Karena Senyumanmu
Bagian 02
Reni masuk ke dalam kelas, letak kelas dan UKS memang berjarak lumayan dekat.
Guru piket datang dan tanpa memberikan salam, namanya Bu Yanti guru paling baik hati di antara semua guru di sekolah.
"Bu Yanti" sapa seorang siswa yang kebingungan dengan tingkah Bu Yanti pagi ini.
"Ibu hari ini ada keperluan bersama guru piket yang lain. Jadi ibu memberikan kalian semua tugas. Ingat harus di kumpulkan hari ini juga. Dan buat kamu Edo dan geng kamu itu awas aja kalau pergi ke kantin nilai kamu kosong di mata pelajaran ibu."
Edo yang mendengar ucapan Bu Yanti seolah tak pernah mendengarnya. Edo asik dengan teman sekelas.
Bu Yanti hanya menggelengkan kepala dan keluar dari kelas.
"Hore........." Sorak seluruh siswa yang ada di dalam kelas.
Reni mencolek Dinda, Dinda menoleh ke arah Reni.
" Ada apa ?"
"Gua izin ke UKS ya"
"Loe sakit?"
Reni menggeleng
"Lalu buat apa loe izin ke UKS?"
"Sebenarnya gua mau nemenin si nyebelin itu tuh, kemaren itu dia kehujanan ya gua sih gak tega lihatnya. Sepertinya dia"
"Jangan terlalu perhatian deh dengan Raka itu, buang jauh jauh rasa kasihan loe ke dia. Lagian masih banyak cowok yang lebih bisa merima loe"
"Masalahnya bukan itu, gua hanya gak tega sama dia mungkin karena selama ini dia kurang kasih sayang."
"Kan ada orang tuanya. Lagi pula udah deh jangan terlalu perhatian jadi orang. Lebih baik kau memikirkan diri loe sendiri."
Reni segera meninggalkan kelas dan tak lupa ia mengambil soal yang harus ia selesaikan.
Sesampainya di UKS Reni melihat Raka yang melamun. Wajahnya pucat pasih.
"Loe ngapain?" Tanya Raka kesal karena lagi dan lagi cewe rese ini datang menemuinya.
"Ngemenin loe" jawab Reni dengan senyuman di wajahnya.
"Ngapain loe senyum senyum."
"Nih orang ya gak lagi sakit gak sehat sama aja nyebelin"
"Terserah gua, mau gua cuek, dingin, apa perduli loe? Mendingan loe itu pergi dari sini. Ngapain juga loe nempel nempel kaya perangklo, denger ya gua nggak butuh loe dan gak usah belagak baik dengan gua. Sekarang pergi apa perlu gua tunjukin pintu keluarnya?"
"Jahat banget sih loe,"
"Pergi! Pergi dari sini, gak usah baik baikin gua. Pergi gua bilang! " Reni menaruh beberapa lembar soal ulangan dan bolpoin di atas meja tak jauh dari Raka berbaring.
"Baiklah gua pergi"
Reni melangkah meninggalkan Raka seorang diri. Sebenarnya Reni tak tega meninggalkan Raka yang sedang sakit tapi jika ia terus memaksakan kehendaknya maka Raka pun akan mengusir dan membentak tanpa memperdulikan hati yang selalu memikirkannya.
"Owh iya satu lagi" Reni berbalik
"Jaga kesehatan jangan hujan hujanan. Jaga kesehatan kalau ada masalah loe boleh cerita apapun ke gua. Gua akan senang hati mendengarkannya. Gua pergi. Kalau loe berubah pikiran loe boleh temui gua.,"
Reni meninggalkan Raka namun Raka segera menghentikannya.
"Tunggu, lebih baik kau ubah cara bicaramu loe gue terlalu mengikuti zaman. Jangan seperti orang gaul aku lebih suka menggunakan bahasa yang sederhana seperti yang kamu ucapin pertama kali ke aku. Sudah itu aja yang ingin aku sampaikan pergilah aku tak ingin mengusirmu apa lagi membentakmu. Pergilah"
Reni pergi meninggalkan UKS kini tinggal Raka seorang diri.
"Aku tau apa yang aku lakukan padamu itu salah, tapi aku hanya ingin membuatmu berhenti mengharapkan aku. Aku ini orang yang tak pantas untuk siapapun termasuk kamu."
Reni kembali kekelas dengan raut wajah ditekuk. Reni duduk di bangkunya.
Dinda segera bertanya ke Reni mengapa temannya yang satu ini kembali ke kelas, wajahnya ditekuk.
"Kok loe kembali,"
"Sebel, Din emangnya kalau perhatian sama orang itu salah ya?"
"Enggak, sih . Kenapa kau bertanya seolah olah loe habis di tolak."
"Nggak ngerti lagi dengan sikap Raka kenapa Raka gak perduli banget tentang kesehatannya selalu saja cuek, selalu saja acuh. Nggak tau apa kalau orang lain itu kuatir sama dia. Nggak tau apa kalau ada orang lain yang begitu nggak pengennya dia sampai kenapa kenapa. Eh dia masa bodoh gitu. Sebel "
" Raka lagi Raka lagi. Nggak ngerti dengan pikiran loe ya. Kenapa loe segitu perhatiannya dengan dia"
_
_
_
_
16 tahun yang lalu
"Ka! Atut Eni atut Ka"
"Ndak apa apa Eni ayok ikut Aka aja. Sini bahaya lo jatoh guling guling ntar atit Aka repot entar.
"Eni uma mau ikut Aka."
"Ikut Aka? Yok Aka au ke sana main ayunan"
"Ikut Aka."
_
_
_
_
"Kenapa kau tidak mengingatku. Padahal dulu kita saling menyayangi. Kita berdua selalu bersama. Kau dulu begitu ceria kenapa kau sekarang sedingin ini. Kau kenapa Ka? Apa yang membuatmu seperti ini?"
Reni tak mengerti kenapa Raka bisa bersikap sedingin ini. Padahal dulu Raka adalah pria yang sangat ceria. Sangat menyayangi dirinya. Namun sekarang Raka berubah menjadi orang lain apa yang membuatnya menjadi seperti ini.
Reni terdiam . Ia membayangkan masa kecilnya bersama Raka yang ceria. Selalu mementingkan dirinya selalu membuatnya tersenyum.
_
_
_
_
_
Reni berjalan menuju UKS untuk mengambil soal yang tadi ia letakkan di atas meja namun Reni tak mendapati Raka ada disana.
"Raka....."