Mentari pagi bersinar begitu cerah.
Sayup-sayup terdengar suara lonceng menggema ke seluruh lorong koridor sekolah. Siswa dan siswi yang bersemangat berlarian menuju kelas masing-masing. Para guru ikut bergegas kembali ke dalam ruangan kantor. Bukan untuk menetap, akan tetapi untuk mengambil buku pelajaran.
Setiap detik yang berlalu mengikis rasa haus akan ilmu. Langkah kaki para guru memasuki kelas dengan suara salam mengawali hari baru. Wajah-wajah beragam menyambut pagi ini.
"Selamat pagi," sapa Bu Guru sekali lagi agar semua murid bersemangat.
"Pagi, Bu Rida." jawab serempak semua siswa.
"Baiklah, ayo buka halaman duapuluh satu. Kita lanjut pelajaran kemarin...,"
"Bu, bisa ndak, kalau hari ini belajarnya tunda?" tanya siswa dengan seragam name tag Aisyah.
"Hust, Ais. Kamu ini naon?" tanya teman sebangku Aisyah seraya menyenggol pelan untuk mengingatkan agar tidak membuat ulah.
Bu Rida menarik nafas dalam, ia tahu bagaimana trek records siswi yang satu itu. Siapa guru yang tidak mengenal seorang remaja hijabers, tapi kelakuannya benar-benar minus. Namanya Aisyah Humaira. Sungguh nama indah dengan makna yang baik. Hanya saja setelah mengingat semua list kenakalan remaja itu. Siapapun pasti harus sabar.
"Ais, mau ikut pelajaran ibu atau bersihin toilet?" tanya Bu Rida pelan tanpa tekanan hanya untuk memberikan peringatan secara baik.
Aisyah membuka tutup pulpennya, lalu menuliskan sesuatu di atas selembar kertas. Ntah apa yang ditulis remaja itu. Hanya saja tatapan melongo teman sebangku nya. Sudah cukup menjelaskan, jika sebentar lagi pasti akan ada drama sekolah.
Ais merobek kertas itu, lalu berjalan meninggalkan bangku. Tak ada yang berani menegurnya, bahkan Bu Rida masih sabar membiarkan siswi satu itu menghampirinya. Selembar kertas terulur, dan diterima sang guru. Di saat bersamaan, Ais bergegas berlari keluar dari kelasnya.
Sementara Bu Rida membaca puisi singkat yang ditulis Ais untuknya. Tulisan yang begitu rapi, tapi tetap saja membuat rasa di hati bergejolak. Bagaimana tidak? Tulisan itu benar-benar memberikan satu tamparan keras sebagai seorang guru. Kenyataan yang mungkin memang harus diterima dengan hati yang lapang.
Dear Teacher
Mentari diatas langit adalah sinar harapan. Layaknya Ilmu pengetahuan menjadi jendela dunia.
Kalian adalah panutan setiap generasi muda.
Bimbinglah kami seperti goresan pena.
Ajarkan kami untuk tetap bangkit ketika terjatuh.
Kenakalan bukan suatu kebodohan, tetapi sebuah proses memperbaiki diri.