Hari ini adalah hari yang sangat dicintai oleh Rahman. Hari senin. Hari dimana ia bisa bertemu seorang wanita yang telah ia amati beberapa bulan ini. Karena mereka selalu tanpa sengaja bertukar tatap saat tengah menunggu bus di halte yang sama. Tatapan mata dari wanita itu sudah membuat Rahman jatuh hati. Makannya, mungkin saat ini Rahman tengah jatuh cinta. Dan dia benar-benar sangat mencintai hari senin.
Ia benar-benar bersemangat. Selepas shalat subuh, dia bersiap-siap untuk pergi ke kantor lebih awal. Dan tentunya, lebih awal bertemu dengan sang pujaan hati. Merasa semuanya telah siap, Rahman pun memutuskan untuk berangkat saat itu juga.
Dia telah sampai disebuah halte. Keadaan di halte cukup sepi tidak seperti biasanya. Hanya ada dua tiga orang saja. Rahman mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mencari sesosok wanita yang telah membuatnya jatuh hati. Tidak lama kemudian, si wanita pun akhirnya datang juga. Rahman merasa senang. Dia sudah meniatkan jika hari ini ia akan mengajak wanita itu berkenalan. Wanita itu berdiri tepat di samping Rahman. Awalnya Rahman merasa gugup. Pasalnya, jantungnya berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya. Setelah memantapkan niat, akhirnya dia benar-benar mengajak wanita itu kenalan.
“Ha ... Hai” sapa Rahman. Wanita itu menoleh dan hanya tersenyum sebagai balasan.
“Boleh kenalan?” ucap Rahman sambil menjulurkan tangan kanannya. Dia merasa gugup. Takut kalau uluran tangannya tidak akan dibalas oleh wanita itu.
Tapi siapa sangka. Ternyata wanita itu membalas uluran tangan Rahman. “Tasya” ucapnya memperkenalkan diri.
“Rahman” balas Rahman. Saking gugupnya Rahman sampai dia lupa untuk melepaskan jabatan tangannya dengan Tasya.
“Eh maaf-maaf” ujar Rahman. Tasya hanya tersenyum melihat tingkah Rahman.
Mereka sama-sama diam kembali menunggu bus yang mereka nantikan. Sementara Tasya sibuk dengan hp nya, Rahman sesekali curi-curi pandang ke arah Tasya. Tapi tunggu, sepertinya ada yang beda hari ini. Ternyata tersemat cincin manis di jari manis tangan kanan gadis yang sudah Rahman amati beberapa bulan ini. Apakah Tasya sudah menikah?
Tak lama akhirnya bus yang mereka tunggu datang. Rahman pun masuk kedalam bus tersebut. Di sepanjang perjalanan dia terus saja melamun. Bagaimana bisa dia patah hati bahkan saat dia mulai jatuh cinta? Ini benar-benar patah hati yang sangat mendalam.
Di kantor pun dia tidak fokus bekerja. Konsentrasinya benar-benar terganggu. Dia terus saja memikirkan Tasya.
Jam istirahat pun tiba. Rahman duduk termenung sendiri. Tiba-tiba seorang rekan kerjanya datang menghampiri Rahman.
“Kamu kenapa man?” tanyanya.
“Eh, Indah. Enggak, gak papa kok hehe” jawab Rahman.
Indah menarik napas sejenak. “Dari tadi aku perhatiin kamu tuh melamun terus. Kayak yang suntuk gitu. Kenapa?” tanyanya.
“Gak papa” jawab Rahman singkat.
“Man, kalau ada masalah itu ada baiknya dibicarakan. Kalau kamu pendam sendiri gak baik juga buat kamu. Kita kenal udah lama. Masa kamu masih sungkan sama aku” ujar Indah.
Rahman menarik napas dalam. “Oke, aku cerita. Aku patah hati” ucapnya.
“Patah hati? Kenapa?” tanya Indah.
“Udah lama aku merhatiin seseorang di sebuah halte tempat aku nungguin bus. Dia gadis cantik, ramah, dan hangat. Dan baru hari ini aku memberanikan diri mengajaknya kenalan” jelas Rahman.
“Lalu?” tanya indah.
“Tanpa sengaja aku melihat sebuah cincin di jari manisnya”.
“Kamu mengira dia sudah menikah?” tanya Indah. Rahman hanya mengangguk lemah.
“Man, menyimpulkan sesuatu dengan mudah hanya akan mengarahkan kita pada prasangka buruk yang pada akhirnya juga berdampak pada diri kita sendiri”
“Kalau pun memang dia sudah menikah, lalu untuk apa kamu berlarut dalam kesedihan seperti ini? Kamu percaya kan kalau semuanya sudah ada yang menentukan? Kamu percaya takdir? Segala sesuatu yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi, itu sudah ada yang menentukan. Sudah ada takdirnya. Bahkan daun yang jatuh dari pohonnya pun sudah ditentukan waktunya” sambung Indah.
”Kamu benar. Larut dalam kesedihan hanya akan membuat kita menemukan jalan buntu” ujar Rahman.
“Iya makannya. Dan mungkin emang dia bukan jodoh kamu” ucap Indah.
“Makasih ya, dah?”
“Iya sama-sama”
Setelah berbicara dengan Indah hati Rahman lumayan lega. Dia pun menyadari apa yang dilakukannya itu salah. Pulang kerja, saat Rahman tengah berjalan menuju halte, tiba-tiba hujan turun. Dia pun segera berlari menuju teras sebuah restorag yang dia lewati. Hujannya cukup deras membuat Rahman tidak bisa melanjutkan perjalanannya menuju halte. Ia mengedarkan pandangannya ke semua arah. Saat ia menengok ke arah kanan, ia melihat sesosok gadis yang sepertinya tidak asing lagi baginya. Jarak mereka tidak terlalu jauh.
“Tasya?” tanya Rahman. Wanita itu pun menoleh.
“Eh Rahman” ucapnya.
“Ternyata kamu. Kirain aku bakal salah sapa orang” ucap Rahman.
“Hehe. Kamu neduh juga?” tanya Tasya.
“Iya” jawab Rahman.
Setelah itu hening menimpa keduanya. Mereka sama-sama diam. Sesekali Rahman memperhatikan Tasya diam-diam. Gadis ini benar-benar telah menjerat hatinya. Ternyata Tasya menyadari jika Rahman tengah memperhatikannya.
“Kenapa?”
“Eh eu ... enggak hehe” ucap Rahman merasa malu karena dirinya sudah ketahuan. “Eh, Tasy. Ngomong-ngomong kamu sudah menikah?” tanyanya.
Bukannya menjawab Tasya malah tertawa. “Aku? Menikah? Sama siapa dah. Ngaco kamu, man”.
“Trus itu. Cincin di jari kamu?” tanya Rahman lagi.
“Oh ini? Kamu mengira aku sudah menikah gara-gara cincin ini?” tanya Tasya. Rahman pun mengangguk.
“Ini itu hadiah dari papa. Sengaja aku pakai disini soalnya nyaman aja” jawab Tasya.
“Ohh gitu ya? Kirain aku kamu sudah nikah” ucap Rahman.
“Nikah sama siapa. Pacar aja gak punya” ucap Tasya pelan.
“Hah? Kamu belum punya pacar?” tanya Rahman.
Tasya menggeleng. “Belum. Lagian siapa sih yang mau sama cewek kayak aku”.
“Masa sih, tasy?”.
“Kamu gak percaya?” tanya Tasya. Rahman menggeleng. “Yasudah kalau gak percaya. Yang penting aku udah jujur”.
”Trus kamu pernah jatuh cinta gak?” tanya Rahman.
“Pernah. Setiap hari aku jatuh cinta. Sama seseorang yang mungkin gak menyadarinya. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi aku gak punya keberanian buat menyatakan perasaan aku. Dan untuk pertama kalinya dia ngajak aku kenalan” ujarnya.
“Trus sekarang gimana?” tanya Rahman lagi.
“Ya aku masih memendam perasaan aku. Yang penting sekarang dia tahu, tinggal nunggu dia sadar aja” ujar Tasya.
“Kenapa kamu gak nyoba bilang aja, tasy. Siapa tahu dia juga punya perasaan yang sama kayak kamu” ujar Rahman.
“Jadi aku harus bilang ke kamu kalau aku jatuh cinta sama kamu?” ucap Tasya dengan intonasi begitu cepat.
Deg! Rahman benar-benar terkejut.
“Ja ... jadi, kamu suka sama aku?” tanya Rahman sedikit gugup.
“Iya. Sejak pertama aku ketemu kamu. Aku udah jatuh cinta sama kamu” ujar Tasya.
“Jadi kalau sekarang aku tanya. Kamu mau jadi pacar aku? Gimana?”
“Kamu nembak aku?”
“Enggak. Kalau aku nembak kamu, nanti kamu mati. Trus yang menemani aku menghabiskan sisa-sisa usiaku siapa? Ini bukan nembak. Tapi aku meminang kamu”
“Tadi kamu bilang pacar berarti kamu nembak aku dong”
“Hari ini kita pacaran. Besok, aku temui ayah kamu dan aku akan meminang kamu secara resmi” ucap Rahman.
“Kok kamu mau langsung minang aku?”
“Asal kamu tahu. Aku juga jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu. Aku emang pengecut gak langsung ngomong secara gentle ke kamu. Pas aku lihat cincin di jari kamu, aku kira kamu udah nikah” jelas Rahman.
“Jadi gimana? Pinangan aku diterima?” sambungnya.
Tasya benar-benar sangat bahagia. Sampai rasanya, lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan Rahman. Dia pun hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Yess! Makasih tasy” ucap Rahman.
Akhirnya mereka berdua pun saling mengetahui perasaan masing-masing. Dan keesokan harinya Rahman datang ke rumah Tasya untuk meminang gadis pujaan hatinya.