Ada begitu banyak pemikiran yang ingin disampaikan. Tapi mungkin karena terlalu sungkan sampai akhirnya memilih bungkam. Seringkali ego yang sama besar saling berbentur antara satu sama lain. Rasa saling menuntut, rasa ketidakpuasan, dan bahkan rasa kecewa yang semakin menjalar. Sama-sama merasa paling benar, atau bahkan gengsi mengakui kesalahan. Merasa hebat menjadi seorang pemikir, namun cacat dalam mendengar. Ingin menyudahi tapi tak saling bicara. Sama-sama membiarkan, karena beranggapan jika semuanya akan berakhir secara perlahan. Memegang teguh sebuah prinsip dari sebuah pepatah yang menyebutkan bahwa, “Diam itu adalah emas”.
“Kalau gak ikhlas mendingan gak usah kamu bantu ibu. Kamu, beres-beres rumah aja masih gak bener. Sampah masih ada dimana-mana, debu masih ada, lantai masih kotor. Bisa bener gak sih? Makannya kalau melakukan sesuatu itu ikhlas, biar hasilnya juga benar,” omel ibu sambil terus menyapu lantai melewati aku yang tengah asik menonton tv.
Ibu selalu saja begitu. Setiap yang aku lakukan selalu saja kurang. Padahal tadi aku rasa semuanya sudah benar. Ibu selalu menuntut aku ini dan itu. Membuat aku semakin muak berada di rumah. Aku langsung pergi meninggalkan ibu yang masih menggerutu kesal.
“Mau kemana kamu, Qila! Dasar anak tidak tahu sopan santun!” teriaknya. Aku sama sekali tidak menghiraukan ibu.
Tujuanku sekarang adalah mengunjungi rumah sahabatku. Kalau keadaan rumah sudah seperti tadi aku akan langsung pergi dari rumah dan berkumpul bersama sahabat-sahabatku. Karena aku pikir, bersama mereka lah aku menemukan bahagia yang sebenarnya.
Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat. Ini sudah sore dan aku masih berada di rumah sahabatku.
“Eh aku pulang duluan, ya? Ibu aku nelpon suruh pulang sekarang,” ucap Salsa, sahabatku. Dia pun berpamitan dan langsung bergegas pulang.
Setelah kepergian Salsa, satu sahabat ku yang lain juga pulang. Selalu seperti ini. Mereka selalu di telpon oleh ibunya karena khawatir kalau main lama-lama. Aku merasa kesal. Kenapa ibuku tidak seperti ibu mereka? Bahkan aku pulang malam pun kiranya dia tidak pernah khawatir. Akupun langsung pulang karena sahabat-sahabat ku yang lain pulang.
Sesampainya di rumah aku melihat ibu yang memasang muka jutek. Tanpa menyalaminya aku langsung masuk ke dalam kamar ku.
Hari ini aku ada jadwal ulangan. Dan sialnya aku kesiangan. Karena pandemi makannya ulangan dilaksanakan secara online. Setelah absen, aku merasa lapar. Aku memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum ulangan. Namun saat aku membuka tudung saji diatas meja makan, tidak ada makanan sama sekali. Ibu tidak memasak hari ini. Baiklah, aku memutuskan untuk berpuasa. Setelah itu aku kembali ke laptop ku dan mengerjakan semua ulangan.
Setelah selesai mengerjakan ulangan yang pertama, aku mendengar suara pintu terbuka. Mungkin ibu pulang dari kantor lebih awal. Tiba-tiba ibu membuka pintu kamarku dengan kasar. Aku terkejut dan langsung melihat ke arah ibu.
“Ibu capek kerja seharian kamu malah enak-enakan main laptop di kamar kamu!” bentak ibu dengan nafas memburu.
“Aku bukan main laptop, Bu. Aku ada ulangan,” ucapku membela diri.
“Halahh alasan saja kamu. Kalau tahu ada ulangan makannya bangun pagi-pagi.” Ketus ibu.
“Tadi aku kesiangan, Bu.” Aku tetap membela diri.
“Ibu gak mau dengar alasan kamu! Pokoknya sekarang kamu beresin rumah. Ibu mau keluar nyari bahan makanan,” ujarnya.
“Tapi , Bu. Aku lagi ulangan,” ucapku.
“Gak ada tapi-tapian. Ibu tuh capek kerja buat kamu, Qila! Kamu ibu suruh beresin rumah aja banyak alasan.” Cibirnya.
Aku tersulut ucapan ibu. Tanpa sadar aku membentak ibu. “Aku bilang aku ada ulangan! Ibu kan yang bilang ke aku kalau mengerjakan sesuatu itu harus ikhlas. Lalu kenapa ibu berkata seperti itu? Ibu gak ikhlas biayain aku? Yasudah jangan!”.
“Berani ya kamu jawab” ucap ibu sambil memelototi ku.
“Ibu yang gak pernah ngertiin aku! Ibu selalu nuntut aku. Ibu gak pernah hargai semua usaha aku. Setiap yang aku lakukan selalu salah, salah, dan salah buat ibu!”
“Qila! Berani kamu bicara seperti itu sama ibu? Sembilan bulan ibu mengandung, mempertaruhkan nyawa demi melahirkan kamu, merawat kamu dari kecil sampai sebesar ini. Dan sekarang dengan lancang kamu bicara seperti itu sama ibu?!” ucapnya mengacungkan telunjuknya ke wajahku.
“Tapi aku juga gak pernah minta buat di lahirkan dari rahim ibu!”
Plakk!! Pipiku panas. Ibu menamparku. “Anak batu!”.
Setelah itu ibu langsung pergi meninggalkanku. Tanpa sadar air mataku mengalir deras. Aku menangis. Ini benar-benar membuatku sesak. Akupun segera menyelesaikan ulangan kedua ku. Aku menjawabnya dengan asal. Aku sadar aku salah. Tidak seharusnya aku sekasar itu sama ibu. Kemudian aku mulai membersihkan rumah. Tentu saja, dengan air mata yang keluar tanpa henti. Aku mencoba untuk tidak menangis. Tapi air mata ini begitu bebal seperti pemiliknya.
Aku memasuki kamar ibu. Saat aku sedang menyapu kolong lemari riasnya, tidak sengaja aku melihat sebuah buku diary. Karena penasaran aku pun langsung membuka buku itu dan membacanya. Dadaku semakin sesak. Aku semakin terisak. Jadi inilah yang ibu sembunyikan. Betapa ibu begitu rapuh menjalani hidup. Aku benar-benar menyesal telah berkata kurang ajar seperti itu kepada ibu. Apalagi saat aku lihat tulisan dalam lembaran buku diary itu.” Aqila Nurfa Anjani. Hidupku, nyawaku, cintaku. Ibu sangat menyayangimu.”
Ibu, kau ini benar-benar pendrama yang hebat. Aku sangat salah dalam memahami mu. Aku menangis di kamar ibu sambil memeluk buku diary nya. Tiba-tiba saja aku mendengar ibu memanggil namaku. Dengan sigap aku langsung menghapus air mataku. Saat aku hendak beranjak menemui ibu, tapi ibu lebih dulu mengetahui keberadaanku. Tapi aku terkejut. Ibu tiba-tiba saja datang dan langsung memelukku erat sambil menangis dan terus meminta maaf.
“Ibu kenapa?” tanyaku.
“Maafkan ibu, Qila. Maafkan ibu,” ucapnya. Lalu dia memberikan buku diary. Itu buku diary ku. Bagaimana ibu bisa mengambilnya? Apakah ibu membaca isinya?
“Ibu membaca ini, Nak,” ucapnya sambil membuka lembaran buku diary ku. Aku melihat dan membaca apa yang ibu baca sampai membuat dia menangis seperti ini. Dan ternyata, itu curhatanku yang aku tulis beberapa hari yang lalu.
Ibu. Sesama perempuan seharusnya lebih mengerti perihal perasaan. Lihat anak perempuanmu, Bu. Setiap hari aku menjerit kesakitan. Setiap detik aku bernafas dalam keputusasaan. Aku meronta meminta pertolongan. Tapi untuk sepatah kata pun kau tak pernah mau mendengarkan. Kapan terakhir kali ibu memelukku? Kapan terakhir kali ibu mengelusku? Kapan terakhir kali aku mendengar ucapan sayang dari ibu? Kapan terakhir kali aku mendengar ibu berkata, “Ibu menyayangimu”. Kapan? Ibu, aku rindu kehangatanmu. Aku rindu kelembutanmu.
Aku pun ikut menangis membaca itu. Aku langsung memeluk ibu. “Maafkan ibu, Qila. Ibu tidak bisa menjadi ibu yang baik buat kamu” ucap ibu.
Aku menggeleng. “Gak. Aku yang salah, Bu. Aku udah kurang ajar sama ibu. Mulai sekarang, Qila mohon. Kalau ada apa-apa ibu harus bilang sama Qila”.
“Kamu juga sayang. Harus terbuka ya sama ibu? Janji?”
“Janji”.
(Subang, 25 November 2020)