Cerpen ini menceritakan banyak hal , mulai dari masalah hidup, perjuangan , dan cerita gembira
Dimulai dari cerita seorang gadis yang bernama Safira Anandhita gadis yang akrab dipanggil dengan nama Ditha itu tinggal di sebuah desa bersama dengan neneknya , orang tuanya berada di kota untuk mencari nafkah untuk anaknya . Ayahnya berprofesi sebagai kuli bangunan , sedangkan ibunya seorang pembantu . Namun ,Ditha tumbuh menjadi gadis yang tangguh dan mandiri , walaupun dengan kondisi ekonomi yang rendah wajah ceria selalu tergambar dari nya , setiap hari sepulang sekolah Ditha membantu neneknya di Sawah sambil membaca buku dia mempunyai cita cita yang tinggi untuk mengubah nasib dan membahagiakan kedua orangtuanya , walaupun terkadang masih saja banyak orang yang mencemooh cita cita nya , namun itu dijadikan Anandhita sebagai cambuk untuk berhasil meraih cita cita yang ia impikan .
Setelah menamatkan pendidikan SMP nya di kampung Ditha memutuskan ke kota dan tinggal kembali bersama kedua orangtuanya karena tidak ada SMA yang terdekat dari rumah neneknya , berkat kegigihan , dan doa akhirnya Anandhita mendapatkan beasiswa salah satu SMA favorit di Jakarta karena dia meraih nilai tertinggi Ujian Nasional .
Di tempatnya bersekolah Anandhita bertemu dengan teman baru , disinilah dimulai kisah hidup Anandhita yang penuh haru , canda ,dan bahagia ketika menemukan sahabat yang setia .
Kegiatan ospek ( suara dari Anandhita)
Hari ini adalah hari Pertama aku masuk ke sekolah yang baru , sekolah yang besar dan mempunyai fasilitas yang lengkap ,tak sama seperti sekolahku waktu di kampung dulu dengan dinding kayu dan beralaskan tanah . Di sini aku menemui banyak orang dengan beragam sifat dan karakter , ketika hari pertama ospek aku bertemu dengan seorang gadis perempuan sebaya denganku , dia menggunakan kursi roda dan selalu menyendiri dari keramaian , Aku berkenalan dengannya .
“ Assalammualaikum , siapa nama kamu ,kenapa nggak bergabung sama teman teman yang lain”? (Aku mendekati gadis itu)
“ Wa’alaikumussalam, aku takut kalau orang lain nggak mau berteman denganku , namaku Reikhanza Humaira, kalau kamu namanya siapa”?.
“Namaku Anandhita , Khanza , kamu nggak boleh berpikiran begitu , aku mau kok jadi temanmu , Ayo kita ke sana gabung sama teman teman yang lain “. ?( Aku mendorong kursi roda Khanza)
Ketika sedang berjalan aku bertemu dengan seorang gadis yang berwatak sedikit angkuh, tapi aku merasa dia mempunyai hati yang lembut , Namanya Farasya Sheina semua orang mengklaim dia sangat sombong, Rasya merupakan anak dari seorang pengusaha terkenal di Jakarta , namun walaupun memiliki ekonomi yang cukup , Rasya jarang mendapatkan kasih sayang dari Ayah dan Ibunya yang sibuk bekerja ,
“Anandhita, seseorang memanggilku aku menengok ke arah suara itu , seorang perempuan dengan tinggi semampai berdiri di sana dan berjalan menghampiri diriku
“ Perkenalkan namaku Rasya , aku boleh gabung sama kalian nggak “? . Dia mengetahui namaku dari papan nama yang ada di jilbab .
“ Boleh “ jawabku dengan senyuman manis
Dari sanalah semuanya berawal, kami bertiga menjadi sangat akrab bagai sehelai daun yang saling melengkapi satu sama lain, namun persahabatan kami tidak berjalan dengan mulus masih ada saja orang orang yang menghasut kami agar persahabatan yang sudah terjalin ini terpecah belah, dia adalah Dira nur Diana , badannya kecil dan dengan warna kulit sawo matang, dia adalah salah satu anggota OSIS yang ada di sekolahku, keahliannya dalam bersilat lidah membuat banyak orang tertipu karenanya , Dira selalu iri melihatku, entah mengapa ada saja yang dia lakukan untuk menjatuhkan dan menghina diriku .
“ Dhita , sebenarnya mana ada orang yang mau berteman sama kamu , kamu cuma tamatan dari sekolah kampung di desa terpencil “. Dira memanggilku hanya untuk sesuatu yang tidak penting”.
“ Maksud kamu apa sih Dir? , menghina Dhita kayak gitu “?. Fara menantang Dira dengan tatapan tajam”.
“ Fara , Innallaha Ma’ashobirin( sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersabar ), Aku mengajaknya menghindari Dira supaya dia tidak terpancing dengan kata kata yang keluar dari mulut Dira .
“ Kalau nggak diberi peringatan nanti dia makin ngelunjak sama kamu Dhita “.
“ Fa, api ketemu sama api nggak akan pernah padam , lebih baik kamu menghindarinya “. Aku memberikan penjelasan kepada Farasya.
3 bulan kemudian...
Persahabatanku dengan mereka sudah terjalin 3 bulan lamanya , sudah banyak waktu yang aku habiskan bersama mereka , namun masih ada kerikil kerikil tajam yang menjadi penghalang persahabatan kami, namun itu tak menjadikan alasanku dan sahabat untuk tidak lagi bersahabat ,
Jadikan masalah ini sebagai tantangan yang harus diselesaikan dengan tepat
_Farasya Sheina_
Jangan jadikan masalah sebagai alasan untuk kita takut melangkah ke depan ,hadapi
_ Reikhanza Humaira_
Jangan Takut ada Allah bersama kita , berdoa dan berusaha serahkan semuanya kepada Allah SWT..
_ Safira Anandhita_
Aku bersyukur sekali dipertemukan dengan orang yang baik seperti Farasya dan Reikhanza hidupku yang dulunya terasa hampa sekarang mulai berwarna sejak kehadiran mereka.
Inilah kata kata yang mejadi penguat untukku dan sahabat sahabatku, sehabis Maghrib kami membaca Al Qur'an bersama bergiliran rumah , kadang di rumahku, di rumah Rasya atau di rumah Reikhanza , persahabatan kami dihiasi oleh banyak kegiatan yang positif , dan memiliki tujuan yang sama yaitu ingin membahagiakan kedua orang tua , suatu ketika Aku, Fara ,dan Khanza pergi duduk di taman dekat dari rumah Khanza , kami membahas , cita cita yang ingin dicapai ,
"Bestie". Panggilan Rasya untuk aku dan Khanza ., "Kalian cita cita nya mau jadi apa ?".
" Hmm kalau aku ingin menjadi dokter spesialis bedah syaraf", aku ingin mengobati anak anak yang memiliki penyakit yang sama denganku". Reikhanza memang memiliki tekad yang kuat untuk menjadi dokter spesialis bedah syaraf , karena dia memiliki penyakit yang berhubungan dengan syaraf sehingga dia kesulitan untuk berjalan.
" Kalau kamu Ditha "? . Farasya memalingkan wajahnya ke arahku .
" Aku ingin menjadi seorang hakim yang adil". Ini adalah cita citaku dari kecil ,ingin masuk ke bidang hukum , dan ingin menjadi seorang hakim yang bertindak adil dan tidak memihak satu pihak saja.
"Kalau kamu cita citanya apa Rasya"?. Kami berdua serentak menanyakan kepada Rasya .
"Aku masih belum tahu , orang tuaku menyuruh aku agar masuk jurusan manajemen bisnis dan meneruskan usaha miliknya, tapi aku lebih berminat menjadi seorang psikolog ". Farasya murung karena tidak dapat memilih keputusan dirinya sendiri
Kami berbicara tentang banyak hal , mulai dari cita cita , keinginan dan strategi untuk mencapainya , malam itu rasanya sangat berarti bagiku dan sahabat sahabatku , malam yang tidak pernah aku lupakan tentang indahnya persahabatan kami , namun di tengah pembicaraan itu tiba tiba saja nampak dari kejauhan ada seseorang yang berjalan menuju ke arah kami , setelah diperhatikan perempuan itu adalah Dira yang membuat suasana yang tadinya damai menjadi kacau .
“Assalammualaikum, kalian sedang bahas apa “?. Diara meberikan senyuman .
“ Wa’alaikumussalam , kami lagi membahas tujuan kami ke depannya Diara “?. Aku menjawab pertanyaan Diara dengan sopan.
“ Dhit, kenapa kamu bales , diam aja “. Farasya berbisik ke telinga ku .
“ Tidak boleh begitu Fa, menjawab salam itu wajib hukumnya “. Reikhanza menasihati Farasya .
“ Aku cuma mau nanya aja kok “. Dira pergi meninggalkan kami .
Setelah itu, aku pulang ke rumah dengan angkutan umum , ketika turun dari angkot aku bertemu dengan seorang pria memakai Hoodie warna biru muda, berteriak keras dan menangis histeris , aku memberanikan diri menghampiri pria itu untuk menanyakan apa yang terjadi dengannya ,
“ Assalammualaikum , mohon maaf kamu kenapa berteriak keras “. Aku mendekati pria itu dan bertanya .
“ Aku divonis oleh dokter menderita sakit kanker leukimia dan sulit untuk disembuhkan “. Dia menangis histeris meratapi apa yang terjadi kepadanya
“ Itu kan cuma prakiraan dokter , yang menentukan hidup dan mati itu hanya Allah SWT yang mengetahuinya “. Aku mencoba menenangkan pria itu
Setelah beberapa saat dia mulai merasa lebih tenang , aku menasihati dia agar selalu berpikiran positif , karena pikiran positif itu juga dapat mempercepat kesembuhannya .
Setelah beberapa hari kemudian aku kembali bertemu dengan pria itu di sekolahku, ternyata dia satu sekolah denganku , pria itu hanya diam dan tidak berkomunikasi dengan orang lain disekitarnya , wajahnya pucat dan terlihat lesu aku mencoba mengajaknya berbicara namun dia tidak menanggapi dan hanya diam tanpa mengeluarkan kata kata .
“ Assalammualaikum , mohon maaf kamu yang waktu itu kan “. Ujarku menghampirinya dan memulai pembicaraan .
“ Wa’alaikumussalam , kamu pasti mau menertawai aku karena kejadian waktu itu “. Dia berbicara dengan nada sinis kepada ku .
“ Astaghfirullah , aku berniat baik sama kamu , agar tidak selalu berpikiran negatif atas penyakit yang sedang kamu derita , Aku nggak ada niat untuk menertawai kamu “. Aku meyakinkan pria itu ,namun masih saja dia hanya diam dan tidak mengeluarkan banyak kata kata.
Ketika pulang sekolah …
Waktunya pulang sekolah telah tiba , namun di tengah banyak siswa yang keluar dari gerbang sekolah , aku melihat kembali pria tadi dia duduk di depan gerbang sekolah sendirian ,
“ Revano , kamu belum pulang “. Seorang guru memanggil namanya
“ Belum Buk , saya nunggu adik saya “.
Dari sanalah aku mengetahui namanya adalah Revano ,
Reikhanza menghampiri Revano dengan kursi rodanya , betapa terkejutnya aku ketika mengetahui jika Reikhanza dan Revano adalah saudara kandung , dunia ini ternyata begitu sempit.
“ Khanza , ini Abang kandung kamu “?.
“ O iya maaaf aku lupa ngenalin , ini Abang aku namanya Revano , dan ini namanya Anandhita Bang sahabat terbaik aku “.
“Tapi ,kenapa aku baru melihat Abang kamu sekarang Khanza”?. Aku sedikit heran karena sudah 3 bulan aku bersekolah , hari ini pertama kalinya aku melihat Revano .
“ Abangku sebelumnya bersekolah di Australia , karena dia sedang mengalami sakit , maka dipindahkan ke Indonesia “. Ujarnya menjelaskan kepadaku.
1 tahun kemudian…
1 tahun berlalu begitu cepat baru kemarin rasanya aku berjumpa dengan Reikhanza dan Farasya , sekarang kami akan naik ke kelas 11 , namun sekarang rasanya agak berbeda , perasaan khawatir dan kecemasan muncul dari kami bertiga yang sudah terpisah kelas, takut persahabatan yang sudah terjalin erat ini akan merenggang .
“ Percayalah, bukan pengkhianatan yang akan mengakhiri kita, namun pertemanan abadi yang akan menemani hingga akhir ayat “.
_ Reikhanza Humaira _
“ Aku bangga mempunyai sahabat seperti kalian , don’t worry guys , walaupun kita terpisah jarak namun kalian akan selalu ada di hati “.
_ Farasya Sheina_
Mereka adalah sahabat terbaik yang aku temui , dibalik persahabatan itu tersimpan banyak kisah suka ,duka , dan tawa bahagia , hari ini Abang Reikhanza akan melakukan pengobatan di Singapura . Dia sangat pesimis terhadap kesembuhan penyakitnya , Revano tidak pernah yakin bahwa penyakit yang sedang dialaminya ini akan dapat sembuh karena sudah banyak pengobatan yang dia lakukan baik di dalam negeri maupun di luar negeri .
“Assalammualaikum Khanza , bagaimana kabar Abang kamu “?. Aku melakukan panggilan video dengan Reikhanza .
“ Wa’alaikumussalam, masih belum ada angsuran Dhita “. Reikhanza dengan suara melemah .
“ Aku nggak akan bisa sembuh “. Revano berteriak histeris karena telah merasa putus asa .
“ Bang Vano , Insyaallah kamu akan sembuh dari penyakit kamu , “kun fayakun “..
3 bulan kemudian …
3 bulan rasanya begitu lama tanpa adanya Reikhanza di sekolah, dia harus menemani abangnya Revano yang masih menjalani pengobatan di Singapura dan melakukan pembelajaran daring . Biasanya dia selalu memberikan informasi tentang perkembangan kesembuhan Abangnya Revano , namun beberapa Minggu terakhir ini sudah tidak ada lagi komunikasi antara Reikhanza dengan Aku dan Farasya .
Hari itu kami mencoba menghubungi Reikhanza tapi nomor teleponnya tidak aktif , sepulang dari sekolah Aku dan Farasya pergi ke rumah Reikhanza , sesampainya di sana aku melihat Revano yang sedang duduk di halaman rumah dan wajahnya tidak nampak pucat seperti biasanya .
“ Assalammualaikum , Bang Revano udah pulang dari pengobatan di Singapura “?. Kami serentak bertanya .
“ Wa’alaikumussalam ,Aku sudah pulang dari pengobatan di Singapura dan Alhamdulilah akhirnya aku sembuh dari penyakitnya leukimia ku ini, terimakasih Ditha kamu sudah memberikan semangat untuk kesembuhanku “. Wajahnya sangat bahagia tidak ada lagi raut wajah putus asa tergambar di wajahnya
“Alhamdulillah , La Tahzan Innallaha Ma’ana “.
“Allah akan memberikan ujian sesuai batas kemampuan umatnya “. Ujarku menjawab perkataan Revano.
Namun , di rumah itu kami tidak melihat Reikhanza , hanya ada Revano bersama pembantu dan sopirnya .
“ Mohon maaf Bang , Reikhanza ada”?. Farasya bertanya kepada Revano .
“ Reikhanza memutuskan untuk pindah sekolah ke Singapura , karena Orang tua ku sekarang bekerja di Singapura “. Revano menjelaskan semuanya yang tentu saja membuat kami berdua terkejut.
“Keapa dia tidak memberitahu kita ya Dhita “?. Farasya berbisik kepadaku .
“Mungkin Khanza lagi sibuk mengurus pindah sekolahnya ke Singapura “.
Kami berpikir Reikhanza cuman 3 bulan di Singapura , ternyata dia akan meninggalkan kami bertahun tahun lamanya . Persahabatan kami kini terasa agak berbeda dari biasanya , perasaan kami terasa hampa tanpa ada Khanza yang selalu menghibur kita semua , tapi kenyataannya kami harus berpisah dengan Khanza yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Singapura . Setelah 6 bulan lamanya handphone ku berdering di sana tertulis nama Reikhanza yang melakukan panggilan video kepadaku dan Farasya
“ Assalammualaikum bestie , kalian gimana kabarnya , rindu aku nggak “?. Dia bertanya dengan gayanya yang seperti biasa kelihatan manja .
“ Wa’alaikumussalam , Kami marah sama kamu Nza , katanya nggak mau berkhianat tapi kamu pindah saja kamu tidak memberitahu kami “. Farasya sangat kesal dengan Khanza .
“ Maaf, aku terpaksa pindah karena Orang tuaku pindah kerja ke Singapura , rencananya libur semester ini aku mau ke Indonesia loh , Aku kangen sama kalian “. Khanza menangis haru .
“ Kami juga kangen Khanza “. Kami menangis haru .
“ Gimana kalau nanti kamu pulang ke Indonesia kita ketemuan di Taman Mawar tempat kita biasanya “. Aku mengusulkan disana , karena di tempat itu banyak kenangan manis yang terukir.
“ Aku setuju , gimana bunga yang kita tanam disana sudah tumbuh nggak”?.Reikhanza masih mengingat pada saat kami menanam bunga mawar di kebun itu .
6 bulan kemudian …
Mungkin kenangan ini takakkan pernah dilupakan sampai kapanpun , Reikhanza pulang ke Indonesia tapi bukan untuk liburan semester saja tetapi memutusakan untuk kembali bersekolah di Jakarta bersama Abangnya Revano. Tapi , sikapnya sangat berubah dari biasanya dia terlihat dingin dan cuek kepadaku dan Farasya .
“ Hai , Khanza kamu udah balik ke Indonesia lagi , aku senang banget “. Farasya memeluknya karena sudah merasa rindu .
Aku terkejut ketika Reikhanza melepaskan pelukan Farasya dan bersikap cuek lalu pergi meninggalkan kami bersama Dira , mereka terlihat sangat akrab
“ Katanya bukan pengkhianatan yang akan memisahkan kita , tapi dia ternyata yang berkhianat “. Farasya kesal dengan Reikhanza.
“ Mungkin karena orang tua Diara dan Khanza satu kantor jadi mereka juga sudah akrab “. Aku merangkul Farasya .
Persahabatan sejati yang sudah terjalin lama tidak akan begitu cepat berganti dengan orang asing yang menjadi musuh dalam selimut
_Safira Anandhita_
Ketika aku sedang berjalan menuju kantin sekolah , dari kejauhan aku melihat Khanza kesulitan mendorong kursi rodanya karena tersangkut di kerikil , ketika aku ingin menghindari kerikil yang ada di kursi rodanya dia marah dan merasa aku telah memandangnya lemah.
“ Nggak usah bantu aku , aku bisa sendiri “. Ujarnya dengan wajah dingin
“ Khanza , kamu marah dengan kami “?. Aku berusaha mencari penyebab sikap Khanza yang berubah semenjak pulang dari Singapura.
Rasanya waktu itu terasa hening dan sunyi Khanza hanya diam mendengarkan pertanyaanku. Namun ada satu kalimat yang dia ucapkan dan membuat kami berdua sangat sedih
“ Kalian mau berteman denganku bukan karena ingin berteman denganku tapi karena rasa iba “. Khanza terus mendorong kursi rodanya sambil menangis ,
“ Khanza , kami berdua bersahabat dengan kamu bukan karena rasa iba atas kekurangan yang kamu miliki, aku ingin kamu kembali menjadi Khanza yang dulu ,ceria , dan baik “. Kami berlari mengejar Khanza namun dia tak berbalik arah sedikitpun
Mungkin ini yang dinamakan rintangan dalam persahabatan, rasanya sulit untuk meyakinkan Khanza kami berdua itu tulus ingin menjadi sahabat terbaik bagi Khanza , hingga suatu ketika ada suatu peristiwa yang hampir dialami oleh Khanza , ketika mendorong kursi rodanya untuk menyebrangi jalan tiba tiba aku melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang , dengan reflek aku mendorong kursi roda Khanza dan Aku terjatuh karena terserempet mobil itu .
“ Ditha , kamu nggak kenapa kenapa , terimakasih banyak kamu udah tolong aku , maafin aku Ditha “. Khanza memeluk erat ku .
Setelah sekian lama kami pergi ke taman tempat biasa berkumpul dan disana Khanza menceritakan apa yang terjadi dengannya, ternyata Dira menghasut Khanza dan mengatakan jika selama Khanza di Singapura Aku dan Farasya merasa sangat senang karena tidak harus berpura pura baik kepada Khanza karena rasa iba .
“ Khanza , kamu kenapa langsung mempercayai perkataan dari Diara , dia itu wanita yang sangat licik dan sangat ahli bersilat lidah “. Farasya sangat kesal.
“ Sebaiknya kamu jangan langsung mempercayai perkataan Dira , kamu harus mencari tahu kebenarannya dahulu “. Aku menasihati Khanza agar kejadian yang sama tidak terulang lagi
“ Aku sangat bodoh karena sudah mempercayai Diara dan tidak percaya kepada kalian yang sangat tulus menjadi sahabat terbaikku “. Khanza merangkul kami berdua .
“ Kami jadi terharu , kita harus selalu kompak karena kita best friend forever”. Kami saling berpelukan
Allah tidak akan memberikan ujian melampaui batas kemampuan umatnya ,
Walaupun dalam persahabatan kami masih ada saja orang yang ingin membuat kami terpecah , tapi jika kita memiliki rasa saling percaya persahabatan itu tidak akan mudah goyah walaupun di guncang badai besar sekalipun .
Kami bertiga kembali berteman akrab , keheningan itu sudah berubah kembali menjadi suara canda tawa bahagia, Farasya yang suka membuat lelucon, Reikhanza yang memiliki sifat polos dan lugu , bahagia sekali rasanya memiliki sahabat terbaik seperti mereka, semoga kita selalu bersama dalam suka maupun duka.
“Ditha “. Seseorang memanggilku dari kejauhan , ketika aku menoleh ke belakang ternyata dia adalah Bang Revano.
“ Assalammualaikum, ada apa Bang Vano “? . Aku menghampirinya
“ Wa ‘alaikumussalam , aku mau nanya kalian udah baikan “?.
“ Alhamdulilah sudah bang, ini cuman kesalahpahaman “.
Setelah beberapa saat Dira datang dengan wajah angkuhnya , dan menyindir diriku , tapi ya sudahlah tidak perlu dijadikan masalah besar
“ Ada yang lagi cari perhatian sama Revano “. Dia mendorong bahu ku
“ Astagfirullah, Dira aku Cuma berbicara dengan Abang Revano bukan untuk cari perhatian “.
“Dira kamu yang sudah memecahkan persahabatan Khanza dan Ditha , sebaiknya minta maaf “. ,Vano menarik tangan Dira .
“Aku minta maaf “.Dira menggerutu
Ku kira kita akan berpisah di kelas 11 ini ternyata salah kita tetap berada dalam satu kelas yang sama , hampir 2 tahun kami saling mengenal satu sama lain , semua teman temanku sudah mempersiapkan untuk melanjutkan pendidikan di universitas ternama dan mengikuti banyak bimbingan belajar.Aku juga sudah mempersiapkan diri untuk belajar dengan giat dari buku buku yang dipinjamkan oleh Farasya kepadaku ,Kami belajar bersama di rumah Khanza dengan seorang guru privat,
Aku bertekad ingin masuk ke Universitas Padjajaran jurusan hukum melalui jalur SNMPTN
Farasya ingin melanjutkan pendidikan ke psikologi UI dan sedangkan Reikhanza ingin masuk kedokteran UGM, di saat kami membahas pelajaran di kelas tiba tiba saja Dira memotong obrolan kami , dan menganggap mana mungkin kami bisa meraihnya.
“ Sebaiknya nggak usah mimpi terlalu tinggi nanti kalau nggak tercapai jadi nangis “. Dira masuk ke dalam obrolan kami
Sesuatu yang diiringi doa dan usaha Insyaallah akan dapat diwujudkan , mungkin masuk ke universitas ternama dengan jalur SNMPTN ada mimpi setiap siswa , tapi jika tidak berikhtiar dan bertawakal , impian itu hanya tetap menjadi angan angan yang tak akan terwujud .
Tak terasa Ujian Akhir Semester 2 telah tiba , kami mempersiapkan diri untuk belajar supaya dapat meraih nilai yang tinggi , namun pada saat ujian berlangsung ada beberapa Siswa yang dengan licik melihat buku untuk mencontek dan meraih nilai tertinggi, salah satunya Dira yang tepat duduk di samping Farasya.
“ Ditha , lihat tuh Dira cuman menyalin kunci jawaban, curang banget “. Farasya berbisik ke arahku .
“ Biarin aja Fa kita fokus sama ujian kita”. Aku tidak mau konsentrasi kami hilang karena fokus melihat Dira yang mencontek.
Setelah seminggu berlalu pelaksanaan Ujian Akhir Semester 2 , Dira dipanggil ke ruangan kepala sekolah ternyata tindakan mencontek yang dia lakukan diketahui melalui kamera cctv .
Ketika aku masuk ke kelas , semua papan tulis sudah bertuliskan Ditha si pengadu , yang lebih menyakitkan Dira dan teman temannya melempariku dengan kertas, Farasya dan Reikhanza sudah kesal melihat kelakuan Dira dan teman temannya , untuk menenangkan suasana aku memanggil kepala sekolah dan meminta menjelaskan kepada semua siswa .
“ Buk , tolong jelaskan kepada teman – teman bahwa bukan Ditha yang mengadu kepada ibuk “. Aku menemui kepala sekolah di ruangannya.
“ Ananda semua , Ibuk mengetahui kalian mencontek bukan dari Ditha , tapi dari rekaman cctv yang berada di belakang Dira”. Kepala sekolah masuk ke dalam ruangan kelasku .
Kebohongan tidak akan pernah menang dari kejujuran.
“ bagus Dhita , jangan mau di fitnah sama Dira terus “. Farasya berteriak keras .
“ Kejujuran harus ditegakkan Dhit” . Reikhanza dengan wajah polosnya
Jika berkaitan menegakkan kebenaran aku akan berani dan bertindak tegas , kebohongan walaupun pahit harus tetap dibongkar , jangan takut jika mengungkapkan kebenaran yakinlah Allah akan membantu kita untuk mengungkapkan kebenaran itu.
Setelah beberapa hari kemudian tibalah saatnya penerimaan rapor semester 2 , perasaan cemas mulai melanda semua siswa karena takut akan mengecewakan orang tua yang rela meninggalkan pekerjaan demi menjemput rapor anaknya. Ketika pengumuman juara aku meraih nilai tertinggi di kelas .
“ Selamat Dhita , kamu dari dulu memang sangat pintar “. Farasya dan Khanza memberikan ucapan selamat kepadaku.
Tak terasa aku akan naik ke kelas 12 rasa takut mulai menghampiri diriku karena takut memberatkan kedua orang tuaku untuk menpersiapkan biaya kuliah diriku nanti. Aku selalu berdoa kepada Allah SWT agar selalu diberi kelancaran,
Aku mencoba menjual makanan online untuk persiapan biaya kuliah nanti, dan berusaha membagi waktu antara belajar dan berjualan makanan online, Farasya membantu mempromosikan produk makanan ku di perusahaan miliknya . Alhamdulilah akhirnya dari berjualan online aku mendapatkan penghasilan yang cukup banyak untuk biaya kuliah nanti.
Tak terasa sekarang hasil pengumuman SNMPTN akan keluar, perasaan cemas dan khawatir semakin melanda , kami bertiga selalu berdoa kepada Allah agar dapat lulus di fakultas impian , ketika hasil SNMPTN di buka betapa bahagianya kami bertiga lulus jalur SNMPTN , Aku lulus di fakultas hukum Universitas Padjajaran, Farasya lulus di Fakultas kedokteran UI , Reikhanza lulus di fakultas kedokteran UGM , kita dipertemukan oleh pendidikan dan dipisahkan oleh masa depan
Terimakasih telah mewarnai 3 tahun ini dengan cerita tawa ,suka , duka dan arti kesetiaan , semoga kita dapat dipertemukan kembali dengan kepribadian yang lebih baik lagi, dan dapat menjadi sahabat terbaik untuk selamanya , I hope we are always together
Terkadang kita diuji bukan untuk menunjukkan kelemahan kita melainkan untuk menemukan kekuatan yang kita miliki , pasti selalu ada hikmah yang terkandung dalam masalah yang sedang kita hadapi.
Jangan pernah takut untuk menghadapi kehidupan ini karena ketakutan yang terbesar berasal dari diri kita sendiri , ada 3 kalimat yang selalu menjadi penguat bagiku , La Tahzan Innallaha Ma’ana, Innallaha Ma’ashobirin,dan Man Jadda wajada
7 tahun kemudian …
Washington DC
Iseng saja, aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh per- mukaannya dengan ujung telunjuk kananku. Hawa dingin segera menjalari wajah dan lengan kananku. Dari balik kerai tipis di lantai empat ini, salju tampak turun menggumpal-gumpal seperti kapas yang dituang dari langit. Ketukan-ketukan halus terdengar setiap gumpal salju menyentuh kaca di depanku,matahari sore menggantung condong ke barat berbentuk piring putih susu.
Tidak jauh, tampak The Capitol, gedung parlemen Amerika Serikat yang anggun putih gading, bergaya klasik dengan tonggak-tonggak besar. Kubah raksasanya yang berundak-undak semakin memutih ditaburi salju, bagai mengenakan kopiah haji. Di depan gedung ini, hamparan pohon american elm yang biasanya rimbun kini tinggal dahan-dahan tanpa daun yang dibalut serbuk es. Sudah 3 jam salju turun. Tanah bagai dilingkupi permadani putih. Jalan raya yang lebar-lebar mulai dipadati mobil karyawan yang beringsut-ingsut pulang. Berbaris seperti semut. Lampu rem yang hidup mati memantul merah di salju. Sirine polisi atau ambulans-sekali- sekali menggertak diselingi bunyi klakson. Aku sekarang tinggal di Amerika dan berprofesi sebagai seorang diplomat setelah 1 tahun menamatkan pendidikan dari Universitas Padjadjaran. Rasanya aku tak percaya Aku dapat mewujudkan mimpiku untuk bekerja di luar negeri.
Aku membuka handphone untuk memotret musim salju saat itu , dan mengunggah di Instagram milikku, saat membuka Instagram aku mendaptkan notifikasi di handphone aku. Dari seorang bernama Rei_Humayra23
“Assalammualaikum, Ini Ditha alumni SMAN Jakarta.
“ Wa’alaikumussalam , betul, ini siapa ya?”.
Diam sejenak. Sebuah pesan baru muncul lagi.
“ Kamu masih ingat teman kamu yang pakai kursi roda waktu itu”?.
Sekali lagi aku mengingat. Tidak salah lagi dia adalah Reikhanza Humayra..
“ MasyaAllah Rei , sudah lama sekali kita tidak komunikasi”.
“ Kamu dimana sekarang”?.
Belum sempat aku mengetik lagi, bunyi notifikasi terdengar berkali -kali . Pesan demi pesan masuk bertubi- tubi
“ Aku sekarang di London Ditha, kapan ya kita bisa ketemu lagi ☹️”. Reikhanza mengirimkan pesan dengan caption sedih
“ Kebetulan banget aku besok akan ada kunjungan kerja ke London, kita bisa reuni “. Jawabku mengetik dengan cepat.
“Kalau Farasya sekarang dimana Rei, udah lama banget aku nggak dapat informasi tentang Farasya”.
“ Farasya juga di London Ditha , gimana nanti kalau kita berkumpul di apartemenku “. Reikhanza membalas pesanku.
“Insyaallah Rei”. Jawabku
London
Bunyi gemeretak terdengar setiap separaku melindas onggokan salju tipis yang menurupi permukaan trotoar. Tidak lama kemu dian aku sampai di Trafalgar Square, sebuah lapangan beton yang amat luas. Dua air mancur besar memancarkan air tinggi ke udara dan mengirim tempias dinginnya ke wajahku. Square ini dikelilingi museum berpilar tinggi, gedung opera, dan kantor kantor berdinding kelabu, tepat di tengah kesibukan London. Menurut buku tourist guide yang aku baca, National Gallery yang tepat berhadapan dengan square ini mempunyai koleksi kelas dunia seperti The Virgin of the Rocks karya Leonardo Da Vinci, Sunflowers karya Van Gogh dan The Water Lily Pond karya Monet. Hebatnya, semua ini bisa dilihat dengan gratis.
Gigiku gemeletuk. London yang berangin terasa lebih menggigil daripada Washington DC. Tapi langitnya biru benderang dan buminya bermandikan warna matahari sore yang kekuning kuningan. Uap panas berbentuk asap-asap putih menyelinap keluar dari lubang-lubang drainase di trotoar, jalan besar dan di belakang gedung-gedung. Deruman dan decitan dari mobil, bus merah bertingkat dua, dan taksi hitam khas London bercampur baur dengan suara warga kota dan turis yang lalu lalang. Hampir semuanya membalut diri mereka dengan jaket dan sweater tebal .
Merpati berkumpul dan berterbangan di sekitar kawasan itu mengerubungi remah remah roti, dari kejauhan aku melihat seorang yang mendorong kursi rodanya , sambil melambaikan tangannya ke arahku, ternyata dia adalah Reikhanza Humayra tak ada yang berubah dari wajahnya dia masih memakai kacamata dengan minus yang tebal dan berkursi roda.
“Assalammualaikum Ditha , sudah lama sekali kita nggak bertemu “. Dia memeluk diriku dengan erat.
“Wa’alaikumussalam, Khanza, aku juga rindu banget sama kamu , sudah lebih 5 tahun kita tak bertemu “. Aku membalas pelukannya dan tak dapat lagi membendung air mata terharu.
Selang beberapa menit kemudian, seorang wanita dengan tinggi semampai dan telah mengenakan hijab yang tidak asing bagiku ketika dia keluar dari pintu exit stasiun kereta bawah tanah, atau tube Charing Cross. Gayanya masih dengan langkah kakinya yang cepat , dan mengenakan jaket berbulu tebal dengan polesan makeup tipis . Dan dia kini telah mengenakan hijab berbeda saat waktu SMA dulu , Tidak salah lagi, dia Farasya. Dia memeluk kami dan menepuk-nepuk punggungku yang dilapisi jaket tebal. Senyum lebar tidak lepas-lepas dari wajahnya yang kedinginan. “Pertemuan bersejarah, di tempat yang bersejarah, di jantung Kota London! Alhamdulillah,” katanya.
Aku menunjuk ke langit sambil bergumam.
“Ternyata ini dia Nelson’s column yang disebut-sebut di buku reading kita waktu kelas tiga dulu. Lebih besar dan lebih tinggi dari yang aku bayangkan.”
Farasya dan Reikhanza ikut menengadah. Menatap Admiral Nelson yang tegak kukuh dengan pedang di tangan kiri dan gundukan tambang kapal di belakangannya. Bayangannya jatuh di badan kami. Beberapa gumpal awan tersisa di langit yang semakin sore.
Kami teringat akan mimpi yang pernah kami tuliskan di rumah pohon itu, mimpi yang tak terpikirkan akan dapat dicapai dengan doa dan usaha , bermimpi untuk bekerja di Benua Amerika dan Eropa, malam itu aku menginap di apartemen Reikhanza, kami bercerita sambil memandang kota London di malam hari yang penuh dengan gemerlap lampu, melepas rindu yang setelah 5 tahun tak berjumpa, ditengah pembicaraan aku teringat akan sosok Dira Nur Diana teman satu sekolah dengan kami saat SMA dulu.
“ O iya kalian ingat Dira , ada yang tau kabarnya ?. Tanyaku kepada mereka.
“ Emangnya kamu nggak dapat informasi tentang orang tuanya yang masuk penjara dan jatuh miskin karena bangkrut”. Jawab Reikhanza yang membuatku terkejut”.
Di tengah pembicaraan suara azan berkumandang di handphone milik Farasya menandakan telah masuknya waktu sholat Isya , kami sholat berjamaah, Abang Revano yang baru pulang dari kantor menjadi imam sholat.
Setelah sholat Reikhanza telah menyiapkan semua makanan di meja makannya, dengan menu masakan Indonesia yang mengobati sedikit rindu kami .
“ Ditha ,Fara , makan malam dulu aku udah nyiapin makan malam”.
“MasyaAllah Khanza , jadi ngerepotin kamu aja , makanannya kamu bikin sendiri “?. Tanya aku dan Farasya.
“ Iya , nggak ngerepotin kok aku juga kangen dengan masakan Indonesia, jadi karena disini tidak ada rumah makan Padang jadi aku bikin sendiri”. Jawabnya dan mempersilahkan kami makan.
Di saat sedang makan malam aku mendapatkan notifikasi dari kantor bahwa besok aku harus kembali ke Washington DC untuk bekerja , rasanya sangat sedih harus berpisah dengan kedua sahabat terbaikku ini.
“Fara, Khanza besok aku harus kembali ke Washington , terimakasih ya telah mengobati rinduku “. Farasya dan Reikhanza menghentikan makannya dan memelukku.
“ Ditha , Kami berdua masih kangen banget sama kamu “. Fara dan Khanza menangis.
“ Bagaimana kalau bulan Desember nanti kita pulang ke Indonesia, rasanya aku sudah rindu , sudah lama rasanya kita meninggalkan negeri kelahiran kita “. Ujarku yang sudah rindu bertemu dengan keluarga di Jakarta.
“ Aku setuju , karena Negaraku surgaku , setelah sekian lama kita menuntut ilmu di negeri orang saatnya kita pulang memajukan bangsa kita “. Reikhanza dan Farasya sepakat dengan usulanku.
Dulu kami tidak takut bermimpi walaupun tak tahu cara merealisasikannya tapi lihatlah hari ini setelah mengerahkan seluruh ikhtiar dan doa Allah kabulkan semuanya.
Jangan pernah meremehkan impian ,walau setinggi apapun itu, yakinlah
Allah akan mengabulkan doa kita diwaktu yang tepat , InsyaAllah.
Man Jadda wajada, Siapa yang bersungguh sungguh pasti akan bisa
TAMAT
Wassalamu’alaikum