Jatuh cinta itu hal biasa. Yang luar biasa itu proses dan perjuangannya. Sumpah, sih, aku sendiri masih bingung dengan cinta.
Kadang membahagiakan, tapi juga bisa menyakitkan. Lalu, bagaimana aku menyikapinya?
Hai, aku Asha Putri. Panggil saja Asha. Ini kisahku, kisah yang udah lama banget terjadi. Tentang aku dan dia—yang aku cintai diam-diam.
-oOo-
“Asha..”
Aku menoleh ke belakang. Bibirku melengkung tipis, membalas senyuman lelaki yang menghampiriku. “Hai, Kak Rafel. Ada apa?”
Lelaki itu Rafelo Prasetya, teman satu jurusanku. Ia bukan lelaki populer maupun culun. Intinya, Kak Rafel itu biasa saja, sederhana. Tapi, satu hal yang aku suka, dia manis sekali sewaktu tersenyum. Ada satu lesung di pipi bagian kanan dan aku menyukainya.
“Nggak pa pa, kok. Kamu mau ke kelas Pak Tomy, kan? Ayo bareng.” Kak Rafel menyejajarkan langkah kami. “Aku denger... kamu mau menikah, apa iya?”
Sontak kakiku berhenti mengayun diikuti olehnya. Ternyata Kak Rafel sudah mendengar berita itu. “Em.. iya. Emang kenapa?”
Entah aku salah atau tidak, aku melihat sekilas perubahan ekspresi Kak Rafel. Dia seperti.. murung? Ah, tidak-tidak. Aku tidak ingin menebak-nebak.
“Kenapa mendadak banget?” tanyanya.
Kami kembali melangkah ke kelas bersama. Aku tersenyum kecil dengan kepala menunduk. “Itu karna cintaku bertepuk sebelah tangan, Kak. Jadi, aku pasrah aja.”
Aku ingin sekali mengatakan itu, kemudian mengakui perasaan bahwa aku menyukainya sejak semester pertama. Namun, aku tidak seberani itu. Aku takut mendengar penolakan Kak Rafel.
Kami jarang berinteraksi seperti ini. Biasanya Kak Rafel akan menyapaku dengan senyuman—dan ia melakukan itu hampir ke semua mahasiswa dan mahasiswi. Jadi, aku tidak pernah berharap lebih. Lalu, tiba-tiba ia menanyaiku dengan pertanyaan yang.. lumayan menjurus ke privasi seperti ini, aku jadi sedikit kurang nyaman dan.. merasa aneh?
“Em.. aku dijodohin, Kak,” jawabku singkat, tidak ingin menjelaskan lebih lanjut.
“Apa itu artinya kamu nggak suka sama laki-lakinya?” tanya Kak Rafel lagi.
Aku menghentikan laju langkahku, menyorotnya dengan mata memicing. “Kenapa Kakak jadi tanya-tanya gini, sih?” tanyaku tidak mengerti.
Dia terdiam. Sorot matanya jelas menatapku dalam. Saking intensnya, aku sampai meneguk salivaku susah payah. Ada apa dengan Kak Rafel?
“Aku suka sama kamu, Asha.”
Deg!
Tubuhku membeku. Sekujur sel di badanku bergetar, berdesir karena jantungku berdebar keras. Jelas ini adalah hal yang paling aku nanti-nantikan, kenapa sekarang lidahku kelu?
Aku ingin membalas. Aku ingin mengatakan hal yang sama jika aku pun menyukainya. Tapi, kenapa rasanya aku tidak sanggup?
Kak Rafel meraih lenganku, menarikku lembut untuk mengikutinya. Bukan ke kelas, melainkan ke belakang bangunan kampus kami. Ia memegang kedua lenganku, memastikan kami terus berhadapan. “Maaf, aku baru bilang sekarang. Aku.. takut kamu nggak ngerasain hal yang sama kayak aku.”
Dia tersenyum kecut. “Kamu mahasiswi paling populer di sini, Sha. Banyak cowok yang lebih dari aku yang ngejar-ngejar kamu. Dan, itu ngebuat aku nggak berani deketin kamu.”
“Kamu pasti udah sering nerima kata-kata kayak gini, Sha. Aku.. aku—”
Grep!
Kini, giliran Kak Rafel yang membeku. Aku memeluknya erat, melingkarkan tanganku di pinggang lelaki itu dan menyandarkan pipiku di bahunya. “Aku juga suka sama Kakak,” bisikku.
Aku bisa merasakan pergerakan lelaki itu. Tubuhnya berangsur rileks dan kedua tangannya terangkat. Ia balas memelukku. Bahkan, wajahnya ditenggelamkan di ceruk leherku. Aku tersenyum kecil. Aku merenggangkan pelukan, tanganku terulur mengusap pipinya. “Aku pikir, Kakak nggak suka sama aku.”
“Mana ada cowok yang nggak suka sama kamu, Sha.” Dia tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipi yang sangat aku sukai. “Dengan hati seperti malaikat begini, gimana bisa aku nggak suka, hm?”
Karena gemas, aku mengecup pipinya, tepat di bagian lesung. Kak Rafel mengerjap-ngerjapkan matanya, terkejut dengan aksiku. “Kakak lucu banget, sih.”
Ia tersadar. Kedua tangannya menyentak pinggangku supaya jarak di antara kami menghilang. Aku melotot merasakan dada kami saling bersinggungan.
“Aku lucu?” Kak Rafel terkekeh. “Kalau gitu, kamu menggemaskan, Sayang.”
Cup...
Ia memiringkan wajah, lalu mencium bibirku lembut. Bingkai basah itu mengecap bibirku atas dan bawah.
Hari itu, perasaan kami saling tersampaikan. Dan, ini membuatku memiliki alasan untuk menolak perjodohan yang diatur keluargaku.
-oOo-
Satu bulan kemudian.
Tidak ada perubahan. Perjodohan tetap berlanjut. Keluargaku bersikukuh bahwa lelaki pilihan mereka adalah yang terbaik.
Aku terus menolak, namun dengan tutur kata halus. Saat itu, aku sedang berhadapan dengan orang tuaku, sosok yang sudah melahirkan dan merawatku selama 21 tahun. Sayangnya, pendirian mereka tidak berubah sama sekali.
Selama satu bulan ini, pernikahanku disiapkan dengan sempurna. Acara pertunangan dibatalkan, aku dan dia—yang hingga kini belum pernah kutemui—akan langsung menikah sesuai kesepakatan dua keluarga.
Lalu, Kak Rafel? Aku dan dia masih berhubungan.
Setelah penolakan keluargaku, aku langsung menemui Kak Rafel untuk menceritakan segalanya.
Flashback on.
“Jadi, keluarga kamu tetep ingin jodohin kamu, Sha?” tanya Kak Rafel dengan aura mendung. “Apa aku lamar kamu aja, ya, biar mereka lihat kesungguhanku?”
Aku membisu. Bingung, resah, dan kecewa. Sekeras apa pun aku dan Kak Rafel berusaha, pendirian keluargaku tidak akan berubah. Mereka itu sangat keras kepala di saat-saat tertentu. Salah satunya, ya, ini.
“Mungkin... kita akhiri aja, Kak, hubungan ini.” Aku menghela napas berat. “Mungkin kita berdua emang nggak berjo—”
Cup!
Kak Rafel menarikku tiba-tiba, lanjut mencium bibirku. Aku mematung di tempat, tubuhku terasa kaku. Tidak bisa bergerak sama sekali.
Kak Rafel melepas ciuman kami, ah, tidak, hanya dia. Aku hanya pihak pasif saja tadi. “Kalo gitu, kita harus lakuin sesuatu, Sha,” katanya serius.
“A–apa?” Firasatku tidak enak. Sorot mata Kak Rafel berubah.
“Berhubungan badan sampai kamu hamil.”
Flashback off.
Hahh.. setiap aku mengingatnya, aku selalu merinding. Apa kami sungguh melakukan itu? Ya, kami benar-benar melakukannya.
Tubuhku selalu meremang setiap mengingatnya. Bagaimana ia mencium sekujur tubuhku, lalu memompaku hingga menjerit. Aku mengingat semuanya dengan jelas. Terutama raut wajah Kak Rafel yang sangat bergairah kala itu.
Tapi, mungkin kami memang tidak berjodoh. Hingga detik ini, sebulan berlalu setelah malam panas itu, aku sama sekali tidak merasakan gejala kehamilan. Padahal, aku sudah membeli obat penyubur kandungan untukku sendiri.
Aku gila? Iya, sangat gila. Aku gila karena terlalu mencintainya. Aku bahagia ketika bersamanya, jadi aku menginginkannya. Namun, sekarang hubungan kami berakhir.
Kak Rafel kecewa. Dengan berat hati, aku memutuskan hubungan kami. Kak Rafel menolak dan bersikukuh ingin terus mencoba. Namun, tetap tidak ada hasil. Oleh karena itu, aku memintanya untuk berhenti.
Apa aku menyesal? Tidak sama sekali. Aku senang bisa memberi hal paling berharga bagiku untuk orang yang kucintai. Setiap hari, aku berdoa supaya kami berjodoh dan akan dipersatukan di kemudian hari.
Sayangnya, usaha kami berhenti sampai di sini. Hari ini, aku akan menikah dengan laki-laki pilihan keluargaku—yang bahkan belum pernah kutemui.
Sepanjang acara, aku selalu menundukkan kepala, tidak sanggup menatap lelaki di sebelahku. Walaupun aku tidak mencintainya, namun aku sedikit merasa bersalah karena aku bukan lagi gadis sempurna. Apa ia akan meninggalkanku setelah tahu aku tidak... perawan?
“Sayang, kenapa kamu nunduk terus?” tegur Mama.
Aku menggigit bibir bawahku kuat, kenapa rasanya sesulit ini hanya untuk menegakkan kepala?
“Mempelai pria bisa mencium mempelai wanita sekarang.”
Ah, acara pemberkatan sudah selesai. Sekarang dia benar-benar menjadi suamiku. Hm, siapa, ya, namanya tadi? Aku tidak terlalu mendengar.
Aku bisa merasakan ia menyentuh kedua bahuku, menuntunku agar kami berhadapan. Ia membuka kerudung kepalaku dan menarik daguku.
Detik itu, aku mendongak dan menatapnya. Tubuhku kaku. Senyum dan lesung pipi itu aku mengenalnya dengan baik. Tatapan hangat itu sama seperti milik...
“Kak Rafel...?” lirihku dengan perasaan kecamuk.
Lelaki itu tersenyum tipis dan mengangguk pelan. “Halo, Istriku,” katanya, kemudian mencium bibirku lembut.
Ini bukan mimpi. Dia benar-benar Kak Rafel-ku. Lelaki yang aku cintai.
Terima kasih.
Terima kasih, Tuhan, sudah mendengar doaku. Dia benar-benar menjadi jodohku.
“Hiks.. aku pikir, aku kehilangan Kakak.” Aku menangis sesenggukan di pelukannya. Kak Rafel terkekeh, ia mengusap punggungku yang terbalut gaun putih.
“I love you, Sayang,” ucap Kak Rafel tepat di depan wajahku.
Aku tersenyum lebar. “I love you t—” Aku terdiam. Perutku mendadak bergejolak. Aku sontak membekap mulut, lalu berlari ke toilet.
Kak Rafel mengikutiku. Ia terlihat khawatir. Untung saja acara sudah selesai. Hanya tersisa keluarga kami saja di gereja.
“Jangan bilang kamu hamil, Sha?”
Aku terdiam. Ah, sial. Apa itu benar?
Aku hamil setelah satu jam kami menikah? Oh, my, hidupku benar-benar penuh drama ternyata.
END