Malam dingin, angin berhembus kencang menusuk tulang, gemuruh petir diselingi beberapa kali cahaya kilat menerangi bumi dengan cepat.
Langkah kaki seorang laki-laki remaja mulai memasuki kawasan pemakaman.
Hal lumrah jika biasanya ada orang yang mengunjungi makam saat matahari masih bersinar di bumi, tapi tidak dengan Reino. Laki-laki itu, berjalan menuju sebuah makam dengan keadaan basah kuyup di tengah derasnya hujan.
Tepat dia berdiri di depan sebuah makam yang dapat tercium jelas bau tanahnya, makam itu baru ada di sana sekitar 2 hari yang lalu.
Kaki Reino melemas dan dia bersimpuh di depan makam tersebut, dirinya menangis. Kini air mata yang dia tumpahkan tersamarkan dengan derasnya air hujan yang semakin mengalir.
"Aira, kenapa lo harus pergi secepat ini. Lo kan udah janji buat rawat gue sampai sembuh, lo gak mau dengar kabar kalau gue sembuh dan berhenti buat cuci darah? Gue yang sudah sakit, tambah sakit Ai. Mama, Papa, Kakak, mereka semua udah gak ada. Gue cuma punya lo, tapi kenapa lo juga harus pergi!" tangis Reino masih belum berhenti.
Dirinya terkekeh samar, "dunia gak adil ya sama gue? Gue juga mau bahagia, tapi kayaknya bukan dengan cara hidup di dunia," ucap Reino yang mulai meringkuk di pinggir makam, meremas bajunya untuk menahan rasa sakit yang mulai menjalar di area pinggang.
🍂
Aira berlari di sebuah taman dandelion yang sangat indah di sana, dirinya memekik senang saat bunga-bunga tersebut beterbangan dan membuat pemandangan taman tersebut semakin indah.
"Ayo dong Rei, masa gak bisa ngejar aku," teriak Aira terus berlari-lari di sana."
"Ai, hati-hati jangan lari terlalu jauh," ucap Reino yang masih berlari mengejar Aira. Reino juga begitu senang, dirinya masih mengejar Aira, tapi kenapa terselip rasa khawatir di dalam dirinya.
Di ujung sana, Aira sudah menunduk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. Sepertinya gadis itu kelelahan dan memilih berhenti sejenak. Melihat itu Reino menambah kecepatan berlarinya dan berhasil membawa Aira ke dalam pelukannya.
"Jangan lari-lari. Aku capek." Reino bersandar di bahu Aira.
"Aku senang banget hari ini. Rasanya aku udah ada di ujung kebahagiaan deh Rei. Aku senang banget," pekik Aira mempererat pelukannya.
"Eh, kok ngomong-nya aneh gitu." Tukas Reino.
Aira mengurai pelukan mereka, "aku kan emang ada di ujung kehidupan Rei," ucap Aira tersenyum begitu lembut. Tidak sadar mata Reino tiba-tiba mengalirkan setetes air membasahi pipinya, saat perlahan tubuh Aira mulai berangsur lenyap di hadapannya.
"Aira," gumam Reino.
"Susul aku ya," ucap Aira seperkian detik setelah tubuhnya benar benar lenyap.
Duarr...
Reino langsung bangun dari tidurnya, dengan keringat yang sudah membasahi tubuh. Suara petir terakhir kali membuat dirinya bangun.
"Aira," ucap Reino lalu berlari menyambar kunci motor dan pergi ke suatu tempat yang sekarang menjadi tempat peristirahatan terakhir orang yang begitu dia sayangi, setelah keluarnya tiada.
🍂
"Gue mau ke rumah baru sama lo dan keluarga Ai, gue gak bisa tinggal sendiri tanpa keluarga," Reino mengerang semakin meringkuk, saat rasa sakit di area pinggangnya seolah menguasai seluruh tubuh.
Darah yang semakin banyak mengalir dari hidung, membuat kepala Reino seakan ingin meledak menahan sakitnya.
"Gue pulang ke rumah baru," kekeh Reino yang bercampur erangan sakitnya.
Perlahan pandangannya buram, bersamaan dengan itu hujan yang sudah berhenti, dengan cepat menampakkan sinar bulan dan beberapa bintang menghiasi langit. Reino tersenyum melihat keindahan itu untuk terakhir kalinya, "aku nyusul kalian," gumamnya.
🍂🍂🍂