Sempat merasa heran, bagaimana percintaan semua orang itu lancar, adem dan tentram?
Ya, aku, Anindra Vania Putri, aku adalah seorang gadis SMA, yang akan menceritakan kisah cintaku yang dramatis ini.
Aku tidak mengenal cinta, yang kukenal adalah kasih sayang dari ayahku, kuanggap saja cinta kasih ayahku melebihi cinta seorang laki-laki. Aku memasuki SMA, saat itu penampilan ku layaknya anak kecil yang masih berpeluk di ketiak mama, kucel, bedakku tak beraturan, dan memakai lipstik saja aku sering melenceng hingga tak beraturan, tak heran aku menjadi bahan bulian teman sekelasku.
"Kamu ini perempuan, kenapa kamu tidak bisa memakai bedak dan kosmetik lainnya? "
Mamaku saja kesal melihatku, semua orang hanya bisa mencemooh diriku, mereka hanya bisa mengejekku, bukannya membantuku. Tetapi ayah, dia adalah malaikatku, disaat mama mengomel denganku, ia selalu membela ku.
"Ayah tidak bisa membantumu untuk bisa merias, tapi ayah minta saja, berdandan saja yang sebisa mu, jangan terlalu memaksa kemampuan yang tidak kamu punyai, kamu adalah putri kesayangan ku yang paling manis. " puji ayahku.
"Kalau begitu, apakah boleh aku ikut les, ayah? "
"Les? Les apa yang ingin kamu ikuti? " tanya ayahku.
.......
Seperti biasa, penolakan, ayah mendukung, sedangkan mama menolak, ia hanya bisa mengomentari saja tanpa membantuku.
Aku sebenarnya menyukai teman sekelasku, yap, dia cukup manis, bukannya tampan, cuma dia kemayu saja. Namanya Hanif, dia laki-laki yang setahun lebih muda dari ku, oh, walaupun begitu, dia tetaplah idola sang wanita di kelasku.
Masa puber, biasa akan terjadi pada anak remaja, aku menyimpan rasa padanya, hanya saja aku berusaha menutupinya dengan cara aku sendiri, ku yakin pastinya dia adalah idaman wanita di kelasku.
..........
"Terimakasih ya makanannya. "
Oh senyumnya Hanif, senyuman laki-laki itu membuatku terpanah, dia begitu tampan dimataku.
Aku lengah, ternyata yang benar-benar menyukainya bahkan ngeh, sepertinya aku akan menjadi korban bully selanjutnya.
"kamu suka sama Hanif? "
Tuh kan, pastinya sudah kuduga, tetapi aku aman, karena teman sebangku ku orangnya termasuk orang yang ahli dalam bela diri, siapa berani menindas pastinya temanku akan ikut mengertak mereka.
Sesekali aku iseng, aku meminta bantuan kepada teman sebangku ku, syukur saja ia menerima permohonan ku, untuk membantu mencarikan hadiah untuk Hanif saat hari ulang tahunnya.
........
"Rani, boleh kamu yang taruh hadiah ini di tasnya Hanif? Kalau langsung kasih, bisa bisa yang cewek kemarin ngedatengin aku. " mohon ku.
Rani benar-benar teman yang bisa diandalkan, ia siap membantu ku, ia juga tahu bahwa aku menyukai Hanif.
Saat waktu istirahat, Hanif keluar dari kelasnya, rencanaku dan Rani akhirnya berjalan lancar, kami akhirnya menjalankan rencana yang sudah dirancang tadi, meminta bantuan Rani untuk meletakkan hadiah yang ku berikan di dalam tas milik Hanif.
Sebelumnya, tak lupa juga aku menaruh penggalan surat di hadiah yang ingin ku berikan pada Hanif, semoga saja ia senang dengan hadiah yang ku berikan.
......
"Tidak usah beri hadiah lagi denganku, tidak penting. "
Baru kali ini Hanif menunjukkan belangnya, ditambah juga wanita yang menyukai Hanif juga mengetahui semuanya, sudah, matilah aku, aku akan di-bully oleh mereka semua.
"Sadar nggak sih kamu itu, Van, kamu tuh jelek, pake make up saja nggak bisa, ngarep mau dekat dekat lagi dengan Hanif? Ngaca dulu. "
Aku di hina, di hina di depan teman teman lainnya, sementara yang lainnya tidak berani untuk ikut membantu ku, Rani disekap di gudang, berharap ia tidak tahu bahwa wanita-wanita sirkel ini sedang merudung ku di dalam kelas.
Hanif? Ia sekarang menjauh, sepertinya ia mendukung perlakuan wanita-wanita ini, ia tampak tidak peduli, bahkan acuh tak acuh dengan diriku.
.......
"Harapanku ingin cepat lulus saja tahun ini. "
Tidak seperti biasanya, harapanku di ulang tahun ini aku ingin cepat lulus dari sekolah, aku tidak ingin lagi di sana, aku tidak betah, aku bisa mati secara perlahan dengan bertahan di sekolah itu.
Masa menyenangkan di SMA? Tidak untukku, ini masa kelam, masa yang paling kelam dari sebelumnya, aku dirundung oleh teman teman sekelasku, ingin merasakan cinta pertama saja tidak bisa, bahkan menikmatinya saja itu sekedar mimpi.
Aku direndahkan, aku akan balas kalian semua, tunggu saja, cintaku yang dramatis ini akan berhenti di sini....
.......
Beberapa tahun aku sekolah di perguruan tinggi, saatnya aku telah berubah, aku sudah bisa memakai make up dan sebagainya, mamaku sangat bangga akan perubahanku itu.
Aku sangat berterimakasih dengan ayah, ialah segalanya, aku bisa berubah karena dirinya.
Entah angin darimana, aku dipertemukan kembali dengan Hanif, laki-laki yang pernah kukagumi sekarang datang di depan wajahku, tatapannya seakan tidak pernah melihatku, cara tatapannya saja sudah berbeda sekarang.
"Kamu Anindra? "
Aku acuh, seakan aku tidak kenal, aku ingin membalas sakit hatiku sebelumnya.
Tapi entah mengapa, ia begitu nekat, bahkan meminta bantuan teman temannya untuk bisa mendekati ku.
Aku muak, aku ingin mengatakan yang sebenarnya, agar ia tahu bahwa aku benar-benar membenci dirinya.
.......
"Ayo, Nindra, ayo! "
Kulayangkan tasku di depan mereka semua, aku muak akan semua itu, bahkan Hanif terkejut melihatku.
"Hentikan permainan bodoh kalian ini! Aku, aku sebagai Anindra tidak sudi ingin bersama dengan Hanif ini! Jangan kalian anggap tampangnya bisa membuatku luluh, aku ingin muntah melihatnya! "
Aku berbicara tegas, sementara mereka semua hanya terdiam, termasuk Hanif sendiri. Laki-laki itu diam, dan matanya melotot, akhirnya aku bisa membalasnya dengan mulutku sendiri.
"Nindra, apa kamu dendam denganku? " tanya Hanif padaku.
Jangan dikata lagi, kumiringkan senyumku, aku ingin meremehkannya.
"Ya, hatiku begitu sakit ketika kamu bisa mempermalukan ku di depan teman teman SMA kita, kamu tau bagaimana sakitnya diriku dulu? "
Hanif berlutut, tampak ia ingin meminta maaf, kulipat kedua tanganku, rasakan ucapan pedas itu menusuk hatimu.
"Maaf, Nindra, aku melakukannya demi dirimu. "
Aku terkejut, bagaimana bisa mulutnya berkata seperti itu, jelas jelas rundungan itu ia ucapkan demi diriku, sepertinya Hanif sudah gila.
"Aku melakukannya demi dirimu, aku terpaksa untuk berkata seperti itu agar kamu bisa menjauhiku, aku tidak ingin kamu dirundung oleh geng wanita-wanita itu, Anindra. "
Aku melotot, aku tidak percaya, selama itu ia tidak acuh denganku karena ia melakukannya demi diriku, agar aku tidak dibully habis habisan oleh geng wanita kelas kami dulu.
"Kenapa baru sekarang kamu seperti itu, Hanif? " tanya ku.
Hanif mendekat, ia mengenggam tanganku.
"Demi dirimu, demi keselamatan mu, maaf sebelumnya aku acuh tak acuh dengan dirimu, itu karena aku ingin kamu terlindungi dari bully. Sekali lagi, maaf. "
Aku mulai menitikkan air mataku, aku ikut mengucapkan terimakasih kepada Hanif, selama ini ia lakukan semua itu demi diriku.
"Karena kita bersatu kembali di perguruan tinggi ini, maukah kamu menjadi pasanganku? "
Tawaran Hanif tidak bisa ku tolak, aku menganggukan kepalaku, akhirnya kami resmi menjadi pasangan.
......
Aku sangat senang, ternyata cinta dramatis ini akhirnya berbuah manis, terimakasih Hanif, ternyata kamu terima ku apa adanya, bahkan setelah kita berpasangan, kamu tetap mendukungku untuk belajar make-up.
Terimakasih make-up, kau jalur hidupku, agar bisa bertemu dengan Hanif.