" Re, kamu mau kemana", tanya bian, saat bian melihat rere mau pergi meninggalkan dirinya.
rere seolah tidak perduli dengan pertanyaan bian. bian yang sedang kalut dengan pikirannya karena perusahannya bangkrut segera berdiri dari sofa ruang tamu rumahnya tiga lantai lalu mengejar rere istrinya yang kini sudah berada di depan pintuh rumahnya. kemudian bian memegang tangan rere.
"re mau kemana", bian bertanya lagi dan memintah jawaban.
"mau pergilah", jawab rere malas seolah meremehkan bian.
"" kamu tu tega ya", ujar bian yang kesal, emosi saat mengetahui rere tidak ada rasa peduli sedikit pun.
" udah mas ak males bertengkar, oh ya mas aku sudah ajukan perceraian kita", ucap rere santai seolah tak ada beban dan rasa bersalah.
Duarrr
bian yang mendengar hal itu serasa langit runtuh menimpah dirinya, di saat usahanya bangkrut jangan kan rekan bisnisnya istrinya pergi meninggalkan dirinya.
tangan bian yang semula menggenggam lengan rere tak terasa terlepas sendiri, hancur semuanya hancur, bian cuma menatap kosong kepergian rere istrinya yg 3 tahun lalu ia nikahi.
bian masih berdiri, dari depan pagar rumahnya ada sebuah mobil yang sudah menunggu rere, rere masuk kedalam mobil itu sebelum berangkat dari arah sopir ada seorang pria yang bian kenal tersenyum penu kemenangan, dia adalah hans musuh bisnisnya.
bian tak lagi memperdulikan itu semua, pria tampan berwajah oval itu dengan sisa tenaga kembali masuk ke dalam rumahnya yang sebentar lagi di sita bank.
Bian kini di balkon rumahnya berdiri di pagar balkon menatap kosong ke depan di dalam pikiran berkecamuk.
"tuan", panggil bik ija artnya yang kini sudah ada di sampinya.
"tuan", panggil bik ija sekali lagi, tetapi bian tidak memperdulikan sama sekali seakan hanyut dalam lamunan, bik ija yang melihat hal itu merasa sedih karena bian yang bik ija kenal tidak seperti ini, bian yang bik ija kenal penuh semangat, tapi karena kebangkrutan lah yang membuat bian seperti ini.
" tuan ", panggil bik ija mencoba memecah lamunan bian.
"iya bik, ada apa", sahut bian, bian menoleh ke arah bik ija, hati bik ija mskin terenyuh melihat penampilan bian yang kusut seperti orang frustasi.
"tuan di bawah ada orang dari bank yang ingin menemui tuan", ucap bik ija, yang sebenarnya tidak ingin menyampaikan hal itu.
"baik bik", ujar bian, walau bian tampak kusut tapi tidak mengurangi kharisma seorang pemimpin, "oh ya bik tolong bibik temui lagi dan bilang sebentar lagi saya turun", sambung bian.
Bian melangkah ke arah petugas bang turun dari tangga lantai atas rumah mewahnya ysng bergaya amerika clasik itu.
tak ada raut marah tampak dari kedua pria seram itu karena mereka anggap bian bertanggung jawab.
bik ija terus memperhatikan bian yang bicara dengan petugas bank di ruang tamu setelah mengantar minum, ada raut kesedihan mendalam di wajah bian.
setelah berjabat tangan petugas bank itu pamit pergi. menyadari bik ija yang sedari tadi memperhatikan dirinya bian menghampiri bik ija.
"bik, bibik sekarang boleh pergi sbb hari ini rumah ini di sita bank, masala gaji bibik akan aku transfer", ucap bian sedih, sebenarnya bian tidak tega mengusir bik ija, karena bik ija sudah ikut dengannya sudah lama.
"baik tuan", bik ija pun berlalu dari hadapan bian, pergi ke arah kamarnya membenahi seluru pakaiannya.
kini bik ija menenteng 2 tas, menuju ke taman samping rumah bian karena bik ija tahu bian berada di situ.
"tuan bik ija pamit ya", bik ija pamitan, tetapi hati bik ija seakan tak rela meninggalkan bian dalsm ke adaan seperti ini.
"iya bik hati hati", ujar bian sedikit tak menoleh bik ija terus memandang ke depan.
bik ija memberani kan diri berkata, " tuan, gimana kalau ikut bibik ke pesantren", ajak bik ija, karena bik ija tidak tega meninggal kan bian seorang diri dalam keadaan seperti ini, yang bik ija anggap sudah seperti anaknya sendiri.
lama bian merenung.
"gimana tuan, mau gak", tanya bik ija lagi.
bian menganggu tandah setuju, bik ija tersenyum.
pesantren ini sangat besar di huni oleh tiga ribu santriwati dan satriwan, baru beberapa langkah bian dan bik ija masuk ke halaman pondok pesantren ini hati bik ija terasa sejuk karena dari berbagai penjuru pesantren terdengar suara santriwati dan satriwan mengaji, pemadanganny juga tak kalah indah, dihiasai berbagai bunga dan pohon rindang.
mereka menuju ke arah masjid karena bik ija ingin menemui kiyai zaky pimpinan pondok pesatren.
dan benar saja kiyai zaki lagi ada di masjid.
"Assalamammuaikum", wanita paru baya bertubuh tambun rambut di sanggul cepol itu mengucap salam. kiyai zaky yang lagi bezikir sejenak menghentikan zikirnya lalu mengucap salam kembali.
"walaikum salam", ucap kiyai zaky beliau kemudian tersenyum menatap bik ija dan bian, kiyai zaki adalah sahabat bik ija masa kecil yang terjalin sampai saat ini.
"jah ayo silahkan masuk", tawar kiyai zaky sembari tersenyum.
"terima kasih kiyai"
"ayo tuan kita masuk", ajak bik ija kepada bian, bian tak menjawab, bik ija tau bian lagi dalam masa yang sangat sulit.
bik ija dan bian melangkah masuk menuju tempat kiyai zaky yang duduk di dekat kiyai zaky.
bik ija menceritakan semua secara detik ke kiyai zaky atas musiba yang terjadi pada majikannya. kiyai zaky menanggapinya dengan penuh perhatian. bian yang berada tepat di depan kiyai zaky cuma bisa pelangak pelongok, itu semua karena depresi yang dialami bian.
" jah sekarang ajak nak bian temui, ustads harry biar dia yang menunjukan kamar nak bian aku sudah menelponnya dia sudah menunggu kalian di depan, suru nak bian istirahat dulu", ujar kiyai zaky
"baik kiyai", ucap bik ijah.
bik ijah dan bian pergi meninggalkan kiyai zaky.
Harry yang sedari tadi ada di depan masjid menghampiri bik ijah dan membawahkan tas yang di bawah bik ijah.
sudah tiga hari bik ija dengan bian berada di pondok pesantren kiyai zaky bian masih tetap seperti orang linglung, terus melamun dan meratapi nasebnya.
"tuan makan dulu ini bibik bawahkan makanak kesukaan tuan bian", tawar bik ija. bik ijah sangat sedih menatap bian yang duduk di kursi kamar di dekat jendela. tak ada jawaban dari bian.
"allahuakbar allahuakbar", suara azan berkumandang.
"tuan bibik tinggal dulu ya bibik mau shalat", bik ija pamit, tinggal bian seorang diri di kamar.
entah apa yang terjadi mendengar azan kali ini biar tersadar dari lamunannya dan mengucap istifar.
"astagfirullahhalazim", ujar bian, kedua tangannya mengusap mukanya.
bian merasa sangat berdosa karena sudah sangat lama tidak bersujud pada sang khalik.
buru buru bian berdiri mengambil wuduk di kamar mandi yang ada di kamarnya lalu bian menuju ke masjid bian ikut shalat berjamaah.
selesai shalat biar berdoa menumpahkan semuanya kepada allah swt.
"ya allah ampuni semua dosa hambah mu yang hina ini, hambah telah lalai melakukan kewajiban hambah ke padamu ya allah, karena hamba selalu di sibukan mengejar dunia mu ya allah hingga hamba lupa", derai air mata bian jatuh tak terasa dari pelupuk matanya, biar menumpahkan semuanya.
semua orang sudah kembali tinggal bian dan kiyai zaky yang ada di dalam masjid. kiyai zaki mendekati bian yang sedari tadi dia perhatikan.
"nak bian tidak apa apa", tanya kiyai zaky yang sudah berada di sebelah kiri bian.
" tidak apa apa pak kiyai", jawab bian yang berusaha mengusap air matanya.
"tidak apa apa, tidak usa di hapus air matamu nak bian, itu semua sebagai penebus dosa masa lalumu", ujar kiyai zaky seolah tahu yang tarjadi pada bian. bian pun melongok mencari jawaban.
"begini nak bian, kita sebagai manusia tak luput dari sala, dosa dan khilaf, kamu termasuk orang yang beruntung masih di beri kesehatan dan cepat menyadari kesalanmu", kiyai zaky menasehati bian.
"ya pak kiyai", timpal bian yang masih tertunduk.
"nak bian allah maha pengampun, maha pemaaf", kiyai zaky kemvali menasehati bian, tangan pak kiyai mengusap bahu bian mencoba menenangkan bian.
"terimah kasih pak kiyai" bian berterimah kasih karena orang lain semua pergih saat dia terjatuh termasuk istrinya rere, tapi masih ada orang baik seperti bik ijah dan kiyai zaky saat dia terpuruk seperti saat ini.
" tuan tuan ", teriak bik ija di depan pintuh masjid
" ada apa bik", jawab bian terkejut melihat ke arah bik ijah
" ini tuan ada telpon", bik ija yang sudah berada di depan bian dan kiyai zaky memberika hp kepada bian, bian pun menerima hp dan mengangkat panggilan.
"halo,,, ", sapa bian
orang yang di sebelah telepon bercerita panjang lebar, yang intinya perusahaan bian tidak jadi bangkrut, pelakunya hans kini sudah di tangkap.
"alhamdulilah", ucap mereka bertiga.
bian memeluk kiyai zaki mengucapkan banyak terimah kasih juga pada bik ija.
"terumah kasih ya allah".
SEKIAN.