Lampu merah menyala sejak sepuluh detik yang lalu. Semua pengendara mobil maupun sepeda motor harus berhenti menunggu sampai lampu hijau menyala. Siang ini cuacanya panas sekali. Tampak seorang pengendara sepeda motor mengibas-ngibaskan tangannya karena merasa kepanasan. Sedangkan orang di belakangnya tampak gelisah dengan terus fokus kepada handphone nya. Si pengendara melihat penumpangnya yang begitu gelisah lewat kaca spion. Dia bingung kenapa sahabatnya tampak begitu gelisah.
“Lo kenapa sih, rin?” tanya si pengendara motor yang diketahui bernama syelin.
“Ini pacar aku nyuruh cepat-cepat pulang. Dia marah-marah, syel” jawab karin.
“Kenapa dia marah-marah?” tanya syelin.
“Gak tahu” jawab karin.
Syelin hendak mengajukan pertanyaan lagi namun lampu hijau sudah menyala. Ia urungkan niatnya dan langsung menarik gas sepeda motornya. Dua puluh menit kemudian mereka sampai di depan gang rumah karin. Karin tampak terburu-buru dan terlihat sangat gelisah.
“Lo kenapa mesti sampai segitunya sih, rin? Santai aja kali dia kan cuman pacar lo, bukan orang tua atau keluarga lo” perkataan syeli sontak membuat kaget karin.
“Kamu gak bakal ngerti, syel! Aku tuh takut kehilangan dia. Udah, aku gak punya banyak waktu. Dia nyuruh aku pulang cepat” jawab karin.
“Setakut itu lo sama pacar lo itu?” tanya syeli sinis.
“Lebih takut daripada ayah aku sendiri” jawab karin santai yang langsung membuat syeli menggelengkan kepala tak percaya.
“Dan apa lo mesti setunduk itu juga?!” tanpa sadar syeli membentak sahabatnya itu.
Karin tampak tersinggung oleh perkataanan syeli. Dia tidak suka di bentak. Tanpa menjawab apapun karin langsung pergi meninggalkan syeli. Syeli yang menyadari kesalahannya berteriak memanggil karin. Namun karin tak menoleh sedikitpun. Dia terus mempercepat langkahnya.
Karin dan syeli sudah bersahabat sejak tk. Dan sampai sekarang mereka duduk di bangku kelas dua sma. Mereka satu kelas dan bahkan satu meja. Sepasang sahabat yang memiliki karakter yang sangat berbeda. Karin yang sangat feminim, lugu, dan pendiam. Sedangkan syeli sebaliknya. Tak heran jika di sekolah syeli banyak yang memusuhinya. Dia agak kasar, suka nyinyir, keras, pecicilan, dan agak tomboy. Prinsipnya adalah memperlakukan orang sebagaimana perlakuan orang itu terhadapnya. Namun dibalik itu semua, prestasi syeli jauh lebih unggul daripada karin.
Keesokan harinya syeli pergi ke rumah karin berniat untuk menjemputnya. Tapi karin sudah berangkat ke sekolah terlebih dahulu. Syeli merasa heran mungkin sahabatnya itu masih marah karena ia bentak kemarin. Sesampainya di sekolah syeli langsung memasuki kelasnya dan berniat menemui karin sahabatnya. Namun saat syeli datang dan menaruh tas nya, karin langsung menggeser kursi tempat duduknya dan memberikan jarak dengan syeli. Syeli tak berkata apapun dia pikir mungkin sahabatnya butuh waktu untuk memaafkannya.
Bel istirahat telah berbunyi. Saat syeli akan mengajak karin ke kantin, karin langsung bergegas begitu saja keluar kelas. Syeli merasa bingung. Apakah kesalahannya kemarin begitu besar sehingga karin sukar untuk memaafkan dirinya? Lalu satu tangan menepuk bahunya.
“Bengong aja lo. Yuk, kantin” ajak nira.
Syeli tersenyum dan langsung menyetujui ajakan nira. Mereka berdua pergi ke kantin bersama. Di kantin, syeli terus mencari sahabatnya. Tapi tidak ia temukan juga. Setelah selesai makan di kantin bersama nira, syeli berniat untuk mencari karin. Waktu istirahat masih ada 25 menit lagi. Satu tempat yang menjadi tujuannya kini adalah taman belakang sekolah. Ya, syeli maupun karin jika sedang merasa kesal, sedih, dan butuh ketenangan, mereka akan langsung ke tempat itu. Benar saja. Saat syeli kesana tampak sahabatnya sedang duduk melamun di sebuah kursi. Dia langsung menghampirinya.
“Rin, gue minta maaf”
“Untuk apa, syel?” tanya karin tanpa menoleh kepada syeli.
“Kemarin gue udah bentak lo.”
“Nyadar juga?” jawab karin sinis.
“Lo kenapa sih, rin? Kenapa sekarang lo jadi gini?” tanya syeli heran.
“Lo tanya kenapa?! Gara-gara lo arfan marah sama gue! Dan sekarang hubungan gue runyam. Arfan ngancam gue kalau gue masih dekat sama lo kita bakalan putus. Dan ini semua gara-gara lo, syel!” ucap karin sambil menunjuk ke wajah syeli.
Syeli tersentak mendengar ucapan karin. “Apa? Gara-gara gue?”
“Ya! Kalau aja kemarin lo gak ajak gue main lama-lama mungkin gak akan gini jadinya. Lo yang udah nyuruh gue buat nikmatin waktu kita dan gak angkat telepon dari arfan. Sekarang gue yang harus nanggung semua kesalahan lo, syel!” tegasnya.
“Cukup rin, cukup! Apa gue salah kalau gue mau nikmatin waktu bareng sahabat gue? Apa sepenting itu seorang pacar di hidup lo daripada sahabat lo sendiri?”
Karin langsung menimpal ucapan syeli. “Tapi dia prioritas gue, syel. Gue gak mau kehilangan dia”
Syeli benar-benar tak habis pikir dengan sahabatnya ini.
“Karina natalia cahya, di luar sana masih banyak cowok yang mau sama lo!”
“Lo gak bakal ngerti, syel! Karena lo sering mainin perasaan cowok. Lo gak bisa setia. Jadi lo gak bakal ngerti gimana rasanya ada di posisi gue!”
“Oke, rin. Kalau begitu mulai sekarang jauhin gue. Gue cuman jadi sumber masalah bagi semua orang. Oke, gue minta maaf kalau gue salah. Semoga setelah ini hubungan lo sama arfan baik lagi.”
Syeli begitu kecewa dengan sahabatnya. Ia langsung pergi meninggalkan sahabatnya itu.
Dua bulan berlalu. Syeli dan karin masih saja berjauhan. Tidak ada yang memulai mengajak damai. Memang selama di sekolah syeli selalu bersama dengan nira. Itu ia lakukan untuk menutupi kesedihannya. Satu kelas merasa aneh karena melihat syeli dan karin kini berjauhan. Syeli juga merasa lelah dengan semua ini. Ia berniat menyudahi semuanya. Ia tidak nyaman jika terus-terusan berjarak dengan sahabatnya.
Pak hamin sedang menjelaskan materi sejarah di depan kelas. Syeli merasa bosan dengan pelajaran yang sangat tidak di sukainya. Dia berencana mengajak karin ke toilet untuk menyelesaikan masalahnya. Syeli memberikan sobekan kertas sebagai surat kepada karin. Dalam kertas itu berisikan kalimat ‘ikut gue ke toilet’.
“Pak saya izin ke toilet” ucap syeli. Pak hamin mengizinkannya. Syeli pun langsung bergegas pergi ke toilet. Baru saja syeli sampai di toilet, sahabatnya juga datang.
“Gue kira lo gak bakal datang, rin” ucap syeli sambil tersenyum lebar kepada karin.
Tapi karin memasang wajah datar. “Ada apa?” tanyanya.
“Gue minta maaf. Gue beneran gak nyaman harus jauhan gini sama lo”
Karin melipatkan kedua tangannya diatas dada. “Gak salah denger gue? Lo gak nyaman? Bukannya selama ini lo udah nemu sahabat baru ya?” tanya karin begitu sinis.
“Maksud lo nira?”
“Sadar kan? Gak ada yang perlu di perbaiki lagi. Semua udah kelar. Lo yang udah bikin ini semua selesai.”
“Tapi rin” karin tidak menghiraukan syeli. Ia langsung pergi meninggalkan syeli. Syeli hanya bisa pasrah. Apalagi yang harus ia lakukan untuk kembali membuat sahabatnya seperti dulu.
Keesokan harinya, syeli merasa ada yang beda. Semua teman-teman kelasnya menjauhinya. Tak ada seorang pun yang mau berbicara dengannya. Dia sendiri. Ada apa ini? Itu semua berlangsung sampai enam bulan lamanya. Enam bulan syeli di jauhi teman-teman satu kelasnya. Selama itu dia sering menghabiskan waktu di gudang sekolah. Menyendiri dan meratapi nasibnya. Ia hanya bisa pasrah untuk semua yang telah terjadi. Dan saat ia sedang menyendiri di gudang, tiba-tiba ada sebuah benda yang menyentuh tangannya. Sebatang rokok. Syeli kemudian mengambil sebatang rokok itu untuk memperjelas penglihatannya apakah benar itu sebatang rokok atau bukan. Karena cahaya di dalam gudang samar-samar. Benar, itu sebatang rokok. Tapi siapa yang memberikannya sebatang rokok? Bukannya itu termasuk pelanggaran peraturan sekolah? Bel masuk telah berbunyi. Syeli membuang rokok tersebut dan langsung meninggalkan gudang.
Sudah satu jam dia mengikuti pelajaran di dalam kelas. Kemudia ada seseorang yang mengetuk pintu kelasnya. Ternyata guru bk.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.” jawan semua orang yang ada di kelas.
“Mohon maaf, ada siswi yang bernama Syeli nisrina aulia? Jika ada ikut saya ke kantor, terimakasih”
Syeli kaget. Itu namanya. Untuk apa dia di panggil kepala sekolah? Untuk menjawab pertanyaannya ia langsung ke ruang kepala sekolah.
Betapa terkejutnya dia saat kepala sekolah memperlihatkan sebuah foto yang mana dalam foto tersebut memperlihatkan syeli yang sedang memegang sebatang rokok di dalam gudang.
“Kamu sudah melanggar peraturan sekolah. Ini benar-benar fatal. Sekolah tidak mau namanya kotor hanya karena satu siswi yang diam-diam merokok di sekolah. Untuk itu, kamu di keluarkan dari sekolah ini” tegas kepala sekolah.
“Tapi, pak. Ini salah paham. Saya tidak pernah merokok” syeli mencoba membela dirinya.
“Semua bukti sudah jelas dan keputusan sekolah tidak bisa di ganggu gugat. Ini, berikan surat ini kepada orang tua kamu dan mulai besok kamu tidak usah lagi berangkat ke sekolah”
Lagi-lagi syeli hanya bisa pasrah. Ia tahu seberapa keras ia membela dirinya tetap tidak akan ada yang percaya padanya. Ia menerima surat itu dan pergi dari ruang kepala sekolah. Kebetulan jam istirahat kedua telah berbunyi lima menit yang lalu. Syeli mengambil tas nya di dalam kelas. Semua teman-teman sekelasnya memandang syeli dengan tatapan jijik. Syeli mecoba untuk tidak menghiraukannya.
Namun saat ia keluar kelas, di sepanjang koridor ia mendapati cacian juga cemoohan dari semua siswa yang berada disana. Syeli berjalan menunduk mencoba menulikan pendengarannya dan menghiraukan semua cacian. Sampai tiga tubuh menghalangi jalannya. Saat ia menoleh ternyata itu adalah karin, arfan, dan reza.
“Gue gak nyangka sama lo, syel. Kurang baik apalagi karin? Dia udah berusaha keras buat minta maaf sama lo. Tapi lo malah menghina dia. Dan ini balasan untuk perbuatan lo. Sekarang lo rasain kan apa yang karin rasain?”
Syeli benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan reza. Reza adalah satu-satunya orang yang selalu mendengarkan curhatan syeli. Dan reza adalah teman satu kelasnya arfan.
“Lihat, orang yang bilang pacar gue bodoh sekarang nerima karma nya sendiri. Lo kan yang bilang karin bodoh karena selalu menuruti perkataan gue daripada keluarganya apalagi lo. Lihat sayang. Terbukti kan siapa yang benar. Untung kamu nurut sama aku buat jauhin sahabat kamu. Kalau tidak mungkin kamu juga jadi perokok kayak dia” kata-kata arfan benar-benar menyulut emosi syeli.
“Diam! Itu semua fitnah! Gue gak pernah merokok!”
“Semua bukti udah jelas kok, syel. Apalagi? Mending sekarang lo siap-siap buat ngadepin nyokap bokap lo. Siap-siap di usir dari rumah sahabatku yang paling cantik” ujar karin lalu pergi meninggalkan syeli.
Hancur. Itu yang dirasakan syeli sekarang. Setelah ini apa? Dimana dia melanjutkan pendidikannya? Dia tidak pulang ke rumah. Dia sangat takut menemui kedua orang tuanya. Untungnya, dia mempunyai satu kontrakan kosong milik ayahnya. Ia hanya meminta izin kepada orang tuanya untuk menginap di kontrakan itu untuk beberapa waktu. Untungnya orang tua syeli mengizinkannya.
Sudah satu minggu syeli hidup di kontrakan itu. Satu minggu juga ia berbohong kepada orang tuanya. Orang tuanya mengira syeli masih sekolah. Syeli benar-benar merasa hancur. Ia terus berdoa agar diberikan jalan keluar.
Malam pun tiba. Syeli berniat pergi ke mini market untuk membeli beberapa keperluannya. Saat syeli sedang berkeliling di dalam mini market tak sengaja ia melihat karin dengan arfan sedang tertawa sambil memilih beberapa keperluan mereka. Syeli hendak menghampirinya untuk sekedar bersilaturahmi kepada mereka. Tapi langkahnya terhenti saat ia mendengar percakapan karin dan arfan.
“Hahaha puas banget aku pas lihat muka si syeli yang cuman bisa nerima keadaan”
“Rencana kita berhasil sayang, akhirnya sahabat kamu yang so care sama kamu itu di keluarin dari sekolah”
Syeli kesal. Tak sadar tangannya mengepal. Tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri sepasang kekasih tersebut.
“Oh jadi ini semua kerjaan lo berdua” ucap syeli mengagetkan arfan dan juga karin. Bukannya merasa bersalah karin justru terlihat begitu santai.
“Iya, ini rencana gue. Gue yang udah ngejebak lo di gudang dan buat lo seakan sedang merokok. Kenapa? Lo mau marah? Semua udah terjadi syel. Sekeras apapun lo berkata jujur ke semua orang tetap gak akan ada yang mau percaya sama lo”
“Gue gak habis pikir. Kenapa lo lakuin ini ke gue, rin!”
“Karena gue iri sama lo, syel. Lo cantik, banyak yang ngejar. Dan lo pinter. Lo selalu lebih unggul daripada gue. Gue gak suka itu. Dari dulu lo cuman jadi pesaing gue yang selalu ngalangin mimpi gue. Dan arfan nyuruh gue buat jatuhin lo”
“Lo iri? Sama sahabat lo sendiri, rin?”
“Sahabat? Sahabat lo bilang? Sahabat macam apa yang ninggalin sahabatnya sendiri saat susah. Dan dia lebih asik sama sahabat barunya. Gue cemburu, syel! Lo lebih ada disaat nira susah. Dimana lo disaat gue sedih? Karena itu gue fitnah lo ke reza. Gue yang bikin reza percaya kalau lo itu jahat gak mau maafin kesalahan orang. Gue yang udah muter balikin semuanya sampai anak-anak kelas percaya dan jauhin lo”
“Lo gila ya, rin. Kita udah sahabatan sejak tk. Tiga belas tahun kita bareng-bareng dan lo lebih nurutin pacar lo yang baru lo kenal selama tiga tahun? Gak salah kan rin kalau gue bilang lo bodoh”
“Terserah, syel. Semua udah terjadi. Buat semuanya lo yang salah dan gue gak pernah ngelakuin apapun. Setidaknya itu udah cukup buat gue balas dendam sama lo”
Tanpa berbicara apapun lagi, karin di susul arfan langsung meninggalkan syeli. Bagai di hantam seribu anak panah. Dia tak menyangka sahabat sejak kecilnya bisa tega melakukan ini semua. Dia menangis. Kali ini benar-benar tak tertahan lagi. Tak peduli sekarang dia sedang dimana. Tak lama seorang wanita paruh baya mengusap punggung syeli. Guru kimia nya yang tak lain adalah ibunya reza.
“Ibu tahu apa yang kamu rasain sekarang. Tenang, mulai besok kamu bisa sekolah lagi. Ibu sudah merekam obrolan kamu dengan mereka berdua dan ibu juga sudah mengirimkannya ke kepala sekolah. Dan kepala sekolah akan mengeluarkan mereka berdua”
“Jangan. Syeli mohon sama ibu buat bilang ke kepala sekolah jangan keluarin mereka. Kalau karin keluar, dia semakin benci sama syeli”
“Baiklah nanti akan ibu coba bilang ke kepala sekolah. Yasudah, ibu duluan ya”
Syeli mengangguk mempersilahkan. Akhirnya setelah waktu yang begitu rumit ini kejujurannya menang. Dan ia bisa sekolah kembali.
Dua hari setelah kejadian itu syeli berangkat ke sekolah. Semua teman-temannya kembali hangat kepadanya. Satu sekolah telah mengetahui jika syeli tidak bersalah. Tapi dia tidak menemukan karin. Dimana sahabatnya itu? Apakah dia sakit?
Saat jam istirahat tiba, syeli langsung menanyakan karin kepada nira.
“Nir, karin hari ini gak masuk? Kemana?”
“Dia di keluarin, syel. Tapi bukan gara-gara kasus kamu” jawab nira.
“Lalu kasus apalagi?” tanya syeli penasaran.
“Dia positif hamil, syel. Semalam, reza tidak sengaja melihat arfan dan karin di apotik. Dan reza pun menghampiri mereka untuk mencari tahu apa yang mereka beli. Untungnya reza memakai masker. Dan ternyata mereka membeli tespack. Reza merekam obrolan saat arfan dan karin membeli tespack. Kemudian kepala sekolah memanggil karin dan mencoba tes kehamilan. Ternyata benar karin memang hamil. Dan dia mengaku kalau itu adalah anaknya arfan. Akhirnya mereka di keluarkan dari sekolah.” Syeli terkejut. Tak menyangka dengan apa yang ia dengar. Ia harus menemui karin.
Sepulang sekolah saat syeli sedang mengendarai motor, ia melihat seorang wanita sedang duduk di sebuah halte. Dia langsung menghampiri wanita tersebut.
“Karin?” Ya, itu karin. Dia tampak kaget dengan kedatangan syeli. Saat syeli ingin bertanya kepadanya, karin langsung tersunkur memegang kaki syeli. Dia memohon meminta syeli untuk memaafkannya.
“Maafin gue, syel. Gue nyesel udah turutin kemauan arfan. Lo benar sahabat itu yang terpenting. Sekarang saat gue seperti ini arfan justru ninggalin gue dan gak mau tanggung jawab”
“Berdiri, rin. Lo apa-apaan sih. Sebelum lo minta maaf, gue udah maafin lo. Udah anggap aja gak pernah terjadi apapun diantara kita.” Karin yang mendengar ucapan syeli langsung berdiri dan memeluk syeli.
“Jadi ini alasan lo selalu patuh sama arfan?” tanya syeli yang masih berpelukan dengan karin. Karin hanya mengangguk.
“Dia bilang mau tanggung jawab, syel” ucap karin sambil menangis sesegukan dalam pelukan syeli.
“Sekarang lo ikut gue. Gue tahu lo di usir sama keluarga lo. Kebetulan orang tua gue punya satu kontrakan kosong dan lo bisa tinggal disitu sampai anak lo lahir. Lo gak usah pikirin biaya apapun biar gue yang tanggung semuanya” ucap syeli.
Karin semakin mengeratkan pelukannya. “Makasih banyak syel, makasih. Lo emang orang baik. Setelah apa yang udah gue lakuin ke lo, lo masih aja bantuin gue. Gue beneran malu pernah buat lo hancur, syel”
“Udah ah kan udah gue bilang lupain. Yuk sekarang kita ke kontrakan gue. Gue gak sabar nunggu ponakan gue lahir”
Karin tertawa mendengar ucapan syeli. Mereka pun bergegas pergi dari halte. Satu yang syeli dapatkan dari kejadian ini bahwa memperjuangkan kejujuran memang sangat sulit tapi berakhir manis. Ia tak pernah menyesal menjadi orang jujur. Dan satu lagi, ketika kita pasrah karena kejujuran sudah tidak di percayai lagi maka biarkan. Biarkan ia menunjukkan kebenaran dengan sendirinya. Yang terpenting kita jangan berhenti dan jangan pernah menyesal menjadi orang jujur. Selalu ingat bahwa kejujuran itu seperti obat, walaupun dia pahit tapi menyembuhkan. Dan kebohongan itu seperti permen. Mungkin dia manis tapi dapat merusak gigi. Dan sakit gigi lebih menyakitkan dibanding sakit hati wkwk.
Tamat