"Usia kamu sudah dua puluh tujuh nduk, sudah pantas untuk menikah. Apa yang mau kamu tunggu lagi?" tanya Budhe Ratih padaku.
Aku hanya terdiam dan tak dapat berkata-kata.
"Lupakan Azka, mungkin ia sudah bahagia dengan pilihannya...," Budhe Ratih berujar lagi dan aku masih terdiam.
"Kamu harus bisa ikhlas, mungkin Azka memang bukan jodoh kamu. Sudah lima tahun kamu menunggunya tapi tidak ada kabar sama sekali darinya. Beri kesempatan untuk Nak Alaric masuk dalam kehidupan kamu. Mungkin memang dia lah yang ditunjukkan oleh Allah sebagai jodoh kamu...," ujar Budhe Ratih.
Air mataku meluruh kemudian, tanpa bisa ku tahan lagi. Aku menangis dan Budhe Ratih kemudian meraihku dan memelukku. Menepuk pelan punggungku yang bergetar karena isakanku.
"Tapi Budhe...Lana belum merasa nyaman dengan Alaric....," ujarku sembari menggigit bibirku untuk sedikit meredam isakan tangisku.
"Rasa nyaman bisa didapatkan setelah akad nikah nduk, kamu tidak perlu khawatir untuk itu. Lagipula, kamu juga sudah cukup mengenal Alaric bukan?" tanya Budhe Ratih.
Aku menganggukkan kepala ku untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Budhe Ratih. Aku memang mengenal calon lelaki yang dijodohkan denganku itu. Dia Alaric, Alaric Tristan Alastair. Ia teman satu sekolahku dulu dari taman kanak-kanak hingga bangku SMA kita selalu satu sekolah. Bahkan di bangku perkuliahan pun aku tanpa sengaja bertemu dengannya, ternyata kami juga berkuliah di Universitas yang sama meski dengan jurusan yang berbeda.
Apakah itu semua bukan karena kebetulan tapi melainkan takdir? Apakah Allah sengaja selalu menempatkan aku dan Alaric bersama karena telah ada ikatan jodoh diantara kita? Ya, Allah apakah memang aku harus menerima Alaric sebagai pasangan hidupku? Banyak pertanyaan berkecamuk di pikiranku. Dan air mata tak henti mengiringi setiap kegundahan hatiku.
"Pikirkan baik-baik nduk, Budhe nggak memaksa kamu untuk menerima nasehat Budhe. Karena kembali lagi kamu yang bakal menjalaninya. Jangan lupa minta petunjuk sama Allah, nduk..," ujar Budhe sembari meninggalkan ku yang masih terduduk di pinggiran ranjang.
Aku menatap jendela kamarku, tampak di luar rumah sepeda motor Alaric masih terparkir disana. Lelaki itu tampaknya masih belum beranjak pulang. Mungkin, lagi asyik main catur sama Pakdhe seperti biasa. Ini sudah ketiga kalinya, Alaric mengajukan lamaran kepadaku lewat Pakdhe dan Budhe, tapi aku masih sama, belum bisa memberikan jawaban untuknya.
Ia berkata bahwa ia akan setia menunggu jawabanku, ketika jawabanku sudah jelas mengatakan "iya" maka dia akan membawa orang tuanya untuk melamarku secara resmi. Namun, jika sebaliknya maka ia akan berhenti untuk menungguku. Aku semakin merasa bersalah setiap kali melihatnya yang masih memberikan senyuman teduhnya untukku padahal aku memberinya ketidakpastian.
Namaku Alana, lengkapnya Alana Salsabillah Archandra. Aku sudah tidak mempunyai orang tua, mereka sudah meninggal. Ibuku meninggal saat usiaku 22 tahun, sementara ayahku menyusul kepergian ibuku setelah tiga tahun. Selama dua tahun ini, aku tinggal bersama dengan Budhe dan Pakdhe. Rumah mereka tepat berada di samping rumah peninggalan orang tuaku. Tapi, Budhe dan Pakdhe lebih sering tidur di rumahku, sementara rumahnya ditempati oleh Mbak Ayu, putri semata wayang Budhe dan Pakdhe.
Mbak Ayu sudah menikah dengan Mas Kahfi, yang berasal dari desa sebelah, desa yang sama dengan tempat tinggal Alaric. Mereka dikaruniai seorang putri yang sangat cantik berusia 5 tahun bernama Afika, dan gadis cilik itulah yang biasa menemaniku menghabiskan hari-hariku yang sepi.
»»»
Teringat dengan nasehat Budhe, aku mengambil air wudhu dan menegakkan sholat. Semoga setelah ini ketenanganlah yang ku dapatkan. Tak terasa hari mulai pagi, dan aku mendengar pintu kamarku di ketuk oleh Budhe.
"Bangun Nak, Alaric nunggu kamu di luar....," ujar Budhe.
Aku membuka pintu kamarku, dan terkejut. Seolah tahu arti tatapan terkejut dan penasaranku mengenai kedatangan Alaric pagi-pagi buta, Budhe hanya mengedikkan bahu.
"Budhe juga nggak tahu nduk. Coba kamu tanya sendiri sama dia...," ujar Budhe.
Akupun menganggukkan kepala. Usai mengenakan kerudung dan mencuci muka, aku pun berjalan menuju ruang tamu menemui Alaric. Tampak ia telah rapi dengan setelan kemeja warna biru dongker dan celana bahan warna hitam.
"Apa dia berangkat kerja pagi-pagi buta?" batinku.
Alaric tersenyum ketika mendapatiku datang dengan segelas teh hangat dan pisang goreng yang telah disiapkan Budhe sebelumnya. Aku pun memberinya senyuman terbaik pula untuknya.
Entah mengapa setelah aku mengatu pada Allah semalam, aku menjadi sangat tenang. Terlebih ketika melihat lelaki di depanku ini, yang dengan setia berjuang untukku. Rasanya, seperti tergelitik dalam dada, atau seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut.
"Apa sudah datang perasaan itu untuknya?" Aku kembali bergumam dalam hati.
"Ekhm...," suara deheman Alaric membuatku tersadar dalam keterdiamanku. Ia masih saja selalu memberikan senyum manis kepadaku.
"Kenapa sudah rapi pagi-pagi sekali?" tanyaku pada Alaric.
"Iya, mau berangkat ke luar kota. Ada tugas disana selama beberapa hari...," jelasnya. Akupun mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi, kamu kesini....?" Tanyaku kemudian akan maksud kedatangannya kesini. Sebenarnya aku memang tahu maksud kedatangannya kemari, karena ini bukan yang pertama kalinya dia selalu menemuiku sebelum pergi tugas keluar kota. Tapi, entah mengapa aku ingin mendengar alasan darinya itu.
"Hmmm... mau liat kamu sebelum aku pergi...," ujarnya sembari menyunggingkan senyum.
Akupun kembali menganggukkan kepala.
"Emm...boleh minta nomor handphone kamu Lana?" tanya Alaric kemudian.
Aku agak kaget mendengar permintaannya. Aku juga baru sadar bahwa selama ini kami tidak saling menyimpan nomor masing-masing di handphone meskipun sudah saling mengenal cukup lama. Bisa di bilang, aku sama Alaric pun jarang ngobrol berdua.
Dulu setiap kumpul dengan teman sekolah lainnya, aku lebih akrab dengan teman-teman lainnya begitupun dirinya. Jadi, intensitas kami berbicara cukup sedikit. Hanya, akhir-akhir ini saja, ketika ia tiba-tiba mengajukan lamaran untukku ke Budhe dan Pakdhe intensitas kami berbicara cukup banyak, meski masih di selimuti kecanggungan.
Aku menganggukkan kepala dan menyebutkan nomor handphoneku. Dia pun menyimpan nomorku dan kemudian mengantongi hanphone di saku celananya. Setelah menghabiskan teh hangat dan beberapa pisang goreng dia pamit hendak berangkat.
"Hati-hati...," ujarku dan dia pun menganggukkan kepala dengan senyum yang tak pernah berhenti ia berikan sejak kedatangannya tiga puluh menit yang lalu.
Hubunganku dengan Alaric semakin dekat dengan seringnya kami berkomunikasi melalui pesan lewat handphone. Hingga tak terasa sudah berjalan sekitar tiga bulan lebih kami semakin dekat. Dan akhirnya, akupun menerima lamaran Alaric selepas ia pulang dari perjalanan dinasnya di luar kota.
"Alhamdulillah....," ujarnya ketika aku memberi tahu keputusan finalku.
Tiga hari setelah pernyataan penerimaan lamarannya olehku itu, Alaric datang bersama dengan keluarganya untuk melamarku secara resmi. Dan seminggu setelahnya, kami pun menikah. Pernikahan yang sederhana saja, namun cukup sakral bagi kami. Kami memang sudah sepakat untuk tidak mengadakan pernikahan yang terlalu meriah.
Setelah kata "sah" terucap dari para saksi nikah kami, kini statusku berubah dari seorang gadis lajang menjadi istri seseorang. Rasanya seperti aneh bukan, dua puluh tahun lebih sebutan lajang itu tersemat padaku dan sekarang terhapuskan hanya dalam beberapa menit setelah akad nikah berlangsung.
Aku mencium punggung tangan Alaric dan ia mencium keningku dengan lembut. Tampak wajahnya bersinar bahagia sedang aku, aku juga sama bahagianya dengannya. Seolah semua beban terlepas dari diriku. Usai akad nikah dan dilanjutkan dengan acara makan-makan bersama keluarga, kerabat dan para tetangga akhirnya rumah pun lenggang.
Aku menuju ke kamarku di susul dengan Alaric dibelakangku. Ketika sampai di kamar aku mendengar handphoneku berdering. Dan ketika ku lihat siapa nama yang tertera disana aku begitu terkejut. Alaric yang berdiri tepat dibelakangku pun mungkin sama terkejutnya. Seseorang yang ku tunggu selama lima tahun lebih itu adalah penelponnya.
Aku menatap Alaric, mencoba meminta persetujuannya untuk menjawab telpon itu. Alaric yang tahu bahwa penelpon itu adalah seseorang di masa laluku pun terlihat menghembuskan napas sebelum akhirnya ia mengangguk.
Aku tahu aku sangat egois, harusnya langsung saja ku matikan handphoneku. Kami baru saja menjalankan akad nikah dan baru beberapa jam status kami berubah menjadi seorang suami istri, tapi sekarang aku melukai lelaki yang kini berstatus menjadi suamiku itu.
"Angkatlah...," ucapnya sembari tersenyum lembut kepadaku. Ia tahu bahwa aku tengah bimbang untuk mengangkat atau tidak telpon itu.
Akhirnya akupun mengangkatnya dengan menspeaker terlebih dahulu hanphoneku agar Alaric tahu isi percakapan antara Azka dan aku nantinya. Inilah caraku agar paling tidak, Alaric tak akan tersakiti karena keegoisanku.
"Ya, Hallo Ka...," ucapku.
"Hallo, apa ini Lana?" tanya seseorang di seberang sana dengan suara yang serak. Suara itu bukan suara Azka melainkan suara seorang wanita.
"Iya ini Lana, Ma'af yang berbicara ini siapa ya?" tanyaku.
"Ma'af Lana Tante ganggu. Tante Nia, Mama Azka. Tante bisa minta tolong sama kamu Lana...?" tanya wanita separuh baya yang ternyata adalah Mama Azka. Terdengar suara serak wanita itu seolah menahan tangis.
"Iya minta tolong apa tante?" tanyaku akhirnya.
"Tante bisa minta tolong Lana temui Azka? Tante mohon, untuk yang terakhir kalinya...," ujar Mama Azka yang kali ini terdengar dengan jelas suara isak tangisnya.
Aku menatap Alaric dan Alaric juga memberikan tatapan penasaran yang sama denganku. Entah apa yang tengah terjadi disana, perasaanku tidak enak mendengar isakan Tante Nia.
"Sebenarnya apa yang terjadi tante? Kenapa tante menangis?" tanyaku kemudian.
"Azka..Lana...Azka... ,"
"Ada apa dengan Azka tante. Azka kenapa? Apa yang terjadi...?" tanyaku beruntun.
"Azka koma Lana, dari lima tahun yang lalu. Dan sekarang kondisinya....," penjelasan Tante Nia masih terdengar di handphoneku yang ku letakkan di atas ranjang tapi aku sudah luruh kebawah mendengar penjelasan itu.
Dia koma, lelaki yang ku tunggu selama lima tahun itu sedang meregang nyawa dan aku sama sekali tidak tahu. Tangisku pecah seiring dengan penjelasan-penjelasan Tante Nia.
"Tante mohon Lana, datanglah kesini. Antarkan Azka biar pergi dengan tenang Lana. Mungkin karena ia menunggu Lana makanya ia masih....,"
Aku tak tahu lagi apa perkataan Tante Nia selanjutnya karena yang ku lihat sekelilingku berubah menjadi gelap kemudian.
Aku berjalan gontai di lorong rumah sakit. Sementara Alaric ia beejalan dengan setia di belakangku. Sesekali tangannya akan sigap menopang tubuhku yang hendak meluruh.
Tepat di depan ruang inap yang telah di sebutkan oleh Tante Nia, aku membukanya perlahan. Tampak di sana isak tangis Tante Nia dalam pelukan sang suami. Ia menoleh ke arahku, meraihku dalam pelukan dan tangis kami pun meluruh bersama-sama. Selang setelahnya aku diizinkan untuk bersama dengan Azka.
Tidak hanya oleh Tante Nia dan Om Bagas tapi juga oleh Alaric, suamiku sendiri.
Aku melihat lelaki itu terbaring lemah. Wajahnya putih pucat. Terdapat banyak selang dan kabel sebagai alat bantu hidupnya seakan ia hanya bisa hidup dengan itu dan bila semua itu dilepas darinya, tentu ia mungkin akan segera berada di tempat yang tak akan pernah mampu untuk ku jangkau.
Aku duduk di kursi tepat di samping ranjangnya. Mencoba untuk menahan air mata yang sejak tadi sudah memaksa untuk keluar.
"Lama tidak jumpa, Azka..," ucapan pertama itu lepas dari lidahku.
"Kamu tahu, kamu egois Ka. Kenapa tidak pernah memberitahuku kalau kamu mengidap penyakit seperti itu? Kenapa kamu hanya menanggung semuanya seorang diri tanpa membaginya denganku. Puaskah kamu menjadikan aku sebagai wanita bodoh sedunia. Aku memikirkan berbagai macam hal yang kejam sebagai alasan tiba-tiba kamu berhenti menghubungiku, tanpa pernah tahu bahwa selama aku memiliki prasangka buruk terhadapmu, kamu tengah terbaring lemah seorang diri disini..," ucapku dengan air mata yang sudah berkali-kali meluruh tanpa pernah mampu untuk ku bendung lagi.
"Aku sudah baik-baik saja sekarang. Aku sudah lega bisa bertemu kamu kembali meski dalam kondisimu yang seperti ini. Ma'af aku datang terlalu terlambat dan membuatmu menunggu terlalu lama," ujarku. Tampak air mata keluar perlahan dari mata tertutup Azka. Aku menyekanya dengan pelan, seakan takut bahwa sentuhan tanganku akan menyakitinya.
"Aku sudah memiliki kehidupan yang lain. Dan aku harap kamu juga seperti itu. Aku ikhlas kamu pergi...," bisikku di telinganya.
"Aku mencintaimu Ka, dan selamanya akan tetap seperti itu..," bisikku lagi.
Setelah bisikan terakhirku air mata Azka berhenti menetes. Bunyi monitor pun berhenti pula setelahnya.
1 Tahun Kemudian
Aku menabur bunga atas makam seseorang. Ku tekan lembut batu nisan yang bertuliskan nama seseorang. Nama seseorang yang pernah sangat berarti bagiku dan selamanya akan seperti itu. Ia akan selalu memiliki tempat tersendiri di hatiku.
Seseorang tampak menyiram makam itu dengan sebotol air. Terciumlah aroma khas tanah yang terkena air. Aku tersenyum pada seseorang itu. Kemudia ia memberikan isyarat mata kepadaku, dan aku menganggukkan kepala seraya mengiyakan ajakannya.
Ia menuntunku untuk berdoa pada seseorang yang tengah terbaring di bawah tanah itu. Dan aku mengikutinya dengan khusuk. Dialah Alaric, suamiku yang sudah ku nikahi selama setahun lamanya. Ia dengan sabar membimbingku untuk menjadi istri yang baik.
Bahkan di saat terpurukku saat kehilangan Azka seseorang yang menjadi alasan kami berdoa di makam ini, ia selalu sabar menghadapiku. Tak pernah lelah ia menuntunku untuk dapat kembali bangkit. Tidak ada kekecewaan di wajahnya karena aku belum bisa mencintai dirinya dengan sepenuhnya.
Hingga beginilah aku yang sekarang, menjadi lebih kuat dan tangguh berkatnya. Dan perlahan rasa cinta untuknya pun tumbuh seiring berjalannya waktu. Aku memang tidak pernah melupakan Azka, selamanya ia akan memiliki tempatnya sendiri di hatiku karena walau bagaimanapun ia pernah ada sebagai bagian dari masa laluku.
Namun, untuk Alaric ia menempati sebagian besar hatiku dan pemilik cintaku sampai aku menutup mata nanti. Semoga Tuhan merestui kami berdua untuk selalu bersama hingga tua nanti.
~END~