𝘽𝙚𝙣𝙘𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙠 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙖𝙡𝙖𝙨, 𝙞𝙩𝙪 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙨𝙖𝙠𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙠 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙖𝙡𝙖𝙨. 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙩𝙖𝙠 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙖𝙡𝙖𝙨 𝙡𝙖𝙮𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝘼𝙥𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙥𝙖𝙙𝙖𝙢𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘼𝙞𝙧. 𝙉𝙖𝙢𝙪𝙣, 𝘽𝙚𝙣𝙘𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙠 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙖𝙡𝙖𝙨, 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝘼𝙥𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘼𝙥𝙞.
25 Nopember 2022. Saat perayaan Event Yaumul Muallim di salah satu Madrasah yang berada di kota Pasuruan. Namaku Fatir Ar-Royyan, panggil saja Fatir. Atau panggil dengan sebutan apapun boleh, asal tidak menyakiti hatiku. Aku berumur kurang lebih 23 tahun di Tahun ini. Aku adalah seorang Murobbiy di Madrasah Tsanawiyah AL-AMALIY yang terdapat di Kota Pasuruan. Saat itu aku ditanyai oleh salah seorang Tholib bernama Sya'dan di halaman Madrasah.
"Cie, senyum-senyum gitu kenapa Ustadz?.", tanya Sya'dan yang melihatku sedang mencium aroma wangi dari Bunga tiruan, Hadiah dari Tia saat event Yaumul Muallim, dengan selipan sepucuk kertas bertuliskan "You Are The Light That Shines my Life. Thank you for all your given to me.".
"Tidak ada apa-apa", sahutku dengan agak acuh.
"Mengapa anda tertarik sebagai seorang Guru wahai Ustadz Fatir?", tanya Sya'dzan, salah seorang Tilmidz di Madrasah Tsanawiyah AL-AMALIY.
"Sebenarnya begini ceritanya, aku sangat tidak berminat menjadi seorang Murobbiy. Bahkan Dirosah-ku saja tidak linier dengan profesiku saat ini.", ucapku.
"Kok Murobbiy?, terus Dirosah?, apaan tuh pak?.", tanya Sya'dan.
"Murobbiy ya Guru itu sebutannya Murobbiy. Kalau Dirosah, hmmm kamu tahu tentang kuliah?.", ucapku.
"Owh kalo itu saya paham ustadz.", ucap Sya'dan.
"Dorosah-ku murni Diniyah tanpa ada unsur Tarbiyah.", ucapku.
"Itu, apalagi Ustadz?, Diniyah, Tarbiyah.", ucap Sya'dan.
"Diniyah itu unsur agama Murni. Sedangkan Tarbiyah adalah pendidikan untuk Tholib dan Tholibah yang masih berstatus menjadi seorang Tilmidz dan Tilmidzah.", ucapku.
"Itu juga apalagi Ustadz, saya ndak paham sama sekali.", ucap Sya'dan.
"Kamu nanyeaaa?....., Gimana ini bahasa Arabmu. Kok dari tadi tanya terus. Tholib adalah sebutan bagi orang yang mencari Ilmu, baik dalam mondok, sekolah, maupun kuliah, Tholib untuk laki-laki kayak kamu, Tholibah untuk perempuan. Sedangkan Tilmidz itu sebutan untuk siswa atau murid laki-laki, sedangkan Tilmidzah sebutan untuk siswi atau murid perempuan", ucapku.
"Hehehe Naruhodo....", ucap Sya'dan.
"Loh kan !. Dasar Wwibu!!!.", sahutku.
"Loh, bila anda Tahu bahasa ini, berarti anda juga wwibu Ustadz.", ucap Sya'dan.
"Enggak, aku bukan wibu akutt kayak kamu. Kamu punya Waifu, sedangkan aku tidak.", ucapku.
"Sakurajima mai, itu adalah waifu saya Ustadz. Anime Seishun buta yaro wa Bunny Girls senpai.", ucap Sya'dan.
"Loh kan. Wwwibuu akutt.", ucapku.
"Hehehe. Lah Ustadz punya Waifu?.", ucap Sya'dan.
"Jangan tanya begitu ke saya, jelas-jelas saya normal dan meminati wanita ciptaan Gusti Allah.", ucapku.
"Lah itu bunga tiruan dari siapa pak?.", ucap Sya'dan.
"Bunga ini dari Tholibah yang aku kagumi.", ucapku secara tak sengaja.
"Ha?, apa ustadz?. Dari seorang Tholibah?.", Tanya Sya'dan.
"Ohw bukan-bukan, udah jangan di bahas.", ucapku.
"Hayooo Ustadz. Kubilangin ke temen-temen loh ya.", ucap Sya'dan.
"Wah, berani ngancem kamu ya.", ucapku.
"Mueeeheheheheh, kepo Ustadz!", ucap Sya'dan.
"Bunga tiruan ini pemberian dari salah satu Tholibah di Madrasah ini.", ucapku.
"Wuiiiiiissshhhhhhh, siapa Ustadz?.", ucap Sya'dan.
"Tia", ucapku.
"Ha?, Tia?, enggak kenal Ustadz, enggak ada yang namanya Tia di Madrasah ini.", ucapku.
"Dia berada di Thobaqotul Isnain.", ucapku.
"Hadeh, bahasa Arab lagi.", ucap Sya'dan.
"Kelas dua.", ucapku.
"Wait Ustadz.", ucap Sya'dan.
"Kelompok A dia", ucapku.
"Owh Rania Pak.", ucap Sya'dan.
"Nah, itu. Tia Rania Al-Fatirah.", ucapku.
"Jadi, bunga tiruan itu dari Rania pak?.", ucap Sya'dan.
"Ya, jangan bilang siapapun. Kok 'Pak' Ustadz, panggil saya 'Ustadz'. Jangan panggil 'Pak!', budayakan berbahasa Arab ketika berada di Madrasah ini.", ucapku.
"Wuiihsss, tenang Pak. Itu Urusan Ustadz. Woh iya, nama lengkapnya Pakai kata 'Tia' di awal namanya.", ucap Sya'dan.
"Iqro' bismi robbikalladzi Kholaq.", ucapku.
"Apaan Ustadz?, itu kan ayat pertama surat Al-Alaq.", ucap Sya'dan.
"Bacalah, dengan menyebut nama Allah yang maha menciptakan. Membaca bukan berarti hanya membaca tulisan yang dirangkai lewat pena. Suatu hal apapun bisa dibaca. Jika membaca itu fapat dianalogikan dengan sebuah perayaan hari raya, maka menulis dianalogikan sebagai pelaksanaan puasa Romadhon.", ucapku.
"Apa hubungannya pak?.", ucap Sya'dan.
"Bagaimana project novelmu?.", ucapku.
"Novel Dandelions kah pak?, Al-Hamdulillah Konsisten pak, tapi batasannya saya cuma bisa merilis seminggu sekali.", ucap Sya'dan.
"Mantaaaab. Loh Pak lagi, udah kubilang kalau memanggilku itu dengan bahasa Arab. 'Ustadz', ingat!! 'ustadz'. Bukan karena apa, tapi tholib-tholibah harus latihan berbahasa Arab jika berada di Madrasah ini.", ucapku.
"Siappp Ustadz.", ucap Sya'dan.
"Bagaimana dengan Project Novel The Villainess Ustadz?.", tanya Sya'dan.
"Cukup konsisten, jika eksekusi konsep cerita karakterisasinya berasal dari kisah Novelku yang Aryan, aku bisa saja merilis satu sampai tiga Chapter perharinya. Tapi jika eksekusi konsep cerita yang karakterisasinya berada di wilayah Universe Dandelions, agak sulit. Aku harus menunggumu membuatkanku kasarannya.
"Wah. Ya, itu gak enaknya kollab cerita pak. Kita memiliki wilayah masing-masing.", ucap Sya'dan.
"Loh, kok 'pak' lagi?.", ucapku dengan agak kesal.
"Maaf Ustadz sering lupa.", ucap Sya'dan.
"Aku punya dua project cerita baru.", ucapku.
"Apaan Pak?, eh Maksud saya Ustadz. Apaan itu Ustadz?", ucap Sya'dan.
"Pertama, skuel kisah Aryan setelah kejadian The Villainess. Kisah ini berjudul The Seven Deadly Sins, saat Aryan dihukum oleh Tuhan ke dalam Inferno.", ucapku.
"Yang kedua apa Ustadz?.", ucap Sya'dan.
"Mutiara Ruh-ku", ucapku.
"Ha?, apa itu Ustadz.", tanya Sya'dan.
"Ini sebuah kisah tentang keterkaguman seorang Murobbiy terhadap Salah seorang Tholibah, karena diawali dengan hadirnya Tholibah tersebut ke dalam mimpi Murobbiy.", ucapku.
"Weeeeeew, Nice Ustadz. Ditunggu Projectnya Ustadz.", ucap Sya'dan.
Sya'dan kemudian meninggalkan halaman Madrasah, karena ketidak pekaannya terhadap sesuatu, ia tidak mencurigai apapun dengan penjelasanku. Aku pun beranjak dari halaman Madrasah itu, dan segera memasuki Ruang Muallim untuk meletakkan Bunga Tiruan ini di dalam Tasku.
Saat aku tengah memasuki Ruang Muallim, aku kaget. Lantaran hampir menabrak seorang Tholibah karena ia tiba-tiba keluar dari Ruang Muallim tersebut.
Dalam hatiku berkata, "aduh, ternyata dia.". Kami pun saling memandangi mata dan saling senyum semi tertawa. Suasana terasa canggung.
"Loh Pita-nya ke mana Pak?", ucap Tia dengan penuh ketegangan, karena melihat pitah
Bunga Tiruan yang berasal darinya telah hilang entah ke mana.
"Aduh, maaf. Mungkin tadi karena tersenggol para Tholib pada saat sesi foto-foto di perayaan Event Yaumul Muallim.", ucapku.
"Yaaaa,", ucap Tia.
"Maap heheh", ucapku dengan penuh penyesalan.
"La ba'tsa Ustadz".
Aku kemudian pergi memasuki Ruang Muallim, tanpa berkata sepatah kata.
Dua Project Baru, pertama The Seven deadly Sins. Kedua, berjudul "Lu'luatun Ruuhiiy" yang artinya Mutiara Ruhku, sebuah kisah keterkaguman seorang Murobbiy terhadap salah seorang Tholibah-nya. Tetap cermati kisah ini ya Guyssss.
-berlanjut-
𝘽𝙞𝙡𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙠𝙖𝙜𝙪𝙢 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜, 𝙠𝙖𝙜𝙪𝙢𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙧𝙤𝙨𝙚𝙨 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙖 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙞. 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙗, 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙪 𝙠𝙖𝙜𝙪𝙢 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖𝙣𝙮𝙖, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙠𝙚𝙘𝙚𝙬𝙖𝙖𝙣.