"Rin, aku pulang dulu ya.. maaf ga bisa bantu" steva melambaikan tangannya sambil berlalu meninggalkan ku
Aku hanya bisa tersenyum getir, bukan baru pertama kalinya steva pergi dengan segala alasannya untuk menghindari pekerjaan terakhir kami
"Ya.. aku baik baik saja meski harus selalu sendiri.. semangat rini" pekikku menghilangkan kekesalan di hati
Butik telah kututup tak lupa ku gembok juga agar lebih aman dari hal yang tak diinginkan, ku balikan tubuh ku ke arah jalan yang telah sepi,mataku tak hentinya memindai keadaan sekitar yang kurasa agak berbeda dari malam malam sebelumnya
"Mungkin karna hujan kali ya.. jadi ga'da orang yang keluar rumah"aku mencoba berbicara dengan diriku sendiri
Ku langkahkan kaki perlahan menuju jalan raya, itu sudah menjadi kebiasaan setiap hari bagiku, setelah sampai di tempat tujuanku, aku kembali mengarahkan kedua bola mataku mencari sesuatu yang seharusnya sudah kutemui.
Aku mengeluarkan benda pipih ajaib dari satu jaket ku, perlahan ku geser ikon di layar benda tersebut mencoba menemukan sesuatu "Superman" jariku berhenti pada nama yang tersemat pada no kontak seseorang
Perlahan aku menekan tombol berwarna hijau bergambar telepon tersebut dan mendekatkan ketelingaku, terdengar dering dari seberang sana, dan tak lama kemudian suara seorang pria paruh baya mulai terdengar
"Oh sayang maaf .. papa ada acara mendadak tak bisa menjemputmu sekarang, kau pulanglah sendiri naik ojek online"
"Kenapa papa tak memberitahu dari awal"
"Oh maaf sayang .. papa tutup dulu ya teleponnya"
tuuuuuuuuuuut ku jauhkan benda tersebut dari telingaku
Entah kenapa hatiku merasa begitu sedih, padahal ini bukan kali pertamanya aku harus pulang sendiri lagi, aku kembali menatap layar benda pipih tersebut mencoba mencari aplikasi berwarna hijau yang bisa mengantarkan ku pulang ke rumah
Aku menunggu beberapa saat setelah aku menekan ikon bergambar sepeda motor tersebut
"Knapa ga bisa membuka" mataku dengan sendirinya langsung terarah pada gambar yang biasanya menunjukkan seberapa kuat sinyal yang tertangkap benda yang masih ku genggam erat
"Sial.. aku tidak mendapat sinyal karena habis hujan" aku mengumpat pada benda tersebut, segera setelah itu ku masukan benda tersebut kembali ke saku jaket ku
Dengan lesu ku langkahkan kaki berjalan menjauhi tempatku berdiri sebelumnya, entah seberapa jauh aku meninggalkan tempat tersebut namun tak satupun taksi ataupun ojek yang melewati ku.
Aku mendengus dengan kesal, kulampiaskan amarahku dengan menendang kerikil kecil yang ku lalui di sepanjang jalan yang begitu sunyi
Tiba tiba sebuah mobil menjajari langkahku, nampak dari tempatku berdiri, seseorang menurunkan kaca mobilnya bahkan juga menurunkan masker yang menutupi sebagian wajahnya
"Maaf nona.. apa benar ini jalan menuju tempat x ??" Suranya begitu ramah membuatku merasa bak angin segar di keheningan malam
"Iya.. anda tinggal lurus saja sekitar 1km lalu belok kiri nanti anda akan sampai di tempat x"
"Terimakasih nona .. apakah anda sendirian??" Aku tercengang mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan
"I iya.."
"Apa nona mau ikut denganku, aku akan mengantar ke tempat tujuanmu"
Apakah boleh aku ikut denganya sedangkan kami baru saja bertemu gumamku dalam hati, kemudian lelaki itu turun dari mobilnya dan berjalan menghampiriku, kini dia berdiri di hadapanku, wajah maskulin dengan rahang yang tegas dan senyum yang ramah seketika membuat hatiku mengahangat
"Mari akan kuantar nona" tanganya yang terlihat begitu berotot membukakan pintu mobil untukku, tanpa bisa menolak aku menuruti saja ajakan pria tersebut ke dalam mobilnya
Mataku tak bisa kualihkan dari sosok pria yang kini tengah berlari kecil mengitari mobilnya, dan pria itu kini tepat berada di sampingku, pandanganku tak pernah lepas dari wajah tampan rupawan yang kini sedang menyibukkan diri memasang tali pengamanya
"Apa ada yang salah" suara teduhnya seketika membangunkan aku dari keterpesonaanku padanya, dengan gugup ku alihkan pandanganku ke depan, tanpa kusadari pria tersebut telah mendekatkan wajahnya padaku, begitu dekat hingga aku bisa merasakan aroma nafasnya
"Apa kamu melamun..? Kenapa dari tadi menatapku dan tak memasang sabuk pengaman sendiri..?? Apa ini rencanamu agar aku melakukannya untukmu ..??
Mata kami saling bersobok dan kulihat senyum itu semakin menghiasi wajah tampannya. Jantungku yang memang telah bergejolak dari sebelumnya pun tak tau apa masih berada di tempatnya
Setelah memasang sabuk pengamanku pria tersebut kembali bersiap untuk melajukan mobilnya, beberapa saat berkendara keadaan di dalam mobil sangatlah tenang berbanding terbalik dengan suasana hatiku yang masih bergemuruh
"Di mana rumahmu" kini dia berbicara dengan lebih santai kepadaku
"Hah.. hmm di jalan semangka, sebelum pertigaan depan aku turunkan di situ saja arah kita berbeda " jawabku sambil mengurai rasa gugup
" Tadi aku bilang akan mengantarmu ke tempat tujuanmu, jadi akan ku lakukan" dia memalingkan wajahnya menghadapku dengan tetap mempertahankan senyumnya
"Dari mana.. kenapa larut begini masih ada di jalanan"
"Aku dari tempat kerjaku"
"Aahh" dia menjawab dengan begitu singkat
Setelah beberapa saat dia menghentikan laju mobilnya aku melihat di sekeliling begitu sepi, perlahan pria itu membuka sabuk pengamanya dan memposisikan duduknya dengan lebih nyaman matanya kosong menghadap lurus kedepan
"Kenapa berhenti disini" aku mencoba mencari jawaban dengan tetap menatap wajah yang kini menjadi sendu
"Tak ada alasan" jawabnya begitu dingin berbeda dari yang sebelumnya
Aku yang tak mengerti apapun mencoba mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, jantungku yang telah tenang kini kembali berdebar debar, aku mencoba melepas sabuk pengamanku dan bersiap membuka pintu mobil
"Aku akan turun disini"
seketika dia menoleh kepadaku mendekatkan tubuhnya padaku dan menggenggam tangan ku dengan kembali menutup pintu mobil yang sedikit terbuka, kini kami berada di posisi yang sama seperti sebelumnya
"Kau tau..." Dia menjeda kalimatnya menatap mataku dengan tajam
"Aku membenci kalian... Kalian mengatakan menyukaiku dan meninggalkanku bersaaman"
Kuturunkan pandanganku setelah menghirup aroma nafas nya yang membuat jantungku meronta ingin keluar dari tempatnya, ku coba menenangkanya tapi tak bisa dan "cup" aku merasakan sesuatu yang hangat menempel di bibirku
Seketika aku membolakan mataku karena keterkejutan, ku tatap wajah yang begitu dekat dengan hidungku aku tak bisa memindai maksud dari wajahnya yang begitu dingin, Perlahan dia memasukkan wajahnya ke dalam leherku sambil berbisik
"Apa kamu menikmatinya"
Aku hanya bisa menelan salivaku yang tak bisa ku cerna karna kejadian yang saat ini ku alami, seorang pria asing yang baru ku temui dan ku biarkan dia menciumi ku, pikiran ku berkelana entah kemana, merasakan ke hangatan yang menjalar di sekitar leherku
Pria yang belum ku ketahui namanya itu pun mengangkat wajahnya dari dalam leherku sambil menyeringai, aku benar benar tak mengerti arti senyuman yang begitu dingin tersebut
Ia kembali mendekatkan wajahnya padaku, begitu dekat hingga aku memahami arahnya, ku tutup kedua mataku dan seketika kelopak mataku terasa hangat karna kecupan bibirnya, aku mengikuti arah nafasnya yang kembali menuju bibirku
"Aww.. sakit"
Aku merasakan dua rasa berbeda hangat di bibirku tapi begitu perih di pipi kiriku, perlahan ku buka mataku dan yang ku lihat pria itu tersenyum begitu puas dengan pisau dan sedikit darah di ujung mata pisau yang berada di genggamannya
Kuarahkan jari ke pipi kiriku yang terasa perih, aku merasakan ada sedikit cairan di sana, "darah" aku memekik dalam hati, entah sedari kapan pria itu memegang pisaunya hingga bisa menggoreskanya di pipiku
"Mari bersenang senang"
Belum habis keterkejutan ku dia kembali menciumi bibirku bahkan melumatnya sambil menekan salah satu tangannya pada luka di pipi kiriku
Jantungku yang berdebar karena terlena dengan kenikmatan kini makin berdebar lebih cepat bukan karena terlena melainkan rasa takut yang begitu besar
Tiba tiba dia menghentikan aktifitasnya yang sedang melumat bibirku dan menjauhkan wajahnya dari ku sambil tertawa , bahkan tawa nya terdengar begitu dingin dan menakutkan
Dia kembali memperlihatkan pisaunya di depan mataku, mendekatkan pada wajahku seakan ingin mengukir sebuah karya di sana, bahkan aku tak bisa memikirkan apapun
Dia kembali menjauhkan pisaunya dari ku, kini dia menarik tubuhnya dan duduk di belakang kemudi, sambil memandangi pisaunya dia terus tertawa sambil sesekali melirik ke arahku seolah begitu menikmati wajahku yang begitu ketakutan
"Kita jeda sebentar .. nanti kita lanjutkan lagi .. aku sedang memikirkan bagaimana akan bersenang senang denganmu lagi"
Matanya kini begitu fokus menatapku,. Tak terasa bulir air dari sudut mataku mulai mengalir, aku hanya duduk tanpa ekspresi , kini yang ada di pikiranku hanyalah menikmati udara yang masih bisa ku hirup sebelum akhirnya pria itu menghabisiku
Pria itu kembali mendekatiku , menempelkan pisaunya di leherku tanpa ragu , mengawasi setiap inci wajahku dengan tatapan yang membuat siapapun akan membeku
"Apa kamu menangis ... Kamu tak suka permainanku !!!"
Suaranya begitu tinggi melengking penuh amarah , tanpa melepaskan pisaunya dari leher jenjangku , dia kembali mendekatkan wajahnya seperti sebelumnya "drrtt drttt drttttt" suara handpone menghentikan perbuatanya yang akan kembali menciumku
"Sstt siall .. siapa yang berani menggangguku" meski tak sekeras bentakan sebelumnya tapi suaranya masih bisa mendiskriminasi
Perlahan dia mengambil benda tersebut dari saku celananya , menarik pisau dari leherku dan keluar dari mobil, nampak dia bicara dengan seseorang di seberang telepon dengan sangat serius
Setelah aku menghirup udara dan menghempaskanya yang sebelumnya tak bisa kulakukan ,aku berfikir bahwa ini waktu terbaik untuk keluar dari mobil saat pria itu menjadi lengah
Ku buka pintu mobil perlahan agar tak menimbulkan bunyi apapun , aku beranjak keluar dengan tenang , bahkan aku berjalan berjinjit dengan hati hati namun "brakkk" kakiku menginjak bekas kaleng soda karena mataku sibuk mengawasi pria tersebut
Suara itupun terdengar sampai ke telinga si pria yang seketika menoleh ke sumber suara dan mendapati ku lari menjauhinya
"Siall" si pria langsung menutup telponya dan ikut berlari mengejarku
Ku kerahkan semua energiku untuk berlari secepat mungkin tapi "aww" aku merasakan seseorang menarik rambutku , kulihat senyum mengejek tergambar di wajah nya karna mampu mengejar pelarian ku dan "bukk" ku arahkan salah satu kakiku menendang biji kehidupan nya seketika tangan si pria terlepas dari rambutku dan memegangi kemaluannya
Tak ingin membuang waktu aku kembali berlari secepat mungkin, entah manusia apa, pria tersebut pun mulai mengejarku bahkan masih sambil memegangi kemaluannya
seakan tidak ada yang ku takuti lagi, aku terus berlari menembus lorong gelap yang begitu sunyi , sempat terbesit di pikiran ku kenapa aku tak menjumpai satu manusiapun sepanjang aku berlari menjauhi pria itu
Setelah semua energi yang telah ku keluarkan untuk berlari akhirnya aku menghentikan langkahku, bukan karena si pria tak mengejarku, namun karna aku menemui jalan buntu , kini bukan hanya energi ku yang habis tapi seakan tulang ku pun ikut hilang dari badanku
Aku menghadap ke arah belakangku sambil terduduk , kulihat pria itu berjalan perlahan mendekatiku masih dengan membawa pisau di tangannya , kini tangannya meraih tengkukku dan mendekatkan ke wajahnya
"Kenapa kamu meninggalkan aku , kita masih belum selesai bersenang senang" Aku hanya bisa menatap wajahnya tanpa tenaga
"Tolong ampuni aku , tolong selamatkan nyawaku " aku bicara dengan begitu lirih di barengi dengan air mata yang begitu deras mengalir ke pipiku
Kemarahan begitu tergambar di wajahnya seketika tubuhku di dorongnya hingga terhempas ke aspal
"Aww" terasa begitu perih di kedua telapak tangan ku karena ku gunakan untuk menopang tubuh saat ter hempas
perlahan ku kuatkan tekad membuka mataku kembali untuk menghadapi takdir selanjutnya, betapa terkejutnya saat aku melihat ke sekelilingku lampu begitu menyala dengan terang
ku lihat ke dua telapak tanganku yang terasa begitu nyeri , mereka baik baik saja bahkan sangat baik , ku mulai meraba pipi kiriku yang di sayat pria tadi , bahkan pipiku pun tak tak tergores sama sekali
"riniiiii..."
terdengar teriakan yang begitu keras dan terasa tak asing bagiku , ya .. itu suara sahabatku steva , apa dia datang menolong, gumamku
"kamu bilang cuman mau istirahat sebentar , dan kamu malah enak enakan tidur di sini"
hah tidur ?? apa tadi hanya mimpi ?? ku arahkan mataku memindai sekelilingku , dan ternyata aku masih di ruang istirahat butik tempatku bekerja
"hahh" aku membuang nafas lega karena semua hanya mimpi
"rin , aku pulang dulu ya .. " ku anggukan kepalaku perlahan
setelah mengunci pintu butik aku melangkahkan kaki menuju jalan raya tempat biasa aku menemui ayah ku yang selalu menjemputku setelah bekerja
"kenapa tanahnya basah , apa tadi hujan " ku alihkan pandangan dari tanah yang ku pijak ke sekitarku , dingin dan sunyi
aku terus berjalan hingga tempat yang ingin ku tuju, sesampainya di sana aku tak melihat sosok ayah yang selalu menungguku , aku berdiri menunggu di tempat itu hingga aku merasakan sesuatu yang familiar terjadi padaku
"seperti aku pernah di situsi seperti ini "
"drrrttt. drrrttt drrrtttt" hp ku bergetar ku lihat layar dengan nama Superman, tiba tiba jantung berdetak sangat kencang
"benar aku pernah di situasi seperti ini " aku membolakan mataku melihat layar hp di tangan ku
apakah ini Deja vu .....!!!!