Bab 4 (Tamat)
Setelah menarik nafas dalam, Adrian menyampaikan permintaan maafnya pada Andini dan keluarganya.
" Saya datang kesini ingin meminta maaf pada keluarga ini, terutama pada Andini.
Saya tidak bermaksud untuk mempermainkan Andini, karena saya benar-benar mencintainya dan ingin menikahi Andini. "
kata Adrian sambil menundukkan kepala.
" Kamu bilang mencintai Andini dan ingin menikahi nya? lalu bagaimana dengan istrimu! " kata Andi marah saat mendengar apa yang disampaikan oleh Adrian.
" Saya sudah lima tahun menikah dan belum dikaruniai seorang anak.
Kemarin saya sudah menyampaikan pada istri saya jika saya akan menikah dengan Andini agar bisa memiliki keturunan.
Semula istri saya menolak, tapi setelah saya beri pengertian, akhirnya dia bisa menerima dan ikhlas saya menikah dengan Andini. " kata Adrian yang mengangkat kepala dan memandang pada Andini yang duduk disamping ibunya.
Ibu dan kedua kakak Andini hanya terdiam mendengar apa yang disampaikan Adrian.
Dalam hati mereka berkata jika Andini hanya diinginkan agar punya keturunan.
" Saya sebagai anak tertua dan sebagai pengganti ayah, tidak menerima apa yang kamu sampaikan.
Saya menolak jika adik saya harus menikah dengan laki-laki yang sudah beristri. " kata Aria tegas pada Adrian.
" Tapi mas, istri dan keluarga saya sudah setuju saya menikah dengan Andini.
Bukankah waktu itu Andini dan keluarga mas menerima lamaran saya? bahkan saya telah memberikan cincin sebagai ikatan pada Andini. " kata Adrian yang berusaha meyakinkan keluarga Andini bahwa istri dan keluarganya sudah setuju.
" Waktu itu kami setuju karena kami tidak tahu jika kau sudah menikah dan punya istri.
Jika kami tahu, maka kami akan menolaknya. " kata Aria lagi.
Adrian melihat pada Andini yang hanya terdiam, tidak bicara apa-apa bahkan melihat pada Adrian pun tidak.
" Din, mas serius mencintai Dini, makanya mas berikan cincin sebagian tanda keseriusan mas pada Dini. " kata Adrian pada Andini sambil menatap lekat wajah Andini.
Andini melihat pada Adrian, lalu berkata,
" Cincin ini Dini kembalikan pada mas.
Bukankah waktu itu Dini menolak untuk memakainya? tapi mas yang paksa Dini untuk memakai cincin ini.
Sekarang ambilah cincin ini karena Dini tidak butuh, dan dihadapan ibu dan kedua kakak Dini, Dini menyatakan bahwa mulai saat ini, tidak ada hubungan apapun diantara kita.
Kita kembali seperti dulu, yang tidak pernah saling mengenal. " kata Andini tegas sambil menaruh cincin itu dihadapan Adrian.
" Din, tapi Sinta bisa menerima jika Dini jadi istri kedua mas. " kata Adrian memelas.
" Aku hanya gadis biasa mas, imanku belum lah kuat. Aku tidak bisa menerima jika harus berbagi suami dengan perempuan lain. " kata Andini tegas pada Adrian.
" Aku menyadari jika aku berasal dari keluarga yang hidup sederhana, dengan tidak mau mendengar jika aku menjadi istri kedua hanya demi harta. "
" Aku hanya gadis biasa mas! carilah gadis lain yang bisa menerima untuk dijadikan yang kedua.
Walaupun mas bilang jika mbak Sinta menerima di poligami, tapi aku tidak! karena aku yakin jika mbak Sinta juga merasakan sakit seperti apa yang aku rasakan. "
" Jadi pergilah, lupakan aku dan keluargaku.
Terima kasih untuk perhatian yang pernah mas berikan kepadaku.
Bawalah cincin ini dan berikan pada gadis lain yang bersedia untuk jadi yang kedua. "
Setelah bicara panjang lebar pada Adrian, Andini bangkit dari duduknya dan masuk kedalam kamarnya.
" Sekarang nak Adrian sudah dengar apa yang menjadi keputusan Andini, maka pergilah dan lupakan Andini. Sebaiknya nak Adrian berusaha dan berdoa bersama istri nak Adrian agar diberi keturunan, bukan dengan menikahi perempuan lain.
Mungkin Allah sedang menguji rumah tangga mu bersama istrimu. " kata ibu dengan bijak pada Adrian.
Adrian tidak bisa berkata apa-apa lagi karena Andini sudah jelas menolaknya.
Adrian melihat cincin yang tergeletak di atas meja, lalu berkata,
" Saya tidak mungkin mengambil cincin itu kembali. Terserah mau diapakan dan dikemanakan cincin itu sama Andini, karena saya ikhlas memberikannya pada Andini. " kata Adrian pada kakak dan ibu Andini.
" Andini sudah menolak dan mengembalikannya, maka bawalah, tidak ada gunanya juga bagi kami. " kata Aria yang menolak cincin dari Adrian tersebut.
Akhirnya Adrian memasukkan cincin itu kedalam saku kemeja yang ia kenakan.
" Kalau begitu, saya pamit dulu bu, mas! " kata Adrian yang berpamitan karena tidak berhasil meyakinkan keluarga Andini untuk meminta Andini jadi istri keduanya.
Setelah berpamitan dan mengucapkan salam, Adrian keluar dari rumah itu dengan wajah lesu.
Niatnya untuk menikahi Andini dan menjadikan Andini istri keduanya tidak berhasil.
Awalnya Adrian akan menikah dengan Andini, dan setelah menjadi suami istri baru ia akan menceritakan semuanya pada Andini.
Tapi Allah berkehendak lain, Andini tahu dia sudah memiliki istri sebelum ia menikah.
Walau Adrian berhasil membujuk Sinta untuk menerima Andini, tapi justru Andini yang menolaknya.
***
Setelah berpisah dengan Adrian, Andini banyak menghabiskan waktu di rumah.
Mengerjakan pekerjaan rumah dan membantu ibu di warung.
Adrian sendiri, enam bulan setelah kejadian itu, dia kembali ditarik ke kota asalnya dan berkumpul bersama keluarganya.
Kini sudah dua tahun sejak kejadian itu, Dini masih sendiri.
Dia belum mau untuk berkeluarga dengan alasan ingin merawat ibunya.
Mas Aria, hampir setahun setelah kejadian Dini dan Adrian, lebih memilih bekerja diluar kota demi.mencari kehidupan yang lebih baik.
Belum satu tahun di sana, mas Aria bertemu jodohnya dan menikah dengan gadis di sana.
Begitupun dengan mas Andi yang juga ikut temannya bekerja diluar kota.
Di rumah, hanya tinggal ibu, Dini dan Arini yang saat ini sudah duduk dibangku kelas tiga SMP.
Ibu sendiri, sejak kejadian itu jadi sering sakit-sakitan, mungkin ibu memikirkan nasib Dini yang dibohongi oleh Adrian.
Sudah berulang kali Dini mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan tidak perlu jadi beban pikiran ibunya, tapi ibu tetap saja sering terlihat melamun saat sedang sendirian.
Dini bertekad ingin mengurusi dsn membahagiakan ibunya dengan membantu ibu berjualan dan selalu bersikap ceria bila dihadapan ibu.
Dini, gadis biasa yang menolak jadi istri kedua karena tidak ingin menyakiti hati sesama wanita walaupun Adrian berkata jika Sinta menerimanya.
Dini juga tidak mau menambah dosa bagi Adrian karena Dini yakin jika Adrian tidak akan bisa bersikap adil pada keduanya.
Sekarang Dini merasa bahagia hidup bersama ibu dan adiknya karena kedua kakaknya berada jauh dari mereka.
◌⑅⃝●♡⋆♡A N D♡⋆♡●⑅⃝◌