Rindu menatap keluar jendela. Tampak pemandangan hijau di kejauhan. Langit cerah secerah hati Rindu. Sudah sebulan ini dia menjadi penghuni kamar ini. Kamar yang terletak di lantai 2. Kamar masa kecilnya yang penuh kebahagiaan dengan kedua orang tuanya.
Kecelakaan itu telah merenggut semuanya. Kebahagiaan berganti dengan duka . Dia yang biasanya sering berlari kecil kini hanya bisa duduk di kursi roda. Wajah yang selalu menyebar senyum kini tampak kaku dan layu. Dia tenggelam sangat dalam.
Beruntungnya hal itu tak berlangsung lama. Seseorang yang baru dikenalnya memberi semangat baru dan pemikiran baru dalam menerima kenyataan hidup. Dialah Melati, gadis yang memiliki kondisi fisik yang sama dengannya.
Berkat motivasi Melati akhirnya Rindu berhasil bangkit. Dengan gigih ia berhasil menggapai mimpinya. Dan akhirnya ia bisa menjadikan pelajaran semua yang telah di alaminya.
Meskipun tidak mampu berjalan, tak menjadi halangan bagi Rindu untuk naik-turun di rumahnya. Semenjak dia sukses menjadi seorang pelukis, kedua orang tua nya mulai memperhatikan Rindu. Mereka yang tadinya acuh, mulai memperhatikan apa yang di sukai oleh putrinya.
“ Rindu, papa punya kejutan untuk mu.” Ucap papa suatu sore.
9
Sepulang dari kantor papa menemuiku di kamar . Waktu Itu kamarku berada dekat dengan dapur di lantai satu. Orang tuaku memberikan kamar itu agar aku tidak repot turun naik jika membutuhkan sesuatu atau untuk ke luar rumah.
“ Papa akan mendukungmu untuk menjadi pelukis. Oleh karena itu papa berencana membuatkan kamu ruang kerja. Di sana kamu bisa mengembangkan diri dan bakat melukismu dengan baik tanpa ada yang mengganggu. “ Jelas papa.
Rindu sangat senang dengan usul sang Papa. Dan proyek membuat ruang kerja dan lif sebagai penghubung lantai bawah dan atas pun di mulai. Bagi kedua orang tua Rindu saat ini adalah kebahagiaan putrinya. Ini sebagai penebus apa yang sudah mereka lewati beberapa tahun terakhir. M
Mereka merasa bersalah setelah membiarkan Rindu berjuang sendiri.
Semenjak menempati kembali kamarnya Rindu lebih bersemangat kembali melukis. Beberapa lukisan sudah diselesaikan Rindu. Setiap hasil karyanya selalu dipajang Rindu diakun media sosialnya.
Beberapa kali Rindu mendapat tawaran pameran lukisan dan beberapa dari lukisannya laku dengan harga yang fantastis. Rindu diberi kebebasan oleh orang tuanya untuk mengelola sendiri keuangannya. Orang tuanya tidak mempermasalahkan penggunaan uang Rindu. Hal itu menyebabkan orang tua Rindu tak mengetahui berapa saldo yang diam di rekening Rindu.
“Non Rindu, katanya mau keluar hari ini. “ Bik Asih seorang asisten rumah tangga memutus pandangan Rindu.
“Eh iya bik. Aku lupa. “ jawab Rindu sambil memutar kursi Roda menuju ke luar kamar.
Bik Asih dengan sigap mengambil posisi di belakang Rindu dan mendorong kursi roda Rindu.
Hari ini Rindu berjanji akan menemui Melati. Hari ini Melati memeriksakan kesehatan kakinya. Menurut dokter Melati punya kesempatan untuk bisa berjalan dengan bantuan kaki palsu. Melati punya mimpi untuk bisa berjalan. Ia ingin menjadi guru bagi mereka yang disabel. Ia tak ingin penderita disabel merasa minder karena kekurangannya.
Bagi Melati , cacat fisik tak boleh membuatnya terpuruk dan minder. Ia akan membuktikan bahwa orang-orang yang memiliki kekurangan pasti memiliki suatu kelebihan. Dan kekurangannya itulah yang menjadi kekuatan untuknya.
Tak butuh lama bagi Rindu untuk sampai di rumah Melati. Karena jarak perumahan Melati tidak begitu jauh dari rumahnya. Kali ini pun Rindu di antar Pak Sofyan, sopir keluarga yang sudah bekerja dengan keluarga Rindu semenjak Rindu masih kecil.
Mobil berhenti di halaman rumah Melati. Seperti biasa Pak Sofyan menurunkan kursi roda untuk Rindu. Kemudian m3mbantu Rindu untuk turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya. Setelah posisinya terasa nyaman Rindu kursi roda di dorong menuju teras rumah Melati.
Ini bukan pertama kalinya Rindu ke sini. Semenjak mereka bertemu di taman, Rindu sering berkunjung kemari. Perkenalan yang tak sengaja itu menjadikan mereka bersahabat akrab dan saling memahami.
Rindu sangat paham keinginan Melati. Bagaimana usaha Melati untuk mencapai mimpinya pun tak lepas dari perhatian Rindu. Mereka saling menguatkan satu sama lain. Meskipun bidang yang mereka tekuni berbeda, tapi itu tak membuat jarak di antara mereka.
“Assalamualaikum “ Rindu mengucap salam ketika sudah di depan pintu.
“Waalaikumsalam “ jawab suara dari dalam.
Tampak seorang gadis mengayuh kursi roda menuju pintu masuk. Dia lah Melati yang sekarang menjadi sahabat Rindu.
“Mari masuk. “ ucapnya sambil memutar kursi rodanya.
Rindu dibantu Pak Sofyan untuk masuk ke rumah Melati.
Seperti biasanya, jika Rindu sudah berada di dalam rumah Melati , Pak Sofyan akan kembali ke dalam mobil, menunggu panggilan nona mudanya untuk pulang. Terkadang sampai ia ketiduran saking asyiknya Rindu bersama Melati.
“Bagaimana kata dokter Mel ? “ Rindu menanyakan hasil pemeriksaan yang baru dilalui Melati.
“Sampai saat ini masih sangat bagus Rin. Otot kaki yang tersisa masih dalam kondisi baik. Menurut dokter tidak masalah jika aku menggunakan kaki palsu. Hanya butuh penyesuaian saja. “ Melati menjelaskan kondisinya pada Rindu sambil menghindari tatapan mata Rindu.
Rindu tahu itu. Rindu mengerti bahwa Melati telah menabung untuk sepasang kaki palsu. Akan tetapi harga kaki palsu yang sangat mahal bagi Melati, membuat tabungannya tak kunjung cukup.
“Kapan menurut dokter waktu yang baik untuk memasang nya ?” tanya Rindu.
“Itu tergantung kesiapan aku aja Rindu” jawab Melati.
Mereka pun berbincang berbagai hal. Seakan mereka tak kan kehabisan stok pembicaraan jika sudah bersama. Sampai mereka lupa waktu yang menuju senja.
Malam itu sepulang dari rumah Melati, Rindu memikirkan sesuatu. Apa yang ia pikirkan membuatnya tersenyum. Ia tak sabar mewujudkan apa yang dipikirkannya. Ia ingin melihat bagaimana reaksi sahabatnya melihat apa yang akan dilakukannya.
Rindu menghubungi dokternya yang kebetulan juga menjadi dokter Melati. Ia minta dibelikan sesuatu. Ia minta bisa disiapkan dalam dua hari dan dokter itu menyanggupinya.
Hari ini adalah janji sang dokter dengan Rindu. Ia sengaja meminta Melati untuk menemaninya ke dokter. Ia ingin menyerahkan sesuatu pada Melati sebagai hadiah ulang tahunnya. Ya... hari ini Melati berulang tahun.
“Bagaimana Melati... Apa kamu siap untuk menggunakan kaki palsumu ? “ tanya dokter sambil tersenyum dan memperlihatkan sepasang kaki palsu pada Melati
“Maaf dok. Tabungan saya kan belum cukup dokter ?” jawab Melati heran.
“Ini kado dari seseorang untuk mu Melati.” Ucap dokter sambil menoleh ke arah Rindu.
Melati melihat Rindu dengan penuh tanya. Yang dilihat hanya tersenyum.
“ Ya Melati. Sepasang kaki ini untukmu Melati. Kau lebih membutuhkannya, kau akan berdiri di depan kelas mentransfer ilmu bagi mereka yang hampir putus asa.” Ucap Melati
“Tapi Rindu, kau juga membutuhkannya. Bukankah sekarang kau adalah pelukis terkenal ?. Kau akan lebih sempurna dengan kedua kaki ini “ balas Melati.
Dokter tersenyum mendengar perbincangan dua sahabat itu. Kemudian menjelaskan bahwa kedua kaki ini adalah milik Melati, karena dibuat sesuai ukuran Melati.
Tanpa sadar ada buliran bening keluar dari kedua mata Melati. Ia tak menyangka akan mendapat hadiah yang sangat berharga dari sahabatnya. Dengan bahagia ia mencoba sepasang kaki hadiah dari Rindu. Ia sangat berterima kasih dengan hadiah Rindu. Berkat Rindu tujuan untuk mencapai mimpinya semakin dekat.
“Selamat Ulang Tahun Melati. Semoga dengan sepasang kaki ini kamu bisa mencapai semua impianmu.” Ucap Rindu
Rinsu sangat senang melihat wajah sahabatnya yang berseri-seri seri. Sebuah kepuasan baginya dapat membalas kebaikan yang sudah diberikan Melati untuknya. Tetaplah bahagia Melati. semoga kesuksean akan menyertai setiap langkahmu.