Kita pernah bercengkrama tentang tinggi dan megahnya
Mahameru,kau juga bilang bahwa kau ingin sekali mendaki
gunung itu,hingga kau selalu saja bercerita indahnya alam disana
setiap saat.
Aku yang duduk di sebelahmu,hanya bisa memandangmu
sambil menyeruput teh buatanmu yang selalu kau takarkan dengan dua setengah sendok teh gula,karena kau tahu aku suka pada hal-hal manis untuk terus membuatku bermimpi,dicampur
teh tubruk yang hanya bisa di dapat di toko Pak Ahmad.Kau juga
bilang kalau takarannya kau rubah aku akan langsung merubah
ekspresiku menjadi murung,jika kau melihat ekspresiku itu kau
akan takut sembari menahan tawa.
Diriku pernah melihat keinginanmu untuk mengibarkan
bendera merah putih dan menyanyikan lagu laskar pelangi di
puncak Mahameru.Kau memang tak mengatakan langsung
kepadaku,aku mengetahui itu semua dari note kecil yang
berjudulkan `keinginan sebelum berlayar` yang berada diatas
bantal mu,kau yang kukira ingin beristirahat.Namun kau
mengeluarkan isi pikiranmu pada kertas itu,tapi kau tak pernah
membaginya kepadaku,dengan alasan tak ingin menyusahkan ku
dengan semua keinginan mu itu.
Menulis semua keinginanmu sekaligus melawan
diri,bagaimana aku tega membiarkan keinginanmu terpendam mu
yang sedari lama kau genggam erat.Potongan foto mengenai
danau yang luas bernama `Ranu Kumbolo` yang kau pajang di
samping jendela tak pernah ku hiraukan.Kau juga sering
bercerita tentang eksotisnya air terjun`Coban Sewu`,tebing-tebing
menculak tinggi seolah membentuk tirai.Kau iri dengannya
padahal bagiku kau lebih dari segalanya lebih dari apapun.Catatan pendaki dan novel bertemakan gunung yang
sering kau baca tersusun rapi di rak putih,sehabis membacanya
kau selalu termenung menatap keluar jendela yang tak pernah
kumengerti alasan dibaliknya.
Semenjak itu,tekadku semakin kuat akan mewujudkan
keinginan yang telah lama kau pendam seorang diri,melalui list
yang telah ku buat yang terdiri dari perjalanan yang akan kita lalui.
***
Esoknya,sengaja aku pergi ke butik untuk membelikanmu
gamis dengan hijab warna putih yang akan kau kenakan pada
malam jumat,bukan tanpa alasan kau menyukai warna itu,bagimu
warna putih itu suci dan indah,sesuci dan seindah cinta kita yang
telah kita rawat selama sembilan tahun lamanya.Tak lupa aku
membawakanmu kue tiramisu yang setiap aku pergi ke kota kau
selalu berharap aku membelikan kue itu.Diriku semakin tak sabar
melihat wajah manis mu itu.
Sembari menghitung hari menujukeberangkatan,aku
berusaha menyimpan semua rencanaku itu,walaupun sesekali
lidahku sangat ingin untuk memberitahukannya
kepadamu.Namun,saat malam sebelum kita berangkat kau tidak
seperti biasanya kau selalu tersenyum dengan senyuman yang
sulit kuartikan.Kau juga mengucapkan kata-kata romantis
berulang kali kepadaku sambil mendekap ku erat-erat,harum
rambutmu dan hangat genggaman tangan mu membuatku ingin
terus bermimpi.Besok aku akan membawamu menyaksikan Ranu
Kumbolo dan indahnya kota diatas langit di Mahameru,kau juga
bisa berteriak sekencang mungkin jika kau ingin.
Waktu yang kita tunggu tiba,keinginan mu akan kita
tunaikan bersama,dengan mobil Robocon hitam yang katamu
segagah diriku saat kau melihatnya melintas petang lalu.Aku
memang sengaja meminjamnya dari teman ayah ku petang
kemarin.
Tak lupa kita pergi ke Coban Sewu sebagai destinasi awal perjalanan kita,deburan air yang jatuh dan suaramu yang
lembut menjadi simfoni kompleks yang tidak akan bisa ditirukan
oleh alat musik apapun.
Sampailah kita di Tengger,yang menjadi pintu masuk awal
tujuan kita.Dengan angkuhnya dirimu mengatakan bahwa kau
akan sampai ke puncak dalam lima seperempat detik saja,tak
perlu terburu-buru Ratih,kita akan menikmati perjalanan yang kau
impikan ini.Lantunan kicau dari para burung seakan menyambut
kita,sorot sinar mentari yang hangat dan hawa yang tentram
membangun atmosfer di sekeliling kita.Aku bertanya-tanya apa
isi pikiranmu sekarang.Jalanan terjal dan licin tak membuat rona
mu hilang,aku cemburu pada gunung ini yang telah membuat
dirimu bahagia pada pertemuan pertama.
Padang rumput membentang,kubangan air yang luas dan
senja sebagai waktu yang tepat,jadi tempat ini yang selalu kau
bilang sebagai surga tersembunyi di lereng Mahameru.Memang
benar ucapan mu,Ratih.Dari mataku ini semua terlihat seperti
karya Leonardo da Vinci.Kemarilah,duduklah disampingku diatas
pohon tumbang yang mengarah ke danau,kita akan melihat
bagaimana sinar itu menghilang dengan kehangatan yang dia tinggalkan.
Sayup-sayup
suaramu
membangunkan ku,hangat
pelukmu membuat malam dingin yang panjang terasa begitu
cepat.Ah,kebiasaanmu kepadaku
tak
hilang
dimanapun
itu,secangkir teh dengan takaran seperti biasanya kau berikan
padaku,namun kali ini dengan tangan yang dingin dan
kaku.Dengan raut yang berbinar,aku paham dirimu sudah tak
sabar untuk melanjutkan perjalanan,enam kilometer lagi menuju
keinginan terbesarmu.Jika kau tahu Ratih,aku sangat ingin terus
bersamamu,aku
ingin
selalu
mengerti perasaanmu
,mendengarkan semua cerita-cerita mu walau dunia mu sedang
direngut,izinkan diriku membuat dunia baru yang dimana hanya ada kita berdua di dalam sana.Tetaplah berdiri di sisiku.
***
Sinar matahari menembus kaca jendela ruangan
ini,wanita berbaju serba putih itu selalu saja memaksaku untuk
meminum banyak pil,ayolah aku bukan anjing yang sakit.Bel pintu berdenting,pertanda diriku harus meminum obat,sebenarnya tak
masalah jika diriku harus meminum obat,namun aku tak lagi bisa
bertemu dengan Ratih.Persetan dengan omongan wanita berbaju
putih yang mengatakan dengan meminum obat maka,skizofrenia
ku akan sembuh.Semua yang ada disini terlihat suram,ruangan
sempit,sunyi dan warna serba putih membuatku muak,terlebih
lagi sepasang suami istri menyebalkan yang selalu datang saat
petang lalu mengatakan bahwa diriku harus segera sembuh lalu
menangis di hadapanku membuat diriku jengkel.