Pagi ini cuaca sangat cerah sekali. Sekolahku terasa damai karena semua kelas sedang melakukan kegiatan belajar mengajar. Begitu pun dengan kelasku. Aku sedang mengikuti kelas dengan mata pelajaran matematika. Selama pelajaran berlangsung mungkin hanya aku saja yang begitu bersemangat mengikutinya. Sedangkan yang lain terlihat sangat jenuh. Tampak dari raut wajah mereka yang berbanding terbalik dengan cuaca pagi ini. Termasuk teman sebangku ku. Ku lihat raut wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia seperti sedang melamun sekaligus gelisah dalam waktu bersamaan. Tidak lama kemudian dia pun meminta izin kepada guru untuk pergi ke toilet. Setelah dia keluar dari kelas, karena rasa penasaranku aku pun langsung meminta izin ke toilet dan bergegas mengikutinya.
Setibanya aku di toilet perempuan aku langsung mencari keberadaan teman sebangku ku. Keadaan di toilet sangat sepi karena memang saat jam pelajaran berlangsung jarang sekali siswa yang pergi ke toilet. Tiba-tiba aku mendengar isak tangis seseorang. Aku mencoba mencari tahu darimana asal suara tangisan itu. Saat aku masuk, aku melihat teman sebangku ku sedang menangis terisak di depan kaca dekat wastafel. Akupun langsung menghampirinya.
“Nisa? Kamu kenapa?” tanyaku saat sudah berada di dekatnya.
Menyadari kehadiranku, Nisa pun langsung menghentikan tangisnya dan mencoba tersenyum kepadaku. “Ah tidak apa-apa” jawabnya.
“Jangan bohong, Nis” ucapku. Aku melihat dia memegang tangan sebelah kirinya. Lalu aku pun langsung menarik tangannya dengan paksa. Untungnya tenaga ku lebih besar darinya. Jadi sekuat apapun dia melawan aku tetap bisa menarik tangannya. Aku langsung melihat tangan Nisa. Betapa terkejutnya aku saat ku lihat tangan temanku. Di tangannya itu banyak sekali bekas sayatan silet. Dan ada yang masih berdarah. Akupun langsung memarahinya karena merasa kesal.
“Nisa! Ini apa?!” bentak ku. Dia langsung menarik tangannya kembali. Tetesan air mata mulai jatuh dari pelupuh mataku juga matanya.
“Kenapa kamu kayak gini, Nis? Kenapa kamu tega nyakitin diri kamu sendiri? Apa keuntungan yang kamu dapat dengan menyakiti diri kamu sendiri, Nis?!” ucapku dengan nafas memburu.
“Diam! Kamu gak tahu apa-apa! Cukup, jangan bicara lagi!” bentaknya. Dia pun langsung meninggalkan aku sendirian di dalam toilet. Pantas saja sedari tadi dia mengenakan jaket dan beralibi jika dia sedang tidak enak badan. Lalu kenapa dia melakukan itu?
Karena rasa penasaranku, sepulang sekolah aku berniat mengikuti Nisa. Aku benar-benar khawatir akan keadaannya. Selama ini aku mengenal dia seorang yang sangat pendiam. Kadang banyak bicara itupun hanya kepadaku saja sebagai teman sebangkunya.
Akupun sampai di rumahnya. Sebelum aku memasuki pagar rumahnya aku bersembunyi dibalik tanaman rumahnya. Betapa terkejutnya saat aku mendengar percakapan antara Nisa dengan ibunya.
“Dasar anak tidak tahu diri! Kenapa kamu bersikap tidak sopan kepada ayahmu? Meskipun dia ayah tiri kamu, tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu. Kamu tidak ingat? Yang membiayai sekolah kamu sampai sekarang siapa kalau bukan ayahmu?” ucap ibunya begitu ketus.
“Aku tidak minta ayah membiayai sekolahku. Tanpa dia pun aku masih bisa sekolah” jawab Nisa begitu datar dan menyulut emosi ibunya.
Plak!
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Nisa. Ibunya lah yang telah menamparnya. Dan setelah menampar, ibunya bergegas pergi entah kemana. Ingin rasanya aku mendekati temanku itu. Tapi niatku urung karena aku tahu jika Nisa mengetahui keberadaanku dia akan langsung mengusirku. Saat ku lihat Nisa telah memasuki rumahnya akupun langsung melangkah mendekati rumahnya. Aku penasaran sekali apa yang dialami Nisa selama ini.
Aku mengintip di luar jendela rumah Nisa. Lagi-lagi aku terkejut. Aku melihat Nisa sedang di goda oleh ayah tirinya. Ayahnya itu mengelus pipi Nisa dan mencoba memegang Nisa. Tapi Nisa pun beberapa kali menolak. Aku langsung mengeluarkan handphone dari dalam tas ku dan memulai merekam kejadian itu. Aku akan menjadikan ini sebagai bukti untuk menolong Nisa.
Ayahnya terus saja mencoba melecehkan Nisa dan Nisa pun terus berontak. Tapi sekuat apapun dia berontak, tenaga ayahnya tentu lebih besar darinya. Merasa kesal karena Nisa terus saja menolaknya, ayahnya lalu menarik paksa Nisa masuk kedalam kamar. Melihat kejadian itu aku langsung mematikan handphone ku dan langsung bergegas masuk kedalam rumah Nisa untuk menyelamatkannya.
Saat aku membuka kamar itu, ayahnya Nisa tampak kaget melihat keberadaanku. Sebelum dia menghampiriku aku langsung berlari menghampirinya dan memukul kepalanya menggunakan kayu yang aku bawa dari luar. Pukulanku sepertinya cukup keras sampai membuat ayahnya Nisa jatuh pingsan. Akupun langsung menarik Nisa dan membawanya pergi.
Di tengah perjalanan aku menghentikan langkahku. Aku langsung memeluk Nisa.
“Kenapa Nis? Kenapa kamu tidak pernah menceritakan soal ini?” tanyaku di sela pelukan kami.
Dia mengeratkan pelukannya dan menangis sejadi jadinya dalam pelukanku. “Aku gak bisa cerita. Aku malu karena ini adalah aib aku. Kalau aku cerita gimana nasib adik tiri aku? Aku gak mau dia juga ngerasain hidup dengan orang tua yang berpisah. Lagipula aku juga udah berapa kali ngadu ke ibu. Tapi ibu tidak pernah percaya”.
“Sejak kapan dia mencoba melecehkan kamu?” tanyaku lagi.
“Sejak aku kelas 5 sd. Dia mencoba melecehkanku. Dan semakin aku dewasa dia seperti singa kelaparan yang mendapatkan makanan lezat. Aku mencoba kabur dari rumah tapi aku juga bingung harus pergi kemana. Dan harapan hidupku semakin menipis. Tidak ada yang mau mempercayaiku. Aku ingin mati saja” .
“Sekarang kamu akan tinggal bersamaku, Nis. Aku sudah merekam kejahatan ayah kamu dan besok aku akan menyerahkannya ke pihak berwajib”.
“Jangan! Aku mohon. Nanti bagaimana nasib adikku?”
“Ini waktunya kamu peduli sama diri kamu sendiri, Nis. Aku janji adik kamu tidak akan merasa kehilangan orang tuanya. Aku janji”.
Sejak saat itu ayahnya Nisa di penjara. Dan ibunya menyesal karena tidak mempercayai anaknya sendiri. Dan akhirnya hubungan Nisa dengan keluarganya semakin membaik. Inilah alasan kenapa Nisa menjadi seorang yang pendiam. Moodnya juga kadang berubah-ubah ketika sedang bersamaku. Teman-teman menjauhinya karena beranggapan jika Nisa itu seperti orang yang mengalami gangguan mental. Karena bagi semua orang Nisa terlihat begitu aneh. Tapi saat bersamaku dia selalu tersenyum. Dan ternyata inilah alasan dibalik sikapnya itu. Dibalik tawanya, begitu banyak sekali luka yang coba ia tutupi.
TAMAT