Seingatku, tidak ada yang pernah memelukku sesering ayah. Bahkan, mantan-mantanku yang berjumlah lima orang pun, hanya memelukku paling banyak tiga kali ketika kami masih berhubungan. Namun, pria yang sekarang di hadapanku ini mengingatkanku pada 14 tahun lalu, ketika kami disuruh berpelukan oleh seorang alumni yang waktu itu bekerja serabutan dan suka membentak juniornya.
Momen yang terjadi empat belas tahun lalu itu masih saja melekat di benakku. Tengah malam di wilayah kaki gunung, kami yang menggigil itu disuruh berbaris dua banjar setelah pergi melakukan perjalanan malam dan menyelesaikan kuis-kuis di lima pos pemberhentian yang berbeda. Jumlah peserta perempuan dan laki-laki yang masing-masing tidak genap pun membuat adanya laki-laki dan perempuan yang berada di banjar yang sama.
“Sudah, kalian ini bukan anak SD lagi. Kalian sudah besar. Sekarang, barisan depan balik kanan, lalu peluk siapapun di belakang kalian!” ceramah senior galak itu. “Balik kanan, grak!”
Usai terdengar suara hentakan sepatu yang serentak, masing-masing peserta segera melakukan yang diperintahkan. Entah saling akrab atau tidak, mereka membisikkan kata-kata penyemangat dan meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah dilakukan. Begitupun aku dan Tian, yang tahun itu berada di kelas yang sama. Dengan posisiku sebagai sekretaris kelas dan Tian ketuanya, kami yang saling berpelukan itu pun meminta maaf untuk segala dosa masing-masing selama berkoordinasi.
Setelah melepaskan pelukan, beberapa peserta berdeham guna menggoda kami. Namun, mereka tidak mengatakan apapun ketika kutanyakan alasan mereka berpura-pura batuk. Tian pun menyuruhku mengabaikan mereka dan fokus beristirahat di tenda untuk kegiatan di pagi hari.
"Aduh, aduh. Untunglah aku tadi ngga berdiri di belakang Tian. Nanti kami malah bertengkar," sindir teman satu tendaku yang satu SD dengan Tian.
Aku membalasnya dengan kekehan pelan yang disambut dengan sahutan teman-teman satu tenda lainnya mengomentari perintah pelukan tadi. "Kalian mau peluk aku? Kita belum bermaafan," tawarku.
"Ah, kamu sih ngga ada salah. Ngga ada yang perlu dimaafkan," balas gadis yang sama dengan yang menyindirku pertama kali. "Sudah yuk, tidur saja. Takut nanti dibentak senior," lanjutnya.
Mendengar kalimat terakhir dari gadis itu, semua penghuni tenda segera berbaring dan memejamkan matanya agar cepat tertidur. Namun, sebelum semuanya benar-benar terlelap, seseorang memecah keheningan tenda, "untungnya, Tian tidak setampan Lee Minho, ya. Kalau aku jadi Cindy, aku mau sekalian menyatakan cinta ke laki-laki yang kupeluk."
Penghuni tenda lainnya termasuk aku pun berbarengan menyuruhnya diam. Setelahnya, tidak ada yang berbicara lagi. Kami melepas lelah hingga semburat mentari menyapa dan para senior membangunkan untuk segera membereskan area tenda. Kegiatan pun dilanjutkan dengan jalan santai mengunjungi objek wisata berupa waduk yang dibangun tak terlalu jauh dari area perkemahan.
Pemandangan waduk yang asri memanjakan mata setiap orang yang berjalan. Lalu, peserta kemah dibebaskan duduk di mana pun seluas area waduk. Ada yang mengajakku duduk di warung, tetapi aku lebih suka menikmati sinar matahari sehingga memilih duduk di pinggiran waduk, menyendiri agak jauh dari gerombolan senior.
Suasana kondusif dengan keasyikan masing-masing hingga sekonyong-konyong, seorang lelaki teman sekelasku menghampiri. Mataku terbelalak ketika menoleh ke arahnya, tetapi ia balik lagi untuk menyeret Tian ke hadapanku. Tangan yang bergetar karena tak tahu yang akan terjadi pun kukepalkan sambil sesekali membelai rerumputan.
"Cindy! Tian harus bicara denganmu," ucap teman sekelasku dan Tian. Namun, pria yang dituduh itu masih terdiam. "Hei! Ayo, cepat katakan!"
Aku yang tak mampu mencerna apa yang terjadi pun hanya bisa berkata, "ada apa ini?" Rupanya, tanpa kusadari, anak-anak perempuan juga telah mengerumuniku.
"Jangan pura-pura tidak tahu!" seru mereka.
Teman sekelasku dan Tian sekali lagi membentak pria itu. "Cepat, Tian! Jangan menyesal! Lagipula tadi malam kalian sudah berpelukan!" serunya seolah bersemangat.
Tian yang terdesak pun akhirnya mengeluarkan isi hati. "Cindy, aku menyukaimu."
Sorakan yang dimaksudkan untuk menggoda kami pun bersahutan di udara. Mereka mendesakku untuk segera menjawabnya walaupun aku tidak tahu harus menjawab apa. Sepertinya, aku bahkan butuh waktu yang tak singkat untuk menentukan keputusan.
"Terima! Terima! Terima!" sorak mereka yang membuat kami semakin terdesak.
Beberapa saat kemudian, tangan Tian meraih tanganku yang masih duduk bersila di atas rumput. Kemudian, ia berlutut tanpa melepaskan genggamannya setelah aku berdiri. "Sebenarnya, hari ini adalah ulang tahunku," ucap Tian. "Maukah kamu memberiku hadiah dengan menjadi pacarku, Cindy?"
"Tuh, orangnya lagi ulang tahun! Terima saja! Terima! Terima!" sorak kerumunan orang-orang lagi.
Aku memejamkan mata. Selama ini, aku tidak tahu bagaimana kesungguhan anak SMP yang baru saja menyatakan perasaan padaku di hari ulang tahunnya. Dengan tanganku yang tergenggam erat dengan Tian, desakan dari orang-orang yang bersorak, dan kedekatan kami selama berkoordinasi sebagai pengurus kelas, akhirnya aku pun menerimanya. Tian bangun dari posisi berlutut, lalu memelukku lagi seperti tadi malam. Ia juga menepuk bahuku sambil mengucapkan terima kasih.
Bahkan, tepukan tangannya di bahuku beberapa menit lalu, masih sama seperti 14 tahun lalu. Kali ini, ia datang menyelamatkanku dari ramainya kerumunan orang yang berjejal. Padahal, ketika umurku masih setengah dari usia yang sekarang, aku pernah berjanji untuk melupakannya seumur hidup dan tidak mau mengingat apapun. Sebab, pria yang menyelamatkanku ini adalah orang yang sama dengan orang yang 14 tahun lalu menghadiahiku hubungan percintaan yang tak bisa dilanjutkan.
“Kamu ini masih sering panik di tengah kerumunan ya, Cindy?” komentarnya. “Percuma wajahmu bertambah cantik kalau masih belum mampu mengendalikan rasa panik,” lanjut pria itu.
Aku pun mendengus kesal. “Lagipula, aku tidak menyangka jika tempat ini jadi lebih ramai. Sudah bertahun-tahun pula aku tidak ke sini, Tian” balasku.
“Iya, baiklah,” ucapnya. Tangannya membelai rambutku dan kubiarkan saja. “Semoga kamu bisa segera menghilangkan kepanikan itu, ya.” Tian pun berdiri dan mengajakku ke dekat jalan yang lebih sepi lagi, hanya ada lalu lalang kendaraan.
“Memangnya ada apa, sih?” tanyaku keheranan. “Aku mengikutimu sampai sini karena benar-benar ingin lepas dari kerumunan, ya. Jangan sampai ada yang salah paham,” jelasku.
“Sebentar lagi, my princess akan ke sini diantar supir pribadi kami,” jawabnya.
Aku mengerutkan kening mendengar kata ‘princess’ yang sering ia pakai ketika kami masih menjalin hubungan. Namun, melihat ekspresiku yang keheranan, pria itu buru-buru menjelaskan maksudnya sebelum mulutku terbuka. “My princess adalah panggilan yang sering kupakai untuk memanggil anakku. Namun, ibu kandungnya yang lebih tua empat tahun dariku, sudah dipanggil duluan menghadap Tuhan.”
“Kasihan sekali,” balasku iba. “Semoga dia bisa tumbuh dengan benar dan segera memiliki ibu pengganti,” harapku.
Tian pun menatapku. “Bagaimana kalau kamu saja yang jadi ibu kedua untuknya?” tawar Tian. Sontak, keningku mengerut lagi karena ia sendiri tidak ada bedanya dengan 14 tahun lalu, selalu inisiatif lebih dahulu untuk mengajakku menjalin asmara.