Pagi yang cerah, untuk jiwa yang sunyi. Basi!
Ganti alunannya menjadi, pagi mencari mentari yang bersembunyi di balik awan.
Bangkitlah wahai para pemuda-pemudi yang jiwanya merasa sepi. Agar jodohmu tidak jadi milik orang lain!
Belum sempat memiliki, patah hati hadir.
Sudah jomblo tertimpa harapan pula!
Hal itu yang dirasakan Anwar saat menyandang gelar sebagai PeJoMan (Pemuda Jomblo Menawan)
Tampan rupawan ✓
Tajir melintir ✓
Royal ✓
Minusnya, dia tipekal cowok yang nggak berani mengangkat kepala saat berhadapan dengan lawan jenisnya. Jiwa meronta-ronta hendak melarikan diri ketika berada di dekat cewek.
Cewek akan jijik melihat cowok model gini.
Nggak gentleman, macho. Karena zaman sekarang cewek tuh lebih menyukai cowok yang cool. Kalau gitu kenapa nggak memilih bercumbu dengan es batu?
Iya, cowok yang sikapnya dingin tapi ngangenin, kan?
****
Hujan baru saja mengguyur tempat tinggal tinggalnya.
Bukannya mengangkat jemurannya, dia malah lebih memilih bermain hujan di tengah jalan.
Hujan pun berhenti, muncullah pelangi.
Tanpa dia mengerti, pelangi itu perlahan menghampirinya. Semakin dekat, dan tampaklah seorang wanita bertubuh mungil muncul di antara kilauan cahaya mejikuhibiniu. Pelangi menghilang, namun wanita itu masih terlihat terang.
Inikah yang dinamakan Bidadari turun dari langit?
Wanita itu berjalan ke arah Pria yang menatapnya dengan kagum. "Permisi, apa benar ini daerah Perumahan Mimpi Manis?" tanya Wanita itu sambil sesekali menyibakkan rambutnya yang basah.
Sampai sehelai rambut wanita itu menyentuh wajah Anwar yang berseri-seri.
Wanita itu mendecak kesal karena pria di hadapannya tidak menganggapnya sama sekali.
"Baiklah, saya pergi!" ucap Wanita itu membalikkan badannya.
Anwar menghentikan langkahnya. Lalu mulai memperkenalkan dirinya.
"Halo! Namaku Anwar, pemuda berusia 25 tahun. Aku tinggal di Perumahan Cahaya Permai."
Omong kosong, anehnya wanita itu mau saja mendengar semua ucapannya.
"Mau tahu hobiku? Makanan kesukaanku, dan-" (terpotong karena Wanita itu menyergah ucapannya). "Tenang Nona, aku ingin kita bisa menjadi teman. Boleh, kan? ucap Anwar sambil menelan ludahnya.
"Cukup, kamu pikir saya akan tertarik?" ucap Wanita itu sambil melotot.
Sepertinya wanita itu benar-benar tidak suka dengan dirinya. Anwar menyimpulkan, bahwa dia bukanlah tipenya.
Anwar membalikkan badan, sementara wanita itu memilih pergi.
"Hei Anwar! Aku menyuruhmu ke Perumahan Mimpi Manis, kenapa kamu masih ada di sini?" ucap seorang wanita paruh baya, yang tidak lain adalah tetangga di sebelah rumahnya. Setiap hari selalu mengirimkan makanan untuk anaknya di Perumahan Mimpi Manis dan Anwar bagai malaikat penolongnya. Usianya yang sudah tua, tidak mampu berjalan jauh lagi. Kenapa tidak naik angkot atau ojek? Karena suka tidur di sembarang tempat.
"Iya Nona Tua, aku mau ganti baju dulu ya!" ucap Anwar masuk ke dalam rumahnya.
Mendengar hal itu, Wanita Bidadari langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah Anwar yang tidak terkunci.
Setelah selesai mandi, dia masuk ke dalam kamarnya, lalu keluar kamar lagi karena melihat sesuatu di dalam sana.
"Kenapa kamu ketakutan melihatku?" tanya Wanita Bidadari menghampiri Anwar yang jantungnya masih berdebar kencang.
"Kamu sendiri kenapa bisa ada di kamarku? Bukannya kamu sudah pergi?"
Wanita Bidadari duduk di sofa. "Oke aku minta maaf karena main masuk ke rumah kamu! Habis di luar hujan, apa kamu tega membiarkan aku sendirian di luar sana?" lanjut Wanita Bidadari muram.
"Lalu apa tujuan kamu datang kemari? Pasti bukan untuk berteduh, kan?" tanya Anwar.
Wanita Bidadari beranjak dari tempat duduknya, dan meraih tangan Anwar.
"Aku mau ikut bersamamu!" ucap Wanita Bidadari membuat mata Anwar melebar.
"Ke mana? Ikut ke kamar?" tanya Anwar mengerutkan keningnya.
Wanita Bidadari tersenyum simpul. "Kalau diizinkan!"
"Nggak, kamu tunggu di sini aja ya! ucap Anwar buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
Mereka berdua pergi ke Perumahan Mimpi Manis, mengendarai motor vespa milik Anwar.
Melewati pegunungan yang sejuk hawanya, menenangkan jiwa juga menyeberangi sungai yang mengalir deras, diiringi canda tawa di atas motor, menari-nari dalam hati yang segera berpenghuni.
"Ada satu hal lagi yang belum kamu ketahui!" ucap Anwar pada Wanita Bidadari.
"Apa itu?" tanya Wanita Bidadari.
"Motor ini akan rewel kalau penumpangnya nggak mawas diri! ucap Anwar sambil tersenyum simpul.
Wanita Bidadari itu terlihat memikirkan ucapan Anwar. Tanpa menunggu waktu lama, dia langsung melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Anwar, mendekap erat-erat.
Sampainya di gerbang masuk Perumahan Mimpi Manis. Wanita Bidadari menjauhkan dirinya dari Anwar. Bersamaan dengan itu, motor milik Anwar jadi rewel.
"Kenapa dilepas?" tanya Anwar membuat Wanita Bidadari melotot.
Wanita Bidadari tidak bisa mencerna ucapan Anwar.
Anwar turun dari motor vespanya dan berkata. "Bukankah sudah kubilang tadi?"
"Kamu hanya bilang kalau sampai nggak mawas diri, motor ini akan rewel! Bukan begitu?"
Anwar menghela napas berat. "Iya benar, tapi kita belum sampai di tempat tujuan!"
"Apa kamu nggak bisa melihat dengan jelas, tulisan di sana?" ucap Wanita Bidadari sambil menunjuk ke arah tulisan Perumahan Mimpi Manis.
"Ayolah, tujuan kita bukan untuk berdiam diri di sini! Tapi untuk bertemu seseorang yang tinggal di daerah perumahan ini, Nona paham?" ucap Anwar membuat Wanita Bidadari menganggukkan kepala.
"Lalu, apa hubungannya dengan motor yang rewel dan tujuan kita ke sini?" tanya Wanita Bidadari.
Anwar yang sedang menuntun motor vespanya tiba-tiba terdiam. Lalu menengok ke arah wanita yang di sampingnya. Mengatakan secara gamblang, dia melakukan hal itu agar bisa menikmati perjalanan ini bersama Wanita Bidadari. Soal motor yang rewel juga sandiwaranya.
"Aku sayang sama kamu!" ucap Anwar membuat mata wanita Bidadari melebar.
Baru kali pertama, ucapan itu keluar dari mulutnya.
Setelah sekian lama takut berucap kata cinta pada seorang wanita.
Dia, Wanita Bidadari yang membuatnya benar-benar jatuh cinta. Dan berani menyuarakan perasaannya.
"Maaf, karena aku nggak bisa membalas perasaan kamu!" jelas Wanita Bidadari.
"Cahya!" teriak seorang pria dari kejauhan.
"Ada Anwar juga rupanya, pasti mau mengirimkan makanan untukku, kan?" ucap seorang laki-laki, anak dari tetangganya. Namanya Ihsan.
"Cahya kemari sendirian?" tanya Ihsan pada Cahya.
"Namanya Cahya?" tanya Anwar.
"Iya, namanya Cahya. Sahabat terbaikku saat duduk di bangku SMA!" jelas Ihsan.
Nanar matanya memandang wanita yang dicintainya berubah menjadi pendiam.
"Oh iya, karena ada kamu di sini, aku mau mengatakan kalau Cahya ini segera menjadi istriku!" ucap Ihsan membuat Anwar menoleh cepat ke arahnya.
"Selamat yah! Pandai dirimu menyembunyikannya dariku!" ucap Anwar memandang Cahya.
Hatinya seketika hancur menjadi kepingan-kepingan yang tidak ada artinya lagi.
Pandangan pertama pada asmara sungguh menggoda, tapi tidak selalu berbuah gairah cinta.