Lili terbang di atas bunga bunga di taman, ai sangat bahagia terbang berputar putar di atas bunga yg mekar sesekali kaki kecilnya menyentuh kelopak bunga mawar.
"la la la", lili bersenandung.
Kumbang berterbangan ke sana ke mari dari satu pohon bunga ke pohon bunga yang lain, matahari bersinar cerah, cahayanya ada sebagian keluar dari cela cela pohon pohon tinggi menjulang.
ikan berenang begitu riang di dalam kolam. semuanya seolah seirama.
Tiba tiba semuanya seakan terbalik 180 derajat suasana seakan mencekam. awan yang semula cerah menjadi gelap. mata lili mengikuti pergerakan awan gelap yang datang kupu kupu berterbangan tak tentu arah, hembusan angin begitu kencang menyapu semua yang di lalui nya lili yang menyadari hal itu lalu bersembunyi di balik daun lebar dan terus memperhatikan. lili sangat ketakutan tak tahu harus berbuat apa.
LILI pun bertanya tanya apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi karena sebagai putri peri hal ini baru dia alami seumur hidupnya.
kilatan petir menyambar apa pun yang d lalui nya. taman peri yang semula indah kini berubah mejadi porak poranda.
Di tegah kekalutan ada angin puting beliung. angin puting beliung itu perlahan menghilang dan berubah menjadi sesosok peri hitam. lili di balik persembunyiannya terkejut bukan kepalang memperhatikan peri hitam itu.
"peri medusa", gumam lili.
"lili.....", panggil peri medusa memanggil lili. medusa memperhatikan semua penjuru taman mencari lili.
"kemari sayang", bujuk medusa, lili yang ketakutan diam seribu bahasa bahkan takut untuk bergerak.
"lili keluarlah atau aku hancurkan taman ini", ancam medusa, medusa sangat marah dia mengayunkan tongkatnya tiba tiba tercipta putaran angin yang lalu ia arahkan ke pohon seketika pohon itu tumbang.
" hhhhhhhhhh rupanya kau bersembunyi di situ lili", ucap medusa saat melihat lili terpelanting.
"aaahhh", ringis lili tidak memperdulikan medusa dan mencoba bangkit dan menahan rasa sakit pada tubuhnya.
lili mencoba lari dengan cara terbang namu belum lili sempat terbang, dari ujung tongkat medusa keluar sinar yang serupa tali mengikat kaki lili lalu medusa tari ke arahnya.
"lepas kan aku", lili berteriak saat medusa mencengkram tangannya.
"hhhhhhhh", medusa tertawa tepat di hadapan lili yang tengah kewalahan ingin melepaskan diri dari cengkraman medusa.
Kemudian medusa hempas kan tubuh lili ke kolam yang airnya sudah berubah menjadi hitam pekat.
lili pun pingsan tak sadar diri. medusa memperhatikan tubuh lili tak ada pergerakan sama sekali.
" hhhhhh sudah lama aku mengharapkan ini semua kini mejadi milik ku, hhhhh"., tawa medusa menggelegar di semua penjuru taman.
medusa terbang ke arah istana di ikuti segerombolan peri peri hitam pengikutnya.
"aaahhh", lili sedikit mengeluarkan suara.
kini medusa sudah di depan istana.
"medusa", teriak lili.
medusa berhenti lalu berbalik karena mendengar teriak suara menyebut namanya, betapa terkejutnya medusa saat dia tahu.
"lili, bagai mana mungkin", bisik suara hati medusa, medusa seakan tak percaya.
"kau pikir aku sudah mati medusa", lili mencoba menebak " kau pikir kau bisa menguasai ini semua", sambung lili dengan nada amarah.
medusa masih bengong. karena lili yang di hadapan medusa kini jauh berbeda di banding dengan lili yang medusa ketahui selama ini.
lili membuka kedua tangannya saat itu juga keluar sinar, seketika taman itu kembali normal. mata medusa melotot melihat itu semua.
"sekarang hadapi aku medusa", tantang lili yang tetap tenang walau penuh amarah.
Secercah sinar keluar dari tongkat lili bermahkota kan tiga berlian meluncur ke arah medusa. tak mau kalah sinar hitam keluar dari tongkat hitam medusa.saat sinar beradu medusa terpelanting ke belakang dan terjatuh ke tanah. kemudian tubuh medusa menghilang juga pengikut pengikutnya.
" hhhhhhh aku akan kembali", suara medusa menggema.
lili merasa bersyukur karena dapat mengalahkan ratu hitam medusa yang terkenal kejam.
"lili apa semua telah berakhir", tanya peri lain. lili mengangguk
ada peri pengasuh datang menghampiri lili
"terima kasih bunda" ucap lili sembari memeluk peri pengasuh.
"sama sama putri lili, ini sudah jadi kewajiban bunda, sejak ratu dan raja meninggal", ujar bunda peri yang bertubuh bongsor itu.
Sekian.