun rupanya. Raka kan anak dari Om Rangga dan Tante Ani masak lupa" Hendra sejenak mengingat sesuatu.
"Bukankah Om Rangga dan Tante Ani itu sudah lama bercerai dan kau bilang tadi menemukan Raka pingsan di pinggir jalan. Memangnya Tante Ani dan Om Rangga tidak membawa Raka ikut?"
"Tunggu maksud Kak Hendra orang tua Raka sudah lama berpisah? Jadi Raka tinggal sendirian dong di rumah besar itu" ucap Reni terkejut.
"Tega banget sih orang tua Raka. Masa meninggalakan Raka sendirian di rumah itu beberapa tahun."
"Pantas saja aku melihat Raka bekerja paruh waktu di restoran Kak."
"Yang benar saja kamu" Reni menunjukkan beberapa foto Raka yang bekerja di restoran setelah pulang sekolah."
Hendra merasa tidak percaya dengan ucapan Reni. Anak usia 12 tahun di tinggalkan di rumah itu dan selama bertahun tahun ia menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja paruh waktu di restoran. Sekejam itukah keluarganya?"
#nex besok ya ☺️☺️