.
.
.
.
Di dalam hujan lebat pada sebuah gang sempit sebuah Kota besar. Percikan air dari genangan air yang ada bercampur lumpur, bergiliran untuk diinjaki oleh seorang gadis muda dengan coat berat yang tergantung di kedua sisi pundaknya.
Suara derapan kaki pun berlanjut dengan banyaknya sosok yang nampak seperti mengejar cahaya layaknya ngengat malam.
"Hh..hh..Hh." Nafas itu naik turun melewati tong sampah yang berada di tengah gang, tanpa menatap ke belakang.
Suara-suara panggilan kasar kian terdengar memanggilnya di tengah hujan. Sampai pada suatu ketika, yang dimana pada titik temu serta akhir sebuah pelarian. Yang dimana menampilkan secercah cahaya. Seperti surga yang telah menantinya sekian lama.
Dan melayangkan masa depan. Dengan suara keras menggema, mengalahkan petir yang menyambar dari langit.
*DHERR!!!!
***
*Ngiing~
Suara menyengat kembali lagi. Memusingkan dunia yang berputar tak sesuai mata angin. Dengan keburaman yang tak satu dua kali pernah dia lihat. Kini tak asing untuk mengucapkan sapa karena terlintas kembali.
"Ugh.." Lenguhan itu melantun layaknya melodi. Begitu sendu seperti siulan purnama di balik awan yang manis.
Mata itu pun mencari titik fokus. Dan mendapati banyaknya kantung penuh darah dengan lengan yang dia temukan tertancap-tancap jarum besi.
"..." Diam begitu sunyi.
Mendapati diri masih hidup dengan kepala masih berada pada tempat asalnya. Gadis itu meraba sekitar, bagian pinggul yang harusnya memiliki sebilah benda tajam disana. Yang kini sirna seperti tak pernah ada.
"..Mereka mengambilnya."
Gadis itu perlahan dengan terbata-bata mendudukkan diri walau dengan tubuh bergetar. Tangannya tidak tinggal diam, dengan paksa mencabuti setiap jarum besi yang tertancap. Sampai menemukan banyak persegi melayang, yang menampilkan kondisi dirinya yang masih rentan.
"Rumah sakit ini..membunuh semua pasiennya, jika merawat ku. Aku kira akan dilempar dari atas jendela itu." Gumamannya membunyikan alarm sunyi yang segera menampilkan seorang perawat yang tiba-tiba datang membuka pintu dengan tergesa-gesa.
*Brakh!
"Syukurlah Nona--?!!"
"..." Gadis itu mendadak berdiri dari kasur, dengan rambut putih yang tergerai memanjang dengan wajah suntuk menatap lantai.
"No-Nona belum pulih total!"
"..." Gadis itu tidak merespon satu patah kata pun pada si perawat yang menahan lengannya untuk tidak turun dari atas kasur.
Namun, semakin ditahan si gadis malah semakin menurunkan kaki dengan sangat cepat seperti menunjukkan bahwa dirinya sudah pulih dengan baik.
"...Seharusnya kalian tidak membawa ku kemari. Aku tidak memiliki uang apa pun untuk bisa diterima dengan tempat seperti ini."
"Saya tidak mengerti apa maksud Nona, tapi Nona tidak bisa pulang sekarang. Tubuh Nona belum--"
"Pulang? Aku tidak memiliki tempat seperti itu. Kau salah paham." Jawabnya datar, yang segera membuat perawat itu berlari ketika si gadis akhirnya terduduk lemah di pinggiran kasur.
*Tuut~
Bunyi suara telephon di dekat pintu kamar. Yang dimana perawat itu terlihat menunggu seseorang untuk mengangat dengan sesegara mungkin.
"Ha-Hallo bisakah tolong katakan..."
Pembicaraan itu samar di telinga si gadis yang dimana menghadap ke belakang yang menampilkan sebuah jendela bening besar yang menampilkan langit malam begitu indah.
Ia pun melihat ke bawah dengan kaki yang diperban namun tak terasa patah.
"Harusnya ini terbelah menjadi tiga bagian." Gumamnya lagi yang segera berdiri tanpa tangan menggenggam palang besi tiang impus.
Matanya kembali melirik pada jarum-jarum kecil. Yang langsung diambilnya dengan kantung berisi air bening. Ia pun kemudian mengarahkan jarumnya kepada indra pencium, untuk mengetahui hal apa yang dialirkan dari atas sana.
"Oh.." Jawabnya yang segera mencabut jarum itu dan kemudian melesatkan ke leher si perawat yang masih berbicara kepada telepon di genggaman tangannya. Hingga jatuh pingsan dengan telephon kabel yang menggantung. Walau suara dari alat komunikasi itu terdengar memanggil samar-samar, tetap saja tidak membuat si gadis mendekat dan malah berjalan ke arah jendela kaca besar.
"Hallo..Hallo? Tolong katakan dengan jelas bagaimana kondisi pasien 139." Ucap seorang wanita di sebuah telephon.
"...Dingin, sudah masuk Musimnya kah?" Ucapnya yang tangan digunakan untuk menyentuh kaca jendela. Membuat hal itu menggeserkan dan memperlihatkan pemandangan yang begitu mengelokkan.
"Hhh..ini." Gumamnya kecil sunyi dan sepi. "lebih pantas untuk ku."
*Whussh!
Tubuhnya jatuh layaknya burung yang ditembak pemburu. Rumah sakit yang tadi merawat dirinya nampak jelas begitu besar dan megah. Ketika terlihat dengan dirinya yang kini juga jatuh bebas tanpa pengaman.
Perban-perban yang membalut tubuh rampingnya beberapa terlepas dan sebagian menari dengan ikatannya.
Mata gadis itu pun akhirnya menutup. Menunggu tubuh terbanting pada daratan yang tak lagi nampak akibat langit malam.
Hingga suatu suara bergema, samar dan begitu menggetarkan tulang rusuk yang bisa saja menusuk paru-paru.
Sebuah helikopter datang dari atas dan menampilkan seorang pria yang tiba-tiba melesatkan diri dari atas helikopter itu. Ke arah yang sama, kepada seorang gadis yang dengan kecepatan tanpa terlihat mata.
*Shaph!
Menangkap si gadis dan mengaitkan sesuatu yang mengkilap kepada gedung bangunan rumah sakit. Sampai membuat salah satu kaca rumah sakit pecah. Dan segera membuat pria itu masuk ke dalamnya bersama seorang gadis tadi berada pada dekupan tangan yang begitu kekar.
"Hhh..syukurlah--"
*Syath!
Sebuah pisau bedah mengarah pada leher pria itu. Gadis yang masih berada sangat dekat dengannya itu pun melirikkan mata, yang begitu tajam tanpa bicara sepatah kata pun.
"Hmph.."
Tawa samar dari pria tadi menembus pikiran si gadis. Yang semakin mendekatkan pisau bedah kepada leher yang menampilkan rahangnya yang gagah.
"Saya tidak begitu masalah kehilangan kepala. Tapi sebagai orang yang baru bangun, anda harus lebih beristirahat."
"..Sudah ku lakukan tadi. Kau ikut campur."
"Saya tidak menjelaskan istirahat sebagai kata selamanya.."
"Bahkan aku tidak mengenal siapa kau." Jawab gadis itu bergerak hendak menjauh. Namun, geraknya terhenti ketika lengan besar itu mengekang.
"Saya akan membawa anda ke lantai 58. Tolong beristirahatlah di kamar anda hingga pulih."
"Sepertinya aku berada di Rumah Sakit Jiwa. Jika kau waras, kau harus melemparkan ku lagi dari jendela."
"Saya tidak akan bisa." Balas pria itu menjeda ucapannya. Yang kini ketika si gadis mengangkat dagu menatap mata biru keunguannya. Wajah bak Raja dermawan terpancar dengan perkataan yang terucap begitu membingungkan.
"Maafkan saya."
***
Koridor rumah sakit dilewati dengan seorang pria yang tengah bersama seorang gadis dengan tergendong di belakang punggungya. Beberapa kali si gadis hendak lari dari si pria pada saat-saat tertentu dikala waktu memberi jeda kecil untuk dirinya kabur.
"Saya tidak akan berfikir anda sehat walau sudah beberapa kali menggunakan gerak yang berlebihan."
"..."
Mata si gadis memandangi punggung pria itu. Dengan jas hitam dan aroma parfum tidak biasa, membuat dia sontak berkata.
"Kau..bukan seperti petugas keamanan di rumah sakit ini."
"Begitukah?" Jawab si pria melebarkan bibir hingga menampakkan gigi-gigi rapi dan bersih yang ia miliki.
Perjalanan mereka pun sampai pada sebuah pintu lift titanium yang menampilkan cahaya merah untuk menggunakannya.
"Maaf Tuan..dan, Nona." Ucap salah seorang lelaki yang ketika si pria berbalik, mereka menemukan kasur dengan para perawat yang ingin memasuki lift tadi.
"Ah, maafkan saya telah menghalangi." Ucap si pria menyingkir membiarkan mereka membawa pasien yang tak sadarkan diri di atas kasur untuk lebih dulu menggunakan lift.
"Sudah ku katakan, kau lebih baik melemparkan ku dari jendela."
"Saya tidak mau karena tahu anda bisa melakukannya lagi dengan sendiri."
"Bagus. Jika begitu turunkan aku sekarang." Jawab si gadis merontakan kaki yang dimana tak sampai bergerak karena masih terkekang dengan tangan pria itu yang begitu kekar.
"Kita akan naik tangga."
"Bukan pilihan yang bagus." Balas kata dari si gadis yang hanya terpaksa ikut kembali dengan pria tadi. Melangkah pada sebuah pintu dengan papan bertuliskan 'evakuasi'.
*Drap-drap-drap!
Banyak anak tangga yang seperti mengarah ke surga saking panjang dan berputarnya. Tanpa perkataan dan keluhan si pria yang bahkan sama sekali tidak berucap dengan apa yang telah dia lakukan.
"Ini masih lantai 32 dari 58. Apa yang kau lakukan, aku mencium bau kesia-siaan."
"Hmph.. saya tidak berniat untuk mengetahuinya."
*Cklek!
Pintu terbuka yang dimana membawa mereka keluar. Walau masih berada jauh dari lantai yang ingin di tuju.
"Kali ini lift adalah pilihan yang saya cari."
Si gadis hanya melihat ketika pria yang masih setia menggendong dirinya menekan sebuah tombol lift. Yang segera terbuka dan di masuki oleh mereka.
"Kau seperti FBI yang mengetahui seluk-beluk ku."
"Jika ini berkaitan dengan kamar anda. Saya hanya menanyakan kamarnya dari salah seorang perawat."
"..." Diam Sang Gadis tidak menanggapi ucapan dari pria itu. Sampai mata yang dia miliki tertutup dan melupakan tujuan dan maksud dalam hati yang terkubur.
***
Keesokan paginya
Cahaya membesuk seorang gadis yang terbaring kian rapuh. Rambut putih yang Ia miliki tercium oleh sinar mentari, hingga menampilkan warna keemasan begitu menakjubkan.
Dan ketika ingin mendudukkan diri. Dirinya telah disambut oleh kesepian. Seolah sesuatu pada suatu malam tidak pernah ada dan terjadi.
Si gadis akhirnya mendudukan diri. Dan berusaha berdiri tanpa berbicara, berharap sesuatu diluar sana tidak mengetahui akan kesadaran yang telah Ia miliki.
*Cklek
Pintu kamar terbuka, dengan tanpa sadar seorang perawat pas melewati kamarnya. Dengan membawa kereta berisi nampan makanan. Dilepas oleh si perawat itu, untuk membantu menopang tubuh si gadis yang begitu pucat dan tipis.
"A-apa Nona akan segera pulang?" Tanya si perawat yang rupanya tak asing di mata si gadis. Dengan mengetahui bahwa perawat itu begitu sama persis dengan perawat yang mendatangi kamarnya tengah malam.
"..."
"Sa-saya akan mengurus surat anda. Tapi izinkan saya membantu anda ke kursi roda. Saya akan menghubungi keluarga Nona."
"Omong kosong." Ucap si gadis datar dan melirikkan mata tajamnya,
Dia pun kembali memaksakan diri untuk berdiri. Sampai membuat perawat was-was dan segera berlari mencari pertolongan untuk mengatasi gadis itu kembali.
"Hhh.." Hembus nafasnya yang begitu hangat. Dan mulai berjalan lagi dengan telapak kaki ikut dingin pada lantai tanpa alas kaki.
"Orang buangan organisasi seperti ku sudah seharusnya tidak disini."
Punggungnya bersandar pada sebuah dinding. Yang dimana kaki di tekuknya karena sudah lemas tidak bisa digeraki untuk menuruni tangga.
Tubuh kurus dan ramping itu meringkuk, memeluk lutut. Bernafas lemah dengan udara terasa menipis ke paru-paru.
"Tidak ku sangka, dibuang begitu saja."
"Tidak dengan ku!" Ucap tiba-tiba dari seorang pria yang terengah-engah dengan nafas yang tak lagi beraturan. Memperlihatkan dadanya naik turun dengan baju kemerja putih yang Ia kenakan.
Pria itu turun menuruni tangga. Sampai kepada si gadis yang kini melihat sosok itu berada di bawahnya pada sebuah tangga yang menurun.
"Aku tidak membuang mu."
"Memang tidak karena kau bukan siapa pun untuk ku." Jawab si gadis atas pernyataan dari pria yang meneteskan keringat dari pelipis beruratnya.
".." Mata lelaki itu semakin lekat menatap gadis dengan iris mata tanpa setitik pun cahaya. Dengan sekali tarikan nafas membuat Ia menunduk Jun membenamkan wajahnya ke bawah.
"Apa aku salah?" Tanya Sang Gadis dengan raut wajah datar yang Ia miliki.
"Ya, tidak juga. Anda memang tidak mengenal saya." Pria itu berkata tanpa mengangkat dagu maupun kepalanya. "tapi saya tidak bisa membiarkan Anda berkata demikian."
"Hng?"
"Jadi.." Lelaki itu bergeming, dagunya tampak gelisah dan pada akhirnya terangkat menatap mata seorang gadis di depannya. "saya berharap anda mau ikut pulang ke rumah saya."
"Tidak ada dasar yang jelas untuk ku menuruti permintaan tersebut."
"Ada." Balas si pria yang mengeluarkan sebuah surat dari kantung celana panjang hitamnya. "surat izin pulang anda berada pada saya."
"?!! Kau membayar nya?!"
"Tentu.."
Mata Sang Gadis membesar sama dengan pupil mata kebiruan-nya. Dengan mulut sedikit terbuka namun tak sampai selesai berucap.
"Apa maksud--"
"Mari..saya antarkan sampai rumah."
***
Kilauan emas bersinar dan terpantulkan oleh cat putih mobil yang dikendarai oleh seorang pria dengan gadis di sebelah kursi kemudinya. Sebuah bangunan nampak megah berdiri di atas tanah bertamankan hamparan bunga lepas dengan air mancur pada bagian tengah.
Mungkin banyak kata yang seharusnya keluar dari mulut seorang wanita biasa ketika menangkap rumah megah dari pria itu. Namun, tidak dengan gadis yang hanya menatap dengan mata lesu yang Ia miliki.
Pria bertubuh tinggi itu pun keluar dari mobilnya. Dan terlihat dari kaca depan Ia memutari mobil hanya untuk membukakan pintu mobil untuk Sang gadis. Yang awalnya tidak ingin menurunkan kakinya ke atas tanah.
"Selamat datang di rumah saya."
"Aku sudah berkata tiga kali untuk menurunkan ku di jalan." Ucap gadis itu, dengan mata yang nampak sendu dan wajah tidak berubah sejak pertama kali bertemu.
"Permintaan anda terlalu sulit saya laksanakan sepanjang jalan."
"Menurut ku itu lebih mudah dari permohonan ku kemarin."
"Jika maksud anda soal melamparkan anda dari atas gedung rumah sakit. Sepertinya tidak perlu di bahas lagi terlalu panjang."
"...." Tangan pria itu tersodorkan kepadanya, membuat mata itu sempat melirik. Dan ketika mendapati diri tak bisa lebih jauh kabur lagi, pada akhirnya berdiri sendiri tanpa menyentuh tangan pria yang kini berdiri di samping kirinya.
"Selamat datang Tu-" Ucap seorang pelayan yang keluar dari pintu rumah besar itu. Namun, tidak sampai terselesaikan ucapannya, mata pria yang bersama seorang gadis di dekat mobil hanya menatap dingin seolah memerintahkan pelayan lelaki untuk diam di tempatnya.
"Mari, ku antarkan sampai kamar."
"Aku tidak punya tempat tinggal. Jadi kamar yang kau katakan tadi bukan milik ku." Jawab gadis itu hanya dibalas senyum dan samarnya tawa dari pria di samping kirinya.
"Hmph..saya memberikannya kepada anda, karena ini rumah saya."
"Ak-"
"Ayo.." Tangan pria itu menarik lemah lembut Sang gadis dengan sangat halus. Sampai kaki yang hanya beralaskan sandal rumah sakit itu pun mengikuti setiap langkah kaki Sang pria di depannya.
Baru saja masuk ke dalam rumah, sudah menampilkan sebuah tangga yang menjulang tinggi ke atas. Seperti menyiapkan kayangan pribadi di dalam rumah.
Arsitekturnya pun sangat tinggi dengan barang-barang yang hanya di pandang tanpa bicara oleh Sang gadis yang kini diam merapati bibir tidak mengomentari lebih banyak omong kosong lagi.
"Anda jadi irit bicara." Jawab si pria sedikit melebihkan setiap kata pada ucapannya.
"Kau seperti menyembunyikan banyak orang disini, dari ku."
"Saya tahu anda menyadari hal sekecil itu. Tapi mungkin pilihan yang bagus karena anda tidak suka banyak orang di sekeliling anda."
"Apa pedulimu?" Balas si gadis menanggapi ucapan dari pria di sampingnya seolah semua hanyalah omong kosong.
Satu kaki dari si pria menginjak anak tangga itu. Yang tiba-tiba membalikkan badan ke belakang, menatapi si gadis yang hanya memiliki alas kaki yang nampak sangat tipis dan licin.
"Maaf, apa anda keberatan jika saya melakukan hal seperti yang kemarin malam?"
"Hng?"
"Oh sepertinya tidak. Terima kasih atas izinnya." Tanya pria itu yang di balas oleh dirinya sendiri, yang kini membungkukkan badan. Dan secara tiba-tiba mengangkat si gadis dengan posisi bridal tanpa masalah.
"A-"
"Jika anda merasa pegangan saya kurang meyakinkan, anda boleh memeluk leher saya."
"Jika mencekiknya untuk menurunkan ku?" Tanya gadis itu yang lagi-lagi hanya membuat mekar bibir si pria.
Satu demi satu anak tangga di pijaki, membawa mereka perlahan naik ke tingkat berikutnya. Dengan pegangan tangga yang sama sekali tak di sentuh Sang pria membuat benda itu bersih dan menampakkan kilauan yang begitu sempurna.
"Kau orang penting yang tidak masuk akal."
"Apakah saya sudah setingkat itu di mata anda?" Ucap pria itu menanyakan hal kecil.
"Bukan dalam arti khusus, hanya saja orang seperi mu harusnya berada di depan kertas yang hanya perlu di tanda tangan."
"Sepertinya anda yang tahu setiap seluk-beluk saya."
"Ini hanya kemampuan yang di latih." Balas si gadis yang pada akhir perjalanan naik tangga mereka berakhir pada sebuah pintu kamar besar berlapiskan emas pada gagangnya.
"Maaf, saya tidak yakin dengan selera anda tapi.."
Dia di turunkan dengan lamban, seolah sudah berusia rentan di mata pria yang kini menatapnya ke bawah karena lebih tinggi.
"Sama-sama, silahkan beristirahat."
"A-"
"Oh ya, makanan sudah ada di dalam kamar anda. Dan beberapa pakaian sudah ada di dalam lemari juga. Kamar mandi bisa anda gunakan sesuka hati."
"Aku tidak minta." Balas si gadis singkat.
"Saya yang berikan semuanya."
Dari akhir perkataan itu, pria aneh tadi pun pergi meninggalkannya sendirian di depan pintu yang seperti pembatas privasi di antara mereka.
*Cklek
Gadis itu pada akhirnya masuk setelah melihat tangga yang awalnya ingin menerjunkan diri begitu saja ke bawah sana.
"Ini.." Ruangan bernuansa putih abu yang membawa ketenangan serta aroma keharmonisan tercium begitu menyengat dan lekat pada setiap sisi ruangannya. Membuat hati terbuai dan luluh tak kala suara air yang membawa pikiran seperti berada di air terjun.
"Kamar mandinya?!"
Langkah kakinya menuju sebuah pintu dan membuka secara sepontan. Terdiam beberapa saat menemukan keran air yang mengisi otomotis bak dengan air hangat berbusa aroma bunga segar.
"Hhh..Terlalu berlebihan."
*Blam
Gadis itu menutup pintu dan meninggalkannya untuk pergi ke jendela kamar. Yang rupanya ialah pintu kaca sebuah balkon cukup luas.
Ketika dia melihat ke bawah dan menemukan tanah tak jauh dari sana, pikirannya sontak mengucap sampai keluar dari bibir renum yang Ia miliki.
"Jatuh dari sini hanya akan membuat kaki ku pincang. Orang itu sudah pasti yang merencanakan ini."
Awan menyingkir, memunculkan sinar matahari yang begitu indah di padu padankan dengan sepoian angin yang begitu lembut. Dirinya yang awal mula hanya menatap langit pada akhirnya berbalik ke kamar mandi, dengan melepaskan beberapa gelang rumah sakit di pergelangan tangannya.
"Hhh.." Hembusan nafas terdengar begitu samar, ketika dirinya perlahan memasuki bak mandi yang terisi penuh dengan air hangat.
Bunga-bunga mawar yang ada di atas permukaan air bak mandi mendatangi dirinya, yang kini hanya terbuai dengan aroma harum dari mereka.
"Ugh.." Rintih Sang gadis saat merasa kepalanya terbentur begitu keras. Walau tidak ada apa pun yang terjadi kepadanya secara fisik di kamar mandi itu.
Dan telinganya seolah mendengar seseorang bicara setiap kata yang begitu menyakitkan.
'Kau sudah tidak berguna lagi.'
"Agh.." Bibir itu terdengar merintih, bergetar seraya menutup mata serapat-rapatnya. Tidak ingin kembali dan lebih merasa sudah mati ke alam baka.
"Aku masih berguna. Itu bukan salah ku.."
*Byur!
Banyak air dari bak mandi tumpah ke lantai. Tidak memedulikan sesuatu lebih parah dari licinnya lantai kamar mandi pada saat itu. Hingga pintu kamar mandi pun terbuka dengan sangat keras ke dinding. Dengan seorang pria yang terlihat datang.
Wajah pria itu pucat, apa lagi ketika menemukan gadis pingsan dengan baju putih rumah sakitnya masih terpakai dengan sempurna.
"Hei! Apa anda bisa mendengar saya?!" Panggil pria itu yang menahan tubuh si gadis untuk tidak tenggelam dalam bak mandi.
Tapi nihil hasilnya, satu kalimat balasan tidak terucap dari si gadis yang terpaksa membuat si pria mengangkatnya dari dalam air. Hingga tanpa sadar mengucap kata singkat dalam beberapa detik yang terasa lambat.
"Ku mohon bertahanlah.."
***
*Ugh~" Keluh si gadis merasakan sengatan menyerang tempurung kepalanya. Membuat pandangan kabur tatkala berusaha membuka kelopak mata yang tidak menemukan cahaya.
"Dimana lagi ini?" Tanyanya pada diri sendiri, sampai sepenuhnya sadar bahwa selimut membalut tubuhnya yang ramping dan rapuh.
Serta pemandangan seorang lelaki berambut hitam pekat, terbaring di sampingnya dengan kedua tangan yang menggenggam telapak tangannya.
"?!!"
*Set
Mendapati hal tersebut rupanya nyata, membuat si gadis melompat dari atas kasur. Yang ketika dia berdiri, Ia telah mengenakan baju putih polos cukup tebal dan nampak seperti piyama malam.
"Bukan saya yang mengganti pakaian anda. Tidak perlu salah paham." Ucap pria itu mendudukkan diri di atas kasur dan merekahkan bibir kepada seorang gadis yang tangannya nampak keras hendak menarik satu bilah benda tajam.
"Aku tidak mengira kau orang yang cukup lancang."
"Ah, saya mengerti apa yang tengah anda pikirkan tapi. Sudah lebih satu jam kondisi anda semakin memburuk."
"...?"
"Dan beberapa kata keluar saat anda tertidur. Namun, ketika saya mencoba dengan tidak sengaja berbaring di samping anda. Sepertinya anda lebih merasa tenang."
"Sulit di percaya kau mengarang cerita dongeng malam-malam begini." Balas si gadis semakin merapatkan alisnya sampai bertemu.
"Tidak bukan begitu."
"Lalu, jika tidak kau ingin aku bagaimana untuk membalas bayaran yang telah kau berikan di rumah sakit?"
"Huh?" Lenguh si pria memiringkan kepalanya ke kanan.
"Aku rela jika di jual ke pasar budak untuk membalasnya jika itu yang kau mau."
"Tidak, sepertinya anda salah paham."
"Kapan kau ingin uang itu kembali? Besok?" Tanya si gadis sedikit meninggikan suaranya satu tingkat.
"Tidak Linia!"
"?!!" Pundak si gadis terangkat. Pandangannya membesar menatap si pria yang akhirnya turut berhenti bicara dan memilih untuk berdiri dengan lantai yang sama dengan si gadis.
"Maafkan saya, sudah memanggil nama anda dengan begitu lancang."
"Kau juga terlalu mudah meminta maaf." Jawab si gadis yang alisnya kembali lurus tanpa kerut lagi.
Melihat hal itu berdiri di depannya, kini membuat si pria berlutut dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Saya tidak mengharapkan kembalian dari apa yang telah saya berikan pada anda dalam bentuk apa pun."
"Lalu ap-"
"Saya minta maaf.."
"..." Sang gadis diam dengan kalimat akhir si pria di depannya.
Kesunyian itu memuncak dengan angin malam menerbangkan gorden putih. Yang kemudian cahaya purnama nampak dari pintu kaca. Menyinari lelaki itu ketika bertepatan dengan wajahnya yang kini terangkat perlahan.
"Mulai besok, saya akan memberikan privasi lebih kepada anda."
"..."
Sejak saat itu, kata yang dianggap sebagai haluan belaka. Kini menjadi kenyataan yang cukup menyedihkan.
***
Pada pagi hari setelah tiga hari berlalu sejak malam itu. Lelaki berambut hitam pekat tidak pernah lagi datang ke kamar Linia. Dan yang dilakukannya adalah sesuatu yang tidak bisa di ketahui pula oleh Sang gadis. Yang setiap harinya hanya hidup di dalam kamar, dengan fasilitas mewah yang diberikan.
"Dia.. serius juga."
*Cklek
Pintu terbuka pada jam satu siang. Linia menampakkan dirinya keluar dan melihat setiap sudut rumah di lantai dua yang begitu sepi.
"Apa dia juga memerintahkan orang-orang untuk tidak ke sini?" Gumamnya berdengung ketika tidak sengaja menemukan tangga lagi yang menjulang ke atas. Tatkala dari tadi melangkahkan kaki beberapa menit untuk peragangan.
"..."
Kaki jenjangnya yang mulus menaiki satu demi satu anak tangga yang menjulang ke atas. Aroma yang jauh dari kata wanita menyengat indra penciuman Linia. Sampai membuat dirinya menutup hidung sepanjang menaiki tangga.
"Huh.."
Sebuah piano putih menyambut dirinya setelah sampai. Ruangan yang kini terlihat sepi membuat dirinya lebih leluasa masuk dan mnginjak kan kaki tanpa perlu ditatap oleh orang-orang.
*Cklek
Beberapa pintu dibuka olehnya, beragam isi yang ditampilkan dari mulai perpustakaan. Tapi yang paling menarik adalah sebuah lorong panjang dengan pintu diujungnya lagi.
"Dari semua isi yang di penuhi oleh buku. Tidak ku sangka orang itu membuat ruangan yang dimana isinya hanya ruang hampa dengan pintu diujungnya." Jawab si gadis. Awal mulanya Ia ingin menutup pintu itu. Namun, sesuatu menarik niat untuk lebih menjelajahi ruangan tersebut.
Sampai pada suatu waktu terdengar suara wanita yang bergema sampai ke atas lantai tiga.
"Pelayan!"
Suara seorang wanita menghentikan niat Linia untuk semakin memasuki ruangan itu. Namun, saat Ia hendak pergi mendatangi tangga serta sumber suara. Tiba-tiba saja banyak terdengar hentakan kaki naik ke atas. Membuatnya sontak bersembunyi di balik pintu ruangan tadi.
"Hati-hati! Jangan sampai kau membuat Aldio terluka!" Ucap suara wanita itu, yang di dengar oleh Linia dari balik daun pintu yang tertutup.
Bahkan suara pintu ruangan lain terbuka pun ikut terdengar begitu jelas di pendengaran si gadis, yang kini hanya mendiamkan dirinya saja.
*Blam!
Tak lama suara bantingan pintu menyelesaikan rasa gentar. Apa lagi gerombolan orang terlihat menuruni tangga saat Linia mengintip di sudut pintu yang sedikit terbuka.
*Cklek
Linia mengeluarkan dirinya dari ruangan berlorong sempit itu. Dan menemukan suasana sunyi lagi, tapi kali ini cukup berbeda. Dengan satu ruangan yang pintunya terbuka lebar.
"Aku belum pernah memasuki yang itu." Gumam kecil Linia melangkahkan kaki tanpa suara mendekati sebuah ruangan dengan cahaya lampu begitu terang dan sedikit sayu dimatanya.
Dan ketika mengintip. Sesosok wanita terlihat duduk di kursi tepat di samping ranjang kasur. Yang dimana di atasnya terbaring lemah seorang pria berambut hitam pekat.
"?!" Mata Linia memilaukan setitik cahaya padat. Mendapati pria itu terbaring lemah di atas kasur, tidak seenaknya seperti biasa.
"Aku akan disini sampai malam, bila perlu sampai kau bangun Aldio." Ucap si wanita mengepalkan kedua tangan dan menaruhnya di depan kening.
"..."
"Aku berharap kau tidak memaksakan diri untuk bekerja lagi."
"Bekerja?" Gumam Linia mendengar wanita itu berucap.
"Kenapa kau begitu bodoh Aldio? Kenapa kau tidak mendengarkan perkataan ku lagi?"
"..." Linia hanya mendengar saja, dia tidak begitu banyak bertindak hingga membuatnya disadari oleh wanita itu. Namun, sesuatu yang membuat dia tidak terlihat inilah yang sedikit membuatnya resah.
"Dan..kenapa kau tidak melamar ku?"
"..?"
Linia mundur satu langkah, berhenti menempatkan pendengarannya pada ruangan yang terbuka itu. Hingga pada titik tentu yang jenuh, dia pun memilih untuk pergi dan tidak memandang ke belakang lagi.
***
Didalam kamar.
Sudah tertebak oleh Linia, bahwa wanita itu masih di dalam kamar di lantai tiga. Beberapa waktu setelah lamunan yang dia lakukan. Ketukan pintu menyadarkan pikirannya, yang segera pergi mendekati pintu lalu membukanya.
"Ah, maaf. Apakah saya terlalu cepat membawa makan malam untuk Nona?" Tanya pelayan itu dengan sopan.
"Tidak.."
"Saya akan meletakkan nampan ini di atas meja Nona. Bolehkah saya masuk?"
"Tentu.." Jawab Linia menyingkir dari pintu dan mempersilahkan si pelayan untuk masuk.
Diantara mereka, Sang gadis lebih sedikit bicara. Tidak ada yang membuat dirinya terganggu sampai pada bibir yang mengatakan sesuatu secara spontan.
"Lelaki di lantai tiga. Tidak kau antarkan makanan?"
"Huh? Apa Nona sedang menanyakan Tuan?" Tanya pelayan itu menghadap ke belakang.
"Aku tidak tahu, tapi jika yang kau panggil Tuan adalah orang gila yang membawa ku ke sini. Mungkin iya."
"..." Pelayan itu mendiamkan sejenak dirinya. Lalu berkata dengan lembut. "Tuan, sudah sangat lelah untuk tiga hari ini. Kami tidak bisa membuat Tuan berhenti memaksakan dirinya."
"Semua orang yang sudah maniak kerja tidak bisa dihentikan." Balas Linia yang membuat kepala pelayan itu terangkat menatap dirinya.
"Saya tidak yakin Nona. Mungkin jika anda mencoba berkata pada Tuan. Saya rasa anda tidak akan berkata demikian lagi.'
"Maksud mu?"
"Saya mohon undur diri Nona." Jawab pelayan itu, yang kemudian pergi meninggalkan Linia sendirian lagi di dalam kamar. Merenungi perkataan dari seorang pria yang sama sekali tidak Ia kenal.
***
Keesokan paginya. Tidak satupun butir nasi yang disentuh oleh Linia. Dari makanan yang tadi malam diantarkan kepadanya ke kamar.
Pada pagi hari dengan tinggi matahari telah berada pada tepat pukul delapan. Dirinya memutuskan untuk naik kembali ke lantai tiga. Dengan tanpa alasan yang jelas, tapi tetap tidak membuat pikirannya cukup terkendali setelah mandi.
Namun, langkah kaki itu berhenti ketika menemukan pintu yang terbuka. Sama sekali tidak berubah dari tempatnya. Seolah seseorang yang berada di dalam sana belum sama sekali melangkah-kan kaki keluar kamar, tidak seperti dirinya.
Perlahan tapi pasti Sang gadis mendekatkan diri kepada pintu dan melihat apa isi di dalam kamar tersebut. Yang memperlihatkan seorang wanita masih duduk dengan kepala dan tangan terbaring di pinggir kasur. Dengan pria yang tak sadarkan diri di depannya.
"..." Linia menatap wanita itu dengan lekat. Ia pun mendekatinya sampai pada jarak satu meter dengan pria yang terbaring tak sadarkan diri di atas kasur.
"Ughh~" Lenguh wanita itu pada saat angin meniup tengkuknya yang tidak tertutup.
Mendapatkan hal itu, menyadarkan Linia yang langsung mundur dari tempat nya berdiri. Sayangnya tidak ada tempat sembunyi di sana. Hingga tanpa berkutik dia pun disadari oleh seorang wanita dengan pakaian minim itu.
"Ahh maaf, apa kau baru saja ingin membersihkan kamar ini?"
"Huh?" Dengung Linia mengerutkan keningnya dan membuat wanita itu juga merespon hal yang sama.
"Apa kau pelayan baru di sini? Aku belum pernah melihat mu sebelum. Dimana pakaian pelayan mu?"
"...." Diam Linia tidak membalas.
"Ahh maaf..apa aku salah bicara?"
"Tidak. Mungkin kau ada benarnya. Aku juga tidak tahu kenapa ada di sini."
Linia yang melihat mata wanita di depan menunjukkan tanda tanya, pada akhirnya pergi membalikkan badan.
Namun..
"Tunggu aku.." Suara seorang pria yang terbaring tak sadarkan diri di atas kasur, membuat langkah kaki Linia berhenti di tempat.
"Aku ada di sini Aldio, aku tidak akan pergi kemana pun. Aku akan menunggu mu bangun.." Jawab wanita itu yang dimana saat mendengarnya Linia pun pergi tanpa berbalik lagi.
***
Triingg!!
Bunyi telepon seluler dari saku celana si wanita, yang membuat dirinya segera mengeluarkan benda bermerek itu dari saku celananya.
"Bukankah sudah ku katakan aku tidak bisa syuting film hari ini?" Tanya Sang wanita menaruh benda segi panjang itu di telinga.
"Kosongkan jadwal ku hingga aku memberikan kabar lebih lanjut. Tidak ada penawaran." Tegasnya menutup telepon dan melemparkannya ke atas meja kecil di samping kasur.
"Hahh..aku menyesal tidak menghentikan mu bekerja kemarin."
Mata Sang wanita menyendu dan pudar. Menatap wajah rupawan Sang pria membuat dirinya hilang akal. Pada saat sebuah dorongan setan merasuki dirinya, di sanalah ia mendekatkan diri lebih dari batas wajar. Yang di mana bibirnya meruam merah dengan sedikit terbuka. Lantas dengan apa yang dia perbuat sontak saja batinnya mengendalikan Ia tanpa sadar.
*Tap!
"?!!"
"Tidak sepantasnya jika membiarkan bibir itu mendekati miliknya yang berharga." Jawab seorang gadis berambut putih panjang, yang menutupi setengah wajah si wanita dengan telapak tangan kirinya.
"Puahh!!" Suara balasan yang dilontarkan si wanita menjauhkan wajah dari tangan gadis itu.
"Apa yang masih kau lakukan di kamar yang bahkan tidak ada kaitannya dengan mu?" Lanjut Linia membalikkan badannya kepada si wanita.
"Huh? Apa yang kau bicarakan aku memiliki hak untuk datang ke--"
"Setidaknya kau tau batasan waktu.. Bahkan sekarang pun kau tidak pergi dari sini walau ada yang memanggil mu."
Dengan apa yang dikatakan Linia, sontak membawa lonjakan emosi di aliran darah di wanita.
"Kau mendengar semua isi pembicaraan ku di telfon?!"
".... Setidaknya kau sadar itu karena suara mu yang terlalu besar."
"Kau terlalu tidak sopan pada calon nyonya rumah ini. Pelayan murah dan baru seperti mu mana mungkin tahu dengan ku."
"Kenapa kau marah-marah di depan orang yang sedang istirahat? dan lagi, aku tidak ada kaitannya dengan pelayan di rumah ini."
"Omong kosong!" Jawab si wanita yang dipahami Linia karena ulah nya yang tidak berhasil mencium pria tak sadarkan diri itu.
"Lebih baik kau pulang, walau berkata kau calon nyonya rumah ini. Tetap saja aneh jika sampai sekarang pun kau tidak mandi."
"!??" Wanita itu berwajah merah padam seketika, dan berbalik meninggalkan dirinya di kamar dengan derapan kaki tak karuan.
"Hhhh.." Hembus nafas Linia yang tak sengaja melirik pria rupawan di atas kasur.
"Aku harap kau cepat bangun dan membiarkan aku pergi dari tempat terkutuk ini." Jawab Linia yang hendak pergi, tapi..
*Seth!
Sebuah tangan besar menangkap lengannya yang kecil dan menarik dirinya hingga terjatuh ke atas kasur yang di mana ketika dia membuka mata dia menemukan sosok pria tengah tersenyum dengan dirinya yang sedikit mengeluarkan banyak tanda tanya.
"Sudah lama aku menunggu wanita itu pergi dari sini."
"Sia*@n kau menipu seluruh isi rumah dengan keadaan tak sadarkan diri."
Pria itu tersenyum, bagaikan musim semi yang tiba-tiba datang di akhir pekan pada musim hujan. Linia menyipitkan matanya seolah menahan suara untuk tidak mengatakan hal-hal kasar lebih dari apa yang dia miliki di otak sana.
"Mungkin permintaan maaf ku tidak akan diterima. Tapi sungguh, apa yang kau lakukan tadi cukup membuatku terbantu untuk bisa kembali membuka mata."
"Kau juga bisa melakukannya sendiri tanpa menunggu dia pergi bukan?" Tanya Linia melepaskan diri dari pria itu.
"Tidak.. Dia terlalu terobsesi dengan ku. Bahkan aku tidak bisa mengatakan status ku yang bukan sendirian lagi. Bisa gila jika dia tahu itu."
"Kau orang yang terlalu merepotkan. Hanya tinggal mengatakannya saja."
"Hmph.. tidak semudah itu bahkan untuk sekarang."
"..... Aku punya urusan dengan mu sekarang jika--"
"Ugh.." Rintih pria yang terduduk di atas kasur, yang di mana suara perutnya terdengar mengaung dan melilit tubuhnya yang seketika mengkerut. mendengar hal itu keluar tanpa sadar membuat Linia akhirnya berdiri dan pergi dari pintu dan mengatakan sebelum dirinya menghilang begitu saja
"Kau di sana saja. Akan ku panggilkan pelayan."