Aku menyesal ...
Aku sangat menyesal ... Karena itu kumohon hentikan kegilaan ini ...
Semua ini berawal pada suatu malam beku di bulan November. Aku yang baru saja menyelesaikan bab baru dari tulisanku, memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh. Aku menatap jam yang tertulis di layar ponselku, masih menunjukkan angka pukul dua dini hari. Sejujurnya aku merasa sangat lelah dan mengantuk, tapi insomnia selalu sukses menarik paksa kelopak mataku agar senantiasa terbuka. Aku kembali beranjak dari ranjang, memutuskan untuk melakukan banyak hal karena tau jelas, bahwa aku tidak mungkin tidur hari ini.
Aku segera melaksanakan ritual pagi saat merasakan cahaya matahari yang samar-samar. Aku bercermin, merapikan seragam putih-putih milikku dan menatap lekat mata cerminan sosokku. Teringat satu pantangan tak tertulis yang aku bahkan tidak tau apa alasannya. Aku menatap mataku di cermin lekat-lekat, segera menutup keduanya, menyentuh kelopak mata kanan dan membuka kelopak mata kiri. Melihat pantulanku hanya menggunakan satu mata.
Bayangan abstrak mulai tampak berkeliaran di sekitarku. Mereka berbentuk manusia, setengah manusia, gumpalan manusia, atau bagian tubuh tertentu yang seharusnya menjadi milik manusia.
Oh .... Jadi ini alasannya?
Cukup menakutkan, tapi tidak se-mengerikan dugaanku
Aku menutup kedua mataku sebelum membukanya kembali, tapi bayangan-bayangan abstrak itu masih berkeliaran di sekitar, mencoba menarik perhatian. Aku tidak punya waktu untuk meladeni keinginan mereka, aku memutuskan untuk segera berangkat ke sekolah. Para bayangan abstrak itu semakin banyak di jalanan, dan jauh lebih banyak lagi di sekolah.
Aku merasa sedikit risih, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa atau mereka akan semakin mengganggu. Ada yang sedang bermain bersama sesama ukuran kecil di belakang kelas, duduk santai sambil melotot di sebelah meja guru, tergantung terbalik di langit-langit dengan lidah terjulur, ada juga yang berkelebat bolak-balik di luar ruangan. Mereka semua memiliki satu kesamaan, tampilan samar-samar berwarna hitam mendekati abu-abu, atau benar-benar mirip manusia walau tetap terlihat samar sekaligus mengerikan.
Mereka fokus pada apa yang mereka lakukan, bergerak-gerak tidak jelas tanpa arah, terlihat linglung. Setidaknya mereka cukup tenang walau berjumlah sangat banyak.
"Putri!!"
"Ya?"
"Boleh minta tolong gak? Bantuin buang sampah ke tempat pembakaran dong"
"Loh? Yang piket mana?"
"Gak tau"
"Oke"
Aku mengiyakan permintaan laki-laki yang selalu terlihat mengantuk itu, mulai membawa dua tong sampah yang sudah penuh di depan kelas, dan berjalan ke tempat pembakaran di belakang sekolah. Aku menuang sampah-sampah itu dan menyapa bapak tukang kebun disana, sedikit mengernyit saat ada buah asam yang menghantam kepalaku. Aku mendongak, menatap rimbunnya kanopi dari dedaunan pohon asam yang besar dan terlihat sangat tua, dan di sanalah aku bertemu dengannya.
Wanita itu ...
Ah bukan, mahluk itu sedang menatap entah apa di tempat pembakaran ....
Dia tergantung terbalik pada salah satu dahan yang sialnya cukup rendah, berjarak hanya dua meter tepat di atasku yang sedang mendongak. Wajahnya terlihat kisut dan panjang sekali, seperti habis terjepit sesuatu yang berhasil menghancurkan tempurung kepalanya. Rambutnya jarang, nyaris botak dan ada beberapa bagian yang mengelupas di sana. Dia tidak memiliki daun telinga, bajunya compang-camping seperti kain pel. Tampilannya benar-benar kacau dan membuatku merinding gila-gilaan. Aku sedikit tersentak saat dia tiba-tiba bergerak-gerak, menimbulkan suara mirip tulang patah dan menatapku tepat di mata. Aku merasa nyawaku melayang saat tau ...
Tidak ada bola mata disana ... Hanya ada wajah yang terkelupas, penuh darah dan berbau sangat busuk ...
"Nduk! Lagi liat apa toh? Jangan ngelamun disini! Sana balik ke kelas sampeyan!"
Aku tersentak dengan teguran bapak tukang kebun itu, berakting senatural mungkin seolah tidak terjadi apa-apa dan bergegas pergi dari sana. Namun karena aku yang entah bodoh atau terlalu sinting, aku menoleh ke tempat pembakaran setelah melangkah cukup jauh di antara kerumunan siswa. Dia masih bergerak-gerak di sana, sebelum akhirnya jari-jarinya yang runcing mencengkeram dahan dan mulai merambat turun. Dia bergerak sangat cepat dengan suara patah tulang yang mengiringinya, aku tidak mau menunggu dia mebemukanku dan bergegas ke tempat yang paling berisik, ruang kelasku.
.............
Beberapa hari berlalu setelah itu dan kelasku dipindah ke lantai dua, didekat musholla dan perpustakaan. Aku merasa sangat gugup, seolah sesuatu bisa menimpaku kapan saja. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, mendapati teman sekelasku sedang fokus menghafal surah-surah pendek untuk hafalan agama Islam. Ada banyak lantunan ayat suci Al-Qur'an di sekitarku, tapi aku masih merasa gugup dan ketakutan. Dugaanku segera terbukti sedetik setelah itu. Ditengah-tengah lantunan ayat suci, tiba-tiba ada sesuatu atau seseorang yang jatuh begitu saja di atas mejaku. Wanita tanpa bola mata, kulit terkelupas dan berbau busuk!!
ITU ADALAH DIA!!!
'BRAK!!'
Tanpa dikomando aku langsung menendang mejaku yang berada tepat ditengah ruangan, menimbulkan suara yang sangat keras dan membuat tata ruangan kacau. Teman-temanku menatap kaget dan menghentikan bacaan mereka, sedikit terdengar umpatan lirih dari mulut mereka, tapi bukan itu yang kupedulikan!
Wanita itu ... Masih berada di atas meja yang sudah berjarak agak jauh dariku, mengangkat wajahnya dan menatapku dengan senyum mengerikan.
Aku merasakan tremor di sekujur tubuh dan mencengkeram kedua sisi kepalaku, membuka mulut dan berteriak sekeras yang aku bisa. Mengacuhkan keributan dari luar kelas yang timbul akibat perbuatanku, dan konsekuensi dari teriakanku yang membuat mahluk itu yakin ...
Bahwa aku bisa melihatnya
................
Aku pulang ke rumah dengan keadaan yang lebih lelah dari biasanya. Teringat fakta menyedihkan bahwa tidak ada yang bisa kumintai tolong, karena aku adalah anak buangan dari sisa pernikahan sebelumnya. Aku tergeletak begitu saja di lantai setelah menutup pintu kamar, mengacuhkan bayangan abstrak lain dan mulai membaca segala doa yang ku hafal untuk menenangkan diri. Mencoba berpikir positif, setidaknya setelah beberapa lama setelah mahluk itu menunjukkan diri, dia tidak menggangguku sama sekali dan hanya beredar di sekelilingku, dengan suara patah tulang dan bau busuknya.
Aku sering melihatnya merayap atau tergantung terbalik di langit-langit kelas, persis seperti cicak. Membuatku semakin ketakutan bahwa wanita itu tidak mengalami efek apapun, walau sering terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an dari semua kelas dan musholla setiap harinya. Dia tidak mempan dengan semua itu, lantas apa yang bisa membuatnya pergi meninggalkanku? Aku merasa aku bisa menjadi gila kapan saja karena dia.
Aku masih terus mencoba berpikir positif dengan mayoritas penggunaan kata 'setidaknya'
Setidaknya dia hanya menampakkan diri di sekolah
Setidaknya dia tidak terlihat sesuka itu padaku
Setidaknya dia tidak mengetahui letak rumahku
Setidaknya dia tidak menggangguku
Tapi 'setidaknya' untukku itu memang seperti sinonim kata 'sayangnya' bagi semua orang. Setelah dia beredar di kelasku selama satu bulan, kurasa dia mulai bosan dan kembali menempeliku. Lebih tepatnya mengurangi jaraknya dan membuatku nyaris berteriak seperti waktu itu. Dia sering tiba-tiba muncul di depan papan tulis dengan kondisi tergantung terbalik di langit-langit, membuatku tidak bisa fokus menatap materi yang ditulis dan berimbas pada nilaiku.
Aku muak, benar-benar muak karena terus merasa ketakutan setiap saat
Karena itulah ditengah insomnia yang kualami saat ini, aku mencoba mencari solusi dari orang-orang di internet hingga sangat larut. Aku mulai sadar jam berapa ini saat mendengar suara kereta malam yang lewat, tidak terlalu jauh dari rumah. Tapi firasatku kembali mengatakan ada sesuatu yang salah, aku tersentak saat lonceng angin di depan rumah tiba-tiba berbunyi. Diiringi suara sesuatu yang bergesekan dengan tanah, serta suara sesuatu yang patah. Aku tau jelas suara apa itu, secepat mungkin menarik selimut dan membungkus diriku seperti mayat.
Kletek ... Kletek ... Kletek ...
Tap ... Tap ... Tap ...
Aku tidak bisa melihatnya dari balik selimut, tapi aku bisa merasakan dengan jelas dimana posisi dan apa yang sedang dia lakukan. Dia sepertinya berada tepat di ambang pintu kamarku yang selalu terbuka, berdiam diri disana agak lama sebelum akhirnya merayap mendekatiku.
Srrrrrkkkk ... Srrrrrrrkkkkkk ....
Krek krek ....
Aku bisa merasakan beban kasurku bertambah, aku mulai meneteskan air mata, aku takut ... Bahkan walaupun aku tau dia tidak mempan dengan doa, aku tetap membaca semua doa yang aku tau, berharap bahwa dia segera melepasku dan menemukan orang lain. Tapi sepertinya Allah memang ingin mengujiku, sampai tahap dimana aku bisa mendengarkan suara debaran jantungku yang menggila, dengan mata yang terus menangis dan badan yang sebisa mungkin ku buat seolah aku tertidur, nafasku sesak.
Dia menyentuhku ...
Dia menyentuhku!!! Dia menyentuhku!! DIA BISA MENYENTUHKU!!!!
Aku merasa sudah mati saat itu juga, nafasku bahkan sempat terhenti. Jari-jarinya yang runcing terasa jelas menyentuh kakiku yang masih terbungkus selimut, rasanya seperti tertusuk jarum. Dia bahkan tidak berhenti disana dan jembali bergerak, mulai menindihku. Jantungku terasa sakit karena berdetak terlalu cepat, kurasa wanita ini menyukaiku lebih dari yang aku tau. Posisinya jelas dengan kepalaku yang berada tepat di bawahnya, tubuhnya menempel erat di atasku dengan bau busuk dan tulang-tulangnya yang entah kenapa bisa kurasakan.
Dia terus berdiam diri dan aku terus memanjatkan doa. Entah berapa lama dia menindihku, yang pasti saat aku tidak lagi merasakan eksistensinya, aku mendengar suara adzan subuh. Aku menangis sesenggukan dan mulai membuka selimut yang membungkusku. Satu kesimpulan yang kudapat, dia tidak akan semudah itu melepaskanku.
..........
Kunjungannya waktu itu adalah pertama kalinya, dan akan kupastikan bahwa itu adalah kunjungan terakhirnya. Semenjak kejadian itu, aku mulai mendekati banyak orang di sekitarku, teman ataupun saudara untuk membagi sesuatu yang negatif dariku tanpa mereka sadari. Terdengar jahat memang, terkesan seperti aku membagi kesialanku dan menumbalkan mereka agar disukai wanita itu. Tapi sejauh ini, wanita itu tidak bergeming dan tetap menempeliku kemana-mana di lingkungan sekolah.
Sampai suatu saat setelah tiga bulan dia di sekitarku, wanita itu tiba-tiba menghilang. Sedikit membuatku bingung dan penasaran, kira-kira siapa orang yang dia sukai sekarang. Aku tidak melihatnya di sekolah, aku juga tidak melihatnya di rumahku, dia seolah tidak pernah ada. Bahkan desas-desus kalau aku punya indera keenam tersebar, membuatku dijauhi dan dijadikan bahan candaan oleh orang di sekitarku. Aku tidak peduli, asalkan tidak ada 'wanita' kedua yang menyukaiku. Aku masih bisa merasakan ketakutan dan rasa dingin yang samar, setiap mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Hingga suatu hari pertanyaanku tentang siapa orang yang disukai wanita itu, terjawab.
Tepatnya di sore hari saat tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang mendatangi rumahku dan bertanya, apa aku bisa menyingkirkan sesuatu yang menempeli anaknya, yang merupakan seniorku di sekolah.
"Saya dengar kamu yang waktu itu membantu mengatasi kesurupan massal di sekolah, serta menyingkirkan arwah penari yang mengikuti anak saya ... Tolong bantu anak saya sekali lagi! Dia benar-benar terlihat seperti orang gila karena terlalu ketakutan!"
Aku merasa iba, karena bagaimanapun senior itu adalah teman yang membantuku mwbatasi rumor aneh, dan sangat ramah padaku. Tapi mengingat teror yang kualami selama berbulan-bulan, dibandingkan dengan dia yang baru dalam hitungan jam disukai wanita itu, bukankah terdengar menyusahkanku?
Karena itu aku hanya bisa tersenyum merasa bersalah dan berkata bahwa orang yang ibu itu maksud, bukanlah aku
"Maaf Bu ... Bukan saya yang mengatasi semua yang ibu bilang itu, guru saya yang mengatasinya, bukan saya ..."
Jujur aku merasa sangat bersalah melihat wajahnya yang putus asa saat berbalik pergi, meninggalkan rumahku dan keduanya tidak lagi muncul di hadapanku, baik senior maupun ibunya. Tapi anehnya, aku tidak merasa menyesal sama sekali setelah 'menumbalkan' orang. Kurasa efek samping dari rasa suka wanita itu padaku, benar-benar sudah mengubahku menjadi orang lain. Orang yang tidak segan 'menumbalkan' pihak lain demi mendapat rasa aman, serta rasa tak mudah peduli pada permasalahan orang di sekitarku.
Karena selama aku aman, aku tidak akan segan 'menumbalkan' siapapun. Rasa peduliku terhadap orang lain selama ini, nyatanya justru membuatku terkucil dan mendapat julukan baru di masyarakat: 'PEREMPUAN SESAT' dan 'TEMAN IBLIS'.
Untungnya setelah kejadian itu, tidak ada sosok lain yang menyukaiku. Karena kalau itu benar-benar terjadi ... Aku benar-benar bisa bersikap setega itu untuk menumbalkan salah satu dari orang di sekitarku, entah dia yang paling menyebalkan, dia yang tidak terlalu dekat, atau dia yang terlalu ikut campur. Ada banyak sekali kandidat untuk antisipasi kejadian serupa, dan bisa saja kamu yang membaca cerita ini adalah salah satunya.