"Tahukah, kau... semenjak kau berada di tempat ini, suasana begitu indah, dunia seakan milik kita berdua," kataku pada Karen.
"Aku tahu, mas... tapi, kau juga harus ingat aku masih ikut orang tuaku, kemanapun mereka pergi. Sudah saatnya, Ayahku yang bekerja sebagai seorang prajurit TNI AD, harus tunduk dan mengikuti seluruh peraturan yang ada. Negara memindahkan tugasnya ke wilayah L yang sekarang lagi kacau," ujar Karen.
"Iya, tapi coba kau pikirkan... kau baru saja bisa beradaptasi di sekolah ini. Biayanya pun ga murah, Karen... sulit. Jika kau harus pindah ke sekolah L, otomatis orang tuamu mengeluarkan biaya yang cukup besar lagi,"
Karen memandangku dengan tatapan penuh arti yang mendalam, "Kau pikir, aku menyukai kehidupanku yang selalu berpindah-pindah tempat, desa ke desa lain, kota ke kota lain... tidak... aku malas dan bosan, mas....tak ada solusi lain bagiku selain menjadi anak yang berbakti, "
"Dengar, kau bisa tinggal disini kost atau kontrak dulu. Selesaikan dulu sekolahmu yang hanya satu tahun ini," usulku.
Aku tahu, Karen adalah seorang yang keras kepala, patuh pada orang tuanya. Itulah yang membuatku kagum, selain ia cantik menawan, menjadi incaran kaum Adam di Sekolah SMA T ini, namun entah mengapa ia menempatkan pilihannya padaku yang hanya seorang anak pembantu RT. Jika dilihat dari gaya hidupnya, dia berasal dari keluarga yang cukup mampu, sementara aku.... perbedaannya bagai bumi dan langit. Jauh sekali. Kini Ayahnya dipindah tugaskan ke kota L, kota yang kini menghadapi situasi perang sipil. Sebuah situasi yang berbahaya untuk remaja seusia Karen yang baru menginjak 17 tahunan.
"Kami sudah memiliki tempat tinggal di kota itu, Ayah sudah mengaturnya untuk kami... haruskah aku mengabaikan atau menyia-nyiakan usaha beliau ?" tanya Karen.
Aku tidak mau berdebat dengannya lagi kalau sudah menyangkut orang tuanya... dia bukanlah seorang pemberontak sepertiku yang selalu tidak bisa menerima keadaan keluargaku. Andai aku bisa, aku akan mengajaknya pergi merantau dan menikah, tapi ... bagiku kepergian Karen yang mendadak ini bagaikan minum secangkir kopi pahit yang mungkin bagi penggila kopi nikmat, tapi, bagiku kopi itu adalah sebuah tikaman belati ke arah jantungku.