Aku adalah seorang gadis desa, yang hidup di sebuah pedesaan yang lumayan asri bagiku. Aku adalah anak pertama dari kedua orang tuaku. Sepanjang hidupku aku tidak pernah mengenal mahluk yang bernama yang laki-laki. Dalam artian, aku tidak pernah berhubungan secara dekat dengan seorang laki-laki.
Karena orang tuaku selalu mengancamku akan menikahkan diriku, secara dini, kalau aku sampai berpacaran dengan seorang laki-laki.
Sampai akhirnya aku mengenal seorang laki-laki. Laki-laki sederhana yang telah mencuri malam-malamku di masa putih hijauku. Masa SMP.
Namanya Abdul Majid, Dia anak orang kaya di desaku. Orang tuanya mempunyai sawah yang luas dan termasuk keluarga yang berharta.
Wajahnya bisa dikatakan paling tampan di antara semua laki-laki yang ada di desaku ini. Mungkin perasaan itu hadir karena, dia istimewa di hatiku saat ini.
"Niken! Cepatlah! Katanya mau berangkat tarawih? Kenapa kok malahan melamun? Anak gadis tidak boleh melamun nanti kesambet setan!" Ibuku sambil menepuk bahuku.
"Iya, Mah! Niken berangkat sekarang!" aku pun kemudian bergegas untuk pergi ke masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku untuk melaksanakan salat tarawih.
"Niken! Ayo kita ke mushola belakang saja! Kata temanku, di sana ada seorang santri yang sedang pulang dari pondoknya.
"Siapa yang kau maksud?" tanyaku agak heran.
"Abdul Majid!" seru temanku itu dengan penuh antusias.
"Huh?" seketika dan aku berdebar dengan sangat kencang mendengar satu nama yang begitu dekat di hatiku.
Dengan semangat 45, akhirnya aku mengikuti sahabatku itu untuk salat Tarawih di mushola, yang ada di bagian belakang desaku.
"May, aku malu tahu, kalau alasan aku salat tarawih di sini, hanya karena seorang laki-laki!" ucapku tertunduk lesu.
"Ayolah, Niken jangan patah semangat begitu!" ucap Maya sahabatku sambil terus memberikan semangat untukku.
"Tidak pantaslah, kalau seorang perempuan mengejar-ngejar seorang laki-laki. Apalagi aku masih anak SMP!" ucapku pada Maya. Tetapi Maya tampaknya tidak mau menyerah juga untuk menjodohkanku dengan Majid.
"Tenanglah, aku akan membantu kamu!" ucap Maya dan kami pun berjalan menuju mushola. Walaupun dengan perasaan takut, karena harus melewati tempat yang gelap.
"Ih, serem banget tau, Maya! Aku nggak mau lagi ah, salat di sana! Lebih baik aku sholat Taraweh di masjid saja yang dekat!" ucapku sambil misuh-misuh.
Maya malah terkekeh melihatku cemberut saat ini. Sebenarnya, Aku merasa kesal melihat Maya seperti itu. Kenapa dia sepertinya menertawakan perasaan takutku saat ini?
"May, coba lihat! Apa itu yang bergerak-gerak di pohon pisang?" aku berteriak sehingga membuat Maya tampak terkejut.
Maya kemudian mengalihkan pandangannya ke tempat yang tadi aku tunjuk dan seketika, Maya langsung menarik tanganku untuk berlari mengikutinya.
Saat kami berlari dengan panik, karena ketakutan dengan sesuatu yang terus bergerak di pohon pisang, putih-putih, entah apa, aku juga tidak tahu.
Tiba-tiba saja, aku menabrak seseorang yang aku tidak tahu siapa dia. Karena suasana yang gelap dan mencekam.
"Ampun! Kami gak akan lewat jalan ini lagi!" ucapku dengan gemetar ketakutan.
"Tenanglah! Aku Bukan setan!" ucap sebuah suara yang lumayan familiar di telingaku.
"Majid? Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau sengaja, ingin menakut-nakuti kami berdua?" aku memukuli dadanya karena sangking kesalnya dengan kelakuan dia.
Yang sengaja membuat kami ketakutan sehingga hampir terkencing-kencing di celana. 😁😁🤣😂
"Aku tidak sengaja atau berniat menakuti kalian, aku tidak sengaja lewat di sini, mau sholat Tarawih ke masjid!" ucap Majid sambil menatapku.
"Eh?" gumamku tanpa kusadari.
"Kenapa? Apakah ada yang aneh?" tanya Majid seakan-akan keheranan melihat reaksiku.
"Kami berdua sekarang mau salat di mushola, biar kami bisa ketemu denganmu. Eh kau malahan mau salat di masjid. Lalu untuk apa kami ketakutan di jalan seperti ini?" ucap Maya sembarangan.
Aku langsung menyikut lengan Maya agar dia diam dan tidak bicara sembarangan.
"Kenapa kalian ingin salat di Mushola, hanya untuk bertemu denganku?" tanya Majid tampak keheranan dengan apa yang dikatakan oleh Maya.
"Tidak, dia hanya bicara sembarangan saja. Tidak usah kau dengarkan. Sudah sana kau pergi, kalau mau ke masjid. Kami berdua mau salat ke musala!" ucapku kemudian aku langsung berlari sambil menarik Maya bersamaku.
Tampak Majid yang mengikuti langkah kami dan ikut salat di mushola juga seperti kami.
"Kenapa kau salat di sini juga? Katanya kau ingin salat di masjid?" tanyaku penasaran.
"Nggak apa-apa, aku hanya berubah pikiran saja!" Kemudian kami pun berpisah di tempat wudhu. Aku ke tempat wudu perempuan dan dia di tempat wudhu laki-laki.
"Nanti pulangnya, kau tunggulah aku! Aku akan ngantar kalian pulang sampai rumahmu!" ucap Majid, kemudian dia masuk ke dalam Mushola.
"Apa maksudnya dia, Maya?" Tanyaku keheranan sambil melirik ke arah Maya.
"Tampaknya, dia ingin mengantarkan kita pulang!" ucap Maya sambil terkekeh dan melirik ke arah diriku dengan genit.
"Ella! Sini, sholat dekat kami saja!" tiba-tiba Maya memanggil sepupunya untuk salat dekat bersama dengan kami.
"Eh kalian salat di sini?" ucap Ella seperti senang melihat kami berdua.
"Kamu dari mana? Kenapa baru datang sih? Aneh banget! Padahalkan rumahmu dekat dengan Mushola!" ucap Maya seperti penasaran terhadap sepupunya itu.
"Tadi aku ngobrol dulu sama Majid! Makanya aku jadi terlambat!" ucap Ella sambil tersenyum dengan bahagia. Seketika hatiku rasanya seperti tertusuk sembilu. Hatiku tiba-tiba saja merasa kesal, ketika mendengar Ela mengatakan hal seperti itu.
"Kalian sebetulnya datang ke mushola mau ngobrol atau mau salat sih? Sudah cepat, siap-siap! Itu sudah mau Iqomat, nanti ketinggalan loh!" ucapku dengan ketus sambil melarik sinis kepada Ella.
"Niken, Kenapa ya, May? Kenapa dia seperti marah padaku?" tanya Ella sambil berbisik kepada Maya.
Aku langsung meninggalkan mereka berdua, aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang mereka bicarakan. Karena aku ingin fokus dengan salat dan aku ingin segera pulang ke rumahku.
Sepanjang salat, rasanya sangat sulit sekali untuk fokus memikirkan. Karena otakku terus saja memikirkan apa yang tadi dikatakan Ella.
Apa Aku sedang cemburu? Tapi, aku cemburu karena apa? Punya hak apa aku untuk cemburu? Majid toh siapa-siapanya aku.
Setelah selesai salat Tarweg, aku bergegas untuk pulang ke rumahku. Karena sekarang perasaanku sedang tidak karuan. Aku lupa untuk menunggu Maya dan aku juga lupa dengan pesan Majid, yang mengatakan aku untuk menunggunya pulang.
"Niken! Tunggu dulu!" tiba-tiba saja Majid berlari ke arahku. Tapi aku tidak memperdulikannya sama sekali. Aku terus saja berjalan menuju ke arah rumahku. Saat ini hatiku sedang panas rasanya, gara-gara mendengarkan Ella yang katanya habis berbicara bersama Majid.
Majid kemudian menarik tanganku. Berusaha untuk menghentikan langkahku.
"Kamu kenapa? Tadi baik-baik saja kan? Kenapa sekarang malah marah dan ngamuk-ngamuk begin" tanya Majid sambil menatap keheranan ke arahku.
"Kamu, antar saja Elanya kamu pulang, nggak usah mengantarkan aku pulang!" ucapkuku sengit, kemudian pergi meninggalkan Majid.
Majid tampak bengong di tempatnya, dia tampak tidak mengerti dengan apa yang aku katakan terhadapnya.
Kemudian Maya dan Ela mendekati Majid, tampak mereka asyik berbicara. Aku hanya menatap mereka dari kejauhan. Perasaanku saat ini, semakin panas rasanya, ketika melihat mereka berbicara dengan begitu akrab.
"Dasar Maya pengkhianat! Awas saja, aku tidak mau bicara dengan dia lagi. Bisa-bisanya dia malah membiarkan Majid berduaan saja dengan Ella!" ucapku sambil terus menggerutu sepanjang perjalanan pulang ke rumahku.
Setelah sampai di rumah, Ibuku tampak keheranan melihatku yang malah marah-marah dan langsung masuk ke kamarku, setelah pulang dari Taraweh.
"Niken! Ada apa denganmu? Kenapa pulang dari mushola, kok kamu malah seperti mau menangis?" hanya Ibuku sambil mengikutiku ke kamar.
"Tiidak apa-apa Mah! Niken cuma lelah aja, mau tidur!" dustaku kepada ibuku.
"Lelah kok sampai menangis begini? Kenapa tidak mau bercerita sama mama?" tanya Ibuku sambil mengelus kepalaku.
"Niken benar-benar tidak apa-apa, Mah! Niken cuman capek saja tadi. Mungkin kelilipan matanya, makanya mata Niken seperti menangis!" ucapku dengan suara gemetar.
Tapi ibuku tidak bisa dibohongi, karena dialah yang paling mengenalku selama ini.
"Cerita saja sama mama, tidak apa-apa, sayang! Mama pasti akan membantumu kalau bisa!" ucap Mamahku lagi.
'Ya Allah. Bagaimana aku bisa bercerita pada Mamaku tentang perasaanku sama Majid? Ah, aku malu kalau harus bercerita sama Mama. Bahwa aku menangis gara-gara seorang laki-laki!' ucapku dalam hati.
"Niken serius, Mah! Niken ndak apa-apa. Sudah Mama tidur aja, nggak usah pikirin Niken!" ucapku sambil menatap kepada ibuku.
"Ya, sudah cepat kamu tidur. Supaya nanti tidak terlambat untuk bangun sahur!" ucap Ibuku sambil mencium pipiku.
Setelah kepergian ibuku, Aku berusaha untuk tidur. Tetapi rasanya sangat sulit sekali. Bayangan ketika melihat mereka bertiga berbicara dengan begitu akrab, membuatku merasa kesal sekali.
"Ya Allah kenapa perasaanku seperti ini?" aku terus berdoa di dalam hatiku, agar diberikan ketenangan dan bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
Sampai waktunya untuk sahur tiba, tiba-tiba saja ponselku berdering. Dengan malas, aku pun lalu mengangkat telepon tersebut. Tanpa melihat siapa yang memanggilku pada malam seperti ini.
"Niken! Apakah kamu sudah bangun? Ini kan waktunya sahur?" mataku langsung membola dengan sempurna, ketika mengetahui siapa yang saat ini sedang menelponku.
"Majid?" tanya aku seakan tidak percaya dengan yang sedang terjadi saat ini.
" Iya, ini aku. Aku mau minta maaf, kalau sudah membuat kamu marah!" ucapnya dengan suara pelan. Aku terdiam sejenak, masih berusaha mencoba untuk mencerna apa yang saat ini sedang terjadi kepada diriku.
Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk oleh seseorang.
" Niken, cepat bangun! Sudah waktunya untuk sahur, sayang! Nanti kamu ketinggalan!" terdengar suara Ibuku berusaha membangunkanku.
"Aku sahur dulu ya? Kamu juga jangan lupa untuk makan sahurmu. Supaya besok puasanya lancar!" ucapku kemudian mengakhiri panggilan itu.
"Kamu memaafkan aku gak?" tanya Majid, ketika aku akan menutup panggilan telpon dia.
"Atas kesalahan apa?" Tanyaku dengan pelan.
"Aku juga tidak tahu kesalahanku, apa. Bukankah, tadi malam, kamu tiba-tiba saja marah padaku? Dan kamu tidak menjelaskan apa kesalahanku!" ucap Majid perlahan.
"Niken! Cepat sahur!" kembali suara Mamaku mengejutkan kami berdua.
"Kita besok bertemu ya? Aku akan menjemputmu sebelum berangkat ke sekolah! Bagaimana?" tanya Majid. "Baiklah, aku akan menunggu kamu!" Setelah itu aku langsung menutup panggilan telpon dari Majid, aku segera keluar dari kamarku untuk melaksanakan sahur.
Setelah selesai shahur, aku berniat untuk tidur lagi, masih ngantuk soalnya.
"Tunggu sholat shubuh! Nanti kebablasan kalau tidur lagi!" ucap Mamah mamahku.
"Bentar doang, Mah!" ucapku ngeyel.
Mamahku hanya geleng-geleng saja, ketika melihatku tidak mendengar apa yang di katakannya.
Tepat jam 06.00 aku bangun, dengan tergesa aku mandi dan sholat shubuh.
"Kan Mama juga bilang apa?" ucap Mamaku, saat melihat aku yang blingsatan mau sholat shubuh karena terlambat bangun.
Setelah sholat aku langsung bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Saat aku hendak ambil sepeda milikku, tampak majid sudah menungguku di depan rumah dengan motornya.
Dengan agak ragu, aku mendekati dia. "Ada apa?" tanyaku agak canggung.
Jujur, ini kali pertama aku dekat dengan seseorang, dalam usiaku yang ke 14 tahun, aku sekarang kelas 1 SMP. Masih ABG, belum layak untuk cinta sama orang lain. Apalagi seorang pria seperti Majid, yang sudah menjadi anak kelas 2 SMA.
"Ayo naik, aku antar ke sekolah." ucap Majid.
"Gak mau! Nanti kalau Mama lihat, aku bisa di nikahin muda!" tolakku.
Mendengar apa yang aku katakan, Majid tampak tertawa terbahak-bahak. Merasa lucu dengan apa yang aku katakan.
"Kita gak ngapa-ngapain kok! Kenapa harus di nikahin? Kan aku cuma antar kamu sekolah saja, Niken!" ucap Majid setelah dia selesai tertawa.
"Tapi aku malu, nanti pasti di sekolah di ledekin, sama teman-temanku. Kalau mereka melihat, aku di antar sama kamu." aku keukeuh menolak di antar oleh Majid ke sekolah.
"Aku berangkat dulu ya, takut telat soalnya!" aku lalu mengambil sepedaku dan meninggalkan majid yang tampak kesal kepadaku.
"Aku mau bicara sama kamu, lalu gimana dong?" tanya Majid tampak bingung.
"Nanti jam istirahat, kamu ke sekolah ku saja! Aku akan menunggu kamu di sana!" ucapku, lalu aku mulai naik sepedaku.
Aku lihat Majid mulai naik ke motor dia. Tampaknya dia kecewa karena aku menolak untuk dia antar ke sekolah.
"Kalau aku ikut sama dia, bagaimana nanti aku pulang? Lagi puasa, malas kalau jalan kaki. Dia gak mungkin antar aku pulang. Jam pulang kami berbeda!" ucapku dalam hati.
Tampak Majid melakukan motornya dan mendahuluiku. Sekitar 10 meter di depanku, aku lihat Majid membonceng Ella. Entah kenapa rasanya hatiku sakit sekali.
"Mengajakku berangkat bareng, karena aku tolak. Dia malah bonceng perempuan lain! Sungguh bukan tipe pria setia! Kayaknya cinta sama dia cuma bikin sakit hati saja! Mendingan aku fokus sekolah saja! Mikirin laki-laki di usiaku ini, hanya bikin sakit hati saja!" ucapku pada akhirnya.
Aku memutuskan untuk melupakan perasaan cinta monyet ini kepada Majid. Karena aku sudah lelah untuk menangis setiap melihat Majid dekat dengan Ella, tetangga rumah dia.
Setelah aku sampai sekolah, aku langsung masuk ke kelasku. Aku lesu seketika, ketika mengingat Ella yang berangkat sekolah bersama Majid.
"Masih pagi sudah bikin bad mood!" keluhku dalam hati. Aku mulai uring-uringan gak jelas.
"Kenapa Niken? Masih pagi kok sudah Bete?" tanya teman sebangku, Wakiah. Anak asal Bojong.
"Gak apa-apa, kok!" jawabku lalu menutup wajahku dengan tangan, guru belum datang jadi aku masih bisa bersantai sebentar. Sebelum jam masuk sekolah.
Ini bulan Ramadhan, jadi masuk sekolah jam 08.00 dan pulang jam 12.00.
Ketika jam pelajaran di mulai, kami pun belajar dengan serius. 'Sebentar lagi jam istirahat. Apa aku akan menemui Majid?' tanyaku dalam hati.
Gara-gara Majid, aku jadi gak bisa konsentrasi dalam belajar.
Jam istrahat berbunyi, karena sekarang bulan puasa, jadi walaupun istirahat, kami gak ada yang ke kantin. Kami hanya main dan ngobrol bersama teman saja.
Aku menoleh ke arah jendela, aku lihat Majid sudah berdiri di tempat kami janjian akan bertemu.
Hatiku masih kesal, gara-gara melihat Majid yang tadi mengantarkan Ella. Seketika hatiku sakit dan marah. Aku putuskan untuk melupakan janjiku tadi pagi, untuk bertemu dengan Majid.
"Niken, ada yang cari kamu di gerbang!" tuba-tiba saja, Taufik anak kelas 1a masuk ke kelasku. Mengatakan kalau ada yang mencariki.
Dengan langkah gontai aku lalu menemui orang yang mencariku, yang ternyata adalah Majid.
"Kamu katanya mau menunggu aku, kok malah harus aku panggil, kamu baru datang?" tampak Majid protes kepadaku.
"Mau apa memang?" tanyaku agak kesal.
Aku masih sakit hati, ketika mengingat tadi Majid semotor sama Ella. Tadi malam mereka juga asyik ngobrol tanpa melihatku sama sekali.
"Kita cari tempat buat bicara, ya?" tanya Majid sambil mencoba megang tanganku.
Aku langsung menjauh dari dia. Majid mengerutkan keningnya, tampak tidak suka dengan apa yang aku lakukan.
"Kenapa aku merasa kalau kamu selalu saja menghindari aku?" tanya Majid to the point.
"Kamu temui Ella saja, gak usah cari aku lagi!" ucapku lalu meninggalkan Majid yang tampak kebingungan dengan apa yang aku katakan.
"Maksud kamu?" tanyanya heran.
"Kamu suka sama Ella, kan?" tanyaku dengan suara gemetar. Aku benci saat ini. Aku sudah mulai menangis saat ini.
"Siapa yang bilang?" tanya Majid keheranan.
"Kamu yang bilang! Semalam kamu asyik ngobrol sama dia. Tadi juga kamu bonceng dia?" ucapku sengit.
"Kamu melihat itu?" tanya Majid tampak salah tingkah.
"Tadi pagi Ella minta ikut sama aku. Kebetulan motorku kosong, jadi aku ajak dia sekalian! Kamu sih, gak mau aku antarkan! Bukan salahku kalau aku pergi sama Ella!" ucap Majid sambil menatapku.
"Ya sudah, kamu pergi saja sama Ella! Gak usah mencari aku lagi!" aku langsung pergi meninggalkan Majid yang kini bengong di tempat dia berdiri.
Hatiku sangat sakit saat ini. Aku menangis saat sampai ke kelasku. Tampak Majid masih berdiri di sana. Masih keheranan denganku yang menangis saat meninggalkan dia.
"Kamu kenap Niken?" tanya Wakiah kepadaku.
"Gak apa-apa!" ucapku sambil menghapus air mataku yang gak mau berhenti.
'Aku harus benar-benar melupakan dia!' janjiku dalam hati.
'Jatuh cinta di usiaku saat ini, hanya membuat luka di hati dan bikin sedih setiap hari. Mendingan aku fokus belajar saja! Gak usah buang waktu dan tenaga untuk masalah cinta!' tekatku dalam hati.
Setelah itu aku langsung menghapus air mataku dan mulai menatap masa depanku dengan lebih positif.
Aku tidak lagi memikirkan Majid, kini aku kalau sekolah juga selalu ambil jalur yang tidak di lewati oleh Majid. Aku selalu berputar dan tidak pernah bertemu dia lagi.
Bahkan sampai hari lebaran tiba, aku juga menghindari agar tidak bertemu sama dia. Aku sudah bertekat akan mengubur dia untuk selamanya dalam hatiku.