Bagian 1
Malam membuatku terdiam ditepi kamar dengan suara angin yang masih jelas di telingaku, perkenalkan diri senja ini pada dunia bahwa saya bernama Abil, kehidupan yang ingin ku sampaikan pada alam semesta bahwa diri ini adalah jiwa yang selalu berada pada titik ingin menjadi seorang ayah terbaik bagi anak-anak nya.
langit masih saja sama sementara saya sudah tak berdaya menghadapi dunia yang nyata ini, dalam sudut pandang sepi kuperhatikan wajah istriku yang terlihat lelah dengan kehidupan keseharian nya, raut wajah yang sudah tidak muda lagi tetap berusaha tersenyum di hadapan saya.
terlihat jelas raut wajah menanggung beban dalam keluarga, ekonomi menjadi ancaman kehidupan kami walau kami saling membahu dalam menghadapi kebutuhan hidup tetap saja saya sebagai kepala keluarga tidak mampu menahan air mata ketika harus melihat dia lelah dalam memperjuangkan kebutuhan hidup kami.
kini angin malam tetap menemani kami dalam gelap, meski gelisah untuk lusa kami harus berusaha menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak kami. Usia memang tidak begitu tua tetapi beban telah menuakan kami dalam fajar ini saya masih memikirkan harapan apa lagi yang akan kami berikan kepada anak-anak kami ketika kami saja hanya bisa melihat keadaan hidup dengan tatapan kosong.
Istriku mulai tersadar dalam tidurnya dan saya masih mengamati dia, dia terbangun dengan senyumnya dan perlahan wajahnya berpaling melihat anaknya, dia berbisik kepada anaknya "cepat besar.. sehat selalu.. jadilah manusia yang berguna.. sukseslah dimasa depan". Kemudian dia bergegas bangun dengan langkah kaki yang mulai goyah membuka pintu kamar dan perlahan dia menuju dapur rumah kami.
kulihat jam dinding dikamar menunjukkan jam 5 pagi, sementara saya belum memejamkan mata malam ini.. #Bersambung