Aku duduk sendiri di pojokan cafe ini. Secangkir coklat panas mengepul di atas meja tepat dihadapanku. Ku ambil cangkir itu, menghembuskan udara ke atasnya dan kemudian menyesapnya secara perlahan. Kunikmati kehangatan coklat panas itu sembari menatap gerimis di jendela kaca tempat dimana aku duduk. Aku mengamati kegiatan di luar sana. Dapat terlihat beberapa pengendara motor menghentikan motornya dan mengenakan jas hujannya kemudian.
Tampak pula beberapa pekerja kantoran yang mengeluarkan payung dari dalam tas kerjanya dan kemudian menggunakannya untuk melindungi diri dari hujan. Ada pula para pedagang kaki lima yang memilih berteduh di emperan-emperan toko yang masih tutup, juga para pejalan kaki yang memilih untuk mempercepat langkah kakinya ke tempat tujuannya daripada membuang waktu untuk sekedar mencari tempat berteduh.
Sejenak kemudian, pikiranku melalang buana ke masa lalu meski mataku masih menatap keramaian di luar sana dengan hujan sebagai latarnya.
Flashback On
"Jangan menatapku seperti itu Gar...," ucapku pada lelaki yang tengah sibuk menatap ke arahku.
Aku menghentikan sementara kegiatanku yang sibuk memilah buku-buku yang tidak terpakai untuk di loakkan di gudang kantor. Namun, seseorang yang kupanggil dengan sebutan Gara itu seolah menulikan pendengarannya atau ia memang sama sekali tidak menghiraukan ucapanku.
"Berhenti menatapku seperti itu...!!" ucapku lagi memberi penegasan di akhir ucapanku.
"Emang kenapa sih? Mata-mata aku kok kamu yang sewot," ujar Gara.
"Ih, tapi akunya tuh risih kamu liatin kayak gitu," sungutku kemudian.
Dia malah terkekeh sebelum menanggapi keluhanku.
"Risih apa malu? Jantung kamu berdebar-debar nggak aku tatap kek gitu?" tanyanya kemudian.
Aku memutar bola mataku malas mendengar pertanyan absurdnya itu, enggan pula aku untuk menjawabnya.
"Kenapa sih aku nggak boleh natap kamu kek gitu? Kamu takut jatuh cinta sama aku ya kalau aku natap kamu kek gitu...," ucapnya kemudian dengan nada mengejek.
"Ish...," ucapku kemudian tidak menanggapi ucapannya yang sudah terlampau absurd itu.
"Jujur aja deh Na, jantung kamu berdebar-debar kan? Kamu takut jatuh cinta sama aku kan? Makanya nggak ngebolehin aku natap kamu kek gitu," selorohnya.
"Masa bodoh Gar..," ujarku kemudian.
Flashback Off
🥀🥀🥀
Beberapa menit kemudian, tampak lelaki itu memasuki Cafe. Tampak pakaian di pundak kanannya basah, mungkin terkena tempias air hujan dari payung yang dikenakannya tadi?
"Kenapa bisa basah?" tanyaku kemudian.
"Buru-buru pingin ketemu kamu sih, jadi nggak nyadar kalau payung yang aku gunakan miring. So, jadi basah gini deh....," ucapnya.
"Kamu ada-ada aja. Ngapain buru-buru sih, toh akunya juga masih akan disini nunggu kamu datang...," Ucapku.
Dia mengangkat bahu.
"Entah rasanya aku nggak mau kehilangan semenit saja waktu bersama kamu. Seolah aku bakal nggak akan bisa liat kamu lagi....," Ucap Gara.
Aku pun hanya terdiam mendengar penuturannya. Lidahku semakin kaku, rasanya aku tak sanggup untuk berkata-kata. Bisakah aku menyakiti lelaki di hadapanku ini? Sanggupkah? Jujur, aku masih menaruh seluruh perasaanku untuknya. Tapi, bukankah ini salah? Karena sampai kapanpun kami tak akan bisa menatap masa depan yang sama.
Dengan gemetar aku mengeluarkan undangan itu dari dalam tas jinjingku. Aku mengulurkan ke tangannya tanpa menatap wajahnya.
"Na, ini......," ucapnya.
Ia seolah tidak mempercayai apa yang dilihatnya itu. Aku menganggukkan kepala.
"Aku akan menikah....," Ujarku kemudian dengan suara yang bergetar.
Dia mengalihkan atensinya dari undangan pernikahanku ke wajahku. Aku melakukan hal yang sama, mengalihkan atensiku dari pilinan tanganku untuk menghilangkan kegugupannya tadi dan beralih menatapnya.
Ada luka dalam tatapan itu. Dapat ku lihat kesedihan disana. Dia menatapku tepat di manik mataku. Aku pun langsung mengalihkan pandanganku, karena rasanya pun menyakitkan bagiku. Bagaimana mungkin aku baik-baik saja setelah menyakiti lelaki yang selama ini masih menempati hatiku?
"Kenapa?" tanya nya kemudian. Suaranya pun tak kalah bergetar dengan suaraku tadi.
"Aku...dijodohkan....," Ucapku masih dengan nada suara bergetar juga.
"Kamu iyakan?" Tanya nya lagi.
"Aku tidak bisa menolak....," Ucapku.
"Lantas hubungan kita....?"
"Hubungan kita tidak bisa kemana-mana Gar. Kita akan selalu berjalan di tempat. Karena itu, aku memutuskan untuk memilih jalan ini....," Ucapku. Kali ini, tak hanya suaraku yang bergetar, perlahan-lahan air mataku jatuh membasahi pipi.
"Tapi Na, kita....,"
Aku menarik napas dalam, mencoba untuk memberi ketenangan pada diri.
"Kamu tahu kan Gar, sampai kapanpun aku tidak akan menggadai imanku bahkan untuk cinta sekalipun. Jadi, secinta apapun aku sama kamu aku akan memilih untuk melepaskan perasaan itu....," Jelasku kemudian.
Gara terdiam, sepertinya dia juga sependapat denganku karena hal itupulalah yang membuatnya tetap memegang teguh imannya. Kami berdua adalah manusia yang sama2 terjebak dalam satu rasa yaitu cinta, namun iman membuat kita sadar bahwa sampai kapanpun kami tidak akan bisa bersama.
Akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya. Menerima semua keputusan yang telah ku buat.
"Kamu benar, Na. Tidak ada masa depan dalam hubungan kita. Kita tidak bisa melawan takdir terlebih iman yang membentengi diri kita. Mari kita akhiri, kamu dengan jalanmu dan aku dengan jalanku....," Ujarnya.
Kali ini air mataku tak mampu ku bendung lagi. Ia mengalir semakin deras. Sekalipun telah ku persiapkan matang-matang semalam suntuk agar aku bisa menghadapinya tanpa berurai air mata, nyatanya semuanya sirnah. Aku tak mampu menahannya untuk jatuh.
"Terima kasih untuk mau mengerti. Terima kasih untuk semua waktu yang pernah kita lalui. Terima kasih untuk setia mendengar semua keluh kesahku. Dan terima kasih sampai hari ini kamu bersedia membersamaiku. Aku tahu ini sulit, untukku, untukkmu. Tapi, kita harus tetap melaluinya bukan?" Ujarku.
"Iya. Aku juga berterima kasih juga padamu Na, atas semuanya. Semoga kamu bahagia dengannya ya....," Ujarnya kemudian.
"Ma'af atas keputusanku yang menyakitimu....," Ujarku kemudian.
Dia menganggukkan kepala. Setelahnya, aku pun berpamitan untuk pulang. Ia mengizinkan. Setelah berada di luar Cafe untuk menunggu jemputanku, aku masih menatapnya dari balik jendela kaca untuk yang terakhir kalinya. Dapat ku lihat Gara menyembunyikan wajahnya di kedua tangannya. Ia menelungkup di atas meja tempat kami duduk tadi. Menagiskah ia? Pikirku.
Ini pertama kalinya aku melihat Gara seperti itu. Dan lebih dari apapun, melihatnya seperti itu menyakitiku banyak. Rasanya aku ingin kembali kesana memeluknya dan memberinya semua cinta. Namun, aku tidak bisa. Imanku, lebih berharga dari apapun juga dan itu harga mati yang telah ku tetapkan.
"Ma'af Gar, selamat tinggal. Mungkin ini jalan terbaik yang Tuhan tunjukkan. Kamu bisa melaluinya begitupun denganku....," Ujarku lirih tanpa ada yang mampu mendengarnya.
Hingga kemudian aku pun pergi meninggalkan tempat itu dan membawa pergi segenap cintaku yang pernah ku beri untuknya.
~END~