Di suatu pagi ketika semilir angin berhembus lirih. Sepeda motor melaju dengan pasti, tak terlalu lambat juga tak terlalu cepat. Rasanya menyenangkan. Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?
Pemandangan hijau menyejukkan mata terhampar di sisi kanan-kiri jalan. Udara sejuk menyegarkan, aku tak henti-henti menghirupnya untuk menyehatkan paru-paruku. Bukankah yang seperti ini tak akan sering ku dapatkan di perkotaan?
Namun, satu hal yang pasti yang membuat kupu-kupu seolah berterbangan di perutku. Lelaki ini, lelaki yang memboncengku menggunkan motornya.
Beberapa detik lalu ia masih menggerutu. Kenapa harus dia yang ku pilih di antara yang lainnya. Dan aku hanya mengangkat bahu sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajuknnya itu.
"Kenapa kamu nggak nyari pacar aja sih? Kan dia bisa nganterin kamu kemana-mana...," gerutunya.
"Buat apa nyari pacar kalau ujung-ujungnya di jadiin tukang ojek...," tukasku.
"Lah apa bedanya dengan aku. Kamu seluruh aja minta aku yang mengantarmu. Kenapa nggak yang lain aja sih....," kesalnya.
"Kalau ada kamu kenapa yang harus lain sih...," ujarku.
"Bodo' ah....,"
Itulah percakapan terakhirku dengannya. Hingga kami akhirnya tiba di tempat wisata. Ya, kami tengah berwisata bersama teman-teman asisten yang lain setelah hari-hari kami disibukkan oleh short course. Semua teman kami ternyata sudah sampai di lokasi tujuan. Sementara aku dan dia menjadi peserta terakhir yang datang.
Ya, siapa yang mengira bahwa ia akan lupa jalan. Padahal dia bilang sudah sering berkeliling di kota dimana tempat kami berkuliah. Nyatanya, masih nyasar juga. Jangan tanyakan aku, aku tipe mahasiswa kupu-kupu. KUliah, PUlang, KUliah, PUlang, begitulah rutinitasku. Namun, disemester lima ini sedikit berbeda karena selain kuliah, pulang aku juga masih harus mengajar praktikum di laboratorium kampus.
"Pacaran aja, ditungguin dari tadi juga...," Ujar Fatih salah satu teman kami.
"Ck...siapa yang pacarin sih, nyasar tau nggak...," gerutu Gio yang tentu aja disambut tawa oleh teman-teman yang lain.
"Kok bisa nyasar sih? Grogi ya karena boncengin Rinka?" seru Maya yang juga teman asisten kami.
"Mana ada.....," kilah Gio.
Sementara aku yang mendengar semua ledekan hanya menggelengkan kepala, enggan menanggapi.
Akhirnya kami pun naik berbagai wahana yang ada di tempat wisata itu. Dari wahana yang biasa aja sampai yang memacu adrenalin.
"Kuping aku budeg rasanya denger teriakan mereka semua....," dumel Farhan.
"Iya, apalagi suara cewek, duh jeritnya kenceng banget tau....," Dion menimpali.
"Namanya juga cewek, takut kali...," ujar Ayu membela para kaum Hawa.
"Takut ya nggak usah naik. Gampang kan...," timpal Bayu.
"Ish, kalau nggak naik kita kalah dong...," ucap Vina.
"Ya, resiko kamu daripada bikin budeg kita semua...," sembur Wahyu.
"Halah lebay, asal kamu tahu sumbangsih teriakan suara kita masih dikit di bandingkan pengunjung yang lain...," Rahma tak terima kaum Hawa dipojokkan.
"Iya, buktinya Tomy aja teriak-teriak juga...," sambung Kayla.
"Dia mah bukan kaum kita....," ujar Vino.
"Sembarangan kamu mah...," ucap Tomy sembari memukul lengan Vino. Melihat keduanya terlibat cekcok bak Tom and Jerry pun di sambut gelak tawa oleh kami semua.
"Eh, Kok loe tadi nggak ada suaranya sih Rin?" tanya Wahyu.
"Iya, emang loe nggak takut? Heran gue...," tambah Ayu.
"Nggak...," ujarku sembari ku gelengkan kepalaku.
"Rinka mana takut yang begituan, dia tuh takutnya kalau nilai Matkulnya dapa B ," cibir Gio yang lebih seperti ejekan kepadaku.
Aku pun mencubit lengannya dan dia mengaduh. Tapi tetap saja masih enggan untuk berhenti mengejekku. Akhirnya kami pun berkejaran untuk saling membalas ejekab dan cubitan.
Bagiku, Gio serupa bunga Lily putih. Ia adalah peneman terbaikku yang penuh ketulusan. Ia pun pionir dalam hidupku, yang mengenalkanku pada kehidupan jenis baru yang tak pernah ku ketahui sebelumnya. Kehidupan yang merubah tangis menjadi tawa dan merubah sedih menjadi bahagia.
*****
Aku tersenyum mengingat semua kenangan itu. Seolah baru kemarin semua kejadian itu terjadi. Seolah baru kemarin aku mendengar suaranya, gerutuannya, bahkan kelakuan menyebalkannya.
Namun, nyatanya waktu telah lama berlalu. Sudah delapan tahun tepatnya ia berbaring disana. Di suatu tempat dimana tidak hanya aku, bahkan semua manusia di muka bumi akan bersemayam disana.
Ya, dia pergi. Jauh. Ke tempat dimana aku tak akan bisa menyusulnya tiap kali aku rindu.
"Hey....apa kabar ?" tanyaku sembari mengusap batu nisan dimana namanya terukir disana.
"Aku baik loh. Semoga kamu disana juga bahagia....," ujarku.
Semua perkataanku tiap kali berkunjung ke makamnya sama. Hanya cerita yang kerapkali ku ceritakan padanya yang berbeda.
"Kamu hari ini tiga puluh tahun loh. Selamat, dan terima kasih karena telah terlahir ke bumi di hari ini...," ujarku sembari ku letakkan bunga lily putih di atas makamnya.
"Mungkin, ini adalah terakhir kalinya aku mengunjungimu seorang diri. Aku...aku akan menikah. Dan mungkin, aku tak akan lagi bisa mengunjungimu sesering mungkin. Tapi, kamu jangan khawatir. Akan selalu ada tempat tersendiri untuk kamu di hati aku....,"
"Dia lelaki yang baik, jangan khawatir. Aku akan bahagia, jangan cemaskan aku. Suatu hari nanti, aku akan mengenalkannya padamu....,"
"Selamat tinggal Gio, selamat jalan bunga terakhirku....," lirihku.
Aku pun bangkit dari posisi bersimbuhku. Aku melangkahkan kaki keluar dari area pemakaman. Kali ini entah mengapa langkah kakiku terasa ringkan, padahal biasanya terlalu berat untuk dapat melangkah. Mungkin, Gio turut bagia dengan keputusan yang ku ambil setelah bertahun-tahun lamanya.
Hingga kemudian ku sadari. Selama ini, aku terlalu sering mempupuk luka, hingga akhirnya kakiku enggan tuk melangkah. Aku terlalu sering terpuruk sedih, hingga susah tuk mampu bangkit lagi.
Namun kini, setelah ikhlas ku miliki dalam diri, aku tak lagi menyimpan beban dalam hati. Semua pilu dan resah sirnah tak bersisa. Kini, aku mampu tuk melangkah, tuk berdiri dan bangkit lagi.
Dengan kuasa Allah atas diri, aku percaya pada janji-Nya yang tak akan teringkari. Akan selalu ada pelangi selepas hujan turun membasahi bumi. Akan selalu ada bahagia menanti selepas kesedihan menghampiri. Akan selalu ada Allah yang kan melindungi dalam setiap ujian hidup yang kita jalani.
~ The End ~