"Aduh... Gimana ya, Den? Aku ga mau satu kelompok sama dia." Vera mengeluhkan isi hatinya pada Dendy, si ketua kelompok.
"Iya, aku ngerti. Siapa juga yang mau satu kelompok dengan si dungu itu!" Sahut Dendy ketus.
Vera dan Dendy saling bertatapan ketika Tono masuk ke dalam kelas dan mencoba mendekati mereka berdua.
"Emmm... Aku..." Ucap Tono ragu-ragu.
"Ton, kita semua udah sepakat. Kita pada ga setuju kamu ada di kelompok ini." Romi langsung memotong ucapan Tono.
"Iya, kita ga butuh anggota kelompok sebodoh kamu. Nanti juga bakalan ngerepotin kita semua." Rika menimpali kata-kata Romi dengan sinis.
Tono terdiam di pojokan. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa merasa sedih dan terhina.
"Kamu ngomong aja ga bener, bisa kerja apa di dalam kelompok?! Huhhh..." Vera mendamprat kesal.
"Heran deh sama wali kelas. Kenapa siswa idiot seperti dia diterima di sekolah ini?" Sungut Dendy.
"Ton, seharusnya kamu itu sekolahnya di SLB! Bukan di sekolah umum seperti SMA ini." Sambung Dendy.
"Sekolah ini emang ga jelas! Den, ngomong aja nanti ke wali kelas, kita semua ga mau satu kelompok sama si idiot Tono!" Tukas Romi.
"OK! OK! Nanti aku ngomong." Sahut Dendy sambil melirik sinis ke arah Tono yang terduduk lesu di bangkunya di pojokan kelas.
Tono ingin sekali membalas semua ucapan dan bully dari teman-teman sekelasnya itu. Tetapi apa daya, Tono memiliki kelemahan dalam hal berbicara.
Sejak kecil dia sudah menderita speech delay. Ibunda Tono tidak mempunyai uang yang cukup untuk membiayai terapi khusus yang harus dilakukan oleh Tono.
Penghasilan ibundanya sebagai penjual kangkung di emperan kaki lima pasar tradisional hanya cukup untuk membiayai kebutuhan pokok mereka.
Bahkan Tono bisa melanjutkan sekolah hingga sampai jenjang SMA ini juga disebabkan oleh beasiswa yang diterimanya tahun lalu.
*** 5 tahun kemudian ***
"Oh my god... Daddy bangga sekali dengan prestasi kamu!" Tuan Gary memeluk dan menepuk kuat pundak Tono.
Tono tersenyum. Hari ini ia sangat bahagia karena berhasil membuat Daddy-nya bangga.
"Harvard University! You are my son!" Tuan Gary melepaskan pelukannya dan menatap serius wajah Tono.
"Thanks, Dad. Everything's for you!" Ucap Tono lancar dalam bahas Inggris.
"Well, aku telah mempersiapkan semuanya untuk keberangkatanmu! Welma, sekretarisku akan mengatur semuanya dengan sempurna." Tutur Tuan Gary.
"OK, Dad..." Ujar Tono.
Tuan Gary lalu pergi ke kantornya dengan hati bahagia. Sudah lama dia tidak sebahagia itu. Sejak kematian istri dan puteranya dalam sebuah kecelakaan maut lima tahun yang lalu.
Sosok Tono adalah sosok penting dalam insiden itu. Tono adalah orang yang pertama kali menemukan Tuan Gary dan keluarganya yang terjebak di dalam sebuah mobil di tengah jurang.
Tuan Gary masih ingat sekali bagaimana situasi pada hari nahas itu. Tono saat itu begitu panik, dia berusaha berteriak kuat-kuat namun tidak ada suara yang bisa keluar dari mulutnya.
Akhirnya dengan tangan kosong, Tono berusaha turun ke dalam jurang. Ia menolong Tuan Gary keluar dari mobilnya yang mulai terbakar.
Bersama-sama mereka berdua berhasil mengeluarkan anggota keluarga Tuan Gary yang lainnya. Tetapi sayang, nyawa istri dan putera Tuan Gary tidak dapat diselamatkan.
Tuan Gary menangis sejadi-jadinya. Tono ikut menangis tanpa suara. Tidak berapa lama kemudian, orang-orang berdatangan karena mendengar teriakan Tuan Gary.
Sejak saat itu, Tuan Gary merasa dirinya telah berhutang nyawa pada Tono yang tidak lancar berbicara.
Tuan Gary mendedikasikan segala harta yang dimilikinya untuk membantu kesembuhan Tono. Hingga akhirnya setelah sekian lama, Tono bisa berbicara dengan lancar.
Setelah ibunda Tono meninggal dunia, Tono kemudian diboyong oleh Tuan Gary ke New York. Tono belajar dengan sungguh-sungguh hingga dia berhasil lolos seleksi masuk universitas ternama di dunia.
Kini teman-teman sekolah Tono tidak berani lagi mem-bully dirinya seperti dulu. Mereka mulai tertegun melihat perubahan Tono dari tahun ke tahun.
Tono yang dulu mereka hina, kini berubah 180 derajad. Dia mulai fasih berbicara. Tidak hanya bahasa Indonesia, tetapi juga dalam berbagai bahasa asing.
Vera bahkan diam-diam mulai mengagumi sosok Tono yang kini terlihat lebih keren dari teman-temannya yang lain.
Tetapi Tono tidak mau bersimpati dengan mereka.
"Aku yang dulu pernah kalian bully, kini telah menjadi mahasiswa Harvard!" Tono membatin.
Tono telah melupakan teman-temannya di Indonesia. Tetapi dia tidak akan pernah melupakan bully-an mereka semua!
Ia kini memiliki teman-teman baru yang lebih baik di Amerika. Dan pastinya tidak ada bully lagi yang ditujukan pada dirinya.
Tono juga berjanji dalam hati agar dia tidak pernah menghina kekurangan yang dimiliki oleh orang lain.
Karena Tono yakin kekuasaan Tuhan dengan mudah dapat mengubah segalanya tanpa bisa disangka-sangka oleh manusia. Sebuah kekurangan bisa menjadi kelebihan yang luar biasa di masa depan.
***TAMAT***