Hoaaam, aku terbangun dari tidur siang selama kurang lebih 3 jam. Rasanya belum puas tapi harus bangun kerena persiapan packing harus clear hari ini. Senin dia sudah bekerja dan hari selasa pagi sudah berangkat. Setelah tersadar sepenuhnya dari kantuk, aku langsung mencari keberadaan koper yg ternyata berada di lemariku yg tinggi, dan aku sangat kesulitan untuk mengambilnya.
"Aduh, tinggi amat sih ini lemari, bisa gak sih dipendekkin aja? Nyebelin banget. Masa iya harus naik kursi sambil gotong koper? Yang ada nanti malah nyungsep. Duuh, catet catet, besok besok gaboleh naro koper di atas lemari lagi, ribet ngambilnya" monologku pada diriku sendiri.
Kalo kalian heran kenapa aku naro koper di atas lemari? Karena aku memang jarang jalan jalan, paling hanya pulang kampung ke Tangerang tiap bulan, itupun hanya membawa ransel, bukan koper. Dan dulu juga kupikir agar tidak menu menuhin tempat, tapi ternyata juga malah tambah ngeribetin kalo lagi butuh. Balik lagi ke topik, bagaimana caraku untuk mengangkat koper ini sambil naik kursi, dan akunya juga gak jatuh? Mana kopernya debuan lagi, hadeuuuh. Dan setelah lama berfikir, tidak ada jalan lain, aku harus angkat kopernya sambil manjat.
"Duuuh, gak ada pilihan lain, terpaksa deh" kataku sambil bergegas mengambil kursi yg lumayan lebar Dan kira kira lumayan aman, serta dapat meminimalisir resiko jatuh. Dan setelah perjuangan beberapa menit, akhirnya aku berhasil menurunkan koper dengan selamat, meskipun sambil bersin bersin karena terhirup debu dengan di atas lemari. Setelah itu aku pun membawanya ke kamar untuk dibersihkan.
"Ya Allah, kumal amat jadi koper. Heran deh, berapa tahun gak aku pake coba?" kataku setelah melihat keadaan koper yg penuh dengan debu. Aku langsung membersihkan bagian luar koper, Dan langsung menyiapkan baju Dan keperluan yg diperlukan selama di Bogor. Lalu memasukkannya ke dalam koper. Saat itu juga, ingatanku terlempar pada masa lalu, disaat aku tengah mengemasi pakaian untuk sekolah di Bogor....
2 Juli 2013...
"Mah, kenapa sih aku harus ke asrama? Aku kan cewek. Bagusnya gak usah merantau" kataku setelah Aku mendengar keputusan Mama dan papa yang memutuskan untuk menyekolahkan aku di sekolah berasrama di Bogor.
"Kata siapa cewek bagusan di rumah? Justru cewek itu juga harus merantau supaya belajar mandiri, mengurusi diri sendiri tanpa mama papa. Kan tugas cewek ketika menjadi seorang istri Dan ibu itu harus bisa mengurus keperluan suami Dan anak anaknya. Kalo keperluan sendiri aja gak bisa nyiapin, gimana mau ngurusin yg lain. Pokoknya percaya sama ibu aja Dib, nanti kamu bakalan ketagihan merantau. Di rantau sana juga pertemanan kamu akan lebih mudah terjalin" kata mama
"Betul tuh kata mama kamu. Udah, gausah takut duluan, percayalah sama papa kalo merantau itu tidak menakutkan kok. Udah sana packing lagi, lusa nanti kita sudah berangkat" kata papa
Dan dengan berat hatipun aku melangkahkan kaki kembali ke kamar untuk packing baju. Aku tak bisa menerima keputusan kedua orang tuaku, tapi Aku juga gak bisa merubahnya, apalagi kalo udah ketuk palu, mungkin hanya keajaiban yg bisa. Dan itu tidak pernah terjadi. Dengan suasana hati yg masih kesal Dan tak terima, bukannya di masukan ke koper dengan rapih agar muat semua, aku malah melemparkan saja semua baju sampai semuanya menumpuk membentuk gunung. Dan ketika ingin menutupnya, ternyata gak bisa ditutup. Akupun jadi frustasi sendiri kenapa gak bisa menutupnya dan mulai menangis sambil memaksa koper itu menutup.