Ramai.
Satu kata paling umum yang dapat mendeskripsikan kondisi persimpangan jalan yang ada di hadapanku. Sudah pukul setengah tujuh pagi, jalanan ini dipenuhi dominan oleh para pelajar SMP, SMK, hingga SMA. Alasannya tidak jauh-jauh karena persimpangan ini menghubungkan banyak sekolah menengah.
Mamaku menyebut persimpangan ini menjadi 'persimpangan pendidikan'.
Bagaimana tidak? Dari keempat arah, semuanya mengarah ke sebuah sekolah di satu atau dua sisinya. Oh ya, bahkan ada jenjang SD di sebelah SMA-ku. Jika beruntung, kadang aku berpapasan dengan mobil yang bertugas untuk menjemput anak-anak menuju sekolah. Aku akan dapat melihat wajah-wajah ceria mereka dari balik jendela bening.
Seharusnya aku juga memiliki semangat yang sama.
Aku bisa mengindentifikasi mereka-mereka yang memakai seragam sekolah. Dari yang kuperhatikan, lebih banyak murid dari sekolah yang sama denganku daripada murid sekolah lain. Aku tidak percaya jika teman-teman yang tidak kukenal itu datang di jam segini dan harus mengarungi lautan kendaraan bermotor disana.
Ada yang terburu-buru, ada yang santai. Ada yang patuh memakai helm, ada yang melanggar. Ada yang datang sendirian, ada yang datang berdua. Ada yang bersama teman, ada juga yang bersama dengan pacar. Macam-macam.
Di tengah keramaian, ada seseorang yang bertugas untuk membantu para pengendara agar tertib meskipun sudah ada lampu merah disana. Peluit merah ditiup, membuat suara melengking yang dapat memekakkan telinga jika berdekatan. Kedua tangannya sibuk mengarahkan, sementara kedua manik mata memperhatikan kesempatan untuk mengubah arus kendaraan.
Bagus jika pria paruh baya itu ada disana. Kadang ada saja orang-orang yang menolak melihat lampu merah dan menerobos saja. Tidak jarang aku melihat pengendara motor--seorang pelajar--menerobos lampu merah karena seperti mengejar sesuatu. Dia membuat seorang ibu-ibu--pengendara motor dengan sekantong besar sayurannya hampir membuat kecelakaan. Hanya karena kecerobohan seseorang.
Dan juga-
Belum juga aku menceritakan kisah lainnya, dan kulihat seseorang menerobos lampu merah. Membuat geram pria paruh baya yang tengah mengatur lalu lintas disana. Bisa kudengar umpatan dari beberapa orang yang hampir menabraknya tanpa sengaja. Tapi kali ini di pelanggar bukanlah seorang pelajar. Kali ini ada pria paruh baya lain yang tampak menyeramkan.
Kembali pada ceritaku selanjutnya. Waktu itu aku tengah menunggu lampu merah, jam pulang sekolah. Aku yakin jika lampu sudah menyala hijau, pengendara motor di depanku pun melaju dengan kecepatan rendah untuk menyebrang. Tapi tidak terlalu rendah karena jalanan di tengah jalan itu sedang tidak bagus.
Jika dipacu dengan kecepatan tinggi, takutnya malah ada masalah dengan sepeda motornya.
Kemudian dari arah kiri, ada seseorang pengendara yang memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Hampir menabrak pengendara motor di depanku yang adalah seorang ojek online, sedang membawa seseorang dari sekolahku pula. Tidak ada keributan, tapi si pengemudi ojek jadi kesal.
"Lihatlah sinyal lampunya," ucap pengendara di depanku kemudian pergi.
Aku jadi ikut kesal juga melihatnya.
Omong-omong, kelihatannya jalanan ini tidak akan begitu ramai jika jalannnya diperbaiki dan tidak ada pedagang kaki lima yang berada di sekitar jalan. Ada beberapa lubang di jalanan, dari keempat arahnya sama-sama memiliki kerusakannya masing-masing. Ditambah dengan keramaian pembeli yang datang ke pedagang kaki lima.
Di arah timur, ada para penjual buah, sebelah barat, penjual makanan kekinian, di utaranya, semacam gorengan-gorengan, dan yang di arah selatan, lebih banyak penjual nasi.
Tapi melihat semua keramaian ini malah membuatku merasa tenang. Tidak ada rasa bingung dan memikirkan bagaimana cara agar tidak terjebak di tempat yang ramai ini. Aku lebih menyukainya karena sedang ramai. Lebih menyenangkan melihat orang-orang berada di keramaian itu.
Kuharap mereka semua bisa sampai di sekolah dengan selamat tanpa terlambat. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Gerbang sekolah pasti akan ditutup pukul 7 tepat. Sama seperti sekolahku sebenarnya. Tapi aku harus tetap menunggu disini hingga urusanku selesai.
Oh lihatlah gadis kecil yang tengah ditanyai ibunya tentang perkalian sambil menunggu lampu disana. Gadis itu beruntung karena bisa bersekolah diantarkan kedua orang tuanya yang memakai pakaian bebas. Kelihatannya kedua orang tuanya tidak akan terburu-buru pergi bekerja.
Andai aku menjadi gadis itu. Diantarkan sekolah oleh kedua orang tuaku dengan sepeda motor. Tapi sayangnya aku sudah hampir lulus SMA. Aku sudah diharuskan untuk pergi dan pulang sendiri. Kedua orang tuaku juga harus pergi bekerja setelah aku pulang sekolah.
Lampunya sudah menyala hijau, mereka pergi. Semoga gadis kecil itu berhasil dengan ujian perkalian di sekolah hari ini.
"Anah," seseorang memanggil namaku. Otomatis aku menoleh, mendapati seorang yang membuatku harus duduk di depan minimarket ini untuk menunggunya. Tadinya ingin sampai di sekolah lebih awal. Tapi sekarang malah gerbang sudah akan ditutup.
Dia membuka bungkus masker dan mengambil satu dari dalamnya. Hah laki-laki ini memang ceroboh. Dia lupa membawa masker padahal sedang batuk-batuk. Para guru menghimpun para muridnya untuk memakai masker jika sedang batuk agar tidak menular ke teman-teman lainnya. Kesehatan yang utama, jadi lebih baik tidak membawa virus.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Anah. Ada banyak yang antri," sesal Azzuri padaku.
"Tidak apa-apa. Karenamu aku bisa menjadi lebih santai. Ayo pergi. Kita tidak boleh terlambat."
Azzura mengangguk, memakai helmnya. Aku bangkit, mengikuti dia memakai helm dan duduk di jok sepeda motornya. Tidak lupa dia memberikan aku bungkusan kecil. Sebagai permintaan maaf katanya. Padahal aku saja sudah berterima kasih karena sudah diperbolehkan untuk pergi bersamanya pagi ini.
Selamat tinggal persimpangan jalan yang ramai. Aku sudah tidak bisa memperhatikanmu dengan segala keramaian yang entah bertahan sampai kapan. Aku sudah harus pergi ke sekolah dan menuntut ilmu. Pergi ke salah satu arah yang kau hubungkan.
Sampai bertemu lagi di jam pulang sekolah.