Sudah lama sekali sejak pertama kali aku ingin 'Pergi'
Aku tidak mau menjadi orang melankolis yang menceritakan keluargaku secara detail, tapi jika rekan sekalian ingin tau. Maka kalian bisa menebak yang terburuk dari yang terburuk yang bisa terjadi dalam suatu keluarga, saking buruknya sampai aku sangat membenci cinta.
Mulai dari ibu tiri, konspirasi dibalik kematian mama, pelecehan dari ayah kandung, proses cuci otak dari tiga keluarga, dipaksa melakukan pernikahan dini (untungnya aku bisa lolos), tidak diberi properti keluarga sepeserpun walau kami kaya, hingga rutinitas yang menguras mental dan mengikis tubuh.
Awalnya aku ingin menjadi pelukis, lalu merembet ke dokter, dan pada akhirnya penulis. Kalian bertanya apakah aku baik jika aku terlalu serakah akan apa yang kumau? Maaf menyinggung, tapi memang iya.
Lukisan yang kubuat menang lomba juara ketiga tingkat nasional.
Tulisanku, lebih tepatnya cerpen sudah tiga kali menjadi cerpen terbaik dalam lomba nasional dan dibukukan bersama dosen yang ikut lomba bersamaku.
Kalau tentang dokter, mungkin aku bisa dikatakan tidak terlalu baik. Karena aku hanya sebatas membantu temanku mengerjakan soal olimpiade, yang mendukung mereka untuk masuk fakultas kedokteran.
Aku sangat lancar berbahasa Inggris, mengerti bahasa Jepang dan Mandarin, juga bisa bahasa Arab.
Untuk penampilanku sendiri ... Menurutku aku tidak cantik. Tapi saat aku untuk pertama kali setelah sekian lama mengurung diri berjalan diluar, ada beberapa orang yang meminta foto dan nomorku.
Namun seperti yang kukatakan di awal dan bisa disimpulkan, aku sendirian dan membenci cinta. Jika tidak cukup menyedihkan maka akan kuceritakan sesuatu, aku pernah muntah parah hanya karena ada yang menembakku dan aku akan gemetar hingga refleks memukuli pria yang memujiku cantik.
Aku sempat ingin bunuh diri beberapa kali, tapi tidak kulakukan karena aku berpikir ... Aku sudah banyak menderita, kenapa harus aku yang tiada?
Aku mulai melawan orangtuaku sejak aku tau ada sesuatu, dan menuai banyak kebencian dari orang sekitarku hanya karena aku mencoba bertahan hidup.
Aku sempat menjadi penyuka sesama jenis, tapi sekarang kurasa aku tidak menyukai siapapun selain diriku sendiri.
Aku punya Tuhan dan itulah sebab aku bertahan.
Tapi jika ditanya soal pernikahan, maka aku akan menjawab bahwa aku hanya ingin sendirian.
Aku tidak peduli mau orang menyayangkan kecantikan, sikapku, uangku atau apa. Aku hanya ingin sendirian.
Pernikahan adalah awal mula kehancuran keluargaku.
Dan Cinta adalah alasan konyol yang terlalu mustahil dijadikan alasan untukku.
Aku tidak mau lagi jadi dokter, aku sebisa mungkin menghindari pekerjaan apapun yang membuatku berhubungan dengan manusia. Kemampuan sosialku memang bagus, tapi aku tidak mau berpura-pura lagi. Aku sudah cukup sakit.
Jika aku menikah, punya anak, mati duluan lalu suamiku menikah lagi ... Tragedi ini pasti hanya akan terulang.
Dan jika aku punya anak, ada kemungkinan aku akan menyiksa mereka seperti ayah kandungku menyiksaku. Darah lebih kental dari air, dan DNA tidak bisa berbohong.
Aku hanya ingin sendirian, hidup di lingkungan yang orangnya tidak saling mengganggu, lelakinya tidak lancang, dan perempuannya tidak menjilat kaki pria.
Dengan sendiri, aku tidak akan sakit karena tidak ada yang akan melukai.
Dengan sendiri, aku tidak akan kembali disiksa oleh drama berdarah atas nama cinta dan keluarga yang membuatku bunuh diri sekali lagi.
Dengan sendiri, aku tidak akan takut ditinggalkan dan dikhianati lagi.
Dengan sendiri, aku bisa mati tanpa banyak mengenyam pahit manusia lagi.
Karena itu ... Biarkan aku sendiri.